Cinta  Untuk Nabila

Cinta Untuk Nabila
Tak se simple itu 2


__ADS_3

Andai ada yang mau bertukar posisi supaya mereka mau mengerti, bahwa semua ini sangat berat untuk di lalui. Mungkin penderitaan yang di alami akan sedikit berkurang dan tak seberat ini.


Kehampaan yang berujung sepi, membuat nya ingin sekali berlari menjangkau jarak yang sudah begitu jauh jika ingin terlampaui. Semua nya terasa semu dengan ketidak pastian yang membuat nya rapuh. Dan malam ini, semua nya seperti runtuh tak terkendali karena tak sanggup menahan gemuruh dalam tubuh.


Nabila masih terdiam setelah menyibak korden kamar dan berdiri di sana. Ia masih asyik menerawang jauh melihat gerimis. Mengabaikan keberadaan Zahra yang berada di belakang nya.


Zahra, yang sedari tadi hanya bisa memperhatikan sahabat nya dari belakang mulai tak sabar, lalu mendekat menyentuh bahu Nabila dan membalikan badan yang terlihat rapuh itu untuk menghadap nya.


“Apakah sesakit itu?” tanya Zahra dengan mata berkaca-kaca, bahkan ia bisa sangat memahami nya tanpa banyak kata.


Nabila mengangguk, menundukan kepala nya untuk menyembunyikan genangan air mata, malu karena tak mau kerapuhanya di lihat oleh Zahra. Namun seberapa keras diri nya menutupi dan menahan air mata itu tetap saja menetes tanpa tahu malu di hadapan sahabatnya.


Malam ini dia menyerah, jujur ia sangat membutuhkan setidak nya satu orang yang bisa di percaya untuk mendengarkan keluh kesah nya.


Sesak itu tak kunjung menghilang ataupun menepi meski waktu sudah berganti, malahan semakin berat saja di setiap waktu dan hari nya.


Nabila menempelkan dahi nya ke pundak Zahra dengan tangisan yang selama ini ia tahan dan tutupi dari semua orang termasuk bunda nya sendiri, kali ini semua nya seperti melebur begitu saja tak dapat ia tahan lagi.


“Ra, aku mohon…tolong saat nanti kamu ingin pergi bilang, Setidak nya aku akan mempersiapkan diri untuk itu. Tolong_...” Kalimat Nabila terputus, saat Zahra merengkuh tubuh ringkih itu dengan sangat erat.


“Bil, plis…jangan kayak gini. Stop nyakitin diri kamu sendiri dengan menjauhkan kebahagian dari hidupmu.”


Zahra ikut menangis saat memeluk Nabila yang terisak di pelukan nya, merasa tak tega dengan sahabat nya yang terlihat seperti manusia mati yang tak mempunyai semangat lagi untuk hidup.


Nabila semakin terisak di pelukan Zahra tak kuat lagi menahan sakit yang menyerang dada kiri nya. "Jika kamu tahu di mana tempat nya, plis kasih tahu. biar aku bisa mencari di mana letak kebahagian itu Ra. " ucap nya putus asa di sela tangis nya.


Mendengar kata-kata Nabila yang sangat memilukan dia semakin mengeratkan pelukanya, menghapus linangan air mata dengan punggung tanganya, lalu mengusap lembut puncuk kepala Nabila dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


“Kebahagian itu di ciptakan Bil, bukan di cari.” jawab Zahra sambil menguraikan pelukqnya untuk melihat wajah Nabila yang sudah basah dengan air mata, lalu menekan ke dua bahu wanita itu seperti menyadarkan seseorang dari ketidak sadaran.


“Aku udah berusaha Ra ! sudah berusaha!!.” teriak Nabila frustasi penuh ke pasrahan. Tak kuat lagi dengan takdir yang harus ia jalani, kenapa harus semenyakitkan ini.


Zahra sedikit berjingkat kaget oleh teriakan Nabila, tak pernah menyangka jika luka yang di torehkan ternyata sedalam itu. Dia kembali memeluk wanita ringkih itu kuat, ikut menangis terisak dalam pelukan tersebut.


“ Kamu tahu Bil, ayah pasti sedih banget di atas sana, melihat putri satu-satu nya yang sangat ia sayangi jadi seperti ini.” Zahra menghembuskan nafas nya panjang, meredam tangisan lalu kembali bersura lirih “ Dan Ustadz Adam pasti kecewa dengan diri kamu yang sekarang ini, kamu lupa? jika sebelum Almahrum pergi ia berpesan agar kamu selalu tersenyum dan bahagia?” tutur nya kembali, sambil menekankan kata di setiap kalimat nya berharap Nabila mengerti.


Nabila menggeleng, masih dalam ke adan menangis ia menjawab dengan memukul dada nya dengan kuat yang terasa amat sangat sesak.


“ Semua nya gak segampang dan se simple itu Ra, andaikan kamu tahu jika melupakan seseorang tak semudah dan segampang itu.” Nabila kembali terisak dalam jeritan tangis nya. “ Merelakan orang yang pernah ada menjadi tidak ada adalah suatu kerumitan yang belum tentu kamu tahu rasa nya.” lanjut nya lirih.


Zahra terdiam sambil mengeratkan pelukan nya pada Nabila, menepuk-nepuk punggung Nabila dengan pelan agar sakit di hati nya sedikit mereda dan berhenti menangis.


“Bil, sekarang aku ada di sini buat kamu. Jadi mulai sekarang gak perlu menyimpan semuanya sendirian oke, karena aku gak akan ngebiarin kamu ngerasain beban ini sendirian. Karena kamu pantas untuk bahagia Bil, ba-ha-gia. Ngerti !”


Nabila mendongak, melihat wajah Zahra dengan mencari kesungguhan ucapan nya lewat mata. Dan dia menemukan itu di sana.


Zahra mengangguk menyetujui.


“He'em…Demi kamu.” Jawab nya sambil mengusap air mata Nabila yang masih membekas di pipi nya.


Bodo amat dengan dokter Iqbal yang juga ada di sana nanti, yang terpenting sekarang adalah Nabila. Masalah dokter Iqbal di fikir nanti saja nyusul.


Sebenar nya Zahra juga tidak yakin dengan keputusan nya kali ini yang menyetujui usulan Nabila tempo lalu. Namun setelah melihat sendiri keadaan Nabila yang sangat membutuhkan diri nya, ia jadi tak tega untuk meninggalkan nya sendiri. Jadi mungkin ini keputusan terbaik yang harus ia ambil meski tak tahu takdir apa yang sedang menunggu nya di sana.


Nabila sedikit tersum, lalu beringsut lagi kedalam pelukan Zahra mencari kenyamanan di sana. “Makasih Ra, makasih.”

__ADS_1


Untuk sesaat mereka berdua menikmati kelegaan hati saat ini, dengan masih saling memeluk antar ke dua nya. Namun itu tak berselang lama, sebab Zahra kembali menguraikan pelukan itu dan menatap Nabila dengan tatapan mengejek.


“Ini Shintia Azka Nabila?” Zahra mengerutkan dahi nya “ Mirip ikan teri.” canda nya.


Zahra melepaskan pelukan, lalu balas menatap Zahra dengan tajam. “Gak lucu ih.” kemudian mendelik berpura-pura kesal. ” Apa aku beneran se kentara itu ya Ra?”


Zahra mengulum senyum, lalu mengangguk. “ Iya. Emang kamu gak sadar apa? udah kayak mayat hidup tau gak? sini deh ngaca.” Jawab Zahra sambil menarik Nabila ke arah kaca yang terdapat pada almari.


“Lihat, badan kamu kurus kering kayak gini, kantung mata juga udah mirip Zombi dan lihat ini muka, pucet banget tanpa make up. Apa kabar dengan pasien-pasien rumah sakit selama ini? apa gak takut ngelihat keadaanmu yang kayak gini? idih, gak banget deh." Zahra menjeda sebentar ucapa nya, namun kembali meneruskan ucapan nya dengan paksaan yang tak terbantahkan.


"Gak mau tahu !! pokok nya mulai besok kamu kudu berubah titik. “ lanjut nya dengan memutar-mutarkan badan Nabila di depan cermin.


Nabila mencibir pelan “ Ish! Enak aja. Jangan asal bicara deh, gini- gini juga dokter paling kece tau di sana.” protes Nabila tak terima.


“Iya Kece, kalau di lihat dari ujung sedotan.” Ledek nya lagi.


“ Hina aja terus….hina.!! mentang-mentang pinter dandan. “ ucap nya cemberut.


Zahra hanya terekeh pelan kemudian menarik ujung jilbab milik Nabila ke depan muka nya. “ Nah.., gitu donk!! ini baru Nabila yang aku kenal.”


Nabila balas tersenyum, menarik tangan Zahra dan menggenggam nya, yang di balas dengan tak kalah erat.


“ Oh ya Bil, gimana kalau kita memulai semua langkah awal dengan pergi ke pasar besok pagi. Kita belanja ke butuhan dapur dan ke toko matreal untuk membeli keperluan walpaper buat kamar kamu, berasa gatel nih tangan, pingin ngerubah suasana kamar ini biar kelihatan lebih hidup lagi suasananya gak monoton kayak gini.” Usul Zahra yang di iringi dengan gelak tawa ke duanya.


“ Oke. Siap boss !!”


“Btw, emang kamu sekarang bisa masak apa? Pakai gaya-gayaan mau belanja kebutuhan dapur segala. Aku ingetin ya kalo–kalo kamu lupa, bukan nya dulu waktu di pondok hampir aja bakar dapur pesantren?” ucap nya mengejek.

__ADS_1


Zahra terlihat diam sejenak memikirkan sesuatu, namun sejurus kemudian ke dua wanita itu pun tanpa aba-aba malah langsung tertawa terbahak-bahak bersama, saat kembali mengingat pada masa itu.


Nabila sangat bersyukur karena tuhan telah menghadirkan sosok sahabat seperti Zahra yang sangat peka di sela cobaan hidup nya. Berbagi ke susahan dan bahagia bersama. Yang kehadiran nya memang sangat ia butuhkan di sisi nya untuk saat ini.


__ADS_2