
Untuk sesaat Nabila sempat terpana dengan ketampanan suaminya. Dan entah datangnya dari mana.. tiba-tiba saja sekelibat ucapan kata-kata si Mahasiswi tadi yang memuji-muji Bhintara secara terang-terangan kini datang menggusiknya.
“ Oh…pak dosen yang ganteng itu toh kak?”
“ Bahkan mereka sampai bersedia lahir batin jika di jadikan istri keduanya.”
“Pesonanya itu loh kak,ya ampun.. minta di peluk banget”
“Bikin kita semua jadi klepek-klepek.”
Nabila sedikit merasa cemas, entah untuk alasan apa rasa takut akan kembali di tinggalkan menyentil hatinya.
Laki-laki di hadapanya itu terlalu tampan dan di idolakan, bagaimana bisa Nabila melupakan kenyataan itu? Banyak sekali perempuan di luaran sana yang menginginkankanya, bahkan sampai ada yang mau di jadikan istri kedua.
Nabila menggelang cemas, “Gak, gak !! Aku gak boleh terlalu sok jual mahal seperti ini, bagaimana nanti, kalau dia sampai pergi karena sikap aku sendiri?” batinya.
Bhintara mengernyit heran saat melihat sang istri yang justru malah termenung di depanya, menampilkan gurat-gurat kecemasan di wajah ayunya. Dan…..yah, apakah ini hanya perasaanya saja jika Nabila hari ini terlihat berbeda? apa wanita itu berdandan terlebih dahulu sebelum datang kesini untuk menemuinya? sungguh jika itu memang benar adanya maka bahaginya Bhintara saat ini.
“Dek?” panggil Bhintara yang semakin intens memperhatikan sang istri. Sebenarnya apa yang sedang di fikirkan Nabila saat ini? Bhintara sangat penasaran sekali.
Nabila menggercapkan mata, dia tersadar dari lamunan dan langsung menemukan wajah Bhintara tepat di depan muka dengan jarak yang begitu dekat. Membuatnya sedikit gugup. Ingin melepaskan diri tapi justru cengkraman tangan Bhintara semakin erat menekan pinggangya.
Pada saat yang sama dan untuk yang pertama kalinya, Nabila merasakan ketakutan akan ke hilangan. Dia belum siap jika nantinya harus di tinggalkan, dan gak mau apa bila nanti dia di duakan.
Sungguh sebesar itu Nabila menaruh harap pada laki-laki di hadapanya, Benar-benar cemas jika nantinya dia akan di tinggal lagi untuk yang ke dua kalinya.
“ Mas…….” panggil Nabila memecah keheningan di antara keduanya.
Melihat gurat kecemasan di wajah istrinya semakin bertambah, Bhintarapun menatap Nabila dengan penuh tanya. “ Ada apa?” jawab Bhintara sedikit khawatir.
Jemari Nabila terulur, mengusap lembut pipi Bhintara. Membuat laki-laki tersebut semakin dalam menatapnya. Tak biasanya Nabila menyentuhnya terlebih dahulu seperti ini.
“ Maaf…..” hanya kata itu saja yang terlontar keluar dari dalam bibirnya saat ini, meski beribu-ribu pertanyaan sudah memenuhi otak Nabila sedari tadi.
Bintara semakin bingung dengan kata-kata Nabila sekarang ini, seperti ingin mengutarakan sesuatu namun tertahan. “Maaf untuk apa?” tanya Bhintara kemudian.
“ Karena sudah mendiamkanmu selama ini, dan bersikap kurang ajar dengan mengabaikan segala usaha dan perhatianmu. Sungguh, aku hanya butuh kesabaranmu saja. Sebab untuk merubah Nabila yang lama menjadi Nabila yang baru aku membutuhkan waktu.” Ucap Nabila sendu.
Bhintara meraih jemari Nabila, menggenggamnya serta mengecupnya berulang kali. Kemudian dia berkata. “ Jangan berubah.” Bhintara membawa tangan Nabila ke pipi “ Aku sama sekali tak keberatan jika harus menunggu. Lagian Nabila yang aku kenal selama ini sangat manis, aku sangat menyukainya. Jadi jangan merubah apapun yang ada pada dirimu.” tuturnya lalu memeluk tubuh istrinya erat. Pun dengan Nabila yang tak segan membalas pelukan tersebut sambil menahan tangis.
__ADS_1
Mendengar ucapan suaminya yang penuh pengertian, hati Nabila mengharu biru, matanya sudah berkaca-kaca menahan tangis. Merasa seperti seorang kekasih yang telah lama di puja oleh laki-laki itu dari bertahun-tahun lalu.
Nabila hanya mengangguk di dalam pelukan sang suami, menyetujui semua perkataanya.” Terimakasih. terimakasih karena sudah ngertiin posisi aku Mas.”
Bhintarapun mengeleng, tak setuju dengan penuturan Nabila. Dia menguraikan pelukanya untuk melihat wajah sang istri. Dan ternyata wanita itu sudah meneteskan air matanya. “ Jangan menagis, sudah berapa kali aku bilang sama dek Nabila, Mas gak suka melihatmu menitikan air mata seperti ini. “ katanya sambil menyeka pipi Nabila. “ Berumah tangga itu bukan hanya tentang ingin di mengerti atau sebaliknya, melainkan kita harus sama-sama saling memperbaiki kekurangan dari diri kita masing-masing agar bisa saling melengkapi.”
Nabila tersenyum mendengarnya. Ada sedikit kelegaan di hati saat ini, dia sangat yakin jika rasa cintanya akan bersambut dan tidak akan bertepuk sebelah tangan.
Untuk kali ini bolehkah Nabila berharap satu kali lagi pada seorang laki-laki yang telah mencuri hatinya? menggantungkan harapan dan masa depan pada Bhintara suaminya. Berbagi beban masalah hidup denganya dan akan membuka hati kembali untuk mendapatkan kebahahagiaan yang sesungguhnya.
“ Mas……”
“ Iya sayang.” balas Bhintara merdu.
Nabila tersipu, membuang muka ke samping. Ingin menyembunyikan pipinya yang sedikit memerah saat mendengarkan jawaban suaminya. Sangat romantis di waktu yang tepat namun di tempat yang salah.
“ Apa mas akan memangku terus seperti ini? bagaimana kalau ada yang melihatnya? mahasiswamu mungkin ! ”
Bhintara tersenyum " Jika itu bisa membuat kamu terus berada di dekatku, maka akan aku lakukan. Tak peduli jika ada mahasiwa atau siapapun itu yang nantinya akan mengganggu. "
Nabila meraih pipi Bhintara dan mengelusnya dengan lembut kemudian tersenyum teduh " Apa suamiku ini seorang raja gombal? Dasar perayu ulung! " Godanya pada Bhintara.
Bhintara terkekeh, memejamkan mata sambil menikmati sentuhan Nabila di wajahnya yang sangat melegakan hatinya. Ternyata benar apa kata Adam dulu, bahwa wanita di hadapanya ini selalu banyak kejutan, manis serta penuh kasih sayang. Tak sia-sia usahanya dari dulu yang selalu menyebut namanya dalam doa. Bhintara sangat mencintai wanita ini, sekalipun dia harus menunggu lama untuk memilikinya itu tak apa. Karena yang terpenting sekarang Nabila sudah sah menjadi istrinya.
Bhintara masih sibuk dengan segala fikiran-fikiranya, sedangkan Nabila saat ini justru malah sedang Asyik mengedarkan pandangnya ke sekitar ruangan, baru bisa merasakan dinginya AC menyentuh kulitnya saat situasinya tak sepanas tadi.
Dia sudah sedikit merasa rileks dan merasakan nyaman di ruangan tersebut.
Meski tempat itu tak begitu luas, namun cukup membuat orang yang berada di dalamnya betah berlama-lama di sana. Aroma wangi dan semua barang-barang yang tersusun rapi, menggambarkan Bhintara sekali. Persis dengan rumah modern yang di tinggalinya selama seminggu ini.
“ Dek.”
Nabila menoleh, hampir saja lupa dengan keadaanya saat ini yang masih di pangkuan Bhintara.
“ Bisakah dek Nabila berdiri sebentar, Mas mau ambil tas dulu trus kita pulang.”
Nabila tersentak lalu menunduk kebawah melihat kadaanya, dan langsung berdiri dengan canggung sambil meremas samping gamisnya. “ M-maafkan ak-aku mas. ”
Bhintara ikut berdiri sembari tersenyum renyah, lalu maju satu langkah ke hadapan istrinya kemudian mengusap kepalanya gemas. “ Manis banget sih istrinya mas hari ini? nanti kita lanjutin di rumah aja oke.” Ucapnya geregetan sendiri.
Nabila tersenyum malu-malu, di perlakukan semanis itu oleh Bhintara, membuat pipinya bersemu merah. " Apaan sih mas, mulai deh ngegombal lagi. " Dia langsung Buru-buru menyambar tas miliknya lalu berjalan keluar karena malu.
__ADS_1
“ Memangnya mas udah gak ada kelas lagi?” Nabila keluar, Bhintara mengunci pintunya.
“ Yah, kok mendung sih? perasaan tadi masih panas banget cuacanya.”
Bhintara menggeleng, “ Gak ada, sebenarnya tadi udah mau langsung pulang. eh gak taunya dek Nabila malah datang." Bhintara menatap ke arah luar " Iya kayaknya sebentar lagi akan turun hujan, dek Nabila bawa Mobil kan?”
“ Enggak ! “ jawab Nabila langsung.
“Terus tadi kesini naik apa?”
“ Taxi.”
“ Memangnya Mobil dek Nabila kemana?”
“ Aku tinggal di rumah sakit.”
Nabila memang sengaja meninggalkan mobilnya di parkiran rumah sakit, karena niatanya dia akan pulang bersama suaminya. Jadi.... mana tahu dia, jika cuacanya akan mendung seperti ini? padahal tadi waktu mau kesini cerah-cerah saja.
Sambil terus menginguti langah kaki suaminya dari belakang, Nabila memperhatikan sekitar. Terlihat beberapa mahasiswa yang berpapasan dengan mereka tak sedikit yang melemparkan senyuman pada Bhintara, bahkan ada juga yang memanggil nama suaminya yang hanya di balas dengan anggukan kecil dan seulas senyum tipis oleh Bhintara.
Bhintara langsung berhenti dari jalanya, membuat Nabila yang sejak tadi sibuk mengamati sekitar menubruk punggung Bhintara tanpa sengaja.“ Mas, ih...kenapa berhenti gak bilang-bilang sih?”
“ Kamu itu yang kenapa? jalan itu lihat depan, bukanya malah memandang kemana-kemana.” Jawab Bhintara sambil mengulus jidat sang istri dengan lembut “ Sakit?"
Nabila hanya menggeleng sedikit rada kaku menerima perhatian Bhintara yang sedikit berlebihan itu.
"Kita udah sampai parkiran.”
Nabila clingak-clinguk menatap sekeliling, sangking Asyiknya mengamati area sekitar kampus dia sampai tidak sadar jika mereka sudah sampai. “ Oh….sudah sampai ya mas? lalu di mana Mobilnya?”
Bukanya menunjukan di mana letak Mobil Bhintara, laki-laki itu justru malah menyerahkan sebuah helm ke hadapan Nabila.
“ Kita naik motor, tadi pagi mas buru-buru banget berangkatnya takut telat dan kejebak macet. Jadi lebih memilih mengendarai Motor dari pada Mobil. Dek Nabila gak apa-apa kan kalau kita naik motor ?”
Nabila memandang langit yang semakin mendung dan petang, sepertinya hujan akan turun dengan sangat lebat sore ini. Karena itu tanpa membalas ucapan Bhintara dan mengabaikan kecurigaanya, ia langsung meraih helm yang di berikan suaminya. Dan mencoba menaiki Motor Metic tersebut meski ini untuk yang pertama kalinya.
Dia nyaris kesulitan duduk di jog penumpang karena model gamisnya yang ia pakai hari itu berpotongan payung dan berkibar kemana-mana saat tertiup angin, tapi untungnya suaminya itu langsung sigap. Bergegas membantu Nabila melipat ujung gamis tersebut, sehingga hanya menampilkan kaos kaki panjangnya saja yang terlihat.
“ Andai saja tadi dek Nabila pas kesini bawa Mobil, mungkin Motor mas saja yang aku tinggal dek.”
Nabila tersenyum, bukan karena perkataan suaminya. Melainkan perhatian yang sejak tadi di berikan laki-laki itu untuknya.” Gak apa-apa Mas, aku malah senang. Ini akan jadi pengalaman pertama aku naik Motor.”
__ADS_1
Bhintara balas tersenyum mengangguk, mengusap puncuk kepala Nabila sekali lagi. Lalu setelah memastikan posisi istrinya sudah aman. Bhintara langsung mensetater motornya.
“ Pegangan dek.”