
Seminggu kemudian………….
“Thar…”
Baru saja Bhintara membuka pintu ingin masuk, ia sudah di kagetkan dengan kedatangan sahabatnya Ibrahim yang sudah duduk dengan senyuman lebar terpampang di wajah tengilnya.
“ Kenapa? Gue cuman punya waktu dua puluh menit sebelum lanjut masuk kelas lagi.” Tanya Bhintara sambil menaruh beberapa tumpukan buku di atas meja kemudian duduk di hadapan laki-laki itu dengan tatapan jengah.
Ibrahim yang posisinya memang tidak jauh dari Bhintara mendelik sebal pada sahabatnya itu. Mereka berdua sedang berada di ruangan dosen, lebih tepatnya sedang berada di ruang pribadi milik Bhintara.
Ya, selain suami dari seorang dokter bernama Aisyah laki-laki itu juga merupakan seorang dosen. Patner Bhintara di Universitas yang sama di mana dia juga mengajar di sana.
“ Gue udah nungguin lo satu jam di sini hampir jamuran, dan sekarang dengan entengnya kau hanya mengucapkan kata gak penting seperti itu? Huh ! dasar muka datar.” racau si Ibrahim yang sudah tidak bisa menahan mulutnya untuk tidak protes.
Bhintara tidak menghiraukan ucapan sahabatnya. Dia malah meraih bungkus rokok milik Ibahim yang di taruh di atas meja dengan sembarangan lalu menyalakanya dan menghisapnya dalam, kemudian menyemburkan asapnya ke arah Ibrahim dengan sengaja.
Ibrahim langsung mengibas-ngibaskan tanganya dengan terbatuk, menyesali keputusanya yang sembarangan menaruh rokok miliknya di atas meja.
Tak habis fikir, tumben-tumbenan sekali seorang Bhintara yang hampir tak pernah menyentuh sama sekali barang bernikotin itu tiba-tiba hari ini menggunakanya.
“ Oh wow ! seorang Gus dan pak dosen killer bisa ngrokok juga ya ?” sindir Ibrahim sembari berfikir.
Apa sahabatnya itu sedang mempunyai masalah yang berat? Sebab dia tahu betul, seorang Bhintara tak akan pernah menyentuh rokok sama sekali meski di paksa sekalipun. Kecuali… dia sedang benar-benar frustasi.
Bhintara hanya terkekeh pelan “ Emangnya ada laranganya gitu seorang Gus tidak boleh merokok? Anak Kyai juga manusia kali Ib, sama kayak Elo juga.”
“ Lo kenapa sih, ada masalah? Tumben banget ngrokok ”
Bukanya menjawab pertanyaan, Bhintara justru terus menerus menghisap rokoknya dan menyemburkanya pada Ibrahim.
Ibrahim jengah. Dia berdiri dan langsung merebut rokok Bhintara lalu mematikanya.
“Apa lo mau gue di bunuh sama Aisyah gara-gara bau rokok? “ sentak Ibrahim kesal.
Sebenarnya Ibrahim juga jarang sekali merokok, hanya sesekali saja jika ia sedang ingin dan berada di luar rumah jauh dari jangkauan sang istri. Sebab Aisyah sangat bawel sekali jika sudah menyangkut tentang kesehatanya, jangankan rokok makanan saja dia di awasi ketat oleh perempuan bawel itu. Mentang-mentang seorang Dokter.
Bhintara mengangguk tersenyum ringan
“ Ya memang itu yang gue mau. Kalian lucu kalau sedang marahan. ” Jawab Bhintara datar.
Sedangkan Ibrahim sudah muncul dua tanduk di kepalanya karena merasa kesal dengan sahabatnya itu “ Dasar gila ! mentang-mentang penganten baru belum banyak masalah, lo mau bikin masalah di keluarga gue gitu? gak akan gue biarin !! ”
Bhintara bedecak lirih “ Emangnya lo mau? Gampang aja sih..tinggal bongkar semua kebohongan lo di depan Aisyah, pasti kelar hidup lo ! gue jamin.“
“ Ya silahan aja sih kalau lo mau bongkar. Bongkar aja semuanya, tapi….lo jangan lupa kartu AS lo juga ada di tangan gue. Tinggal pura-pura datengin Aisyah di rumah sakit trus minta ketemu sama Nabila, maka….gue pastiin hari ini juga selesai hidup lo ! “ kata Ibrahim pongah.
Keduanya saling melempar ancaman sengit yang tidak mungkin akan mereka realisasikan, karena memang hanya untuk gurauan semata.
Sebab begitulah pertemanan mereka sehari-harinya.
Bhintara tertawa sedangkan Ibrahim berdecih.
“Dasar sialan! lo gak akan pernah lakuin itu, gue tahu.”
“Kata siapa gak bisa? Kalau ini sudah menyangkut Aisyah apapun akan gue lakuin “ jawab Ibrahim sambil membusungkan dada menepuk-nepuknya dengan jumawa.
Bhintara terkekeh “ Ck….dasar Bucin ! “ ejek nya Kemudian, membuat keduanya tertawa bersama menertawakan diri mereka masing-masing yang sama-sama bucin tapi berbeda cara.
“ Ada apa kemari? Gak ada jam ngajar lo ? ”
Ibrahim menggeleng.“ Sebenarnya ada sih, tapi gue minta pak Ahmad buat tukaran jam ngajar. Jadi…gue bisa santai-santai dulu di mari sebelum jam dua siang”
Bhintara mendengus kasar “ Mentang-mentang yang punya kampus, bisa se-enak jidat minta tukeran jam. Gak profesinal lo ? ”
Ibrahim mengibaskan tanganya di depan muka Bhintara malas. “ Udahlah…basa-basinya cukup oke! sekarang waktunya lo buat cerita tentang kejadian minggu lalu, sebenarnya ada apa? ”
“ Nabila minta pisah.” Jawab Bhintara tanpa keraguan.
Ibrahim yang meminum segelas air putih milik Bhintara langsung tersedak sampai menyembur keluar dari dalam mulutnya.
Hidungnya merasakan pengar luar biasa. Dan dengan santai Bhintara menyodorkan satu kotak tisu ke hadapan laki-laki itu yang langsung di terima Ibrahim, lalu mengelap area bibir sampai hidung hingga kering.
“ Terus lo setujuin? ” tanyanya kemudian dengan menggebrak meja di hadapanya.
Bhintara mendelik “ Tentu saja tidak “ dia menjeda ucapanya sebentar. “ Gak akan pernah gue iya-in meski dia bersujud memohon-mohon di kaki gue! dapetinya aja susahnya Masya Allah, jadi mana mungkin gue sia-siain. ”
Bhintara tersenyum kecil saat mengingat wajah Nabila yang memerah karena cemburu. Namun perlahan senyumnya memudar saat ingatanya di tarik kembali ke malam penuh drama itu.
Flasback on
Di tengah kekalutanya malam itu Bhintara akhirnya bisa kembali menjagkau keberadaan Nabila. Dia marah, merasa emosi sendiri saat melihat keadaan di sekitar jalanan pada saat itu sepi sekali.
Bhintara sempat mengamati kondisi sekitar dari dalam Mobil, keadaanya saat itu benar-benar gelap gulita. Lalu bagaimana bisa Nabila yang notabenya seorang perempuan malah berhenti di pinggir jalan dengan keadaan yang hujan deras begitu?
Apa Nabila tak berfikir? Bisa saja ada orang jahat yang menghampiri di situasi seperti itu.
Sungguh Bhintara ingin sekali menyeret tubuh perempuan itu keluar dan memarahinya habis-habisan.
Tok..tok!..tok !
Bhintara menggedor-gedor jendela mobil dengan membabi buta, tak peduli jika nantinya kaca itu akan pecah dan mengenai si pengemudi. Bahkan jika saja pada saat itu ada benda tumpul di seketirnya pasti dia akan langsung menggunakanya untuk memecahkan kaca tersebut tanpa menunggu lama.
Se-khawatir itu dia dengan keadaan Nabila.
“ Keluar, Nabila buka pintunya !” teriak Bhintara tak sabaran.
Nabila menoleh ke samping,melihat suaminya ada di sana hatinya lega. Ia buru-buru membuka pintu mobil dengan cepat.
__ADS_1
“Mas Bhintar, aku……”
Tanpa Babibu-bebo laki-laki itu langsung menyeret tubuh Nabila menuju ke sebuah Mobil berwarna merah yang terparkir tepat di belakangnya. Kemudian menghempaskanya di samping kemudi dengan kasar.
Tubuh Nabila mematung di tempat, untuk yang pertama kalinya di perlakukan sekasar itu oleh seorang pria. Dan lebih tak menyangka lagi jika yang melakukanya adalah Bhintara suaminya sendiri.
Di lihatnya laki-laki itu langsung berlari mengitari mobil dan menuju pintu samping, kemudian duduk di bangku kemudi dengan raut muka marah dan emosi.
Brak !
Bahkan menutup pintu mobil dengan kasar sampai membuat Nabila terjingkat memejamkan matanya rapat-rapat.
Merasa tak ada pergerakan sama sekali, Nabila perlahan membuka mata dan menemukan Bhintara sedang mencengkram setir mobil dengan kuat.
“M-maas….aku….”
“ Sebenarnya kamu itu ngapain sih berhenti di tempat sepi kayak gini ! “ bentak Bhintara lagi.
Nabila takut, takut sekali melihat suaminya seperti itu. Baru kali ini dia melihat laki-laki itu bersikap kasar sekali.
“Ban Mobilnya tiba-tiba Bocor.” jawab Nabila sambil menunduk ketakutan.
"Kenapa gak langsung telepon aku Hah?” Bhintara meraup mukanya kasar dengan menahan emosi " Astagfirullah Nabila! kamu bisa aja celaka di sini sendirian! ini Bahaya Nabila, BAHAYA!!! "
“M-mma-aaf...*B*aterai Hpku habis dan lowbet.” Lirih Nabila masih menjawab.
Seharusnya kali ini dia diam saja, agar tak menambah kemarahan Bhintara. Tapi Nabila justru tak bisa karena hatinya merasa tak terima.
Mengalami musibah seperti ini bukanlah kemaun Nabila sendiri, jadi..ia tak mau di salahkan di sini.
Lagian siapa juga orang yang mau terkena musibah, gak ada kan? so.... bukan salah Nabila donk!
Tiba-tiba Bhintara langsung memukul setir mobilnya dengan keras membuat Nabila menangis di tempat.
“Demi Allah Nabila ! apa kamu pernah berfikir? Keadaan kamu saat ini bisa membahayakan nyawamu! mau jadi apa kamu kalau aku gak segera nemuin keberadaanmu hah ! “
Tubuh Nabila menegang saat Bhintara kembali meneriakinya. Dia menundukan kepala sembari mengepal tanganya gemetaran. Entah kenapa ia tidak menyukai nada bicara Bhintara yang sejak tadi terus-menerus meneriakinya.
“Kenapa kamu terus-menerus bersikap kekanakan seperti ini huh? Tak mau mendengarkan penjelasanku lebih dulu dan malah menghindar seperti anak kecil! apa kamu tahu? jika sampai terjadi apa-apa sama kamu aku _____”
Tak kuat lagi mendengar ucapan Bhintara yang sedari tadi menyudutkanya, Nabila beringsut dari tempatnya ingin segera keluar. Namun gagal karena laki-laki itu selangkah lebih cepat memincet salah satu tombol di dalam mobil dan langsung mengunci pintunya.
Nabila melirik tajam ke arah Bhintara “ Aku ingin keluar!” ucap Nabila sambil mengusap air matanya.” Kau menakutiku.” lanjutnya lirih.
Amarah Bhintara sedikit surut mendengar nada gemetar dari Nabila, kedua tanganya terkepal kuat di sisi tubuhnya menahan amarah.
"Apa kamu fikir aku gak takut? bagaimana jika ada orang jahat yang akan merampok dan memperkos….” Bhintara tak sanggup meneruskanya.
Tubuh Nabila kaku, benar juga yang di katakan suaminya. Siapa yang bisa menjamin jika dirinya akan tetap baik-baik saja sampai besok pagi di tempat sepi seperti ini.
Melihat raut muka Nabila berubah pucat, Bhintara mengambil napas dalam-dalam untuk menetralkan emosinya. Kemudian menggapai tangan Nabila yang menjauhkan tubuhnya mepet di ujung jendela. Menariknya pelan agar mendekat ke arahnya.
Dia benar-benar tak pernah memperkirakan hal ini akan terjadi, tadinya hanya ingin lari saja sejauh-jauhnya dari laki-laki yang membuatnya kecewa. Membutuhkan waktu sendiri untuk menenangkan hati.
Tapi kenapa justru keadaan malah berbalik menyalahkanya? Soalah di sini dia yang salah, padahal seharusnya Nabila yang marah karena sudah di buat sakit hati.
“Jangan menghindar lagi, mas bisa jelasin semuanya ke kamu Dek.“
“ Mas gak perlu jelasin apa-apa, di sini aku yang salah. Sudah bersikap kekanak-kanakan. Jadi..tak perlu menjelaskan apapun, lagian siapa aku? Hanya orang baru kan yang kebetulan singgah di hatimu, nanti cepat atau lambat juga akan pergi.” Jawab Nabila ketus, sebisa mungkin tak berkontak mata denganya.
Bhintara menghela napas frustasi “ Dari mana pemikiran itu datang hem? Kamu tahu gak gimana paniknya aku saat mencari keberadaanmu tadi? aku hampir terserempet truk tronton gara-gara mengejar kamu”
“Kamu juga tahu gak? gimana perasaan aku di abaikan seharian ini, mas selalu membuka Handpone tapi tak satupun pesan dariku yang kamu balas dan malah bercengkrama dengan seorang wanita di sebuah restoran di belakang aku.”
“Harusnya kamu bisa tanyakan langsung ke mas, bukanya malah lari menghindar seperti ini.” Ucap Bhintara lembut sudah tak emosi seperti tadi.
“Buat apa aku tanya? Udah jelas mas lebih milih besenang-senang dengan mbak Aulia ketimbang membalas puluhan Chat dariku.”
Nabila memberikan tuduhan sinis, nyaris menangis lagi.
“Kamu cemburu ?” tanya Bhintara menajamkan penglihatanya ke arah Nabila
Nabila mendelikan mata yang sejurus kemudian di susul dengan kernyitan di dahinya.
Cemburu ? apa benar dia cemburu. Itu tidak mungkin.
Nabila menggeleng, “ Gak ! gak, ini bukan cemburu. Dia hanya kebawa suasana saja,
iya..ya itu yang dia rasakan saat ini bukan yang lain.” Tekanya dalam diri sendiri.
"Nabila….sayang, hey!” Panggil Bhintara sambil menggoyangkan genggaman tanganya pada Nabila.
Wanita itu menggercapkan matanya gugup. “ M-mmana ada aku cemburu? Aku hanya merasa di abaikan saja sebagai istrimu, seharusnya Mas Bhintar itu cerita semuanya ke aku jangan main belakang seperti ini.”
Bhintara tersenyum sungging penuh arti “ Oh..jadi dek Nabila gak cemburu? oke kalau gitu, jadi gak masalah donk jika mas ajak Aulia makan lagi “
Nabila tetap tidak mau melirik ke arahnya, namun Bhintara tak sanggup lagi untuk tidak meraih dagu wanita itu agar menatapnya.
“ Nabila, bukanya mas gak mau menceritakan semuanya ke kamu. Hanya saja dirimu sendirilah yang gak mau melibatkan aku di hidupmu.”
Nabila tertegun.
Ada benarnya juga sih apa yang dikatan suaminya. Selama ini dia yang selalu menutup dan membatasi diri agar laki-laki itu tak terlalu masuk lebih dalam lagi di hatinya. Tapi kenapa justru kini ia yang tak terima jika suaminya juga menginginkan prifasi seperti dirinya?
Apa benar ini cemburu karena cinta?
“Mas..untuk yang kedua kalinya aku bertanya, tolong jawab dengan jujur. Apa wanita yang ada di hatimu itu adalah Mbak Aulia, wanita yang tadi ?” tanya Nabila perlu meyakinkan diri.
__ADS_1
Bhintara terlihat menghela napasnya kasar, kemudian melepas tanganya dari Nabila untuk memperbaiki duduknya menghadap sang istri.
“ Jika aku jawab iya, apa kamu akan pergi lagi?”
Nabila menggeleng “ Enggak! aku gak akan pergi sebelum………”
Bhintara mengernyitkan dahinya menanti ucapan Nabila yang berhenti “Sebelum ?”
“ Sebelum aku menemukan alasan yang kuat untuk pergi.” terusnya mantap.
Bhintara mengabaikan ucapan Nabila yang mulai ngalor ngidul gak jelas.
” Jangan bicara ngawur kamu dek, aku tahu mas salah telah mengabaikan pesanmu, tapi itu bukan suatu alasan yang kuat untuk membuatmu pergi dari sisiku” kemudian Menstater mobil, melajukan kendaraanya ke jalan dengan hening yang mengiringi.
Keduanya sampai di pondok pesantren pukul satu dini hari. Setelah memarkirkan mobilnya di garasi, Bhintara cepat-cepat ingin keluar membukakan pintu untuk istrinya, tapi di tahan oleh suara Nabila.
“ Mas tunggu ! “
Bhintara sudah berdiri di luar, tak jadi menutup pintu karena panggilan dari Nabila.
“Jika mas di suruh memilih antara aku dan Mbak Aulia, mana yang akan mas pilih? istrimu atau pacarmu? ” kata Nabila dengan menatap kosong ke depan, enggan menoleh ke arah Bhintara yang berdiri mematung di sana.
“ Nabila, kamu ngomong apa? Aku tidak bisa memilih di antara kalian. Sebab kalian berdua bukanlah barang yang akan aku beli, jadi tak perlu pilih-pilih.” Jawab Bhintara tegas.
Mendengar ucapan Bhintara yang ambigu ia tak dapat lagi menahan air matanya untuk luruh.
Dia mengangguk tersenyum kecut “ Hem..kalau begitu mas, jika nanti aku sudah menemukan alasan yang tepat bolehkah aku pergi dan minta pisah padamu?”
Bhintara syog, badanya terasa kaku saat mendengar ucapan sang istri. Dia masih tak percaya Nabila akan mengeluarkan kata-kata itu di usia pernikahan yang se-umur jagung ini.
" Dek, jangan bicar…….”
Brak !
Nabila sudah menutup pintu mobil dan keluar sendiri, kemudian berlari ke dalam rumah dengan menghapus air mata yang sejak tadi mengalir tanpa henti.
Flashback of
“ Thar,,,,hey ! woi !! malah bengong. “
Ibrahim mengguncang-guncangkan tubuh sahabatnya dengan keras.
Bintara tersadar lalu menggercapkan mata.
“ Eh ? iya Ib, sory..sory lo tadi ngomong apa?”
Ibrahim menegklengkan kepalanya kesamping, menatap Bhintara dengan jengah “ Lagian kenapa sih mesti ngebuat hidup lo susah sendiri kayak gini Thar? heran deh gue! “
“Gak semudah itu Ib, semua sudah gue pertimbangkan di awal. Bahkan sudah melewati istikroh yang mantep juga. Dan langkah ini yang terbaik untuk semuanya.”
Ibrahim hanya mendengus lelah “ Terbaik buat lo dan gak adil buat Aulia dan juga Nabila maksudnya?”
Bhintara langsung menatap sinis pada lawan bicaranya
“ Apa maksud lo ngomong kayak gitu?”
“ Kamu jangan egois untuk memiliki keduanya Thar, kasihan mereka berdua terutama Nabila. Dia wanita cantik penuh pesona, banyak sekali laki-laki tampan di luaran sana lebih segala-galanya dari elo yang bisa membahagiakanya. Lepaskan dia jika kau tak mencintainya.” Tutur Ibrahim menasehati.
Bhintara membulatkan matanya, tak di sangka sahabat yang sejak awal sudah tau semuanya dan mendukungnya kini berbalik menyerangnya dengan tak lagi memihaknya.
“ Ada apa denganmu Ib? Kenapa tiba-tiba berbicara seolah aku yang harus menanggung dosa semua manusia! lo tahu sendiri Aulia itu seperti sebuah kewajiban untuku sedang Nabila adalah sebuah keharusan di hidupku.” Jelas Bhintara pada Irahim.
“ Jadi, aku tak bisa jika di suruh untuk memilih salah satu di antara mereka. Dua-duanya sudah menempati tempatnya tersendiri di hatiku.”
Ibrahim beranjak dari duduknya dan berjalan ringan menuju pintu. Meninggalkan Bhintara yang masih terduduk di tempatnya. Percuma saja berbicara pada laki-laki itu yang masih belum menyadari perasaanya sendiri.
Dia saja bisa melihat jika Bhintara pada malam itu lebih memilih mengejar Nabila di banding mengantarkan Aulia pulang.
Dari situ saja sudah sangat jelaskan? Hatinya lebih memilih siapa?
Huh ! dasar Bhintara, begitu saja dia bingung.
“ Oke terserah lo saja maunya bagaimana, gue dukung-dukung aja asal lo bisa dan mampu. Tapi Thar.. gue mohon jangan pernah acuhin Aulia lagi seperti malam itu,kasiahan dia yang hanya punya lo di dunia ini dan lebih membutuhkan banyak perhatin di banding Nabila.”
Bhintara Bingung, sebenarnya sahabatnya itu memihak pada siapa sih? Dirinya, Aulia, atau Nabila. Sebentar-bentar kasihan pada Nabila dan selanjutnya berganti mengasihani Aulia?
Dasar sahabat labil !!
Bhintara menghembuskan napasnya lelah, inilah yang dia takuti. Tak bisa adil dengan keduanya meski semua sudah ia usahakan mati-matian.
Bhintara terus memperhatikan pergerakan Ibrahim yang sudah membuka pintu dengan sorot tajam sambil berfikir.
Terlihat Ibrahim berbalik, kemudian melemparkan korek api ke arah Bhintara yang lansung di tangkap dengan tepat oleh laki-laki itu.
” Buat lo aja sekalian sama rokoknya, karena sepertinya kau lebih membutuhkan itu dari pada gue! “
Kemudian dia menutup pintunya, meninggalkan Bhintara sendiri di sana dengan kekesalan yang luar biasa.
Klek
Pintu tertutup.
" Lo gak tau aja Ib, gue sangat mencintai Nabila tapi tak bisa jika harus meninggalkan Aulia. " gumamnya lirih.
Jadi.....jangan lupa like, vote, dan comenya ya biar authornya seneng.
Apsen donk! siapa aja di sini yang sudah masukin cerita ini ke favorit kalian?
__ADS_1
Cung !