
Nabila masih menatap lurus ke arah meja pojok ruangan dengan penasaran. Dia tak menyangka jika laki-laki yang sejak tadi memenuhi pikiran kini muncul di hadapan nya dengan senyum sumringah seperti tak ada beban sama sekali.
Beda sekali dengan Nabila yang hampir seharian penuh menekuk wajah nya murung sebab pertikaian nya dengan sang suami tadi malam.
Dia kira Bhintara akan galau seperti dirinya, tapi nyatanya pertengkaran itu sama sekali tak berpengaruh pada sang suami yang terlihat masih bisa ketawa-ketiwi bersama teman-temanya sekarang ini.
Nabila…Nabila, mikir apa kamu sih? udah di bilang jangan terlalu berharap menjadi yang terpenting untuk nya. Dasar perempuan bebel. Dia itu gak cinta kamu !
“Dokter Aisyah.” panggil Nabila lirih.
“ Iya Bil, gimana? udah enakan tenggorokan nya. Kamu sih..mentang-mentang lapar makanya sampai gak ke kontrol gitu, jadi tersedak kan jadi nya.”
Nabila mengambil gelas yang berisi air putih dan menenggak nya kasar sebelum bersuara “ Iya udah gak papa kok, oh iya dok suaminya lagi reunian ya? Rame gitu kelihatanya.” Tanya nya hati-hati sekali.
Ibu satu anak itu menoleh ke meja di pojok ruangan dan tak lama kemudian dia tersenyum
“ Enggak juga, lagian mana ada reunian setiap tiga hari sekali Bil? Mereka itu cuman lagi nongkrong-nongkrong santai aja sambil sekalian bahas progres restoran. ”
Nabila mangut-mangut kecil mencoba memahami.
“ Eemm…”
“ Oh ya bukanya kamu tadi tanya ya wanita yang duduk di sana itu siapa? “ ucap dokter Aisyah, yang kembali teringat akan pertanyaan nya di awal.
Nabila langsung menegakan badan nya siap mendengarkan “ Eh ? oh iya..ya ! memang nya siapa dok?”
“Dia itu Aulia, istri nya….”
“Sayang ! “
Perkataan Dokter Aisyah kembali terhenti, ke dua dokter itu langsung saja menoleh ke sumber suara saat sebuah panggilan dari salah satu seseorang di maja itu mengalihkan perhatian.
Tubuh Nabila terpaku, gak menyangka orang yang seharian ini bikin resah hati nya ternyata ada di sana sedang memperhatikan nya juga. Satu meja dengan suami dokter Aisyah dan si perempuan itu.
“Bil, aku ke sana bentar ya, suamiku manggil tuh“
Nabila terdiam di tempat, tak dapat mengeluarkan satu kata pun karena masih mencerna semua keadaan ini.
Lagi-lagi penjelasan Dokter Aisyah terhenti. Menambah rasa penasaran nya semakin menjadi-jadi saja.
Apalagi setelah tahu jika wanita itu bernama Aulia? Yang kalau tidak salah nama itu juga yang pagi tadi di lontarkan Mbok Marni secara tidak sengaja.
Jadi…apakah mungkin wanita itu juga yang menjemput suaminya tadi pagi? Apa sebenar nya hubungan mereka?
Entah bagaimana awal mulanya tiba-tiba mata Nabila memanas, hatinya merasakan nyeri dan tak tahu apa penyebab nya.
Dia masih memperhatikan lekat laki-laki yang sekarang ini juga sedang memperhatikan nya dengan membelalakkan mata seperti terkejut.
Untuk sesaat keduanya saling berpandangan, sebelum Nabila memutuskan nya dan tanpa pikir panjang beralih berbalik melangkahkan kakinya menuju toilet dengan perasaan tak menentu.
Setelah sampai di toilet, Nabila menyandarkan tubuh lemas nya di balik pintu menengadahkan kepalanya ke atas.
Bayangan Bhintara yang sedang asyik tertawa di meja makan tadi cukup mengganggu pikiran nya.
Nabila memejamkan mata. Bertanya-tanya, kenapa dirinya merasakan kecewa saat melihat laki-laki itu tersenyum sesumringah pada perempuan cantik yang berada di sebelah nya. Dan kenapa itu membuat hati nya sakit?
Ya Allah, kenapa aku harus menyaksikan nya secara langsung? Suamiku lebih memilih bercengkrama dengan wanita itu ketimbang membalas beberapa pesan yang sudah aku kirimkan sejak tadi siang.
Tak terasa air bening yang sudah terkumpul di pelupuk mata kini menetes juga.
"Tangisan apa ini ya Allah? " ucap Nabila sambil menghapus air matanya yang terus saja berlinang.
Untuk beberapa detik dia menikmati segala rasa sakit itu dengan menumpahkan rasa sakitnya lewat tangisan. Dia sampai terheran sendiri, Kenapa setelah beberapa tahun ia tak pernah menangisi segala sesuatu mengenai cinta... Justru kini ia kembali di buat menangis dengan alasan yang sama.
Di rasa cukup, Nabila menghela napas nya kasar. " Huft " Kemudian merapikan penampilan nya di depan cermin, sebelum ia keluar untuk berpamitan pulang dengan dokter Aisyah.
Agar tak terlihat jika dirinya habis menangis, Nabila mengeluarkan lipstik dan memoleskan benda berwarna pink itu di bibir pucat nya.
Dia harus terlihat biasa seperti tak pernah terjadi apa-apa. Ingin membuktikan pada Bhintara bahwa dia juga baik-baik saja seperti dirinya, terutama tak mau terlihat menyedihkan di hadapan semuanya.
Nabila menarik napas panjang dengan satu helaan kemudian ia hembusan nya kasar.
__ADS_1
Wanita berhijab karamel itu berjalan mantap menuju meja yang tadi ia duduki bersama dokter Aisyah dengan langkah tenang. Meski setelah duduk, dia merasakan seperti ada dua pasang mata yang sedang menghunus nya dengan tajam. Tapi ia abaikan pura-pura tak melihat.
Nabila hanya perlu bersikap sesantai mungkin, maka semuanya akan baik-baik saja. Lagian setelah nanti dokter Aisyah kembali, dia akan langsung izin pulang duluan dan melupakan malam ini seperti tak pernah melihat apa-apa. Sesimpel itu.
“ Nabila ! “
Tubuh Nabila menegang saat teriakan dokter Aisyah yang sekarang sedang bergabung di meja suaminya memanggil nya. Ternyata semuanya tak segampang yang ada di pikiran gadis itu.
Nabila menelan ludah nya gugup. Dengan terpaksa ia mengangkat kepalanya ke depan pada sumber suara menampilkan senyum paksa.
“Sini !”
Dia ingin sekali menolak ajakan dokter Aisyah, tapi... pasti nanti wanita kepo itu akan memikirkan tentang dirinya yang enggak-enggak !
Ckk... Kalau sudah begini mau bagaimana lagi?
Dengan langkah berat, Nabila terpaksa menghampiri meja tersebut dengan deguban jantung yang gila-gilaan.
Dan bertambah parah saat si dokter Aisyah memperkenalkan nya kepada semua makhluk yang ada di sana. Antusias sekali.
“ Sayang kenalin teman duet aku di rumah sakit, si dokter Hitz paling cantik yang jadi Cemcemanya si jutek Iqbal. Dia bernama Nabila ” tutur dokter Aisyah memperkenalkan nya dengan bangga.
Nabila tersenyum, menelangkupkan ke dua tangan nya di depan dada
“ Salam kenal, assalamualaikum.” Ucap Nabila sopan.
"Waalaikumsalam.Saya Abraham suaminya Aisyah"
Kemudian Laki-laki berjambang itu mengerlingkan mata jahil ke arah istrinya.
" Owalah... ini toh gebetan nya si Iqbal, pantes saja rela menunggu lama. Lawong bentukan perempuan nya saja kayak gini cantik nya. " Lanjutnya terkekeh pelan yang langsung di angguk i oleh dokter Aisyah.
Terus Dokter Aisyah beralih ke arah di mana laki-laki yang sejak tadi terus saja memperhatikan Nabila.
“ Kalau yang ganteng ini namanya Bhintara si dosen killer yang selalu bikin para mahasiswanya klepek-klepek.” Lanjut Dokter Aisyah memperkenalkan nya pada Nabila.
Mata mereka kembali bertemu. Segera mungkin menelangkupkan tangan nya ke depan dan buru-buru membuang muka tak mau menatap mata sang suami lama-lama.
Bhintara masih bergeming di tempat nya, enggan mengalihkan tatapan nya sedikitpun dari sang istri hingga dehemman dari dokter Aisyah membuat nya sadar.
" Ekhem, awas Zina mata Tar. Dia udah ada yang punya jadi jangan coba-coba ya kamu ! "
Bhintara terkesiap tersenyum sungging “ Salam kenal, saya Bhintar. ” Balas nya singkat dan jelas.
Terakhir mata Dokter Aisyah beralih ke si perempuan yang sejak tadi membikin Nabila penasaran setengah mati.
Akhir nya penjelasan mengenai wanita tersebut yang tadi sempat terjeda akan tiba juga.
” Aulia, kenalin ini temen aku nama nya Nabila. Dan Nabila ini Aulia seorang Hafidzah yang juga merupakan dosen di Universitas yang sama dengan Bhintara.”
Wanita berhijab syar’I itu tersenyum menawan ke arah Nabila sambil mengulurkan tangan nya ke depan.
" Apa sih kamu syah, jangan lebay gitu napa? cukup perkenalkan aku seperlunya saja tak usah menambah lagi embel-embel di belakang nya " Bahkan suaranya saja begitu lembut menyapu gendang telinga Nabila.
Apakah ini wanita yang di maksud suaminya? Yang nama nya masih tersimpan di hati Bhintara sampai saat ini.
Subhanallah…Nabila terkagum melihat nya.
Definisi dari bidadari dunia yang sesungguh nya. Entah kenapa, ada sedikit percikan api cemburu yang memburu di dalam dada.
Nabila merasa kecil jika di bandingkan dengan wanita tersebut.
Mengapa ada wanita yang sesempurna itu? Cantik rupanya dengan senyum menawan. Hidung nya yang mancung dan kecil sangat pas jika di padukan dengan bentuk wajah oval nya, di tambah lagi pipi yang kemerahmerahan menambah ke anggunan terpancar alami dari dalam tubuh nya.
Dan satu lagi yang membuat dirinya tiba-tiba insecure tak percaya diri. Aulia ini adalah seorang Hafidzah, wanita penghafal al-qur’an yang di hari kiamat nanti akan di jadikan sebagai pembawa bendera islam di garda terdepan umat muslim.
Jelas-jelas bukan tandingan Nabila jika harus di duetkan untuk mendapatkan hati Bhintara. Karena sudah pasti dia akan kalah talak dari segi manapun.
Nabila akan patah sebelum berjuang, dan pasti akan kalah sebelum dia menyerang. Jadi sebelum itu semua terjadi maka menyerah adalah satu -satunya keputusan terbaik untuk menyelamatkan hati Nabila dari sakit hati yang kedua kalinya.
__ADS_1
Nabila membalas uluran tangan wanita bernama Aulia itu dengan gemetaran. Rasa kagum dan cemas bergantian menghujam hati nya.
Entah mengapa ada sesuatu yang salah di sini tapi apa dia tak mengerti.
Dengan lamat-lamat ia amati wajah Aulia sekali lagi, seperti pernah melihat tapi di mana ia lupa.
“ Assalamualaikum, saya Nimas Nur Aulia. Panggil saja Aulia.”
“S-saya Shintia Azka Nabila. Biasa di panggil Nabila atau Nabil. ”
Aulia pun tersenyum tulus " Nama yang cantik seperti orang nya " Katanya sambil melihat ke arah Bhintara, bukanya ke arah si pemilik nama.
Nabila segera melepas tautan tangan itu dengan segera. Ingin langsung berpamitan saja pada Dokter Aisyah untuk pulang lebih dulu.
Sebelum nya dia sempat melirik ke arah Bhintara sebentar dengan tatapan nanar, ternyata laki-laki itu masih saja terus memperhatikan nya.
Nabila mengabaikan tatapan Bhintara, kemudian mengulurkan tangan nya pada dokter Aisyah.
“Dokter Aisyah, Nabila pamit pulang dulu ya dok takut kemalaman nanti nyampe rumah nya.”
Wanita itu terlihat melirik ke arah jam nya “ Loh? gak terasa kok udah jam sembilan aja ya Bil.
Nabila mengangguk.
“ Ya udah gih kamu pulang sekarang aja. Pengantin baru itu gak boleh pulang malam-malam, kasihan suaminya kelamaan menunggu di rumah.”
Mendengar perkataan dari dokter Aisyah yang memang tak tahu apa-apa, Nabila hanya bisa tersenyum sinis.
“ Iya dok “ gak bakalan ada yang nungguin kalau suaminya saja sedang asyik berkencan dengan wanitanya di sini. Terus nya dalam hati.
Setelah berpamitan dengan dokter Aisyah, Nabila langsung buru-buru keluar dari restoran menuju tempat parkir.
Mengabaikan sedikit kegaduhan di belakang nya tanpa mau menoleh lagi.
Setitik air bening sudah menetes dari mata indah nya. Nabila tak menyangka dia akan menangisi laki-laki yang baru di kenal nya tersebut secepat ini.
Apakah dia sudah mulai cinta pada Bhintara? Entah lah…Nabila masih bingung untuk meraba hati nya.
" Nabila ! " panggil Bhintara.
Bhintara di landa was_was saat melihat semburat kesedihan di wajah Nabila sang istri.
Sejak tadi dia mencoba diam saja, menahan marah. Mengikuti permainan sang istri yang berpura-pura tak mengenal dirinya di sana.
Jujur dia sempat kecewa tak di akui seperti itu, Tapi dia bisa apa? disisinya juga ada Aulia wanita yang....entahlah, Bhintara sulit untuk menjelaskan nya.
Dia hanya bisa diam saat melihat istrinya memainkan peran nya sebagai orang asing. Mulut nya boleh saja berbicara seperti tak terjadi apa-apa, tapi dari sorot matanya Bhintara bisa melihat jika ada segumpal emosi yang tertahan di dalam nya.
Apa itu kecemburuan? jika iya betapa senang nya hati Bhintara saat ini.
Untuk beberapa menit, Bhintara masih menikmati segala aktivitas yang di lakukan sang istri di antara mereka berempat. Betapa tak berbakat nya dia menjadi seorang aktris.
Hingga, ucapan selamat tinggal yang di kontrakan nya pada semua membuat nya seketika langsung panik. Bhintara tak bisa membiarkan istrinya pulang sendiri di jam sembilan malam seperti ini. Apalagi perempuan itu membawa dan menyetir mobil sendirian.
Bhintara menggeleng, Dia harus ikut Nabila pulang. Memastikan jika sang istri sampai di pondok pesantren dengan selamat.
Tanpa menghiraukan segala pertanyaan yang teman-temanya lontarkan, ia langsung mengejar Nabila yang sepertinya sedang melarikan diri menuju parkiran.
Akhir nya dengan sesekali berlari kecil dia bisa menyusul sang istri yang kini keberadaanya sudah di depan pintu mobil siap masuk.
Bhintara sudah berdiri tepat di belakang Nabila tersenyum lega. Namun saat dia ingin mengulurkan tangan untuk meraih pundak sang istri, wanita itu keburu masuk ke dalam dan membanting pintu mobil nya dengan keras. melesat cepat cepat meninggalkan nya di sana sendiri.
" Sayang tunggu ! " teriak Bhintara terlambat.
...... ...
Setelah ini jangan lupa tinggalin like, komen dan vote nya terimakasih.
__ADS_1
Oh ya ! buat kalian yang mau tahu sedikit ulasan tentang siapakah sosok Aulia ini? kalian bisa baca di Novel aku yang berjudul " Kulepas dengan Ikhlas " Episode 4 (Terpesona ).