Cinta  Untuk Nabila

Cinta Untuk Nabila
Masa Pengantin Baru.


__ADS_3


Bhintara menggeliat membuka matanya lamat-lamat saat sinar matahari menyilaukan pandanganya. Dia terbangun sesaat setelah mendapatkan kesadaran penuh sebelum menoleh ke samping untuk melihat keberadaan sang istri yang ternyata sudah tidak ada di tempatnya.


Laki-laki itu langsung terkesiap. Dia masih ingat betul, kalau istrinya kembali tertidur bersamanya setelah menjalankan sholat subuh berjama’ah tadi. Tapi, kenapa sekarang sudah tidak ada di sampingnya?


Apa Nabila pergi?


Bhintara menggeleng. Gak! Itu tidak mungkin, sebab mereka tadi bahkan sempat melakukan hubungan suami istri setelah subuhan. Dan semuanya berjalan baik-baik saja tanpa penolakan dari Nabila. Bahkan istrinya itu tak pernah sedikitpun menyinggung tentang kejadian tadi malam. Jadi, mana mungkin Nabila pergi jika tak ada satupun alasan yang mendasarinya untuk pergi.


Lalu…..kalau begitu, dimanakah istrinya itu sekarang?


Bhintara mulai panik, tiba-tiba saja beberapa pemikiran buruk yang sejak tadi malam menggelayuti nya kembali muncul kepermukaan. Ia langsung mendudukkan tubuhnya. Menyingkirkan selimut yang menutupi tubuh polosnya dengan buru-buru, kemudian tergesa-gesa turun dari tempat tidur sambil mengedarkan netra nya untuk mencari keberadaan sang istri.


“Sayang!....Sayang?” Panggilnya tak sabaran untuk memastikan keberadaan sang istri, namun tak segera mendapatkan sahutan.


Dengan secepat kilat Bhintara menyambar sarung yang sudah terlipat rapi di pinggiran tempat tidur, lalu mengenakan nya asal. Kemudian berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri.


Tak butuh waktu lama untuk Bhintara menyelesaikan ritual pagi tersebut, kemudian bergegas menuju Almari. Tiba-tiba menerbitkan sedikit senyuman dan menghela napasnya lega saat matanya melihat satu setel pakaian yang sudah tergantung rapi di depan sana. Mematahkan segala pemikiran buruk yang sejak tadi membuatnya resah. “ Alhamdulilah. Ternyata kamu masih di sini.” Gumam nya sambil memakai pakaian itu satu persatu sampai selesai. Lalu segera turun ke bawah untuk mencari keberadaan Nabila.


Kini...Bhintara baru bisa merasakan ketenangan yang sesungguhnya setelah mendapati wanita yang sejak tadi di carinya, ternyata tengah berada di depan pintu lemari Es yang terbuka. Entah apa yang dilakukan perempuan itu sehingga tak menyahuti panggilan nya sejak tadi.

__ADS_1


Dia sampai terkekeh kecil menertawakan dirinya sendiri yang terlalu Lebay seperti ini. Lantas memilih duduk di kursi makan sambil memperhatikan Nabila yang sibuk mengabsen satu-persatu beberapa sayur mayur dan Ikan segar, yang entah sejak kapan di belinya.


Mata sang istri terlihat berbinar saat memperhatikan seluruh belanjaan nya di atas meja. Dan lihat saja, tangan nya begitu sangat cekatan saat menyusun bahan-bahan tersebut ke dalam Kulkas.


Tanpa sadar, pemandangan itu membuat hati Bhintara menghangat dan Manis dalam waktu bersamaan. Bisa melihat Nabila sudah tak canggung lagi berada di rumah ini, itu merupakan kebahagiaan tersendiri untuk Bhintara. Sebab, inilah inilah yang selalu di nantikan nya sejak Menikah.


“ Sayang?”


Panggilan Bhintara membuat Nabila menoleh, memperlihatkan sedikit keringat di dahinya yang mulus itu tanpa jerawat satupun “ Lagi sibuk ngapain sih hem, Sampai gak menyahut sama sekali panggilan Mas dari tadi? Dan…Apa ini, Kamu belanja?” Keluh Bhintara seraya berjalan menghampiri sang istri.


Nabila hanya tersenyum kecil melihatnya “ Udah bangun Mas? Oh ini, iya Aku tadi pergi ke rumah Umi pagi-pagi sekali. Udah janjian dari kemaren sore kalau beliau mau ngajak aku ke Pasar. Maaf tadi gak sempet pamitan, soalnya Mas tidurnya nyenyak banget sampai gak tega buat bangunin. Jenengan...sejak kapan di situ?” Ujar Nabila seraya menuju ke arah Wastafel dan sibuk mencuci tangan nya di sana, sampai tak menyadari jika sang suami kini sudah sampai tepat di belakangnya.


Bhintara menggercapkan mata saat melihat Nabila mengangkat dua tangan untuk mengcepol rambutnya. Memperlihatkan leher jenjangnya yang putih dan mulus. Membuat hasrat Bhintara kembali tergoda Agar segera menyurukkan wajahnya di sana. Menikmati kelembutan tubuh itu lagi dan lagi.


Nabila hanya sedikit menolehkan wajahnya ke belakang sambil tersenyum lalu mengangguk. “ Oke! Sekarang Mas mau sarapan apa? Nasi goreng mau? Biar aku buat……_________.”


Nabila tersentak kaget saat merasakan sepasang tangan memeluknya dari belakang. Menciumi ceruk lehernya sebentar lalu membenarkan nya di sana.


“ Mas….” Bisik Nabila penuh peringatan.


Bhintara tersenyum lembut, enggan menarik wajahnya sedikitpun dari pundak Nabila dan malah semakin membenarkan nya. “ Tolong biarkan seperti ini sebentar saja. Aku bahagia sekali, akhirnya bisa melihat dek Nabila bisa bersikap biasa tanpa rasa canggung lagi. “

__ADS_1


Tubuh Nabila menggeliat tak nyaman, karena merasakan hembusan napas Bhintara yang membelai kulit sensitifnya. Membuatnya seketika meremang. “ Mas ngomong apaan sih? Lepas ih, geli. Gak perlu se_senang itu juga kali Mas! Lagian Aku hanya menjalankan kewajiban ku sebagai seorang istri, dengan melayani suamiku agar ia merasa cukup hanya dengan diriku saja, tak mencari-cari kekuranganku di luaran sana.”


Seketika Bhintara memejamkan mata saat mendengar kalimat terakhir yang keluar dari bibir Nabila yang serat akan sebuah sindiran di dalam nya“ Maaf, bukan maksudku seperti itu. Hanya saja aku....Emm______Begini dek, Mas bisa jelas___”


“ Mas! “ Sergah Nabila yang kembali merasa tak sanggup untuk mendengarkan penjelasan suaminya sekarang. “ Gak usah di jelasin, Aku gak apa-apa. Lupain aja kejadian tadi malam, aku yakin perempuan itu hanya temanmu saja kan Mas? Seperti halnya dokter Aisyah dan suaminya, Iya kan? Aku percaya kok sama Mas!”


Hatinya memang selalu mencegah untuk mendengarkan penjelasan apapun dari Bhintara, tapi mulutnya selalu berbanding terbalik dengan terus-terus memancing pertanyaan yang jawaban nya jelas-jelas sangat ia hindari. Membuat laki-laki bermata elang itu bingung sendiri, harus ia mulai dari mana cara untuk dia meluruskan semua. Sebab Nabila terus saja menahan nya.


Bhintara membalikan tubuh ringkih itu tanpa melepaskan tangan nya pada pinggang ramping Nabila. Menatap langsung ke iris mata sang istri dengan sayu. Hilang sudah rasa gairah pengantin baru yang tadi sempat menggebu, tergantikan dengan rasa bersalah yang rasanya seperti tertusuk sembilu “Jadi sekarang dek Nabila sudah siap untuk mendengarkan penjelasan dari Mas? Tapi…sebelumnya maukah dek Nabila berjanji dulu?”


Mungkin pagi ini ia akan mengatakan semuanya, karena lama-lama ia jadi tak tenang sendiri menyimpan nya.


Nabila menunduk ragu, menggigit bibirnya cemas. Tak sanggup menatap wajah sang suami. “ Aku gak mau Mas!” Tolak Nabila menggeleng lemah, “ Aku gak mau menjanjikan sesuatu yang nantinya akan aku sesali jika tak bisa menepati.” Kemudian mendongak dengan perlahan, balas menatap sang suami dengan mata memerah. “ Bisakah Mas tetap diam saja sampai aku mengetahuinya sendiri? Aku belum siap mas! Belum siap sama sekali. Jadi tolong, biarkan semuanya tetap baik-baik saja seperti ini. “ Mohon Nabila dengan suara yang sudah bergetar menahan tangis mati-matian, tak mau terlihat rapuh di hadapan sang suami.


Melihat wajah sang istri yang sudah merah padam menahan tangis sampai urat-urat di sekitar dahinya kelihatan, Bhintara langsung memeluk tubuh sang istri dengan erat. Jujur, dia juga tak sanggup menyembunyikan kebohongan ini lebih lama lagi. Dia sama tersiksanya seperti Nabila. Ingin sekali jujur, tapi dia juga takut jika wanita yang kini masih bisa ia dekap hari ini esok hari tak akan bisa ia rengkuh lagi. Bhintara sudah sangat mencintai Istrinya ini, bagaimana bisa takdir mempermainkan cinta mereka sekejam ini.



Air mata Bhintara sudah mengumpul di pelupuk mata sampai ia harus mendongakkan kepala untuk menghalaunya agar tidak terjatuh. “ Ya Allah Ya Rabb, Aku harus bagaimana menghadapi mereka berdua? “ Batin Bhintara menjerit. Lantas memejamkan mata saat merasakan bajunya yang basah terkena air mata Nabila,


Wanita yang dicintainya kini menangis. Dan dialah penyebabnya. Tak bisa berbuat apa-apa untuk menenangkan nya. Hanya bisa meminta pada sang pemberi segalanya agar di beri lagi kekutan lebih untuk menghadapi takdir yang sudah di tuliskan untuk nya.

__ADS_1


“Ku mohon ya Allah, tambahkan lah kesabaran ku agar aku bisa menghadapi mereka berdua yang telah kau titipkan kepadaku.”


Lanjutnya merintih dalam hati.


__ADS_2