
"wah gawat aku terlambat interview!", sudah hampir jam 09:00 tapi Mifa baru saja ingin berangkat.
Mifa keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga, Bibi terheran melihat sifat Mifa.
"assalamualaikum Bibi, Mifa pamit dulu!" Soraknya.
Mifa cepat cepat menaiki motornya, menyalakan mesinnya, tidak lupa membawa STNK, SIM, KTP, dan lain lain yang wajib di bawa oleh pengendara motor.
untung saja, di jalan tidak terlalu padat, Mifa sedikit cepat agar tidak dimarahi oleh boss nya.
Pukul 09:30.
"Alhamdulillah sampai, tapi terlambat semoga gak dimarahin ini Ya Allah", ucap Mifa sambil mengambil nafas.
"ya udahlah aku udah besar aku gak boleh bergantung sama ayah dan ibu!", ucap Mifa dengan keyakinan besar.
Mifa berjalan sambil merapikan Bajunya yang panjang, menggunakan hijab pasmina, tiba²
"Brukk.
Mifa menabrak sesuatu yang keras dan tinggi. Mira merintih.
"ah, sakit aduh kepalaku". Mifa mendongak dan melihat seorang lelaki yang badannya cukup kekar, Mifa reflek berjalan munduk san meminta maaf.
"ah maaf saya gak sengaja". Mifa takut dengan nya, entah mengapa.
Namun lelaki itu hanya menatap sekilas ke Mifa "ya" Lalu pergi meninggalkan Mifa, lelaki itu pergi ke arah dalam perusahaan.
Mifa tak ambil pusing, ia juga langsung meninggalkan tempat. Mifa berjalan ke dalam perusahaan, jalan sembari celingak-celinguk seperti orang kehilangan arah.
(dimana yah ruang interview nya?).
Tak sengaja mata Mifa menangkap sebuah pintu yang ditancapkan papan bertuliskan: ' Ruang interview' Mifa berjalan menghampiri ruangan itu dan mengetuk pintu.
(dok...dok...dok..), suara ketukan pintu yang berasal dari luar ruangan interview.
dengan ragu Mifa mengucapkan "assalamualaikum".
lalu suara berat yang tak asing dan tak familiar .
__ADS_1
"silahkan masuk". Ucap nya dengan dingin.
Mifa langsung membuka pintu dengan pelan pelan "krieettt."
Mifa melangkahkan kaki nya masuk kedalam ruang interview, dan memperkenalkan diri layaknya masuk sekolah baru.
lelaki itu membuka pembicaraan
"ekhemm, silahkan perkenalkan diri mu!" seru Rafael (CEO).
Mifa sedikit gugup, namun ia harus percaya diri karna sekarang ia harus menjadi diri sendiri dan tidak orang lain.
"nama saya Agustina Mifa Putri".
(duh gimana ya, diterima kan? jadi apa yayah gak tau deh pasrah aja sama Allah), batin Mifa.
Oh dia.
"okey kamu mulai sekarang jadi sekertaris saya, mendampingi saya selama berkerja, oh yah nama saya Rafael Pratama". Rafael senagaja menjadikan Mifa sebagai Sekertaris nya. Mifa hanya memberikan tatapan tidak percaya, ia langsung diberi jabatan sebagai sekertaris.
"ah, em te-terima kasih pak" Mifa menunduk sembilan puluh derajat sebagai tanda hormat.
Tak ada jawaban dari Mifa hanya menatap kosong Rafael. Entah apa yang ia pikirkan.
Rafale memiringkan kepalanya. "hei, kok ngelamun?, mulai sekarang ruangan kerja mu ada di sebelahku, nama saya Rafael Pratama".
"i..i..iya pak Rafael, saya permisi dulu assalamualaikum", ucap Mifa rada gugup.
Rafael bangkit dengan angkuh dan meninggalkan Mifa sendiri di dalam ruangan interview.
"kayak kenal deh namanya, ah sudahlah hapus pikiran tak masuk akal itu!".
Tak lama Mifa menyusul Rafael keluar ruangan Interview, Mifa tampak bingung di mana ruangan kerja ia, karna Mifa berada di lantai 1, Mifa tampak celingak-celinguk sungkan untuk menanyakan kepada seseorang.
terlihat seorang OB yang sedang membersihkan lantai dengan sapu yang lumayan besar. Tanpa ragu ragu Mifa langsung menuju kepadanya.
"hemmm aku tanya dulu aja yah, tapi ya sudahlah dari pada disini terus", ucap Mifa sambil berjalan menuju OB.
"emm..anu mas dimana yah ruangan sekertaris?, maaf ganggu lagi nyapu", ucap Mifa sedikit tergagap.
__ADS_1
OB itu mengamati Mifa dari atas sampai bawah, ia tahu bahwa Mifa adalah Karyawan baru di perusahaan yang cukup besar ini.
"oh..mbak pegawai baru?, disana ada lift naik kelantai 30 paling atas itu ruangan mbak sama kayak lantai nya Boss", ucap dadang (OB).
Mifa tersenyum dan lanjut berjalan.
"baik Mas terima kasih ya". Lalu Mifa melambaikan tangannya ke arah Dadang.
Mifa berlari kecil dan menuju Lift yang tak jauh dari posisi berdiri nya tadi.
Mifa masuk ke lift dan memencet nomor 30 paling atas sendiri.
"dah sampai ke lantai 30, belum ada Pak E63 Rafael disini, yaudah aku masuk ke, oh situ (sambil menuju ruangan yang bertuliskan "ruangan Sekertaris".
(kriett), suara pintu terbuka.
"assalamualaikum", salam Mifa sambil membuka pintu ruangan sekertaris.
Mifa duduk di kursi yang sudah ada di belakang meja kerja sembari merenggang otot otot lengan. "wah ternyata ruangan ini sudah di siapkan, yaudah gak usah kasih aksesoris dinding atau apalah itu".
Mifa menaruh tas nya di atas meja kerja merapikan bajunya, dan membersihkan Ruangannya dengan sapu yang sudah disediakan di sudut ruangan itu.
Mifa bangkit "dari pada begini, lebih baik aku tanya apa yang harus aku kerjakan". Mifa keluar ruangan. Dengan hati hati Mifa mengetuk pintu Rafael.
(dok..dok..dok), ketukan pintu.
"iya, masuk" ucap Rafael dari dalam ruangan.
"emm pak, apa aja yang harus aku kerjakan hari ini?" ucap Mifa sambil menundukkan kepalanya.
"oh, kamu ambil kertas di situ (sambil menunjuk ke atas lemari berkas nya).
(waduh gimana ini?, aku kan tinggi nya 157, gimana aku bisa ambil), batin Mifa.
sementara itu Rafael yang dari tadi menatap Mifa sambil menggeleng kan kepalanya, akhirnya berdiri dari kursi nya dan mengambilkan kertas itu.
"kalo gak bisa ambil, bilang aja gausah sungkan" mungkin Rafael menyindir nya dengan tatapan mengejek
ya, Mifa tersindir dengan ucapan Rafael tadi, tapi Mifa berusaha untuk tidak emosi dan langsung mengambil kertas yang ada di genggaman Rafael "baik pak terima kasih" Dan langsung meninggalkan ruangan Rafael.
__ADS_1