
"sombong banget neng, jangan sombong sombong nanti ga dapet jodoh loh", teriak Nana dengan lantang sambil menghadap kebelakang tidak menerima jika permintaan maaf sahabatnya diabaikan seperti itu saja.
keduanya kembali ketempat semual dan berbincang seperti biasa selagi menunggu makanan yang mereka pesan datang, tiba tiba Mifa menepuk pundak Nana "eh tapi beneran deh aku pernah lihat dia gitu gatau di mana aku lupa, apa cuman perasaan ku doang yah?", sela Mifa. "mungkin saja dia pernah melihatmu begitu pula kamu".
"oh yaudah lah gak tahu aku", terlihat bingung dan penasaran. Aku apakah pernah melihatnya?, pikir Mifa. selang waktu akhirnya datang juga makanannya pelayan itu meletakkan makanannya dengan hati hati supaya tidak tumpah.
"terima kasih mbak". Akhirnya semua memakan diawali dengan berdoa. "heh cucu tangan dulu tuh dua anak laki laki", lirih Nana sambil melirik kedua laki laki yang nampak seperti anak kecil.
Kedua laki laki itu bangkit dan langsung cuci tangan tanpa menjawab perintah Nana, "sumpah itu istri lu serem banget", ucap Iwan sambil membasahi tangannya dengan air mengalir diwastafel. "meskipun serem tapi hatinya itu loh yang bikin gw meleleh". sahut Andik.
Iwan mengangkat alisnya "Hati?kan hati kagak bisa dilihat". "hati nya itu lembut ish lo kagak peka banget jadi orang", kesal Andik dan langsung meninggalkan Iwan sendirian.
"Hati, lembut?eh tunggu dong", Iwan langsung berlari berusaha menyamakan langkahnya dengan Andik, dan melanjutkan makan bersama nya, momen ini amat langkah sudah lama tak jumpa.
__ADS_1
Mifa melirik ke arah Nana yang sedang memakan makanannya, (dulu kita berjuang bersama sampai sekarang, aku harap kita akan tetap bersama) batinnya entah itu langsung muncul didalam benaknya dan langsung melukiskan senyuman khas Mifa yang lucu.
Nana sudah tahu jika Mifa sedang melihatnya tak butuh aba aba, Nana melirik Mifa kembali sambil membalas senyuman Mifa. "uhuk uhuk", si perusuh datang memecahkan suasana mengaharukan (sepertinya).
"tch", kesal Mifa, Nana hanya tertawa kecil sepupu Mifa begitu usil dengan adiknya. "Mifa jengkel", gumamnya.
PUKUL 20:00
sudah beberapa jam menghabiskan waktu, melepas kerinduan dengan candaan khas masing masing keempat orang itu masih nyenyak.
"gw juga bayar nanti dikira nyuri", sahut Iwan langsung berlari ke arah Andik.
"gw traktir aja gak apa kan gw yang ngajak", ucap Andik. "serius?", ucap Iwan yang langsung diangguki oleh Andik.
__ADS_1
BAR~
nampak seorang lelaki duduk dikursi dengan dayang dayang nya yang tak lelah membelai (?) lelaki itu, sudah nampak mabuk namun dia tetap memesan satu hingga tiga buah botol wine, "ugh,,ak,,ak menginginkan mmuu", ucap nya dengan gagap dan tak sadar.
tiba tiba lelaki itu bangkit dan mendorong keras dayang yang berada di depannya dan beranjak keluar tanpa membayar wine wine yang ia pesan tadi "lain kali akan kubayar aku tidak akan lupa~", ucapnya menghampiri salah satu pelayan yang tengah membawakan tiga botol wine.
berjalan sempoyongan di trotoar dengan keadaan mabuk memang sangat berbahaya karna bisa membahayakan diri sendiri maupun orang lain, bertindak secara tidak disengaja atau tidak disadarinya.
sementara itu keempat orang tengah sibuk sendiri ada yang sedang bucin dan ada yang sedang ribut sendiri. Tiba tiba mata Mifa tertuju pada lelaki yang tidak asing baginya tengah berjalan sempoyongan seperti orang mabuk, ya bukan 'seperti' lagi. Tapi memang dia mabuk, melihat hal itu Mifa berlari menghampirinya.
"drap drap drap.
"Kak Rafaell!!", teriak Mifa sambil berlari ke arahnya. Disusul dengan Iwan yang menghampiri Mifa juga. Iwan langsung memegang pundak Rafael yang sedang mabuk itu. "emm Mifa bau wine ini hoek", ucap Iwan. begitu juga Mifa merasakan bau yang membuat Mifa tak betah berada di samping Rafael.
__ADS_1
"ada apa ini Mif?", orang ketiga dan keempat itu menyusul Mifa dan Iwan. "weh gaes bau apa ini ga enak banget", lantur Andik.
"ini itu bau wine astaghfirullah kamu gatau?" jengkel Nana