
kalian berdua sama saja!!".
Nia hendak menampar dan mendorong Mifa namun tangannya ditahan oleh tangan yang lumayan besar nan kekar, aksi nya berhenti seketika.
ternyata dia adalahh,,,,
"ada apa ini?", ucapnya sangat angkuh.
Nia merintih kesakitan dan berusaha memberontak cengkaraman yang cukup sakit itu, "awhh,,HEI lepaskan sakit".
"Ka,,,Ka Rafael?".
Rafael masih tetap mencengkeram tangan Nia semakin Nia memberontak cengkaraman Rafael makin sakit, entah mungkin Rafael kesal melihat Mifa yang hanya diam saja walaupun ditindas seperti itu..
"kenapa Kak Rafael kelihatanya sangat marah?", gumam Mifa,
(kau selama ini menindas Mifa-ku, aku mungkin akan memaafkan mu tapi entah apa kamu masih bisa berkerja dengan tenang?), batin nya.
"Kak,,tolong lepaskan cengkraman ini, terlalu sakit", kelihatannya Nia sedang merayu Rafael entah atau memang merintih kesakitan.
"ya, baiklah", Rafael menepis tangan Nia dengan kasar seperti lelaki yang tak punya hati.
"apa kamu puas sekarang?aku sudah melepaskan mu, entah apa aku akan memafkanmu atau tidak jika iya kau tidak akan bisa berkerja di mana pun".
(tunggu?apa jika Ka Rafael memaafkan ku, aku tidak akan mendapatkan pekerjaan?).
"Mif, denger ga kamu? jika kating memaafkan Nia. Nia tidak akan mendapat pekerjaan? segitunya kating membelamu", bisik Nana yang masih setia berada di samping Mifa.
"iya Nana aku tau, tetapi aku kasihan kepada Nia", ujar Mifa.
ya, mifa untungnya masih punya hati (mungkin) itu akan berpengaruh kepada Mifa, tapi Mifa tidak peduli.
Mifa memberanikan diri untuk mendekat ke Rafael dan Nia yang tengah bersengit itu.
"puk..puk..puk..
__ADS_1
"kak, jika kaka memaafkan tanpa dendam atau pun alasan semacam itu, kakak pasti akan merasakan ringan nya hidup tanpa ada dendam sekalipun. Biarlah Nana menindas ku aku juga tidak akan peduli", Mifa mencoba menenangkan Rafael yang tengah di bakar api dendam. mungkin dia sudah tau Mifa ditindas oleh Nia selama ini.
"tch, baiklah aku akan memaafkan si sialan ini".
"dan, kamu ikut bersamaku", Rafael menarik tangan Mifa dengan kasar.
"kak, aki sebaiknya pulang aku ingin istirahat", lantur Mifa di tengah Rafael menarik nya secara paksa.
"tenang saja, aku akan menjamin bahwa kamu selalu ada di sisiku saat kau pergi bersamaku", Rafael tersenyum penuh arti, arti(?) aku tidak tau artinya yang terpenting aku akan mengikuti perintah Rafael untuk saat ini.
"yank, itu sahabat mu gak apa di seret seret?", Andik menggandeng tangan Nana.
"hahah entahlah mungkin
kating yang sangat tampan itu suka sama Mifa sajak lama", Nana tertawa pecah sambil mengikuti jejak Andik.
"yank, aku kasi kamu pelajaran baru tau rasa yah(?)", Andik cemburu karna Nana menebut kating nya amat tampan.
"yaudah boleh, tapi jangan pelajaran fisika atau matematika aku sangat lemah dalam hal itu semua", ucap Nana yang masih polos itu.
"terserah, yang terpenting nanti aku mau tidur lebih cepat", lantur Nana.
sementara Mifa dan Rafael berada difase amat canggung dan sedari tadi belum ada yang mengeluarkan suara sekali pun. "emm pak, eh maksudku kak. Kita mau kemana nanti?", Mifa membuka suara sekalian bertanya agar tidak ada suasana amat sangat canggung itu.
"hem, aku tidak tau kau akan tau atau sebaliknya, yang terpenting kamu sekarang ikuti saja aku dulu", omel Rafael.
"emang kemana sih?", gerutu Mifa.
"kita sudah sampai", ucapnya sambil mematikan mesin mobil nya.
"hah?ke butik? untuk apa?", banyak sekali pertanyaan yang menumpuk di kepala Mifa.
"tok tok
"untuk apa kamu melamun? cepat keluar", ucap Rafael membuyarkan lamunan Mifa.
__ADS_1
"erg, okey baiklah", Mifa membuka pintu mobil Rafael dan mengekori Rafael dari belakang.
"selamat datang", ucap pegawai setempat dengan sopan seketika melihat Rafael yang melangkahkan satu kakinya ke dalam butik tersebut.
"saya ingin kau memilihkan baju panjang serta hijab syar'i untuk perempuan yang berada di belakang ku ingat yang paling bagus dan 5 menit maksimal mencari nya", omel Rafael yang membuat pegawai mungkin jengkel atau malah jatuh cinta karna ketampanan nya.
"baik, segera~".
4 menit telah berlalu, Mifa masih bertahan begitu juga dengan Rafael yang berada di depannya.
"permisi, apakah ini yang bos maksud?", pegawai itu menunjukkan baju panjang beserta syar'i yang cantik nan harganya pasti sudah bisa membeli dua handphone sekaligus.
"astaghfirullah, kak aku sudah pasti tidak sanggup membayarnya, lebih baik tidak usah", Mifa terkejut dengan harga yang tercantumkan di belakang bajunya.
pegawai itu tertawa terkekeh kekeh, "tenang tidak mungkin kamu yang membayar nya tetapi lelaki yang berada di samping mu",.
"yang terpenting kamu coba dulu".
"iya, mari saya antarkan, ngomong ngomong anda lumayan cantik dan bersih aku sangat kagum pada anda", pegawai itu memandu Mifa berjalan sampai ke ruang ganti dan mencoba untuk membuka percakapan.
"baik, saya serahkan pada anda silahkan anda pakai, kalo gitu saya permisi", pegawai itu meninggalkan Mifa yang sudah bearada di depan ruang ganti.
"okey baju ini juga bagus entah apakah cocok jika aku pakai atau tidak".
15 menit kemudian~
"tch lama sekali jika cewek mengganti bajunya", Rafael sedari tadi melirik ke jam yang ia pakai di tangannya.
"wahh,,,anda sangat amat lah cantik", para pegawai kagum melihat Mifa yang memakai baju berwarna pink namun tidak terlalu mencolok bisa dibilang warnanya pink old rose dan manik manik mutiara yang berada di bagian atas baju serta syar'i yang seirama dengan bajunya tersebut hampir membuat semua pegawai kagum dan Rafael pun.
"mungkin ini tidak cocok aku akan mengganti dengan pakaian yang biasa".
--------------------------------
Author akan update satu episode mungkin ini cukup atau sebaliknya author sekali lagi meminta maaf🙏😉❤️ (para reader jangan kecewa ya(?)
__ADS_1