
"wa'alaikumsalam, nak nanti papa akan kerumah dan papa akan bawa tamu kamu jangan sampai larut malam pulangnya ingat. Ini, penting!! ya sudah kalo gitu ayah akhiri, Assalamualaikum". belum sempat membalas percakapan Ayah, langsung dimatikan dan Mifa hanya bisa menurut mau bagaimana lagi? dia hanya bisa menerima realita.
Semua orang ingin hidup selamanya dengan pilihannya tidak bisa dipaksa, terutama Mifa sendiri.
---
Jam sudah menunjukkan pukul 16:00 semua pegawai kantor bergegas pulang ke rumah, terutama Mifa yang baru saja menyelesaikan pekerjaan nya yang diberikan oleh Rafael (tentunya). Mifa berjalan menuju tempat parkir sepeda motor seperti biasa dia akan bertemu dengan Renata, Dadang dan pegawai lainnya. "eh, muka jangan ditekuk gitu. Dari tadi di kantor gitu mulu", Renata menepuk pundak Mifa.
Mifa sedikit terkejut dan langsung menoleh ke arah Renata yang sedang tersenyum "eh, iya kak gak apa apa kok aku", Mifa berusaha menenangkan Renata yang mengkhawatirkan nya. Renata mengangkat satu alisnya "hm, ya sudah kalo begitu Mbak pulang dulu assalamualaikum".
"wa'alaikumsalam", jawab Mifa.
Hari ini bagi Mifa sangat menyiksanya apalagi dia harus bertemu tamu 'spesial' entah itu siapa Mifa juga tidak bisa asal menebak. "ugh, sudahlah aku lebih baik pulang dulu".
sudah sampai di rumah, tampak tiga mobil mewah terparkir di depan halaman salah satunya mobil Ayahnya, Mifa masuk dibantu oleh security rumah nya. Mifa turun dari motornya dan perlahan lahan masuk ke dalam rumah "hem assalamualaikum".
Semua yang berada di rumah menoleh ke arah Mifa, nampaknya Mifa adalah orang yang ditunggu tunggu oleh para tamu tersebut, sementara Mifa, dia hanya bisa menatap balik dengan tatapan canggung. "eh, ayah Mi-Mifa ganggu ya?", Tanya Mifa pada ayahnya.
ayah Mifa bangkit dan menuju ke Mifa yang masih terpaku didepan pintu utama.
__ADS_1
"nak, lebih baik kamu ganti baju yang sudah disiapkan sama bibi cepat!!", bisik ayah dengan nada perintah.
Mifa mengangguk dan meninggalkan segerumbulan tamu. Menulusuri anak tangga dengan cepat dan membuka pintu kamarnya. "wah, ini bajunya? masyaallah bagus banget", kagumnya. "sudah sudah aku harus mandi dan aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan dengan para tamu itu", ucapnya.
Mifa melepas semua yang melekat di badannya. berendam di 'bath' dengan air hangat dan aroma mawar yang sangat menyengat di hidung, Mifa suka dengan bau mawar sejak kecil.
sudah lewat 15 menit Mifa keluar, menggunakan gamis berwarna merah muda dan jilbab nya yang seiras, mutiara mutiara kecil mengiringi gamis tersebut dengan indah, jujur Mifa sangat takjub dengan gamis ini rasanya Mifa tak pantas mengenakannya.
"masyaallah, gamis nya bagus banget", Mifa berputar putar di depan cermin tampak seperti anak kecil, seseorang mengetuk pintu Mifa "Mif ayo tamunya kasian nunggu".
Mifa tersadar "eh, iya sebentar" lalu Mifa membuka pintu kamar dan langsung turun menuju ke ruang tamu.
"ah, baik yah", Mifa tersenyum dan langsung duduk di samping ayahnya.
"Jadi, ayah ajak kamu ke sini untuk kenalan sama,,,Calon suamimu, namanya Arya Dwi Hyantoro".
Hah, apa?di-di kenalkan oleh calon suami?Mifa tidak bisa berpikir jernih lagi Mida termenung sejenak memandang lantai lantai apa yang dikatakan ayahnya tadi?.
tanpa aba aba, Arya menghampiri Mifa yang tengah termenung.
__ADS_1
Memang Arya itu tampan, entah apakah dia memang benar benar beriman atau tidak.
"Maaf Mifa, aku tidak tau apa pilihan mu iti terserah mu", lalu Arya tersenyum tulus. Sontak Mifa tersadar kembali matanya terbelalak dan mengeluarkan air mata, semua yang ada di ruang tamu khawatir terhadap Mifa, semua tampak panik. termasuk Ayah dan Ibu kedua.
"eh, Mif-Mifa sebaiknya kamu minum air putih saja dulu" lantur ibu Arya dengan khawatir dan menyuruh bibi untuk mengambil segelas air putih. Namun, Mifa pergi sambil mencoba membendung air matanya itu.
Ke belakang rumah, di sana tampak cahaya bintang dan rembulan menerangi malam yang indah, tidak untuk Mifa yang sedang meratapi kenyataan yang tidak ingin ia terima. Sama sekali.
Mifa duduk dipojokkan sudut rumah yang tampak kolam ikan besar dam tanaman tanaman indah menghiasi sekitar kolam itu.
tangisan kecil dari Mifa berusaha untuk tetao tegar.
"hikss,,hikss, gak mau aku, ak-aku belum si-siap", Mifa tergagap gagap sambil mengelap air matanya yang jatuh dipipinya.
suara berat itu menghampiri Mifa, tidak asjng dan tidak familiar juga "Mifa, ak-aku minta maaf kau tidak ingin menerima ku, kan?" Tanya Arya yang berada di depan Mifa.
"kamu lebih baik tenang saja dahulu".
ucapnya berusaha menangkan Mifa.
__ADS_1