
perlahan Bibi berjalan menghampiri Mifa "yang sabar nak, Bibi tau kamu anggap Bibi sebagai ibu sendiri, tapi jangan menduakan ibu mu sendiri, dan pastinya jangan mengeluh walau orang tua mu jarang kerumah, dan itupun untuk kebutuhan kita".
"duaarrrr", Iwan berusaha mengagetkan Bibi dari belakang sambil menepuk kasar pundak Bibi.
"kamu kira Bibi bakal syok kayak 'aaa kaget!' gitu ya?", Bibi menyeringai ke arah Iwan dengan tatapan mengejek karna bibi tidak kaget sama sekali.
"hehehehe,,,ya aku pikir gitu tapi bibi kebal banget jantungnya", kagum Iwan pada Bibi.
"yaudah lah terserah Bibi mau cuci baju dulu buat besok", ucap Bibi sambil meninggalkan Iwan dan Mifa.
"JANGAN KAU APAKAN ADIKMU YAH!!!", teriak Bibi dia tahu ada niat terselubung dari Iwan.
(buset, Bibi cantik tau aja deh), batin Iwan heran dengan cenayang Bibi (tidak mungkin Bibi memakai cenayang).
"yaya Bibi cantiqueee", sorak Iwan dengan riang, dan satu lagi tidak tau umur (jomblo pula ish).
"enggg", terdengar suara geraman dari Mifa yang mencoba bangkit dari tidur yang nyenyak.
__ADS_1
"wehh,,dedek cantik dah bangun nih", lantur Iwan dengan gembira, Iwan ingin mengajak Mifa ke taman sambil mengajak nya jogging.
"Mifa mau makan dulu Kak", ucap Mifa dengan nada lirih.
"iya sana makan terus cuci muka, sikat gigi", Iwan mengambil jaketnya dan kunci motornya.
"emang mau ngapain?", lirih Mifa. "ya ke taman dek, refreshing mumpung hari minggu",
"okey lah, sekalian aku mau cari udara segar di sini sama Kakak jadi PENGAP", Mifa menekan kata terakhir. "terserah lah pucing kakak", rengek Iwan dengan manja.
"ah, eh yah bentar kaka mau pakai jaket sama sepatu dulu", Iwan langsung memasukkan handphonenya ke dalam kantong celana dan segera memakai jaket nya yang 'oversize' berserta celana training berwarna hitam membuat penampilan Iwan seperti 'model' (entahlah).
"sudah selesai?, tebar pesonanya?", celetuk Mifa. "apaan kakak tebar pesona, mungkin kamu nya aja yang terpesona. Kan?", smirk Iwan dengan licik.
"astaghfirullah, udah yok nanti panas di sana kalo siang siang gitu", ucap Mifa mencoba mengalihkan topik yang tidak ada 'Faedah nya'. "panas, panas. kamu aja dulu anak bau matahari sejati", lantur Iwan dengan kesalnya "saking kamu dari sana nya aja emang 'kuning langsat'". sambungnya.
namun Mifa tak menghiraukan sama sekali aoa yang diucapkan oleh Iwan tadi, hanya terus berjalan ke arah pintu utama, menutupnya sambil menunggu Iwan. "Brakk bantingan keras dari pintu utama. Lagi, Iwan.
__ADS_1
"sudah selesai, sekarang cepet berangkat", Mifa sudah mengenakan helmnya dan langsung naik ke belakang 'jok motor'.
"maap deh, yok", Iwan memakai helmnya juga dan langsung menancapkan kunci motornya. Di jalan masih amat sepi dan tentunya dingin, langit fajar juga amat bagus dipandang membuat hati amat tentram.
"seger dek, udaranya", kata kata itu langsung terlontarkan dimulut Iwan karna amat menikmati nya meskipun tengah mengendarai motor. "iya kak, sama pendapat kita", ucap Mifa.
tidak beberapa lama kemudian, sampailah ditujuan, yaitu taman bungkul, cukup nyaman untuk jalan jalan di sana dan biasanya banyak sekali event tertera di sana, juga banyak pedagang dan sebagainya. "ada event anime omooo", sorak Iwan dengan sangat keras, ya kali ini ia menunjukkan ekspresi tergila gilanya.
"aishh, ada apa ini", lontar Mifa. Untung tidak banyak orang saat ini, pikir Mifa.
"kita kesana aja yukkk", pinta Iwan dengan puppy eye nya. "gak, duduk duduk di sana loh lebih enak", Mifa menolak nya dengan tegas sambil menunjuk ke suatu tempat.
"serah adik deh, aku nurut aja", ucap Iwan dengan putus asa. "eh ada pecell!!!", seketika raut wajah Iwan berubah drastis 180 derajat.
"iya tuu enak, yok", Mifa dan Iwan berlari menuju penjual pecel yang sudah harusnya beristirahat cantik di rumah, membawa anak kecil tengah duduk di bawah pohon yang rindang.
Mifa mengambil nafas sejenak "permisi nek, saya beli pecel dua ya". "ya dek", sayu sayu Nenek itu mengucapkan sambil membuat pecel nya.
__ADS_1