Cinta berlawanan keyakinan

Cinta berlawanan keyakinan
30-Bibi


__ADS_3

"o oh nyonya dan tuan biasa non keluar kota", Bibi sudah terbiasa dengan pertanyaan Mifa yang tidak berubah ketika menanyakan orangtua nya yang tiba tiba tidak ada di rumah.


"oh, yaudah bi, aku ke atas dulu ya", Mifa melanjutkan jalannya . "oh ya, bi masak apa?", lanjut Mifa ketika berada di anak tangga.


Bibi menghampiri dua panci dan dua mangkuk di meja masaknya, "bibi masak rendang sama sayur asem, lauk pauk nya ikan sama tahu".


"owalah, ya bi", Mifa berlari di anak tangga secepat yang ia bisa hingga akhirnya sampai di depan pintu kamar.


Mifa mendengus kesal dan melempar kan dirinya ke ranjang, kaki nya menggantung di tepi kasur, tangannya dibiarkan terlentang bebas, wajahnya muram karna letih seharian. "aku harus cepat cepat mandi", gerutunya dan beranjak pergi kedalam kamar mandi tidak lupa membawa baju sweater berwarna biruuda dan celana panjang bekas baju olahraga sma dulu.


"waktu itu,,,ah masa yang sangat suram tak perlu diingat lagi, aku harus bisa melupakan nya", lantur Mifa, mendorong pintu kamar mandi.


-20 menit kemudian


bau lavender tercium dari badan Mifa yang telah usai membersihkan dirinya, tidak lupa memakai kerudung segi empat yang ia pasang menggunakan jarum pentul warna hijau metalic.


"kruyukkk

__ADS_1


suara itu berasal dari lambung / perut Mifa yang sudah merengek untuk diisi, jika tidak magh nya akan kambuh kembali "tenang, aku akan mengisi kalian dengan makanan bibi yang paling enak", Mifa menepuk nepuk perutnya.


sementara itu Bibi berada di meja makan di depannya sudah ia siapkan dengan dua panci dan dua mangkuk, serta dua piring dan satu magic jar berisi penuh nasi. Bibi sedang memainkan jarinya yang bisa dibilang amat lentik. "Bik, ayok makan", ucap Mifa yang sedang berjalan menuju Bibi nya.


"oh, yah Non", Bibi hendak mengambil kan nasi ke salah satu piring untuk Mifa. "gak usah Bik, aku aja yang ngambil sendiri, bibi saya ambilkan".


"gausah non, eh jangan repot repot", tolak Bibi.


Namun Mifa sibuk dengan centong dan nasi yang berada di dalam magic jar tersebut. "nih buat Bibi ya, udah udah jangan nolak".


"dah Bi, sebelum makan alangkah baiknya kita memanjatkan doa dulu".


setelah itu Bibi dan Mifa tengah memakan makanannya tanpa sepatah kata pun karena itu sudah menjadi kebiasaan (aturan keluarga).


sudah menjelang fajar, kini Mifa khusyuk sholat subuh di masjid bersama Bibinya, walapun tidak ada hubungan darah sekalipun, tetapi Mifa menganggap Bibi sebagai sepupu sendiri.


Setelah itu Mifa dan Bibi membaca Al-Qur'an yang sudah disediakan di rak berwarna hitam.

__ADS_1


"bi, mari kita pulang", ajak Mifa kepada Bibinya.


"oh, yah Non", Bibi langsung bangkit dan mengekor Mifa dari belakang.


setelah sampai di tujuan yaitu tepatnya rumah orang tua Mifa, Mifa dan Bibi menuju ke teras dan hendak melepas sandal nya. Namun, dikejutkan dengan sandal kulit laki laki berwarna coklat itu, dan ukuran yang amat besar sekitar 40(?) terparkir di halaman rumah Mifa.


"Non, itu sandal siapa ya?", tanya Bibi pada Mifa yang tengah menatap sandal itu.


"Bibi. Tau?", Mifa melemparkan pertanyaan balik pada Bibi.


"astaghfirullah Non, gatau yah". gerutu Bibi.


"ah, oh gini aja Bibi bawa cikrak, aku bawa sapu nanti kalo udah ketemu kita gebukin ya?", Mifa mengambil cikrak dan sapu, entah itu ide dari mana yang terpenting bisa menyelamatkan nya ketika ada pencuri.


Mifa dan Bibi mulai mengendap endap menulusuri ruang tamu yang tidak jauh dari dapur. "Bi, itu ada kaki Bi mari kita pukulin", seru Mifa pada Bibi nya yang tengah was was.


"siap non". "satu, dua tiga,,

__ADS_1


__ADS_2