
"ayo, gak usah bantah, sini sama saya saja pulangnya", ucap Rafael sambil menarik tangan Mifa.
cengkraman Rafael membuat Mifa merintih sakit. "awh, sakit Pak tolong lepaskan", Mifa merintih kesakitan.
"Pak Boss, Mifa permisi, Mifa mau bareng pulangnya sama saya", sopan Dadang.
"kamu, gak usah deket² Mifa ingat itu, sekarang kamu pulang sendiri", tegas Rafael yang di penuhi dengan amarah.
"baik pak", sopan Dadang.
"Dadang...", gumam Mifa.
"apa kamu gak usah deket² sama Dadang!", perintah Rafael dengan tegas.
"sekarang ikut aku, hari sudah malam", ucap Rafael sambil berjalan, Mifa mengekori Rafael dengan ketakutan.
(tau gini aku gak kasih tau Pak Rafael kalo aku bareng Dadang), batin Mifa kesal.
Mifa dan Rafael menuju Parkiran mobil, Rafael membukakan pintu untuk Mifa. "ada apa kenapa kamu diam saja cepat masuk!", perintah Rafael.
Mifa terhanyut dalam pikirannya sendiri tidak mendengat perintah Rafael, membuat Rafael marah karna di abaikan.
"hei!, cepat masuk!", bentak Rafael.
"astaghfirullah, iya pak segera maaf", ucap Mifa sedikit terkejut.
*****
"makasih pak, atas tumpangannya", ucap Mifa sambil keluar dari mobil Rafael.
"hm...cuman terimakasih?, seperti nya gak cukup buat saya", goda Rafael.
"oh Pak Rafael mau saya pijet besok?, boleh kok", ucap Mifa.
__ADS_1
(anak ini masih polos, atau hanya bersandiwara?), batin Rafael.
*Brukk.., Mifa segera menutup pintu mobil Rafael, karna hari sudah hampir malam.
"gawat, 15 menit lagi maghrib selsai", ucap Mifa sambil melihat jam tangannya.
****
subuh² Mifa sudah bangun dari tidurnya karna suara lantunan adzan yang begitu indah membuyarkan mimpi² Mifa.
Selesai mandi, Mifa melaksanakan Sholat subuh dan tidak lupa untuk membaca Alquran, "sarapan habisini", ucap Mifa setelah membereskan Sajadah, ruko, dan tidak lupa untuk Al-Qur'an.
Mifa turun dari lantai dua dan menghampiri Ibu dan Ayah nya, "selamat pagi ayah, ibu", ucap Mifa sambil tersenyum manis.
"pagi sayang ku", ucap Ibu dan Ayah secara bersamaan.
"makan apa hari ini bu?", ucap Mifa sambil duduk di meja makan.
"hemmm apa yah?, telur bali lah, kesukaan mu kan", ucap Ibu.
"misi non, ini telur bali nya sama sayur bayam", ucap bibi sambil meletakkan di meja.
"wah bibi paling debes deh", ucap Mifa.
"non bisa aja deh, bibi kan emang jago", ucap bibi sambil mengibaskan rambutnya.
"yaudah² haduh...haduh bi, sekarang saya makan dulu deh", ucap Mifa sambil mengambil piring, sendok, dan garpu.
*****
"bu, yah, aku berangkat dulu ya", ucap Mifa sambil mencium kedua tangan orang tuanya.
"iya, eh ko ga da motor mu?", ucap Ayah.
__ADS_1
"em...aku tinggal di kantor ya", ucap Mifa.
"yaudah deh yah, buk greb nya udah dateng takut nunggu kelamaan, assalamualaikum", ucap Mifa sambil berlari kecil meninggalkan setempat.
"yaudah, jangan sampai greb nya nunggu kelamaan nanti kayak dia yang udah nunggu kepastian tapi sia²", teriak ibu.
"apasih bu, koo bucin banget ketularan anak jaman kini toh", ucap ayah sambil menepuk pundak ibu.
"hehe...sekali² yah seru banget, yaudah ayo kita masuk", ucap ibu.
"iya", singkat ayah.
****
"makasih pak greb", ucap Mifa sambil turun dari motor dan melepas helmnya.
"iya mbak sama²", ucap pak greb nya sambil menerima helmnya.
"Dadang?, Dadang!!", teriak Mifa sambil lari menuju Dadang.
"husstt..mbak mulai sekarang kita kayak gak salin kenal aja", ucap Dadang.
*Deg...., ucapan Dadang seakan petir yang menyambar dipagi hari. "app...paa?, maksudmu?", ucap Mifa yang masih tidak percaya.
(jangan kasih tau mbak sekarang, biarkan waktu yang memberi ia jawaban), batin Dadang.
"maaf mbak, tapi ini demi hubungan persahabatan kita sendiri", ucap Dadang sambil mencengkeram pundak Mifa.
"hemm..yasudah kalo Dadang mau nya gitu, aku masih menghormati pendapat Dadang, karna Dadang udah aku anggap sebagai adik sendiri", ucap Mifa sambil tersenyum pahit.
"ya sudah mbak, saya mau kerja dulu ya, byby", ucap Dadang sambil melambaikan tangannya.
"iya, byby", ucap Mifa sambil meninggalkan Dadang.
__ADS_1
(ga nyangka...), batin Mifa.
hik...hikss..hiks.s.., isak tangis kecil setiap Mifa berjalan.