
Saat sudah sampai di lantai satu, Mifa segera membuatkan Rafael kopi hangat tak terlalu panas. Tiba tiba "Mifaaaa!!!" Sorak seseorang dari belakang nya, yang tak asing ditelinga Mifa "Aduh mbak Renata hehehe".
"waduh, tadi kamu sempat jadi omongan sekantor loh 'sempat' aja sih heheh untung ga nyebar" Ucap Renata.
Mifa menoleh ke Renata. "Hah?maksudnya?".
"Ya tadi aku sama geng nya Rena itu gak sengaja lihat kamu di antar sama laki ganteng, Btw itu sapa sih?" Tanya Renata.
(maaf tapi aku menyembunyikan identitas nya dulu). batin Mifa.
"Dia itu temen ku dari kecil hehe" Ucap Mifa.
Renata hanya mengangguk "ya sudah, kalau begitu aku mau lanjut kerja dulu". Sama halnya dengan Mifa yang harus mengantar Kopi hitam ke dalam ruangan Rafael.
Mifa sangat berhati hati saat membawa kopi hitam itu kedalam ruangan Rafael.
"tok,,tok,,tokk
"masuk".
__ADS_1
Mifa masuk dengan hati hati ia membawa kopi hitam dan meletakkan nya di meja Rafael. "ini Kak, kopi hitamnya saya pamit dul-".
"tunggu".
Apa?Rafael menyuruh nya untuk berhenti sejenak , Mida yang tadinya ingin keluar ruangan harus tertunda dulu. Mifa balik kearah Rafael. "iya pak?". Rafael menggelengkan kepalanya "kamu bisa kembali".
Apa yang dilakukan Rafael? sangat absurd sekali, Mifa langsung pergi dan sedikit membanting pintu ruangan Rafael.
"menyebalkan banget sih" Maki Mifa sendiri di dalam ruangan kerjanya.
Lalu setelah itu Mifa kembali fokus dengan pekerjaannya meskipun mood nya belum seimbang.
"drrtt,,drttt. Huft itu sudah membuat Mifa marah, tapi dia harus bisa menahannya. Mifa tak mengenali itu nomor siapa sebelumya.
"wa'alaikumsalam, masih kenalkah dengan saya?"
Ternyata dia, "oh ya tentu, bagaimana kau bisa mendapatkan nomor handphone ku?" Tanya Mifa.
"dari mertua".
__ADS_1
"oh, ya sudah aku akhiri karna masih banyak pekerjaan yang belum selesai, assalamualaikum". Tanpa mendengar kan jawaban dari Arya, Mifa langsung mematikan telefon yang sedang berlangsung dan kembali fokus ke pekerjaan.
Sudah siang hari, waktunya pegawai seperti biasa ada yang memakan bekalnya, ada yang beribadah, dan tidur sekaligus.
Mifa memijat pelipisnya, ia merasa pusing karna mata nya yang lelah di tambah rasa lapar.
"mau sholat dulu, lalu makan sepertinya aku lapar sekali" Tiba tiba rasa sakit perut Mifa menambah saat ia hendak berdiri. Tak tahan menahan rasa sakitnya itu, Mifa tersungkur lalu pingsan.
"Brukk...
Rafael berbisik "sepertinya ada yang jatuh tapi-". Rafael melihat sekeliling tidak ada barang nya yang jatuh, ia berdiri "Di Mifa ya jatuhnya, benda apa itu" Rafael berjalan keluar dan membuka pintu ruangan kerja Mifa.
Betapa terkejutnya ia, melihat Mifa ysng tak berdaya pingsan di lantai, mukanya sangat pucat "MIFA!!" Rafael langsung menggendong Mifa dan membawanya kebawah untuk di bawanya kerumah sakit milik, kakaknya.
"bertahan lah Mifa" bisiknya.
Semua nya dibuat terkejut, Rafael tengah menggendong Mifa yang terlihat tidak berdaya. Termasuk Renata dan geng Rena.
"oh hei, dia berhasil membuat Rafael tunduk olehnya. Aku patut memujinya" Rena menyindir Mifa. Renata menghampiri segerumbulan Rena yang tengah mengejek Mifa, "Heh, gak punya kerjaan lain apa? Lihat aja tuh mukanya Mifa tadi pucet beg*, lu kalo ngomong yang bener aja ya!".
__ADS_1
"untung gw gak ngandung anak yah!" sambungnya dengan tegas. Rena terdiam sambil saling menatap satu sama lain.
Rafael menggendong Mifa hingga ke mobil nya, meletakkan Mifa dengan hati hati di kursi belakang.