Cinta berlawanan keyakinan

Cinta berlawanan keyakinan
14-Putra.


__ADS_3

Klinggg......", notifikasi dari handphone milik Mifa sedikit mencarikan suasana yang amat mencekam.


Mifa sesegera mungkin melihat isi pesan yang entah dari siapa, "wah kak Iwan, ngechat apa ya?".


(**Mifaa...maaff bangett Kak Iwan ga bisa jemput kamu, soalnya Kak Iwan ada janji sama temen), Iwan.


(iya kak gpp, nanti Mifa bisa antar greb ko), Mifa.


(ok,y kalo gitu), Iwan**.


Mifa mematikan handphone nya dan memasukkan ke dalam tas ransel kecil. "siapa yang mengirim pesan?", tanya Rafael.


"kaka sepupu", ucap Mifa.


"hmmm".


tidak beberapa lama kemudian sekitar 20 menit akhirnya sampai di perusahaan yang ingin menandatangani. Mifa segera turun dari mobil milik Rafael, begitu juga dengan Rafael yang juga turun dari Mobil.


"ikuti saya", ucap Rafael dengan nada dingin.


"baik", ucap Mifa sembari mengikuti Rafael dari belakang, sementara itu sopirnya hanya menunggu dimobil menikmati tidurnya.


Mifa sedari tadi membuntuti Rafael seperti anak dan induknya, mengikuti Rafael ke Lift, menuju lantai 20, yah lantai yang di tempati oleh ceo, atau semacam sekertaris. Rafael membuka pintu Ruang C.E.O, di dalam tidak hanya seorang C.E.O sendiri, namun juga di sampingnya ada sekertaris. "siang CEO Putra", ucap Rafael sembari mengulurkan tangannya.

__ADS_1


"siang juga", ucap Putra menerima jabatan tangan antara Ceo, dan Ceo juga.


"mari duduk pak Rafael", ucap Sekertaris yang berada di samping Putra.


"Mifa, kamu duduk di samping saya", ucap Rafael sembari menepuk nepuk sofa nya. "ah baik pak, permisi".


Putra yang dari tadi melihat Mifa yang manis. "ekhemm jadi kamu harus menanda tangani surat ini, dan semua akan selesai", Rafael yang membuka pembicaraan terlebih dahulu.


"hmmm", Putra yang dari tadi melihat Mifa tanpa kedip sekalipun.


"Put, putra?, kamu sedang apa melamun?", ucap Rafael menengok ke arah Putra yang dari tadi melihat Mifa.


"pakk?, pak Putraa?", ucap Sekertaris itu sambil menepuk pundak Putra dengan lembut. "ah iya, aku akan menyepakati", ucap Putra membuyarkan lamunan nya.


"ayo Mifa kita pulang", Rafael meninggalkan Ruangan itu, diikuti dengan Mifa. "wah wah, cantik juga, siapa ya namanya?", gumam Putra.


"tch masi juga cantikan aku", sekertaris itu berdecit seakan benci dengan Mifa yang sedari tadi di puji oleh Bossnya sendiri.


------


"ayo kamu cepat masuk", Rafael dengan paksa mendorong Mifa masuk ke dalam mobilnya, entah apa yang merasuki nya sehingga memperlakukan Mifa dengan kasar


Mifa hanya bisa diam, dan mengelus tangannya yang di tarik oleh Rafael.

__ADS_1


Supir keluar dari mobil dan segera membuka pintu rumah Rafael sekuat tenaga nya, dan kembali ke Mobil.


Mifa keluar dari mobil tidak lupa membawa tas ransel kecil miliknya, "pak saya mau pulang dulu ya?".


"ya", ucap Rafael dengan nada dingin, seolah olah tidak mau Mifa pulang.


"ya sudah pak, kalo gitu saya permisi", Mifa membalikkan badan. "saya antar kamu", Rafael memegang tangan Mifa, menatap Mifa tajam seolah Mifa tidak boleh menolak. "ya sudah kalo itu maunya bapak, saya tidak menolaknya".


Rafael mengambil kunci mobil yang ada di kantong celananya, dan membuka pintu mobil belakang.


Mifa masuk ke dalam mobil dan Rafael menutup pintunya.


tidak ada sepatah kata pun yang di keluarkan oleh dua orang yang berada di mobil, suasana mencekam, "Mifa kamu mau makan dulu apa tidak?", ucap Rafael berhasil membuyarkan suasana mencekam itu.


"nggak deh pak, saya bisa masak sendiri di rumah saya", ucap Mifa.


"kalo begitu saya nanti boleh incip masakannya?", ucap Rafael sesekali melihat Mifa di kaca.


"maksud bapak, apa yah?", ucap Mifa tidak mengerti apa yang Rafael maksud. "nanti saya pokonya ke rumah kamu", ucap Rafael dengan nada dingin sedikit mendengus kesal.


"tapi nanti sepertinya ada kakak sepupu saya", ucap Mifa mulai bingung.


"saya gak peduli", Rafael kesal karna tidak diijinkan Mifa.

__ADS_1


"yausudah pak, kalo gitu saya perbolehkan", ucap Mifa.


__ADS_2