
"Mifaa,,", Renata sedikit teriak sambil menepuk pundak Mifa yang berjalan di depannya.
"astaghfirullah", kaget Mifa mencob untuk tenang.
"hehe,,maaf Mifa", Renata mengelus ngelus pundak Mifa yang hanya diangguki olehnya.
"Mif, kamu tau gak? nanti ada pesta perjamuan, biasa nya cuman setahun sekali loh", ucap Renata dengan riang.
"terus?", ucap Mifa sambio mengangkat satu alisnya.
"dan kebetulan perusahaan kita dipilih setelah sekian lamanya,,dan juga C.E.O gitu sama pasangannya", Renata mencoba menjelaskan kepada Mifa.
"oh, bagus dong kalo perusahaan kita dipilih", Mifa menggandeng tangan Renata dengan hangat.
"eh, tumben digandeng?", goda Renata kepada Mifa.
"gak mau aku gandeng ya kak".
"eh?, mau banget lah,, ayok meluncur".
kedua wanita itu tengah asik bercanda dan sekali sekali berlari kecil seperti anak anak yang tidak tau umur nya.
*Brukk..
"ounchh,,sakit", rintih Mifa sambil mengelus ngelus dahinya yang sakit.
"Mif,,Mifa", Renata menepuk pundak Mifa sambil mendongak ke atas.
"duh,,sakit tau gak Mbak".
"mendingan kamu nengok ke atas dulu deh".
betapa terkejutnya Mifa ternyata yang tidak sengaja ia tabrak adalah dada bidang Rafael, kini Rafael menatap tajam tertuju kepada Mifa.
__ADS_1
"maaf,,,maaf pak, saya gak sengaja", ucap Mifa memohon maaf kepada Rafael yang sedang menatap tajam ke arahnya.
"oh yah?, minta maaf saja tidak cukup loh", Rafael membungkuk kan badannya ke arah Mifa.
"eh?, Bapak Rafael mau saya traktir?, agar saya bisa menebus kesalahan saya?".
"segitu tuanya kah saya sampai bisa bisa nya kamu bilang saya sebagai, "bapak?", ", tanya Rafael kepada Mifa.
"eh, maksudku,,em kak Rafael?".
"hufftt sudahlah, kamu dan Renata bisa masuk ke dalam kantor, cepat", ucap Rafael sambil lanjut berjalan.
"selamat kita Mif", Renata menghembus kasar nafasnya.
"ya kak, ayo kita cepat masuk sebelum terlambat", ucap Mifa.
"ya, ayo cepat", ucap Renata sambil mempercepat langkahnya, diikuti oleh Mifa yang mengekori Renata.
DI RUANG SEKERTARIS
Di sisi lain, Rafael tengah berada di ruang ceo tepatnya di sebelah kanan ruang yang di tempati oleh Mifa.
"huffttt", Mifa menghembus kasar nafasnya, kini pekerjaan nya hampir selesai setengah.
tangannya sangat letih karna mengetik ditambah rasa pusing yang meneror nya, ditambah suhu tubuh Mifa yang hangat atau bisa dibilang suhu tubuh Mifa naik.
"aku, gak ke kantin deh aku mau istirahat dulu sambil makan bekal yang udah di bawa sama bibi emang enak banget", ucap Mifa sambil menopang kepalanya di lengan yang lumayan berisi.
"drrtttt ..drtt..drrrtt.., handphone yang berada di samping kiri Mifa kini berdering, seseorang menelfon Mifa saat ini.
sontak Mifa langsung menjawab telfon itu dan langsung menempelkan ke telinga kirinya tersebut.
"halo?".
__ADS_1
"Mifaa,,,,kamu ke mana? kok gak ke bawah ? gak ke kantin? kenapa?".
"aku gak enak badan, jangan khawatir kak Renata".
"oh?, udah makan?".
"ya, ini mau makan mbak, dari rumah aku udah bawa bekal sendiri".
"jangan lambat makan, terus jangan minum yang dingin dingin, dan yang terkahir minum obat jangan lupa".
"oke kak, Mifa bukan anak kecil lagi kok, Mifa tau,,hehehe".
"yasudah,,, ini mbak mau ke kantin dulu,,dahh".
basa basi di telpon akhirnya selesai, kini Mifa mengambil tas ransel kecil yang tepat berada di bawah meja kerjanya, membuka ransel tersebut dan mengambil kotak bekal nya yang berwarna hijau polos itu.
Mifa menghayati makanan apa yang ia makan saat ini, entah itu enak ataupun tidak enak tetap disyukuri karna masih banyak orang yang di luar sana tidak bisa memakan sesuap nasi saja.
(author ceramah)
-------
"Alhamdulillah", ucap Mifa.
sementara itu di lain tempat Dadang kini tengah menikmati makanan yang barusan ia pesan adalah semangkuk soto yang dicampur dengan koya kesukaan Dadang.
Dadang tengah melamun sambil mengayunkan sendok nya yang ada dimangkuk dari kanan ke kiri atau sebaliknya.
"Brooo,,jangan bengong mulu ntar kesambet loh", goda Andi yang barusan selesai memakan soto nya.
"diem lu bocah", ucap Dadang dengan ketus.
"aelah,,liat noh soto lu dingin kan?", ucap Andi sambil menunjuk ke arah soto Dadang.
__ADS_1
"serah lo, gw mau cabut dulu, nih soto buat lu kalo lu mau", Dadang bangkit dan meninggalkan Andi yang sedang menatap nya.