Cinta berlawanan keyakinan

Cinta berlawanan keyakinan
52-pencarian Mifa


__ADS_3

Tanpa membuang waktu, Mona meminta baju suster ke salah satu suster yang terlihat sibuk. "ehm permisi, apakah kau mau membantuku?". Tanya Mona.


suster itu hanya menatap heran Mona "maksud nya apa ya mbak?".


"maksudku, berikan baju suster itu pada ku!" bentak Mona pada suster.


Suster itu ketakutan dan menuruti perkataan Mona "ya sudah kalo seperti itu kita ke kamar mandi dan bertukar pakaian sebelum orangnya kembali" Ucap Mona dan langsung menyeret Suster itu.


Sementara itu, Rafael mencari suster yang menganggur tapi dia tidak menemukan nya sama sekali "aish, tidak adakah yang menganggur hari ini?" Frustasi nya.


Mifa sedari tadi menunggu sambil memainkan jarinya yang lentik itu. Tak lama kemudian Rafael kembali sambil mengacak rambutnya "kalau begitu aku saja yang me gan-". Datang perempuan berbaju ala suster "apa ada yang bisa dibantu?" Tanya suster itu.


Rafael menatap nya dari bawah sampai ke atas "tolong bantu dia mengambil air wudhu".


Mona tersenyum "baik, tapi sedikit susah kau harus hati hati". Dan memegang lengan Mifa dengan lembut.

__ADS_1


Mona menuntunnya, semakin keluar ruangan semakin jauh dimata Rafael cengkraman Mona semakin erat entah itu hanya perasaan Mifa atau memang benar. "m-mbak tolong jangan terlalu erat" Mifa mulai merintih.


Mona menautkan alisnya "oh, tapi aku takut kau jatuh" dengan santainya.


Mifa hanya bisa pasrah sampai dituntun ke,,,tunggu bukan tempat wudhu? maksudnya apa ini(!).


Mona membawa Mifa ke gudang yang kumuh dan kotor juga jauh dari kamar rawat Mifa, Mifa hanya bisa menengok ke sekitar. Tempat yang sepi, gelap, kotor dan kumuh. Mona membuka pintu gudang itu dengan sedikit membantingnya.


"Mbak, aku mau ke-"


dengan kondisi gudang yang kumuh itu membuat dadanya semakin sesak.


sementara itu Rafael menunggu Mifa sedari tadi ia tak tahu jika Mifa dicelakai oleh Mona yang menyamar sebagai Suster. "tch, lama sekali apakah tempat wudhu mengantri sangat lama?atau. Ah sudahlah" Rafael sangat frustasi tapi ia tak bisa apa apa.


Harris menghampiri Rafael sambil membawa obat yang harus diminum Mifa "ah, di mana Mifa?" Tanya Harris tiba tiba.

__ADS_1


Rafael menoleh "tadi dia pergi untuk mengambil wudhu di antar oleh seorang suster tapi, sampai sekarang dia belum kembali juga" jelasnya sambil memasang muka pasrah.


"sebelumya, belum ada kasus seperti ini. Kita harus cari dia sekarang! karna kondisi tubuhnya yang masih belum pulih". Tanpa aba aba Rafael dan Harris saling memencar mencari Mifa.


Mifa hanya bisa merintih kesakitan sedari tadi, Mifa sudah tidak bisa berbicara lagi karna asma nya yang mulai melunjak parah ditambah dengan pusingnya. Namun apa daya dengan lingkungan yang sangat sepi tidak ada orang yang lewat ataupun mendengar suara rintihan Mifa.


Rafael mencari Mifa sambil bertanya ke orang sekitar sambil menunjukkan salah satu foto Mifa yang ada di handphone nya.


Cairan oksigen Mifa hampir habis mungkin beberapa menit lagi. Dan udara di gudang semakin pengap. "ugh, aku sudah tak tahan lagi" Mifa berpikir bahwa ini adalah akhir dari hidupnya. Tapi jika tuhan betindak-.


Harris menuju ke tempat yang cukup sepi sembari mengambil nafas nya. "haff kau di mana Mifa? jika aku tak menemukan mu kau akan-".


"Brukk".


Tiba tiba suara sangat keras berasal dari gudang yang sudah lama tidak dipakai oleh pihak rumah sakit. Harris langsung berdiri dan mengambil handphone dari saku dan menyalakan senter dari handphone tersebut untuk memastikan tidak ada apa apa di gudang tersebut.

__ADS_1


__ADS_2