
"jika kau tidak menurut, maka aku tidak akan mengantar mu pulang" Ucap Rafael dengan nada dingin yang mengancam Mifa.
Mifa tidak bisa apa apa dia hanya pasrah dan menurut.
Rafael mulai menyuapkan sesendok bubur ke arah Mifa dengan sangat hati hati. "Kau, harus makan banyak. Mengerti?" Tegasnya. Mifa merasa ini bukan Rafael yang seperti biasanya. Apakah Rafael kerasukan? Tidak.
Mifa menerima sesuap sendok dari Rafael dan mengunyah nya meskipun sedikit panas namun panas itu akan hilang sendiri.
"huft sedikit panas" Batin Mifa.
Rafael memperhatikan Mifa. "ada apa? mengapa wajahmu seperti itu?" Tanya nya, Rafael mengerti bahwa Mifa kepanasan.
"oh, nggak uhuk uhuk".
Lalu tanpa pikir Rafaela langsung mengambil segelas air putih dan memberikan kepada Mifa. "Cepat kau harus minum!" Suruhnya.
__ADS_1
Mifa langsung menghabiskan segelas minuman itu.
"haish, kau juga tidak harus meminum semuanya. Itu juga dibuat nanti jika kau selesai makan" jelas Rafael sedikit kesal. Entah itu antara menasehati, memarahi, atau perhatian.
Mifa hanya bisa menunduk sembari memainkan ujung jarinya "m-maaf, aku ga-ga tau". Rafael menoleh ke Mifa dan merasa bersalah "oh, tidak apa aku akan mengambil kan air putih baru kau tunggu ya" Rafael meninggalkan Mifa.
"gak salah?tadi dia senyum! sangat sangat. Astaghfirullah tidak boleh seperti ini sebentar lagi aku akan menikah" Mifa menepuk nepuk pipinya dengan keras karna merasakan panas di pipinya.
Sementara itu, Rafael membeli Sebotol air di kantin rumah sakit. Tiba tiba ada yang menghampiri nya sambil melingkari lengan Rafael.
Seakan tak percaya, orang yang tidak diinginkan Rafael telah kembali dan bertemu secara tidak sengaja.
Mona Arlina Winda adalah calon istri Rafael dan lima bulan kemudian, dia akan dinikahkan olehnya.
Arlina menyahut "mengapa kamu kaget? atau terkejut? aku kembali. Dan aku heran mengapa kau berada di rumah sakit?" Lanturnya tanpa memberi celah Rafael untuk membuka mulut. "urus saja urusanmu sendiri tanpa campur urusan orang lain. Mengerti!" bentaknya pada Mona dan langsung meninggalkan Mona di kantin.
__ADS_1
"tch, aku tak sudi sama sekali. Ayah tega sekali menjodohkan ku dengan wanita jal*ng itu!" makinya sendiri setiap berjalan.
Setelah sampai di depan pintu, ia langsung membuka pintu dan kembali tersenyum karna melihat Mifa yang sedang duduk.
"Oh, em maaf heheh" Mifa tersadar dan langsung mendongak ke arah Rafael. "minum ini, dan cepatlah tidur dan is-".
Mifa menyahut dengan cepat "tidak, aku tak akan tidur terlebih dahulu. Aku akan sholat dhuhur astaghfirullah aku lupa" Mifa tersadar dan berusaha untuk turun dari hospital bed itu, namun tak bisa karna dadanya masih terasa sesak dan pusing.
"ugh, tolong beri tahu saja suster bahwa aku ingin wudhu, aku akan sholat sambil duduk saja". pinta nya pada Rafael.
Rafael mengangguk "baiklah, jika itu mau mu aku akan meminta suster untuk menuntun mu hingga ke tempat wudhu. Tunggu sebentar". Rafael kembali keluar dan mencari salah satu suster yang bisa menuntun Mifa.
sementara itu, Mona melihat aksi Rafael yang terlihat khawatir, dan bolak balik keluar masuk kamar pasien satu itu. "jika aku melihat isi kamar itu, aku akan sakit hati. Tapi aku juga ingin tahu apa di dalamnya". Mona berjalan mendekat ke kamar pasien itu, ia tak menyangka bahwa yang di jaga oleh Rafael sejak tadi adalah seorang perempuan. Melihat itu hati Mona seperti teriris.
Tanpa membuang waktu, Mona meminta baju suster ke salah satu suster yang terlihat sibuk. "ehm permisi, apakah kau mau membantuku?". Tanya Mona.
__ADS_1