
"maaf yah sudah ngajak kamu ke Restoran tadi jadi kamu terseret di masalah ini deh", Nana merasa bersalah.
Mifa mengelus pundak Nana "gak kok Nan, kan ini dah di atur sama Allah", ucapnya dengan tulus. "hem makasih Mif kita gak tau persahabatan kita sampai kapan, yang terpenting sekarang kita nikmati dulu saja", balasnya.
Rafael tampak mabuk berat terhuyung huyung saat dituntun untuk berjalan. Dan dia mengucapkan "aku menginginkan mu Mi-". ucapnya dengan keadaan mabuk.
"eh menginginkan siapa?", tanya Nana kepada Mifa. "gak tau mungkin pacarnya", jawabnya dengan lantang. Mi,,siapa yah?, pikirnya.
"Kak Radit,,Mi?Mi itu siapa yah?", Dadang menengok ke arah Mifa yang masih bercakap cakap dengan Nana. "apakah dia tidak merasa,,, atau dia pura pura tak tahu?", gumam Dadang.
"Pukk,,,Pukk
Radit menepuk pundak Dadang. "napa bro?", tanyanya. Dadang hanya menggelengkan kepalanya "ah, gak apa mungkin aku cuma kelelahan", desahnya.
suara berat berasal dari rumah besar tersebut bersorak, terkejut apa yang sedang terjadi di sana (di luar) dan menuju ke arah satpam yang tengah menopang tubuh Rafael.
"ada apa ini?kenapa sangat ramai? sudah malam!", bentaknya membuat semua orang tertunduk termasuk empat orang yang dipikirannya tidak ada hubungan sama sekali.
"kenapa Rafael mabuk?", tanya nya tegas pada kedua satpam tersebut. "err anu pak saya juga gak tau", jawab salah satu satpam dengan gugup.
__ADS_1
"dan. Siapa keempat orang ini?", tanya nya dengan tatapan mengejek. "uh ini tuan yang mengantarkan tuan muda kesini", ucapnya.
tuan itu berjalan mendekat ke arah Mifa yang tengah tunduk, "bagaimana kau bisa tau 'Rafael'?", tanya nya pada Mifa. Mifa lalu menjawab "ak,,aku berkerja di tempatnya dan aku sekertaris nya", jelasnya pada tuan itu.
"hm, dan sekarang aku tak butuh kau lagi sekarang kau dan teman teman mu silahkan pergi", tuan itu mengusir Mifa, Nana, Dadang, dan Radit secara terang-terangan.
Mifa hanya bisa menurut dan mengajak ketiga orang itu untuk pergi dari rumah besar bak istana itu. "mari kita pergi Nan".
Nana dan kedua orang itu setuju dan mengangguk sambil meninggalkan rumah istana itu, sungguh suasana yang mencengkam ditambah dengan Tuan rumah yang garang.
setelah sampai di mobil, semua naik dan tujuan pertama adalah mengantar Mifa kerumah nya karna tidak jauh dari rumah Rafael mungkin hanya memakan waktu sepuluh menit lebih.
tak lama kemudian, mobil tersebut sudah berada di depan rumah yang mungkin tak jauh beda dengan rumah Rafael. Mifa pamit dan menuju ke dalam rumah.
"wah, rumahnya sebelas dua belas sama rumahnya pak Bos, tapi kok dia lebih milih jadi sekertaris ya?yank?", tanya nya pada Radit sambil takjub. "ya mungkin orangtuanya juga punya usaha, dia nya aja yang ngotot usaha sendiri gitu tuu lebih enak", jelasnya.
"ah masa yank?", Nana mencoba meyakinkan Radit. (Dadang terpojok kan). "khem khem kak, tolong antarkan aku ke restoran tadi, aku baru ingat kalau motorku ada di sana", Dadang baru ingat jika motornya masih ada di restoran entah masih ada atau tidak yang terpenting kita menuju ke sana dulu.
"WHAT?? ASTAGHFIRULLAH HAL ADZIM AKU JUGA BARU INGAT AYOK YANK KITA KE RESTORAN ASTAGHFIRULLAH", teriakan Nana membuat gendang telinga kedua lelaki tersebut hampir pecah.
__ADS_1
"pokonya aku gak mau ganti rugi ya dang kalo udah gak ada motormu", sambungnya. "iya kak, haduh haduh yaudah ayok mas".
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Mian ya author jarang update karna author ingin refreshing otak sebentar saja,,,heheh') i purple you guys💜😉✨