Cinta berlawanan keyakinan

Cinta berlawanan keyakinan
24-blush pinky


__ADS_3

tak lama Rafael langsung menempel kan satu tangannya ke tembok itu sambil menatap tajam Mifa. Mungkin dia memarahi Mifa dengan kata kata yang pedas, atau denga. cara yang lain? entah.


Mifa hanya terus menunduk, takut untuk bertatapan secara langsung bersama Rafael yang tengah berada di dekatnya sekarang.


"err,,kak. Kita terlalu dekat, apakah kak Rafael bisa munduran sedikit?", ucap Mifa yang masih saja menunduk itu. Rafael langsung melepaskan dan berjalan mundur.


"kak, aku mau kembali kerja dulu ya. Kalo gitu saya permisi dulu", ucap Mifa sambil berjalan meninggalkan ruangan boss nya itu.


di dalam ruangan sekertaris, Mifa menarik nafas sedalam dalamnya atas apa yang tadi Rafael lakukan, itu membuat Mifa takut.


"tadi itu apasih? deket banget aku kan ga bisa nengok ke arah Rafael, ya kali aku nengok mungkin aku sudah,,,", pipi Mifa semakin memerah membayangkan hal yang (em,,em) tidak tidak mungkin?.


"ah, sudahlah lebih baik aku segera mengerjakan tugas dokumen ini yang hampir selesai dan aku akan kirimkan ke email Pak,,eh Kak Rafael. Tapi, mengapa yah Kak Rafael menyuruh ku memanggilnya Kak? padahal usia ia dan aki terpaut mungkin sekitar lima tahun? atau mungkin sudah pernah bertemu sebelumnya?", pertanyaan yang muncul di setiap sela sela kerjaan itu membuat kepala Mifa pusing sendiri. Sudahlah Mifa, Kau harus selesaikan tugasmu dulu, dan kembali lah tidur di atas meja yang tidak ada empuk empuknya itu, empuk jika kau tambahkan tas ransel kecilmu itu.


sudah hampir sore, dan sekarang adalah waktu pulang para pegawai pegawai setempat, macet dan segalanya menjadi satu.


Mifa menuju tempat parkiran yang hanya untuk sepeda motor, dan tidak terlalu jauh ada parkiran yang disediakan juga untuk mobil.


"Mif,,Mifa kamu gak apa kan? pulang sendiri?, nanti kalo sakit lagi gimana?", ucap Renata yang sedang khawatir itu.


Mifa hanya tersenyum tipis sambil mengambil helm yang ia sangkutkan di spion motor. "kak Renata gak usah khawatir, aku udah lumayan kok", ucapnya meskipun rasa hangat di badannya belum terlalu sembuh.


"beneran? kan motor nya bisa taruh di sini", ucap Renata yang sekali lagi meyakinkan Mifa.

__ADS_1


"yaudah kak, aku berangkat pulang dulu mau istirahat dulu", ucap Mifa yang langsung menyalakan mesin dan meninggalkan Renata tanpa mendengar jawaban dari Renata.


"HATI HATI MIFAAAAA!!!", teriak Renata.


-------


"assalamualaikum", salam Mifa.


"wa'alaikumsalam", ucap kompak bibi, ayah, dan ibu.


"mifa, kamu sakit apa? kok gak bilang ama ibu?", ucap ibu dengan lembut sambil menghampiri Mifa dan langsung mengelus ngelus kepalanya.


"oh, udah mendingan kok bu. Sekarang udah sehat Mifa", Mifa mengukir senyuman tipis agar ibu tidak terlalu khawatir seperti dulu lagi.


"ya udah, kalo gitu Mifa ke atas dulu ya, ayah, ibu, dan tentunya bibi", ucap Mifa mulai berjalan menuju tangga yang lumayan lebar dan memasuki kamarnya yang bernuansa merah mudah itu di sertai dengan aksesoris mungil nan indah, segera ia baringkan tubuhnya di atas ranjang yang empuk. Kasur Mifa tidak terlalu besar, namun. Cukup untuk satu orang. Mifa mengehala nafas panjang dan menghembuskan nya dengan kasar.


(tadi, Kak Rafael,,dekat sekali wajahnya. Lumayan tampan, sih), batin Mifa sambil meratapi langit langit kamarnya.


tiba tiba ia duduk di tepi ranjang nya, menyadari pipinya memanas.


"astaghfirullah, ngomong apa si Ya Allah", Mifa memukul pipinya dengan keras karna reflek yang berlebihan itu.


"sudah lah, lebih baik mandi dan turun ke bawah, semua pasti sudah menunggu ku", Mifa berjalan menuju kamar mandi, tidak lupa membawa handuk dan baju ganti berupa celana panjang dan sweater berwarna biru pekat.

__ADS_1


-----


Mifa turun dan menghampiri tiga orang yang tengah duduk sambil berbincang- bincang disertakan dengan bibi yang ikut makan juga. Toh apa masalahnya, bibi juga sudah ku anggap sebagai keluarga ku sendiri.


"Ayah, Ibu, Bibi", sapa Mifa yang sudah duduk di sebelah Ayah, sementara Ayah hanya tersenyum lembut. "Putri ku walaupun sudah besar, tapi kelakuannya seperti anak kecil yang masih berumur lima tahun kira kira".


"ayah, aku kan sudah besar. Aku malu loh yah", ucap Mifa dengan tatapan puppy eyes ke Ayahnya.


"apakah anakku sendiri telah merebut cinta ayah nya dari ibunya?", ejek ibu.


sementara Mifa dan Ayah hanya saling memandang dan ketawa renyah. "ibu, aku akan mencintai orang, entah itu teman atau,,,".


"atau apa?", ucap Ayah dan Ibu secara bersamaan.


"entah, yang jelas aku lebih mencintai keluarga kecilku di banding dengan orang yang akan aku cintai", Mifa mulai mengambil piring dan nasi, serta lauk pauk agar menyudahi percakapan hangat.


Bibi hanya bisa tersenyum dan menguping pembicaraan harmonis dari keluarga kecil, mengingat keluarga nya yang satu persatu meninggalkannya entah itu memang sengaja tidak ingin bertemu dengan Bibi, maupun meninggal untuk selamanya.


"bibi, ada apa? cepat makan nanti makanan Bibi saya makan loh", gurau Mifa sambil menepuk pundak Bibi.


"oh, iya non maaf ya", ucap Bibi segera menyuapkan satu sendok ke dalam mulutnya.


(ku harap akan seperti ini terus).

__ADS_1


__ADS_2