
"pokonya aku gak mau ganti rugi ya dang kalo udah gak ada motormu", sambungnya. "iya kak, haduh haduh yaudah ayok mas".
setelah sampai di tempat restoran, Dadang pamit dengan motor nya yang terparkir di trotoar yang tepat berada di depan Restoran (untung tak ada polisi), dan Dadang pulang dengan motornya sementara Nana dan Radit lanjut jalan setelah Dadang pamit dengan mereka berdua.
jalanan nampak sepi dan sunyi hanya ada suara jangkrik bergema di tepi jalan, tampak seorang bujang mengendarai motor di jalan yang sepi, seperti hatinya (canda Dang:D).
"hm, apakah aku harus mengatakan yang sebenarnya kepada Mifa ya?", gumam nya. "ah mbohlah pusing aku", sambungnya yang nampak frustasi.
tak lama kemudian, Dadang sampai di depan rumah nya yang sunyi dan hanya ada dia seorang, rumah itu. Adalah peninggalan kedua orang tuanya yang sudah meninggal dua tahun yang lalu. Itu sangat memukul Dadang tapi Dadang harus bangkit tidak boleh terkurung di dalam kesedihannya.
__ADS_1
Dadang membuka pintu, "assalamualaikum", ucapnya, Dadang membanting tubuhnya ke sofa yang empuk istirahat sejenak mungkin membuat nya nyaman. "huftt Mifaaaaa kamu, kamu kapan peka si?", Dadang nampak frustasi ia terus memikirkan Mifa.
"gak tahu ah ruwet banget si", Dadang bangkit dan menuju ke kamarnya yang berhias poster poster anime khusunya 'Naruto' sempat menjadi wibu pada masanya, sekarang tidak dia lebih fokus ke pekerjaan dan mencari jodoh. (untuk masa depan?).
"astaghfirullah lupa!!sholat isya astaghfirullah hall adzim", Dadang berlari ke arah kamar mandi dan berwudhu, biasanya ia sholat di masjid (berjamaah) tapi waktu sudah terlewat akhirnya ia sholat di rumah sahaja').
burung burung nampak saling menyapa, kicauan tiada henti menyambut fajar yang indah. Mifa, bangun dari tidurnya yang nyenyak mengukir senyuman dan langsung merapikan kasurnya, tak lupa membuka korden yang berada di samping kasurnya. Menyambut fajar seperti biasa.
setelah memakan soto buatan bibi, Mifa pamit untuk berkerja. Memang terlalu pagi untuk berangkat kerja sekarang tapi dia lebih memilih berangkat sekarang sedari pada terjebak macet.
__ADS_1
"huft, untung tadi gak macet sama sekali", Mifa tampak sangat legah dan langsung naik ke lift dan memencet tombol '30'.
"Alhamdulillah sampai", Mifa keluar dari lift dan lanjut berjalan, "brukk..
"eh astaghfirullah", ternyata Mifa menabrak dad bidang milik Rafael, Mifa merasakan sakit di bagian jidatnya. "ufh sakit, siapa si in-", Mifa mendongak ke atas.
betapa terkejutnya Mifa melihat Rafael yang ada di depan nya langsung yang masih menatap Mifa dengan tatapan seperti ingin menelannya. "eh, um pagi pak semoga hari ini bapak bahagia dan hari seterusnya", Mifa langsung melewati nya dan pergi ke ruangan nya.
"hm", gumam Rafael. Saat malu sangat imut tidak jauh beda seperti dulu, Pikirnya sambil terus berjalan ke arah lift. Saat di lift Rafael mendapati Dadang yang tengah menyapu dan memakai masker, Rafael menuju ke Dadang dan berkata: hm, jangan katakan apa apa. Okey?. Dadang hanya bisa mematung "hm insyaallah", ucapnya. Lalu Rafael pergi.
__ADS_1
"huft betul juga, Mifa lihat aja tuh rumahnya besar, Pak Boss juga, tapi kan pak boss beda agama?, ah entahlah aku kudu selesai kan ini dulu", geramnya sambil menyapu.
sementara itu, Mifa masih bermain gadget nya mengscroll scroll layar handphonenya (mood) dan lanjut berkerja seperti biasa apa yang di perintahkan oleh Rafael (bossnya) akan cepat ia kerjakan walaupun sangat menyusahkan, tapi Mifa bukan wanita yang mudah menyerah.