Cinta berlawanan keyakinan

Cinta berlawanan keyakinan
18-sick of this love


__ADS_3

"mau saya bantu?, membersihkan pecahannya?, kebetulan aku jg ob handal", ujar Andi yang sedang tebar pesona.


"eh,,nggak usah koo, saya bisa sendiri".


"nggak nggak boleh, pokonya mbak sekertaris duduk manis di sana", Andi menunjuk ke salah satu tempat duduk yang kosong.


"nggak,,kalo gitu saya bantu, saya jadinya kan gak enak", Mifa duduk, membantu Andi yang sedang membersihkan pecahan Mangkuk itu tadi.


"gak mbak, kalo mbak gak mau, saya malahan juga gak mau bersihin loh", bantah Andi.


"o,,oo,,,okey kalo gitu saya duduk di sana", Mifa tidak bisa membantah Andi lagi, ia meninggalkan Andi dan duduk di kursi yang Andi tunjuk tadi.


sambil memainkan handphonenya "scroll scroll", "ekhemm", deheman seseorang membuat Mifa setengah kaget.


"ehh astaghfirullah", kaget Mifa.


"kamu kok gak kerja?, malah enak enak duduk manis layaknya sang boss?", ejek Rafael dengan nada dingin, menusuk hati Mifa.


"emm,,,ya pak, saya akan pergi, kalo gitu saya permisi", Mifa menundukkan kepalanya, pergi meninggalkan Rafael.


"hemm,,,mau saja di suruh suruh", gumam Rafael dengan senyuman liciknya.


"hufttt,,,akhir akhir ini cuacanya agak dingin, apa mau musim hujan yah?", gerutu Mifa berjalan di sepanjang Lobi.


sementara itu di lain waktu sekaligus tempat, Andi baru saja selesai membersihkan pecahan mangkuk, "mana Mbak sekertaris ya?", tanya nya.


"ngapain lu di sini?, udah gitu celingak-celinguk kayak orang dongo aja?", ucap Dadang sambil menepuk pundak Andi.


"ohh,,,kagak deh, yok nongkrong di mana nanti malem?", ucap Andi berusaha untuk berdiri.


"ya biasa di warung deket perumahan Xxx", lantur Andi.


"oke".


-----


"hatchi,, hatchi", sejak dari tadi Mifa terus bersin, mungkin karna cuaca yang memburuk membuat Mifa tidak terlalu Fit.


"huffttt,,,udah mau selesai tinggal diserahkan ke Pak Rafael", gumam Mifa.


~

__ADS_1


tok...tok..tokk, Mifa mengetuk pintu Rafael 3 kali.


"ya, masuk".


"permisi pak, ini dokumen dokumen dan tugas tugas yang baru saja bapak suruh", ucap Mifa.


"hemm,,,okey good", ucap Rafael sambil membolak balikkan kertas.


"kalo gitu saya permisi pak", Mifa membalikkan badan kebelakang, ingin membuka pintunya, namun Rafael menghadang Mifa pergi.


"tunggu,,,kamu mau kemana?", ucap Rafael.


sontak Mifa membalikkan badannya kembali ke arah Rafael yang menatap nya tajam. "emm,,,saya mau kembali ke ruangan".


"tunggu,,,tangan kamu hangat, kamu merasa tidak enak badan?", tanya Rafael dengan rasa khawatirnya yang memuncak.


"ah,,,nggak, mungkin saya kurang istirahat".


"gak, gak mungkin kamu gak apa apa, coba", Rafael menempel kan tangannya ke arah Mifa yang tengah berdiri di depannya.


Mifa reflek kaget dan langsung menepis tangan Rafael, "eh pak, maaf tapi saya sehat, saya nanti hanya perlu ke apotek".


RUMAH MIFA SORE HARI


"assalamualaikum", ucap Mifa terhuyung huyung dengan wajah nya yang sangat pucat.


"wa'alaikumsalam,,,kok non pucet gini mukanya?", bibi merangkul pundak Mifa dan meraba wajah Mifa.


"gak kol bi, aku mungkin kurang istirahat,,nanti aku beli obat sama kak Iwan aja?", ucap Mifa sambil menepis tangan bibi dengan lembut.


"iya non, telpon Mas Iwan dulu,,sambil bibi buatin bubur, non mandi dulu sana", omel bibi dengan penuh perhatian mengantar Mifa sampai ke kamarnya.


"makasih bi", ucapnya.


bibi segera turun dari lantai dua dan segera membuatkan Mifa bubur berserta teh hangat.


sementara itu Mifa yang barusan selesai mandi, baunya tercium sangat harum seperti bau vanilla turun untuk memakan apa yang bibi sudah siapkan, sambil bermain handphonenya.


(**kak, aku boleh antarkan ke dokter gak?), Mifa.


(iya, emang kenapa? adik sakit yah), Iwan.

__ADS_1


(iya kak, pokonya nanti kaka anterin aku aja), Mifa.


(ok), Iwan**.


Mifa mendengus dan lanjut memakan buburnya yang sedari tadi tidak ada rasanya, karna sakit.


"tingg,,tongg",


"sebentar", teriak bibi sambil berlari ke arah pintu rumah.


"eh,,mas Iwan,,,masuk dulu yuk?", ucap bibi


"iya, makasi bi", ucap Iwan disertai dengan senyum yang manis terukir di bibir Iwan.


reflek Mifa menengok ke arah Iwan yang berjalan ke arah Mifa yang sedang menyantap buburnya. "kak,,cepet banget", lantur Mifa.


"eh,,iya dong kan rumah kita ga jauh", ucap Iwan.


"yaudah kak,,yok berangkat keburu malem nih", ucap Mifa sambil bangkit dari duduknya.


Mifa dan Iwan berangkat menuju dokter langganan ketika Mifa sakit ato sebaliknya.


"Nona Agustina Mifa Putri".


"eh,,iya", Mifa berdiri dan langsung menuju ke dalam ruangan yang biasa dokter memeriksa pasien nya.


"Nona Mifa, sepeti biasa sakitnya?", ucap dokter dengan lembut tapi secara halus juga mengejek Mifa.


"eh,,iya pak juga seperti biasa obat, dan seperti biasa juga uangnya", ejek kembali Mifa.


Dokter hanya tertawa terkekeh karna ejek an yang ia terima, "bisa juga anda, saya akan ingat nama anda".


"terima kasih dokter Harris Pratama".


"sudah dek?", tanya Iwan yang sedari tadi menunggu Mifa di parkiran.


"iya udah, kak aku mau makan di warung yah?, aku laper", rengek Mifa kepada kakak sepupunya.


"iya deh, yang langganan kan?", Iwan mengelus kepala Mifa yang terlihat sangat imut itu.


"ya,,heheh".

__ADS_1


__ADS_2