
tercium bau rendang dan sayur asam yang amat lezat membuat Mifa langsung lupa apa yang tadi dia omelkan "wenak banget bau nya aku mau makan aja kali ya?", tanya nya pada diri sendiri.
bau itu berasal dari meja yang disediakan rendang dan sayur asam 'by:Bibi tercynta'
Mifa segera menempati salah satu tempat duduk dan Bibi sedang sibuk menyapu latar, biasa seperti emak emak pada umumnya jam setengah lima sudah mendaratkan kaki di latar rumah, mengambil sapu lidi.
"woee dekk jangan dimakan dulu, dan jangan ambio piring dulu loh ya! itu sebagian besar punya kaka semua", tiba tiba Iwan berlari menuju meja makan sambil menunjuk nunjuk kearah Mifa yang tengah duduk manis menatap langit langit dapur.
"astaghfirullah, kak. Aku itu ndak rakus yah", ucap Mifa dengan kesalnya. "udah lah kak, jangan bobrok begini", lanjut Mifa dengan kesalnya langsung mengambil piring dan nasi hampir penuh se-piring.
"lah, laj dekkkk jangan banyak banyak kakak makan apa", rengek Iwan yang masih mencicipi makanan itu satu persatu.
Mifa berdecak "tch, orang Mifa ambilin juga kok buat Kak Iwan, emang kak iwan gak mau?".
"eh, iya iya adikku sayang tolong ambilkan piring yang berisi nasi ya?", mata Iwan berbinar-binar mengharapkan jawaban dari adiknya yang memasang wajah musammnya.
__ADS_1
"telat kaka minta tolong nya, Niehh!", Mifa meletakkan sepiring nasi, rendang dan sayur asam tidak lupa dengan lauk pauk, sengaja Mifa meletakkan banyak sekali. (lihat saja, apakah langsung dimakan semua sampai habis atau tidak?), batin Mifa dengan senyuman licik khasnya.
perasaan ku kok ragu gini yah. Pikir Iwan tengkuk nya dingin.
"wait!, hah banyak banget tuh hiasan nya!", lantur Iwan dengan cepat membungkam mulutnya dengan kedua tangan yang lumayan besar.
"hah?kak apa? ulang deh".
"gak, gak apa", Iwan kembali dengan ekspresinya yang normal dan langsung duduk di sebelah Mifa.
"gak ah, masih jam berapa nih coba liat", Mifa melempar kembali pertanyaan ke Iwan.
Iwan menengok ke arah jam dinding di ruang tamu yang lumayan besar dan baru sadar bahwa masih fajar, "oh, jam setengah lima lebih".
"yaudah, aku takut nanti mules mules", Mifa beranjak pergi ke ruang tamu yang luas yang masih menyala TV nya walaupun iklan cemilan.
__ADS_1
"Ya Allah beri penjelasan kenapa adikku marah marah apa mau datang bulan ya? atau bulannya yang di datengin?", omel Iwan pada diri sendiri, namun tak peduli lagi dia menyantap makanannya sampai habis. bersih seperti habis dicuci padahal ia jilat.
"ZzzzZzzZzzZ.
"oalah tidur toh adikku, enak banget tuh posisi nya bisa tidur di sofa nyaman apa ya?", padahal Iwan muncul tiba tiba sudah tepar di sofa, mengorok keras pula.
"au lah, aku mau tidur di kamar atas aja", ucap Iwan langsung beranjak pergi meninggalkan Mifa yang tengah 'sleeping beauty' nya.
setengah jam berlalu, Bibi telah selesai membersihkan latar rumah yang lumayan besar padahal tidak ditinggali lebih dari enam orang. (Kecuali jika kerabat mampir).
"wuih, udah setengah yang habis, emang bang Iwan rakus banget, eh rakus?apa gak makan seharian ya?", tanya Bibi pada diri sendiri.
sudut mata Bibi tertuju pada wanita yang tertidur pulas di atas sofa yang memang empuk sangat, tak heran jika Mifa tertidur di situ.
perlahan Bibi berjalan menghampiri Mifa "yang sabar nak, Bibi tau kamu anggap Bibi sebagai ibu sendiri, tapi jangan menduakan ibu mu sendiri, dan pastinya jangan mengeluh walau orang tua mu jarang kerumah, dan itupun untuk kebutuhan kita".
__ADS_1