
Rafael menaiki anak tangga satu persatu dengan sayu, dan menuju ke kamarnya. "lebih baik aku ke bar saja",
sementara itu kedua manusia yang berada di satu kamar satunya bermain game dan satunya lagi sedang 'berlayar di pulau kapuk' menikmati hari minggu yang tenang.
Sudah satu jam terlewat kini Mifa baru saja bangun dan langsung sholat. "Kak aku mau nyemil, kita ke supermarket yang dekat bar yok?", ajak Mifa. "yaudah, kita beli yang banyak aja", sorak Iwan dengan senang.
"banyak, banyak emang situ yang bayar apa?", gumam Mifa dengan kesal. "kan Adek baik", rayu Iwan memasang wajah ala-ala aegyo nya. itu.
"iya iya, aku sudah siap kak, cepetan sana cuci muka, terus sholat", Mifa keluar dari kamar dan berniat menunggu Kakak nya yang sedang siap siap.
Iwan beranjak ke kamar mandi yang ada di dalam kamar Mifa untuk berwudhu, dia terlalu malas untuk pergi ke bawah, lagian di kamar Mifa juga sudah ada sarung.
__ADS_1
sesudah melaksanakan kewajibannya, Iwan turun tidak lupa memakai parfum dan mengambil handphone nya. "Dek, kakak dah siap ayok", ajaknya sambil mengambil kunci motor yang ada di atas meja ruang tamu.
Mifa tengah melihat kartun kesukaannya dan akhirnya menengok ke arah suara yang tidak asing baginya. "ya Kak ayo", Mifa bangkit dan langsung mengekor di belakang Iwan mencoba untuk menyamakan langkahnya dengan Kakak nya. Iwan.
"nih helm", ucap Iwan sambil memberikan helm milik Mifa yang tengah menggantung di spion motor. "ya".
sekarang Iwan dan Mifa tengah berada di kemacetan, karna supermarket yang biasanya (langganan) kontraknya telah usai, itu adalah resiko, supermarket dekat bar. Ya kedengarannya memang jauh. (itu bukan nya mobil Kak Rafael ya?), batin Mifa. Iwan melihat ke arah spion tengah melihat adiknya yang tengah memandang mobil sport berwarna hitam. kenapa pingin ya? nanti kubelikan", lantur Iwan.
kini Mifa dan Iwan tengah memakirkan motornya di supermarket, lagi lagi Mifa melihat mobil sport berwarna hitam itu, banyak orang kaya di sini, mungkin. Pikir Mifa.
"ngelamun lagi astaghfirullah", Iwan tampak frustasi mendapati adiknya melamun, untung tak disambet. "ya maap kak", sinis Mifa yang langsung masuk ke supermarket.
__ADS_1
Iwan berlari berusaha menyamakan langkahnya dengan adiknya dan disambut oleh pegawai supermarket dengan sopan. "aku kesana, kaka kesana ya", pinta Mifa. "apa yang tidak bagi makanan", Iwan langsung berlari ketempat yang ditunjuk oleh adiknya.
"saya pesan wine satu dan alkohol satu", pinta nya dan langsung duduk di salah satu meja yang berada di sudut ruangan. Tak banyak pengunjung atau apapun itu karna masih dini hari, entah sampai kapan Rafael akan berada di sana.
"ini, ini wah ada akhirnya Alhamdulillah", sorak Mifa dengan gembira, akhirnya roti yang dibalut dengan cokelat dan isinya pun cokelat sudah berbulan bulan tak ada sekarang sudah ada. "mau beli lima aja deh", imbuhnya.
"buset dah, tuh banyak di keranjang nah mau imbuh roti lima astaghfirullah ga takut gemuk Mif?", tanya Iwan yang heran melihat kelakuan adiknya tidak takut dengan yang namanya 'gendut, kegendutan, mulai gendut'.
"ya terus? terserahku", lirih Mifa. "oh ini Kakak beli ini ya?", Iwan memberikan snack yang tadinya ia pegang ditangan nya.
"ini aja udah tujuh yang Kakak beli sendirinya aja beli banyak", Mifa langsung mengambil dan meletakkan ke dalam keranjang.
__ADS_1
"sudah yok, pulang", ajak Iwan yang langusng diangguki oleh Mifa. (antrinya lama banget astaghfirullah), batin Mifa