
"heheh...ya kak", ucap Mifa sambil cengengesan.
Renata tengah menikmati makanannya, sedangkan Mifa hanya bermain handphone sesekali meneguk air putih nya. (gak seru pokoknya gak seru), batin Mifa.
"bro mau pesan apa aja?", ucap Rangga.
"hemm nasi goreng aja deh", ucap Dadang.
terdengar suara Dadang dari belakang meja makan Mifa, membuyarkan lamunan Mifa seketika, (Dadang?), batin Mifa sambil membulatkan pupil matanya. "sebentar mbak, saya mau ke toilet dulu", ucap Mifa sambil berdiri.
"oh yaj gappa Mif", ucap Renata.
-Di tangga.
"gitu yah, sekarang Dadang pura² ga kenal sama aku, huff sebel", gumam Mifa sambil mengepalkan tangannya.
*Brukk..., suara tabrakan Mifa dan Rafael. "aduh", rintih Mifa.
"kamu kalo jalan pakai mata kaki apa?, ko bisa nabrak saya", tegas Rafael sambil meninggikan nada suaranya.
"ya pak, tidak akan saya ulangi lagi, kalo gitu saya permisi", sopan Mifa sambil menundukkan kepala.
"ya", singkat Rafael.
__ADS_1
(gitu aja marah, dasar nanti cepet tua pak), batin Mifa sambil tertawa kecil.
"saya tau kamu memaki saya kan?", ucap Rafael sambil mengangkat satu alisnya.
"kok tau sih?", gumam Mifa sambil mempercepat langkahnya.
-Di kamar mandi.
Mifa membasuh mukanya, menatap cermin oval berukuran besar. "hemm manis...hehe, ih ngapain sih aku ko geje", ucap Mifa sambil memukul pipinya. tiba-tiba...*Byurrrr...., Rena melemparkan ember berisi air pel yang sudah berbau tidak enak.
"astaghfirullah hall adzim", ucap Mifa terkejut.
"rasain lo, makannya kalo jadi cewek tuh jangan ganjen, inget Rafael tuh milik gw", ucap Rena dengan nada tinggi.
Mifa tidak bisa menopang tubuhnya lagi, kakinya lemas dan hanya bisa menangis. "berdiri lo Mifa, sok suci, padahal kelakuannya kayak jal*ng", ucap Rena sambil menendang kaki Mifa.
"minta maaf sebelumnya, tapi saya bukan wanita seperti yang di deskripsikan seenaknya sama mbak Rena, mungkin yang di deskripsikan mbak adalah diri mbak sendiri kan?", lantang Mifa.
"sembarangan!!mana mungkin?", ucap Rena.
"kalo tidak ada yang penting saya permisi dulu, assalamualaikum", ucap Mifa meninggalkan setempat.
"dasar berani²nya dia bisa lancang sama gw, padal gw yang udah lama kerja disini, sialan", ucap Rena sambil mengepalkan tangannya.
__ADS_1
*****
"kan jadinya kotor semua baju ku, mana bekas pel²an, kan najis buat sholat, hemm untung handphone ku anti air", ucap Mifa.
"yaudah kalo gitu aku mau ke ruangan ku dulu", ucap Mifa.
-di lantai 30.
"huhh..kotor kan..gimana ini", keluh Mifa.
"ada apa?, ko kamu bicara sendiri kayak orang gila, mana bajumu kotor kena apa ko bisa kotor gitu?", ucap Rafael sedikit khawatir.
(di saat kayak gini si brengsek satu ini malah ngejek, sebell), batin Mifa sambil memonyongkan bibirnya.
Rafael berjalan ke Mifa. "kamu habis di apain?", ucap Rafael sambil memegang tangan Mifa.
"bukan urusan pak Rafael", sewot Mifa.
"hey..aku ini bosmu kenapa kamu bisa mengatur saya seenaknya?", ucap Rafael.
"tadi saya di lempar ember berisi air bekas pel sama Rena, puas?!", ucap Mifa tegas.
"hah, Rena, dasar Rena", ucap Rafael.
__ADS_1
"sudahlah, sekarang aku ijin mau pulang lebih dahulu sama pak Rafael, karna keadaan ku yang tidak memungkinkan", pasrah Mifa berjalan menuju ruangannya.
"hemm...yasudah kalo itu maumu", ucap Rafael