
sudah sebulan Mifa bekerja di perusahaan milik Rafael yang cukup besar, dia juga sudah tahu bahwa Rafael beragama berbeda.
itu tidak membuat Mifa ilfeel, Mifa menerima apa adanya. Namun Dadang masih belum berani saling berhadapan bersama Mifa, merasa persahabatan nya selama ini sudah renggang.
"mbak Renata, sholat dulu yok", Mifa melemparkan pertanyaan kepada Renata yang masih asik memainkan handphonenya.
"iya deh, nanti kita makan pangsit yang ada di luar itu loh keliatannya enak", Renata bangkit dari kursi kerjanya dan menghampiri Mifa yang berdiri tidak jauh dari tempat nya.
"ya deh, mumpung aku juga mau,,heheh".
------
selesali Sholat dhuhur, Mifa dan Renata memesan satu mangkuk pangsit, "eh itu mobil nya siapa yah?, bagus banget", Mifa menunjuk pada mobil berwarna putih, terlihat elegan.
"loh itu kan...", ucap Renata.
"apa mbak?", Mifa melemparkan pertanyaan kepada Renata yang tengah menatap Mobil itu.
"oh, gak apa, yok lanjut makan, nanti keburu dingin,,hehe", ucap Renata.
"okey deh mbak", Mifa ikut memakan pangsit nya itu.
__ADS_1
tidak lama kemudia, datang Dadang bersama golongannya tersebut, dengan senyum Dadang yang manis, membuat Mifa tersipu sejenak.
"eh bro, gimana nih?, lo udah punya pacar gak", Andi melemparkan pertanyaan kepada Dadang.
"hem,,,tapi gw punya orang yang gw suka selama ini", ucap Dadang.
(loh? dia,,,dia punya orang yang di sukai?), batin Mifa sambil menatap kosong.
"siapa tuh orangnya?", tanya Andi.
"hemm,,,dia itu cantik banget, gw gak bohong".
"Mbak, saya mau pergi dulu, aku sudah kenyang", Mifa bangkit dari kursi, dan meninggalkan Renata yang masih bingung terhadap sifat Mifa.
"jadi dia udah ada orang yang di sukai?, kok aku gak tahu sih?, apa aku cuman pelampiasan nya?", Mifa mencoba untuk mencegah air mata nya yang kini ingin turun, melampiaskan semua amarah nya.
"dahlah, aku udah pusing sama permainan hati yang engkau buat, aku udah lelah, mau istirahat", Mifa mencoba menenangkan dirinya yang kini tengah duduk di atas kursi berwarna putih.
sementara itu, di lain tempat Renata mencoba mencari Mifa kemana, namun ia tidak dapat menemukannya, "hufttt...mana sih tuh bocah ngeselin amat dah".
"pak, apakah nanti kita boleh makan bersama?", ucap Manja seorang wanita kepada Rafael.
__ADS_1
"terserah", namun Rafael menjawabnya dengan nada dingin, seolah menolak ajakannya.
"makasih pak".
"wait?, bentar itu kan si jal*ng?, dih balik lagi kan", ucap Renata yang mencoba untuk menguping.
----
30 menit telah berlalu, kini Mifa masih duduk dan tidak ingin diganggu oleh siapapun. "hufttt,,ga boleh aku harus move on dari dia, aku mau balik ke kantor, ini udah lama sekali".
Mifa dengan santai nya berjalan di trotoar dan kembali ke tempat kerjanya.
menaiki Lift, memencet angka nomor 30.
"Alhamdulillah udah sampai, sekarang apa aja pekerjaan yang diberikan oleh Pak Rafael tah", ucap Mifa berjalan menuju ruangannya.
Mifa membuka pintu ruangan itu dan, "astaghfirullah hall adzim", Mifa tersentak kaget melihat tumpukan kertas yang tidak biasa. "banyak banget, Pak Rafael juga ga ada di sini". ucapnya terheran heran.
"dahlah, aku sempatin sampai lembur juga gak apa apa", ucap Mifa mencoba untuk mengembalikan semangat nya.
----------------------------/--------------------/-------------------/-
__ADS_1
im back:')