
sementara itu, Mifa masih bermain gadget nya mengscroll scroll layar handphonenya (mood) dan lanjut berkerja seperti biasa apa yang di perintahkan oleh Rafael (bossnya) akan cepat ia kerjakan walaupun sangat menyusahkan, tapi Mifa bukan wanita yang mudah menyerah.
Jam sudah menunjukkan pukul 12:00 siang Mifa bergegas untuk melaksanakan sholat dhuhur bersama Renata, ya seperti biasanya.
"weh, Mifa mau sholat ya?", Renata menghampiri Mifa yang berjalan menatap ke depan. "eh, iya kalo Mbak ga sholat?", tanya Mifa.
Renata tersenyum "oh Mbak datang bulan kamu sholat sendiri aja ya?".
"oh yaudah Mifa sholat dulu Assalamualaikum", Mifa meninggalkan Renata. "Wa'alaikumsalam", balas Renata.
Di tepi musholla Rena berserta golongannya tengah cangkruk dan memojok tidak ada tujuan untuk sholat atau apapun itu, membicarakan hal yang tak penting penting.
"eh liat itu, si jal*ng dateng enaknya diapai", sahut salah satu diantaranya.
Rena mempertajam penglihatannya "oh, dia toh sudah jangan buat yang nggak nggak lo, ini di mushola ntar kita dipandang buruk lagi".
__ADS_1
Hey kalian memang buruk.
Mifa duduk di tepi musholla untuk melepas sepatu berserta kaos kakinya, setelah melepas dia langsung masuk dan meletakkan ruko berserta sajadah nya di bawah (tepat di belakang soft).
Tak lama kemudian Mifa keluar dengan wajahnya yang lumayan basah karna terkena air wudhu, ia langsung memakai ruko nya dan merapikan sajadahnya serapi mungkin dan menghadap kiblat.
Beberapa menit kemudian, Mifa selesai sholat dan melipat kembali sajadah dan rukonya, sedikit merapikan jilbab nya di depan cermin, "aku lapar, mau makan pangsit aja deh", ucapnya dan langsung pergi dari mushola. Mifa memakai kaos kaki dan sepatunya. Mifa mendesah kasar "Huft, lelah sekali rasanya hari ini", dan langsung pergi meninggalkan mushola.
"mau makan pangsit di kantin aja deh, aku belum pernah coba", Mifa berjalan menuju kantin yang tak jauh dari mushola, dan menemukan segerombolan Laki laki, yaitu Dadang dan teman temannya, rasanya canggung sangat canggung apalagi tadi malam keduanya saling membantu.
Mifa menunduk "em, per-permisi", dan langsung berjalan melewati segerombolan tersebut. "fhew, tumben cewek cantik lewat nih kalem pisan aduh", bisik salah satu kawan Dadang. "Hust, ga sopan mungkin dia lebih tua dari kita", Dadang memperingati salah temannya.
namun Mifa hanya bisa diam dan melewati, (itu hampir membunuh ku, ) batin Mifa dan langsung menuju kesalah satu tempat duduk yang kosong dan muat untuk dua orang.
Mifa menuju ketempat pangsit dan memesan semangkuk pangsit. "em, buk saya pesan pangsit satu".
__ADS_1
"oh ya neng, dua belas ribu", Mifa langsung memberikan dua lembar uang. (sepuluh ribu, dua ribu).
"nanti biar anak saya yang antar, mana tempat duduk neng?", tanya ibu tersebut tidak ingin Mifa menunggu nya sangat lama. Mifa menunjuk tempat duduknya "di situ, yang ada ruko nya yah buk". Dan langsung diangguki oleh penjual pangsit tersebut.
Mifa kembali ketempat nya, dan memainkan handphonenya, seperti biasa mengecek media sosial seperti insta, twt, dan lain sebagainya.
tiba tiba. "hah?ayah nelfon?".
"assalamualaikum, pa?".
"wa'alaikumsalam, nak nanti papa akan kerumah dan papa akan bawa tamu kamu jangan sampai larut malam pulangnya ingat. Ini, penting!! ya sudah kalo gitu ayah akhiri, Assalamualaikum". belum sempat membalas percakapan Ayah, langsung dimatikan dan Mifa hanya bisa menurut mau bagaimana lagi? dia hanya bisa menerima realita.
Semua orang ingin hidup selamanya dengan pilihannya tidak bisa dipaksa, terutama Mifa sendiri.
-segini dulu, author tau kalo ini kurang, tapi mohon dimaklumi😉💜-
__ADS_1