
"huftt,,akhirnya", Mifa legah setelah menemukan ibu dari kedua anak tersebut.
"akhirnya, lohh?", perempuan itu kan,,,
Flashback~
*Brugghhh", suara tabrakan antar 2 wanita yang sama sama memakai syar'i panjang .
"eh astaghfirullah, maaf yah mbak, aku gak sengaja", ucap Mifa yang mencoba untuk berdiri, dan membantu wanita itu untuk berdiri."yajh, gak papa, saya sendiri mungkin juga salah", lantur wanita itu menenangkan Mifa yang merasa bersalah.
Flashback off~.
kedua wanita itu saling menatap dengan tatapan yang tidak asing, ibu itu melangkah mendekat ke arah Mifa, Mifa hanya bisa terpaku diam kedua tangannya menggantung paku.
"hey, kamu yang saat itu yang tidak sengaja ku tabrak, sekali lagi aku minta maaf dengan kejadian itu oh yah nama saya Linda asri nama kamu?", ucap ibu itu. dua anak tersebut berada di gendongan Rafael yang hangat.
"eh, maaf nama saya Agustina Mifa Putri", Mifa mengukir senyuman yang secara tiba tiba ia lukis.
"dia adalah sekertaris ku. Kakak", Rafael menyelip pembicaraan dan membuat kedua wanita itu menatap aneh.
"hm, bagus jika begitu", lantur Linda dengan menepuk pundak Mifa. "apakah dia garang?bersamamu?atau sebaliknya?".
__ADS_1
"eh eng, perilaku nya sangat aneh", jujur Mifa sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
Linda tertawa terbahak bahak dia tidak tau apa yang dimaksud dengan 'aneh'. "aneh? hem".
"pikirnya dia, tapi aku berperilaku normal", ujar Rafael.
"ibu, tadi kaka manis ini telah menolong ku saat ibu meninggal kan ku di mushola", anak kecil itu membuka percakapan hangat nya bersama bundanya betapa gemas wajahnya ketika mengucapkan sepatah kata.
"iya, ibu tau Mifa sangatlah hangat kepada anak kecil, bukan begitu. El?", Linda mencuri pandang ke arah Rafael yang tengah sibuk bersama kedua anak itu.
"aneh?tak mungkin", Rafael menyeringai ke arah Mifa yang sedang berdiam diri.
oh tidak, pikir Mifa.
"wa'alaikumsalam".
Rafael menyeringai ke hadapan Mifa yang sedang menatap anak kecil itu dengan penuh perhatian. "eng, Kak aku akan pulang dengan ojel saja",
"terserah kau saja", Rafael meninggalkan Mifa , anak kecil itu membuntuti Rafael dan akhirnya digandeng oleh Rafael.
Mifa mendengus kesal dan mengeluarkan handphone nya dari tas kecil itu, segera memesan ojel.
__ADS_1
"saya, didepan mbak", ucap ojel tersebut daei handphone nya.
"iya pak, tunggu sebentar",
Mifa keluar dari gedung yang lumayan besar dan pastinya ruangan di dalamnya bak istana prasejarah (tak mungkin).
bang ojel dan Mifa kini berada di tengah keramaian yang amat, bang ojel kini sedang serius sambil menanyakan pertanyaan ke Mifa agar suasana mencair. Kini suasana amat hangat karna bang ojel nya juga sangat terbuka dan mudah bergaul membuat Mifa nyaman, dan tipe mudah bergaul dan terbuka itulah 'tipe' sahabat Mifa.
"makasih banyak loh pak", Mifa turun dari motor berwarna hitam pekat dan melepas hel berwarna hijau dan bertuliskan 'ojol'.
"wahahah,,iya neng saya juga berterima kasih sangat", bang ojel itu tersenyum kepada Mifa dengan hangat, Mifa membalas nya juga.
Rumah besar itu milik orang tua Mifa yang berkerja keras selama ini, Mifa berjalan menuju pintu rumah dan mengetuk nya. "tokktokkkk.
"iya, bentar", ucap bibi seraya mengayunkan gagang pintu itu.
"assalamualaikum".
"wa'alaikumsalam". jawab bibi
"oh ya bi, mana ayah dan ibu?", tanya Mifa.
__ADS_1
"oh nyonya dan tuan biasa non keluar kota", Bibi sudah terbiasa dengan pertanyaan Mifa yang tidak berubah ketika menanyakan orangtua nya yang tiba tiba tidak ada di rumah.