
"wahh,,,anda sangat amat lah cantik", para pegawai kagum melihat Mifa yang memakai baju berwarna pink namun tidak terlalu mencolok bisa dibilang warnanya pink old rose dan manik manik mutiara yang berada di bagian atas baju serta syar'i yang seirama dengan bajunya tersebut hampir membuat semua pegawai kagum dan Rafael pun.
"mungkin ini tidak cocok aku akan mengganti dengan pakaian yang biasa".
mata Mifa tidak sengaja menangkap mata Rafael yang sedari tadi menatap nya tanpa berkedip sekalipun. Mifa mencoba mendekati Rafael yang tengah menatapnya. "em, pak, eh kak ini tidak cocok ya? kalo seperti itu aku akan mengganti baju ku dengan yang tadi".
Rafael sedikit terkejut dan mengedipkan matanya. "tidak terlalu cantik, tapi kau harus menggunakan baju itu karna bajunya yang cantik dan bukan kamu". Rafael kembali dengan posisi nya yang angkuh sambil mengejek Mifa.
"eh, em ok pak", Mifa sedikit kecewa karna bossnya sendiri tidak mengakui bahwa ia cantik.
(pdahal aku berharap kalau dia memuji-ku).
"sudahlah aku tau apa yang kau pikirkan, kau cantik memakai baju itu", Rafael tersenyum tulus kepada Mifa yang tengah termenung itu.
Mifa merasakan suhu badannya meningkat seketika, kedua pipi Mifa berubah menjadi merah tomat hati nya berdebar debar tak karuan, matanya terbelalak dan perlahan menatap Rafael dengan ekspresi mata yang berbinar binar, pipi merah dan senyum yang manis tapi malu.
"sudah, mari kita pergi", Rafael menarik Mifa ke arah parkiran mobil, salah satunya ada mobil mewah milik Rafael.
"kamu, masuk", Rafael mempersilahkan Mifa masuk ke dalam mobilnya.
"iya", ucap Mifa singkat.
di jalan hanya ada suara gumaman mesin mobil Rafael, Mifa menatap ke arah jendela.
sudahlah, apa kah dia ingin membawa ku ke suatu tempat yang berbahaya?, pikirnya.
__ADS_1
"jangan berpikir aneh aneh, aku hanya akan menghadiri pesta perjamuan antara perusahaan besar di dunia kau hanya mendampingi di sebelah ku tidak lebih ingat itu", ujar Rafael yang masih fokus ke setir nya.
"ya, aku akan berusaha agar tidak berpikir yang di luar maksud mu", ketus Mifa sambil membenahi kerudung nya.
"hmm", lirih Rafael.
"drrtt,,,,derrtttt
deringan handphone milik Mifa seketika memecahkan keheningan di mobil itu, Mifa segera menggeledah tasnya berusaha mencarj handphone nya secepat mungkin.
"Nana,,,", gumam Mifa dan langsung menggeser tombol warna hijau, "tumben apakah dia sedang khawatir", gumamnya sekali lagi.
"kamu baik baik saja Mifa?, ucap Nana dari sambungan telfon tersebut.
"kamu, di ajak sama kating ke mana?".
"entah tapi aku akan mengikutinya saja", Mifa melirik ke arah Rafael sekilas dan Rafael membalasnya.
"**haha,,ya sudah kalau begitu kita sudahi dulu".
"assalamualaikum**", sambung Nana.
"wa'alaikumsalam".
"hm, tadi itu wanita yang membela mu, kan?", tanya Rafael.
__ADS_1
Mifa melirik Rafael sekilas membuka tas nya dan meletakkan Handphone nya ke dalam tas kecil. "ya, kenapa?".
"oh, tak apa".
Suasana canggung kini kembali, tak ada yang mengucapkan sepatah kata bahkan menguap, batuk dan sebagainya sampai tiba di tempat yang Rafael maksud.
"pukk..pukkmm
"kita sudah sampai, jangan membuang buang waktu hanya untuk meratap ke jendela, cepat turun", Rafael menepuk pundak Mifa sambil membuka pintu mobil yang ada di sampingnya.
Mifa segera menganyunkam gagang pintu mobil kebawah dan mendorongnya, segera keluar dan menutup pintu nya kembali, "aku sudah siap".
"ayo".
Mifa mengekori Rafael yang berada di depan nya persis, sambil menengok ke arah jam nya was was jika sudah waktu dhuhur dia akan segera mencari musholla terdekat ataupun memang sudah disediakan musholla di dalam tempat itu, pikirnya.
"selamat datang, ceo Rafael pratama",
sopan sekali para karyawan di sini, pikir Mifa berulang kali.
Mifa membungkukkan badannya kepada karyawan setempat tanda nya bahwa dia sangat menghormati pekerja di sini.
"hei, apa kabar sobat ku", ucap seorang lelaki yang mengulurkan tangannya kepada Rafael.
"hm, seperti biasa. kau?", Rafael menerima jabatan tangan seorang lelaki itu dan kembali menanyakan hal yang sama.
__ADS_1