Cinta berlawanan keyakinan

Cinta berlawanan keyakinan
47-Aku terima demi kalian


__ADS_3

suara berat itu menghampiri Mifa, tidak asjng dan tidak familiar juga "Mifa, ak-aku minta maaf kau tidak ingin menerima ku, kan?" Tanya Arya yang berada di depan Mifa.


"kamu lebih baik tenang saja dahulu".


ucapnya berusaha menangkan Mifa.


Mifa masih terus menangis tak bisa membendung air mata nya. Namun Mifa teringat jika ia tidak menuruti Ayah pasti ayah akan sangat sedih, lalu Mifa bangkit dan mengusap air matanya disusul dengan Arya yang sedari tadi berada di samping Mifa.


"ehm, kamu gak apa kan? kalo misal kamu ga neri-" ucapan Arya terpotong.


Mifa tersenyum "aku seneng kok aslinya di jodohin sama kamu aku tadi cuman nangis karna bad mood aja seharian lelah" lantur Mifa dan langsung mengajak Arya ke dalam. "yok ke dalam rumah kasihan semua menunggu kita".


Arya mengangguk "hem ya mari".


Kedua nya telah masuk ke dalam rumah semua nampak khawatir, semua mata tertuju pada Mifa dan di diiringi oleh Arya yang berada di belakangnya. Ayah Mifa menghampiri "Nak, kamu gak apa kan?" khawatir Ayah. Mifa hanya tersenyum dam mengajak keduanya untuk kembali duduk.


"begini saja, jika. Mifa belum siap menerima Nak Arya maka lamaran nya ditunda saja juga tidak apa saya juga gak maksa kok" Ayah Arya menyahut dengan sopan, dia tak menolal sama sekali.


"eh, saya menerima lamarannya kok Pak saya siap jadi calon istri kok" sahut Mifa tiba tiba.


Semua menatap Mifa dengan ekspresi bingung. "se-serius?" seakan semua tak percaya dengan ucapan Mifa.


(ada apa kok semua gak yakin sama aku?, ya iya lah) Batin Mifa.


"Ekhem, mau aku ulang apa yang aku ucapkan tadi?" Tanya Mifa ke semua orang yang ada di dalam rumah, termasuk Bibi yang sedan menyuci baju di belakang.


Semua masih menatap Mifa "eh gak perlu, ekhem jadi Mama dan Papa minggu depan kita balik ke sini lagi" sahut Arya dengan tiba tiba.


Ayah Mifa melukiskan senyuman bahagia menghampiri Mifa dan memeluknya "Puk,,Pukk.

__ADS_1


"terima kasih anakku tersayang sudah mau menuruti permintaan ayah", Ucapnya.


"Ini emang sudah kemauan Mifa sendiri kok".


Ibu Mifa menghampiri "Anak manis kalo nanti udah dilamar terus nikah jangan lupa sama Ayah Ibu ya?".


Sementara Arya hanya memandang keluarga kecil itu yang harmonis dan kompak, "kamu mulai suka sama Mifa ya? aduh so sweettttt" tiba tiba Ibu Clara berada di samping Arya hampir saja membuat Arya kaget "eh, em gimana ya? heheh" Arya hanya bisa tersenyum kaku.


Padahal di dalam hatinya sudah tumbuh serbuk serbuk cinta (:v).


Ayah melepaskan pelukan nya dengan lembut , Ibu Mifa mencium keningnya tanda kasih sayang tak terbatas.


"Yasudah kami pergi dulu minggu depan, Mifa kamu siap siap dilamar anak saya ya".


Mifa tertawa kecil "ya bu, saya insyaallah seratus persen siap".


Mifa menyambut fajar seperti hari hari biasanya Bangun, sholat, membaca Al-Qur'an, sarapan dan lainnya.


"Ayah!Ibu! Mifa berangkat kerja dulu ya!" Sorak Mifa sambil turun dari anak tangga.


Ayah dan Ibu nya langsung menengok ke arah Mifa "Iya nak yaudah kalo gitu hati hati ya! jangan sampai kemaren di bawa pikiran, nanti ga fokus nyetir" Sindir Ayahnya. Mifa mem Pout kan bibirnya "Ayah, kok gitu sih".


Ibu hanya tertawa "sudah sudah, Ayah kamu jangan gitu nanti kalo telat kerja bagaimana?.


Ayah mendekat pada Ibu dan membisiklan sesuatu "ada yang nunggu di depan" dan langsung diangguki oleh Ibu. Mifa menatap kedua orangtuanya yang sedang 'main bisik'.


"err, Ayah Ibu aku berangkat ker-".


"Eh, jangan kamu ke depan aja nanti ada yang nganter kamu kok" Sahut Ibu tiba tiba.

__ADS_1


Ada yang mengantar?lebih baik Mifa menurut saja.


"ya sudah kalo gitu Mifa pamit dulu ya assalamualaikum" Mifa langsung keluar dari rumah. "wa'alaikumsalam" kompak Ayah dan Ibu.


"ada yang mengantar ku?siapa?Kak Iwan yah?" gumam Mifa. Lalu melanjutkan jalannya dengan tergesa gesa, karna jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan.


"Brukk".


Mifa menabrak lagi, sesuatu yang keras dan tinggi, itu sangat sakit. "astaghfirullah kaget" Lantur Mifa.


"ekhem, mari saya antar Nona" Suara itu lagi, baru saja menghilang saat malam itu, jujur Mifa tidak ingin dijodohkan tetapi apa daya itu adalah permintaan kedua orang tuanya.


"Eh Eeee,,Arya hehe" Mifa hanya bisa tertawa kaku.


"Saya antar ke kantor" lalu Arya tersenyum.


Arya menggunakan kemeja seperti CEO oada umumnya termasuk Bossnya, Rafael.


Arya adalah CEO sukses di kota Surabaya termasuk Rafael, kedua perusahaan saling menyaingi satu sama lain. "Emang em". Mifa berhenti sejenak dia tak tau mau memanggil Arya dengan sebutan apa.


Arya tersenyum "Hm panggil Mas aja".


Mifa terdiam, dia merasa seperti di baca oleh Arya. "eh, iya maksudku Mas memang tau di mana tempat kerja ku?" Tanya Mifa.


"di salah satu perusahaan terbesar juga?".


maksudnya 'Juga' itu apa? Mifa tak paham sama sekali. "eh iya iya".


"Baik saya antarkan".

__ADS_1


__ADS_2