
Rafael menggendong Mifa hingga ke mobil nya, meletakkan Mifa dengan hati hati di kursi belakang. "bersabarlah Mifa, aku akan mengantar mu ke rumah sakit" Desis nya sembari meletakan Mifa.
Setelah itu Rafael langsung menyetir secepat ia bisa, Rafael tak tega melihat Mifa pingsan seperti itu, tak ambil pusing ia langsung menancap gas dengan cepat.
Rafael mengeluarkan handphonenya dengan cepat dan menekan nomor kakaknya.
"tuttt,,tutttt".
"iya Afel tumben telfon kaka?". Suara berasal dari handphone Rafael.
"kakak, em kakak sekarang sibuk gak?"
"gak, kakak lagi di ruangan kerja sendiri, kenapa memang?".
"ya sudah, jangan sampai ada pasien yang datang selain. Aku".
"what?kamu sakit? sakit ap-". Namun sambungan telefon langsung dimatikan oleh Rafael karna Rafael harus sepenuhnya fokus untuk menyetir.
"huft, ya sudahlah dasar adik ceroboh" Maki nya. Harris langsung keluar dari ruangan nya sembari menyapa karyawan yang lewat di depannya, turun untuk menunggu adik tersayangnya.
__ADS_1
sudah melewati beberapa menit, akhirnya Rafael sampai pada tujuan, yaitu rumah sakit milik kakaknya sendiri. Sudut mata Rafael menangkap kakaknya yang sedang berdiri jauh dari tempat nya parkir mobil. Rafael menotice kakanya dengan melambaikan kedua tangannya.
jauh dari sana, Harris menangkap Rafael yang sedang menotice nya dan langsing berlari menuju Rafael. berhenti tepat di depan Rafael sembari mengambil nafas dalam setelah berlari. "ada apa kamu ke rumah sakit kakak?kan kamu sibuk Afel?". Tanya nya pada Rafael.
Lalu Rafael hanya menunjuk kedalam mobil dan menyuruh kakaknya untuk membuka pintu mobil belakang, "ah, em baik akan aku buka" ucap Harris.
Harris sangat terkejut, momen yang sangat langkah sebelumnya Rafael belum pernah membawa seorang perempuan baik itu teman sekolah atau sebagainya. "wah, bagaimana kau bisa membawa seorang perempuan?" Tanya Harris sangat terkejut.
"dia sekertaris ku, aku menemukan dia pingsan di ruangan kerjanya" Jelas Rafael.
Harris menautkan alisnya "baiklah aku akan suruh stuff medis membawanya, kau hanya tinggal masuk kedalam".
"hm, ya sudah aku akan memanggil stuff medis terlebih dahulu, kau tunggu sini".
Tak lama kemudian, Harris membawa beberapa stuff medis membawa 'hospital bed'.
Pukul: 13:20
Mifa terbangun dari pingsannya setelah 1 jam 40 menit lamanya. Disekeliling Mifa wajah familiar Rafael dan. Harris? mengapa di ada di sini?apakah Harris dan Rafael sudah mengenal satu sama lain?.
__ADS_1
Mifa berusaha duduk, namu tak bisa karna sedikit asma dan pusing.
"hati hati Mifa" Lantur Harris.
Rafael sedikit terkejut, mengapa terdengar akrab sekali jika Kakanya dan Mifa berbicara?.
"ah, iya pak terima kasih ya" Lalu Mifa kembali berbaring, Harris meninggalkan Rafael dan Mifa sendiri di ruangan. "apakah, kamu sudah kenal dengan Kakakku?Harris?" Tanya Rafael tiba tiba. "Sudah setahun lalu aku kenal dengan-".
"tunggu?Kakak mu?Pak Harris adalah kakak mu?" Mifa tak percaya karna sifat nya sangat bertolak. Harris dengan sifat ramah, hangatz dan lembut itu. Sementara Rafael? dengan sifat dingin, angkuh dan acuh itu. Adiknya?.
"kenapa? kau tak senang jika aku menjadi adiknya. Bukan?" Tanya Rafael dengan nada kesal.
"oh, gak sih hehehe aku hanya kaget saja" Sahut Mifa. "ya sudah, kau duduk dulu dan aku akan menyuapi mu bubur" Perintah Rafael.
"Apa? di suapi? de-dengan kamu? ah tidak lebih baik aku akan makan sendiri karna aku bukan anak kecil" Mifa terkejut dan langsung duduk di tepi kasur. Namun Rafael sibuk menyiapkan makanan nya dan duduk di samping Mifa.
"jika kau tidak menurut, maka aku tidak akan mengantar mu pulang" Ucap Rafael dengan nada dingin yang mengancam Mifa.
Mifa tidak bisa apa apa dia hanya pasrah dan menurut.
__ADS_1