
"Alhamdulillah sudah sampai dengan selamat Ya Allah", ucap Mifa dengan lega.
"sebentar, itu mobil nya siapa yah kira²?, sebelumnya aku ga pernah liat deh", ucap Mifa sambil mempertajam penglihatan.
"mbak?, ngapain ko gini?", ucap Dadang yang dari tadi berada di belakang Mifa.
"astaghfirullah dang.....aku kaget dang, oh yah ngomong² Dadang kamu tau mobil itu punya siapa?", ucap Mifa sambil membalikkan badan ke Dadang.
"oh yah ya lupa, mbak kan pegawai baru itu temen nya pak boss, dia blasteran ganteng banget katanya perempuan, kalo saya sih b aja", ucap Dadang.
"ya saya tau Dang..yaudah yuk masuk", ucap Mifa sambil menarik lengan Dadang.
Mifa dan Dadang masuk ke dalam kantor bersamaan, mengundang perhatian dari segala sudut. (eh lu liad kagak?, noh sekretaris baru sama Dadang serasi amat, yang perempuan apalagi sok suci..hyy..dasar jal*ng), ucap pegawai setempat dengan tatapan menghina.
"dasar semua kampungan", ucap Dadang sambil menggeretakkan giginya.
"udah Dadang jangan kamu respon, sama aja kamu kayak ngeladenin anjing menggonggong", ucap Mifa.
"ya mbak, makasih", ucap Dadang.
"yasudah Dang, kalo gitu aku naik dulu, byby", ucap Mifa sambil melambaikan tangannya, di tambah dengan senyum manisnya.
"heheh,,ya Mbak", ucap Dadang sembari melambaikan tangannya di sertai dengan senyum manisnya.
"Alhamdulillah akhirnya sampai", ucap Mifa yang barusan datang di lantai 30.
Mifa masuk ke Ruangan Sekertaris nya, menaruh barang² nya di samping meja kerja nya. "drrt..drrt..", deringan handphone Mifa membuat Mifa setengah terkejut.
(Mifa tolong buatkan saya dua gelas kopi hitam), pesan dari Rafael.
__ADS_1
(ya pak segera saya buatkan), balasan Mifa.
"kenapa harus dua gelas ya?, ada tamu mungkin gatau lah penting aku buat kopi nya dulu", gumam Mifa.
Mifa menuju lantai dasar dan segera membuatkan dua gelas kopi. "brukk", suara tabrakan yang disengaja oleh salah satu pegawai.
"astaghfirullah al adzim", ucap Mifa terjatuh dengan air panas yang berada di bajunya.
"upss..maap hehe", ucap Rena (pegawai).
"i..i..ya gakpapa, saya bisa bangun sendiri", ucap Mifa yang mencoba bangkit.
"loh mbak Mifa?", teriak Dadang.
"sini aku bantu mbak", ucap Dadang sambil membantu Mifa berdiri.
"wah²,kayak nya ada yang sedang pacaran nieh", ucap Rena sambil tertawa kecil.
"sengaja?, hummm gatau, seperti nya", ucap Rena terang²an.
"udah lah Dadang semua pasti ada balasannya, sekarang aku mau buat kopi untuk Pak Rafael", ucap Mifa.
"gausah, saya aja yang buat", ucap Dadang.
"makasih Dadang", ucap Mifa.
"iya mbak", ucap Dadang yang sibuk membuat Kopi.
****
__ADS_1
"nih mbak, ayo aku antarkan sampai ke ruangan bos", ucap Dadang sambil membawa 2 gelas kopi panas.
"gapapa Dang?, makasih banyak loh", ucap Mifa.
"ayo mbak", ucap Dadang.
Mifa dan Dadang menuju lift dan meninggalkan dispenser. "huftt... dasar Mifa brengsek, tunggu saja pembalasan ku", kesal Rena.
"dok...dok..dok", suara ketukan pintu.
"Masuk", dingin Rafael.
"pak ini kopinya", ucap Dadang sambil menyodorkan dua gelas kopi.
"hmmm... kenapa tidak Mifa saja?", ucap Rafael sambil mengernyitkan dahinya.
"anu pak tadi Mifa kejatuhan air panas di sengaja sama salah satu pegawai di sini", ucap Dadang terang²an.
(maaf Mifa aku jujur supaya kamu gak di tindas lagi), batin Dadang.
"sekarang di mana Mifa?", ucap Rafael sambil berdiri dari tempat duduknya.
"ekhemm saya gimana?", ucap Gabriel (tamu).
"eh iya bro, maaf", ucap Rafael sambil menepuk pundak Gabriel.
"sekarang Mifa ada di Ruangannya sendiri pak", ucap Dadang.
"oh baiklah, kalo gitu kamu bisa pergi.
__ADS_1
***