Cinta berlawanan keyakinan

Cinta berlawanan keyakinan
13-di rumah Rafael.


__ADS_3

"astaghfirullah, aku belum sholat dan mandi!, belom nyuci baju, nyapu rumah, latar dan sebagainya", ucap Mifa berusaha untuk duduk di atas ranjang.


Mifa segera menuju kamar mandi, melepas semua yang melekat di badan nya. setelah itu mengambil ruko dan sajadah nya, tidak lupa dengan Al Qur'an yang berwarna keemasan.


"Shadaqallahul-'adzim", ucap Mifa sembari menutup Al Qur'an nya yang di taruh di atas paha nya, "aku mau masak apa yah, hari ini?".


"hemm, gatau dah". ucap Mifa pasrah.


"tokk...tok...tookkkk", ketukan pintu rumah Mifa.


"ya bentar", ucap Mifa berjalan ke arah pintu rumahnya yang lumayan besar.


"ya siapa?", ucap Mifa sembari membuka knop pintunya.


"Kak Iwan??", ucap Mifa tersentak kaget.


"loh adek gak suka liat kakak yaj?", ucap Iwan melangkah ke dalam rumah Mifa.


"gak kok, Mifa cuman kaget aja kok kakak bisa tau rumah nya Mifa?", ucap Mifa berjalan menghampiri Iwan yang tengah duduk di sofa berwarna Hitam.


"ya masak adek gak tau kalo kak Iwan punya nomor nya masmu?", ucap Iwan sesekali melirik Mifa.


"owh, yaudah lah kak, aku ga jadi masak, mau pergi nih", ucap Mifa sembari melihat jam tangannya.


"lah, kok gitu sih sama kakak, kan kakak udah nyempetin dateng malah adek pergi".


"yaudah deh kak kapan² Mifa traktir, mau?".


"okey, sekalian kaka anter gimana?, mau?".

__ADS_1


"ya, tapi sebelum ke rumah nya boss ku anter aku ke rumah makan soalnya aku di sana jam 12 an sih kalo gak salah", ucap Mifa.


"okey deh", ucap Iwan.


"KAKKKK MIFA UDAH SIAP YOKK?", teriak Mifa melihat Iwan yang tengah tidur nyenyak.


"eh astaghfirullah, iya² jangan teriak gitu kan kaka kaget", ucap Iwan yang langsung membuka matanya karna tersentak kaget.


"kenapa kamu kok ke supermarket?, ga langsung ke rumah nya boss mu?", ucap Iwan sambil berjalan ke luar rumah Mifa, serta Mifa mengekori Iwan di belakang nya, "ya bawa oleh² gitu, kan ga sopan kak".


"ohh...yaudah lah ini pakai helm mu, nanti ditilang polisi kamu yang di bawa", ucap Iwan sembari menyodorkan helm nya kepada Mifa. "ya kak", Mifa menerima Helmnya itu dan langsung menaiki sepeda motor Iwan.


-----


"kamu beli apa aja Fa?", ucap Iwan melihat belanjaan Mifa.


"hemmm ga banyak si, cuman ya,,,,itu itu aja hehehe", ucap Mifa cengengesan.


Mifa mengekori Iwan dari belakang sambil melihat kantong berisi belanjaan yang tidak banyak dan tidak terlalu sedikit.


*Brugghhh", suara tabrakan antar 2 wanita yang sama sama memakai syar'i panjang .


"eh astaghfirullah, maaf yah mbak, aku gak sengaja", ucap Mifa yang mencoba untuk berdiri, dan membantu wanita itu untuk berdiri."yajh, gak papa, saya sendiri mungkin juga salah", lantur wanita itu menenangkan Mifa yang merasa bersalah.


"Dekkk ayooo", teriak Iwan ditengah² pembicaraan Mifa dan wanita itu. "bentar kak Iwannnn, dah dulu kak, maaf sekali lagi".


"aelah..dek dek ayo dong kak Iwan baru inget kalo ada janji ama temen kaka", rengek Iwan sembari melihat jam yang terpasang di tangannya.


"hehehe... iya ²", ucap Mifa menghampiri Iwan dan mengambil helm nya yang di taruh di spion.

__ADS_1


------


waktu sudah menunjukkan pukul 12:00, sedari tadi Mifa menunggu Rafael di depan rumah yang amat megah. "masyaallah, rumahnya besar banget", puji Mifa.


"tinnnnn.....tinnnn...tttinn ....", klakson mobil Rafael menggema ditelinga Mifa, membuat Mifa tersentak kaget dan langsung menepi.


"astaghfirullah", ucap Mifa mengelus dadanya dengan lembut guna menenangkan nya.


"MIFAAA...BUKAIN DONGGG!!", teriak Rafael yang akhirnya membuka kaca mobil nya. "eh iya pak, maaf maaf", ucap Mifa sembari berlari menuju pagar yang amat besar.


------


"non mau minum apa?", ucap Pembantu rumah Rafael dengan sopan.


"air putih aja", ucap Mifa sembari tersenyum menampilkan gigi gingsulnya, membuat Mifa tambah manis dan cantik. "kamu saya kesini bukan buat nyengir ato pun menyuruh pembantu ku", ucap Rafael melipat kedua tangannya di atas dada, dengan nada dingin yang membuat Mifa kaget. "ya, bapak mau apa ko ajak saya kesini?", ucap Mifa tidak mau kalah omongan.


"saya kesini ajak kamu ke salah satu perusahaan yang mau menandatangani surat kontrak", ucap Rafael.


"oh yaudah tunggu apalagi?, oh yah ini sedikit makanan untuk Pak Rafael, ingat jangan dibuang² ato mubasir, karna makanan adalah rezeki", ucap Mifa menyengir manis ke Rafael.


detak jantung Rafael menambah dan pipi terasa panas, tidak tau apa yang ia pikirkan, hanya melamun membulat kan pupilnya, (astaga apakah aku punya riwayat jantung?, hah tidak ada dan tidak akan kan?), batin Rafael yang menumbuhkan sejuta pertanyaan.


"pakk?, jangan ngelamun lohhh?", ucap Mifa sambil melambaikan tangannya tepat di depan muka Rafael. "ah, ekhemmm tidak tidak ada apa apa", ucap Rafael kembali ke nada dingin nya.


"ayo ikuti saya", ucap Rafael, sementara Mifa mengekori Rafael di belakangnya.


tidak lama kemudian, Mifa dan Rafael sampai pada garasi mobilnya, yah gimana lagi orang kaya pasti punya mobil mewah+ga hanya satu. "mari pak, dan mbak Mifa", lantur sopir itu dengan sopan membukakan pintu untuk Rafael dan Mifa secara bergantian.


tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut sopir, Mifa, dan tentunya Rafael yang sedari tadi hanya menopang kepalanya dengan tangannya, melamun dan tidak berkata apapun.

__ADS_1


Klinggh......", notifikasi dari handphone milik Mifa sedikit mencarikan suasana yang amat mencekam


suka?, kalo suka like+comen+vote, ikuti aja alurnya, bukan cerita yang always update karna kesibukan yang melanda author bagai petir di siang bolong di sekolah, dan yahh... HOPE YOU ENJOY BYBYBY


__ADS_2