Cinta berlawanan keyakinan

Cinta berlawanan keyakinan
34-Ada Nana!


__ADS_3

Mifa mengambil nafas sejenak "permisi nek, saya beli pecel dua ya". "ya dek", sayu sayu Nenek itu mengucapkan sambil membuat pecel nya.


"berapa jadinya Nek?", ucap Mida dengan penuh perhatian setelah nenek nya usai membuat pecel. "dua puluh ribu, kurang juga tidak apa atau pun seikhlasnya".


"Deggg...


seketika Mifa menyunggingkan senyuman tulus dan tanpa sadar air matanya menunggu jatuh ke pipinya. "oh, ya", Mifa memberikan uang lima puluh ribu dengan tulus dan memberikan nya ke Nenek itu, "makasih nak".


Mifa mengangguk kecil dan langsung menuju Iwan yang tengah bengong itu melihat ke suatu arah, entah sedang melihat apa tetapi ia melukiskan senyuman tulus. "Kak, jangan bengong kemasukan ati ati, ya kalo kerasukan artis kPop", celutuk Mifa yang langsung membuat Iwan suram, ekspresinya.


"dih, orang aku gak bengong", kesal Iwan. "oh, lagi liat masa lalu ya", memang Mifa ini tergolong orang yang kadang kadang peka dan kadang kadang tidak peka sama sekali..


"m, mana ada?", Iwan tergagap gagap karna rasa malunya seketika itu pipinya berubah menjadi merah tomat. "ya kak, aku tau kakak masih sayang mendingan ajak balikan sana", Mifa mulai duduk di samping Iwan yang sekarang raut wajah nya yang menyedihkan tak patut dilihat.


"ya masalah nya--".


"dia dah punya,,aowkaowkaowk", Mifa tertawa lepas sambil memukul pundak Iwan dengan keras. "dih, sakit tau".


"udah tau dia bukan masdep kaka masih aja diperjuangkan astaghfirullah Ya Allah", lontar Mifa yang langsung membuat hati Iwan "ngejleb,,,


Iwan menengok ke arah Mifa yang tengah tertawa lepas, Iwan memberinya raut wajah yang sedih ditambah kesal, tetapi Mifa hanya memasang wajah kegirangannya melihat kakaknya tengah bersedih. "eh, makan pecelnya astaghfirullah hall adzim nanti dingin kan kasian".

__ADS_1


"mana, semua nya punya kakak", Iwan langsung merampas plastik yang berisi dua bungkus pecel yang terlihat hem enak.


"lah lah aku satu lah", sorak Mifa yang merasa tak adil. pms kah?. pikir Mifa.


"jangan pikir aku pms", ucap Iwan seperti sudah tau apa yang dipikirkan oleh Mifa ini.


"siapa yang mikir kayak gitu astaghfirullah", ucap Mifa dengan santai layaknya tidak punya dosa. Namun Iwan hanya mengunyah dan menyuap kan sesendok pecel ke mulutnya berkali kali sehingga pecel itu habis. "wenak tenan toh", ucapan itu tidak sengaja terlontarkan dari mulut Iwan.


"enak, lah aku makan apa terusan kak?", rengek Mifa meminta pecelnya kembali namun, Naas tak bisa.


Iwan bangkit dan membenahi bajunya yang lungset, Mifa mengikuti Iwan"Kaka belikan nasgor aja deh (nasi goreng)".


"yes, nasi goreng Pak Har aja enak kak", Mifa amat kegirangan karena Kaka nya yang punya sisi kelembutan itu. "eh, jangan senang dulu, habistu pijet kakak", Iwan menyeringai.


"eh, eh jangan ngamuk Yaya kakak belikan", mohon Iwan kepada Mifa.


Mifa membalikkan badan dan kembali tersenyum. "okey ayok", ucap Mifa dengan girang nya (kembali tersenyum pula).


"kan nasgor nya gak terlalu jauh, kan?", tanya Iwan. "gak, ikut aku aja", lantur Mifa.


Iwan mengekor di belakang Muda dan taman semakin padat membuatnya rada susah mengikuti Adik kecil nya itu.

__ADS_1


tidak lama kemudian, Mifa sudah sampai ditujuan, begitu pula dengan Iwan yang terlihat letih, ya betul karna usaha nya untuk membelah kepadatan jalan. "ini kak, aku nasi goreng nya putihan, esteh juga".


"bentar astaghfirullah, aku capek", kesal Iwan berkali kali mengambil nafas sedalam dalamnya.


"Puk,


Mifa merasakan tepukan dipundaknya, secara reflek langsung menengok kearah tepukan pundak itu, "Mifa", suara yang tidak asing ditelinga Mifa muncul ditengah tengah keramaian yang amat.


Mifa bangkit dan langsung memeluk Nana dengan erat, sementara Iwan dia sudah memesan apa yang diminta oleh adiknya tersayang. "kamu, kesini sama siapa?", tanya Mifa pada Nana sambil melepas pelukannya.


"oh, sama biasa suami ku lah, kamu?".


"sama Kakak Iwan", "hah?, Iwan?", tanya Andik yang langsung menyambet ucapan diantara kedua wanita itu.


"ya, emang kenapa?wahai pasangannya sahabatku?", tanya balik Mifa. "oh, mungkin dia", jawab Andik dengan tenang.


"dari pada gitu, mending kita duduk duduk di situ. Deh", pinta Andik yang langsung diangguki oleh istrinya. Nana.


ketiga orang itu menuju ke sebuah meja ysng berisikan empat tempat duduk yang kosong nan bersih. "jadi, Iwan orangnya seperti apa?", Mifa ragu untuk memberitahu ciri ciri Iwan, tetapi dia yakin bahwa Andik adalah lelaki yang baik. "dia tinggi kayak tiang, terus,,,".


"Mifaa!!! astaghfirullah ku cari kamu kemana mana ternyata ada di sini ", Iwan menyerahkan satu kantong berisi Nasi goreng dan satu es teh, satu es teh nya telah tenggelam diperut Iwan.

__ADS_1


"ya, makasih Kaka", ucap Mifa. Iwan langsung duduk di sebelah Mifa. "ekhemm,,,"


"ANDIK?"


__ADS_2