
Intro
Lingga menajamkan matanya melihat jalan di depannya. Kedua tangannya mencengkeram erat kemudi mobil ford mustang gt yg melaju di jalanan mulus pinggiran kota Falen. Mata elangnya menerawang jauh kedepan dan menatap tempat akhir balapan malam ini. Musuh-musuh yang sedari awal bersaing ingin menjadi yang terbaik sudah ia singkirkan, dan yang terdekat hanya mazda rx-7 milik Madhiaz yg berjarak 20 meter di belakangnya.
Sekilas, senyum berkembang di wajah minim ekspresinya saat garis finish semakin dekat. Akhirnya, 100 ribu USD kali ini akan dimilikinya lagi. Pembayaran memang di berikan dengan mata uang Dollar dan bukan menggunakan
mata uang lokal agar peserta bisa memakai dengan sebaik-baiknya. Dan ini adalah kemenangan 3x berturut jika ia sampai finish tanpa dikacaukan.
Srek.
Ckiiitttt........
Derit ban memecah keheningan untuk sesaat dan setelah itu hanya suara sorak sorai dari penonton balapan yang terdengar bergemuruh di sisi jalan lintasan. Lagi-lagi Lingga memenangkan pertandingan malamnya. Hanya saja
kali ini berbeda. Jika minggu lalu dia mengalahkan musuhnya dengan agak susah payah. Kali ini tidak. Sepertinya musuh yang kemarin sempat menggoncang degup jantungnya kini sedang tidak mood untuk datang. Atau mungkin juga Dewi Fortuna sedang berpihak lagi malam ini padanya hingga memuluskan jalannya untuk mendapatkan hadiah berupa uang untuk menyambung hidupnya.
.
.
.
Lingga turun dari kuda besi mustang-nya dan menghampiri Madhiaz, lelaki yang ia kalahkan malam ini. Madhiaz yang berdiri disamping mobil Mazda miliknya menolehkan kepala sambil mengernyit heran melihat Lingga yang mendekatinya.
'Ada apa’ Batinnya. Tangan kanannya merogoh saku celana dan mengeluarkan sebungkus rokok, mencomot satu batang kemudian menyulutnya.
"Kau mau?" Tawarnya pada Lingga yg telah menyanderkan tubuhnya di samping Madhiaz.
"Tidak." Lingga menggeleng pelan. Ia tak tau harus
mulai pembicaraan dari mana.
"Aku tak tau apa yang membuatmu datang kepadaku. Tapi yang pasti. Ada sesuatu hal yang ingin kau ketahui dariku, bukan?" Jleb. Tanpa basa basi yang berbelit-belit Madhiaz menebak langsung apa yang akan Lingga tanyakan.
"Langsung kepada intinya, eh?"
"Ya. Karna tak mungkin pemenang dengan kemenangan 3x berturut-turut mendatangiku yang hanya bisa berada di tempat kedua ini."
Lingga mendengus masam. Entah mengapa mendengar perkataan Madhiaz ini membuat hatinya mencelos sakit. Seperti seolah menertawakan keadaan Madhiaz yang selalu berada di belakangnya. Padahal kenyataannya bukan itu sama sekali.
"Aku ingin tau tentang pengendara silvia." Madhiaz menoleh, to the point? Ah, tak ia sangka pemuda di hadapannya mengucapkan hal itu. Hal yang seakan menjadi sebuah rahasia umum hingga saat ini. Tapi jika dilihat dari kondisi Lingga, ia sanksi pemuda yang tak lama menetap disini itu bertanya dengan berlandaskan alasan sekedar penasaran.
"Dari mana kau tau hal itu?" Madhiaz balik menanyakannya, ia ingin memancing dan mengetahui sejauh mana Lingga menginginkan informasi ini.
"Aku datang dari kota Halu ke sini bukan hanya untuk sekedar balapan. Tapi aku ingin mencari informasi tentang hal itu." Ujar Lingga. Ia menghela nafas seakan frustasi. Sudah agak lama sejak ia disini, namun bagaimanapun ia berusaha mencari, belum ada titik pasti akan hal itu.
"Dan untuk apa hal itu?"
"Jika ku beritahu alasannya, apa kau akan memberitahuku?"
"Entahlah. Tergantung alasanmu."
Lingga menghela nafas, bermain kata-kata seperti ini bukan ahlinya sama sekali. Jadi terpaksa ia akan melakukan beberapa cara agar dia mendapat informasi itu.
"Aku akan memberitahumu jika kau mau datang ke café lotus besok siang pukul satu. Aku yang akan mentraktirmu." Putus Lingga.
"Baiklah. Jangan terlambat jika ingin tau. Aku tak suka menunggu." Ujar Madhiaz.
Lingga berlalu dan mengangkat tangan kanannya tanda ia menyetujuinya. Hah.. sepertinya balapan di Falen tidak semenarik di Halu, tempat tinggalnya dulu. Ya, dulu ia sempat tinggal di kota Halu sebelum memutuskan pindah ke kota Falen. Kota yg dikelilingi padang pasir namun sangat nyaman untuk ditinggali. Sebelum kejadian itu tentunya. Kejadian yang membuatnya terlempar kesini.
Di perjalanan pulang, kilasan balik ingatannya saat berkumpul keluarganya di Halu masih memenuhi otaknya. Untunglah saat ini jalanan lenggang hingga ia tak perlu khawatir akan tertabrak pengemudi lain.
Masih jelas di pikirannya saat dimana ayahnya dengan tega mengusirnya. Ibunya yang menangis menggumamkan namanya sambil memeluk adiknya yang ketakutan. Adiknya? ya. Adiknya yang sangat sempurna dalam segala hal.
Hingga sang ayah selalu membanding-bandingkan dirinya, mulai dari tingkah laku hingga prestasi akademiknya. Tanpa mau tau bagaimana perasaan hati Lingga. Hingga Lingga memendam rasa benci pada ayah yang membandingkannya dengan Diandra, sang adik yang selalu sempurna.
.
Lingga memarkirkan mobil miliknya ke garasi dibawah apartment yang ia tempati kini. Pikirannya berkecamuk. Ia yang telah rela meninggalkan rumah dan keluarganya demi sebuah hidup jalanan dan memenuhi ambisinya di atas
aspal, masih belum mendapat informasi apa yang ingin ia ketahui. Padahal jika dihitung-hitung sudah satu bulan ia pindah hidup hingga bersekolah disini. Pikirannya masih belum tenang. Meski di sudut hatinya ia ada sedikit kekhawatiran jika besok pemuda yang memiliki kunciran rambut seperti nanas itu tak tau apa yang diinginkannya, namun hati kecilnya sedikit menyangkal jika ia tak boleh putus asa bila nanti keinginannya tak terpenuhi.
.
.
Tap...
Tap...
Tap...
Langkah Lingga melambat, ia menghembus nafas kasar dan menatap langit biru diatasnya. Waktu terasa bergulir melambat. Oh, ayolah... ini masih pagi. Jam pelajaran pertama masih akan dimulai 30 menit lagi. Sejak kepindahan dirinya satu bulan lalu, dirinya belumlah punya teman dekat. Ia introvert. Ia susah sekali bergaul dan ia akui itu.
Ia tak begitu menonjol, nilai akademisnya tidak terlalu tinggi. Hanya pas untuk jadi standart mininum pengambilan beasiswanya. Lingga nekat mengambil beasiswa mengingat ia sekolah dengan biaya sendiri. Meski dengan itu ia harus mati-matian belajar. Mungkin faktor ini juga yang membuat ayahnya lebih menyayangi Diandra-adiknya-, yang selalu mendapat predikat jenius dan mengukir prestasi dimanapun ia berada.
Lama ia tatap halaman sekolah dihadapannya. Sekolah masih lenggang. Hanya ada beberapa siswa yang datang. Ia memang berjalan kaki menuju sekolahnya. Maklum, jarak antara apartment dengan sekolah cukup dekat. Dengan berjalan kaki 10 menit saja sudah sampai. Lagi pula ia tak ingin terlalu merepotkan dengan mencari apartment yang jauh dari sekolahnya. Menurutnya, mengeluarkan uang sedikit lebih mahal tak apa asal ia bisa nyaman dan tak terlalu dikejar waktu akan jarak tempuh menuju sekolah. Masalah uang, hadiah dari kemenangannya di area balap menurutnya sudah cukup menjanjikan. Ia punya cukup banyak tabungan, dan mungkin nanti jika ada tawaran untuk bekerja part-time ia tak akan menolak. Tak ada salahnya bukan? Ia bisa menggunakan alasan kerja part-time untuk menutupi aktivitas balapan malamnya. Tentunya agar ia tidak mudah dicurigai sebagai seorang yang hidup sendiri namun kebutuhan terpenuhi.
Lingga menapaki tangga yg menuju lantai 2 dimana kelasnya berada dengan lamban. Ia tak ingin terburu-buru, dan menikmati suasana lenggang seperti ini sangatlah nyaman dan jarang bisa dilakukan setiap hari. Ia edarkan seluruh pandangan nya ke pelosok kelas sepinya. Hanya ada seorang perempuan berambut panjang dan lurus yang sedang piket menata kelas dan menghapus papan tulis. Ia ingat. Perempuan itu sama seperti dirinya. Introvert. Hanya memiliki seorang teman akrab yang duduk bersebelahan dengannya. Dan kalau tidak salah. Tempat duduknya ada di dua bangku depan tempat duduknya.
Pikirannya menerawang kembali pada waktu dirinya bertemu pengendara mobil Silvia itu. Karena dialah salah satu alasan dirinya berada disini. Ia ingin bertemu lagi.
Flashback..
Masih jelas di ingatannya. Saat ia yang tersesat akibat mencoba mengikuti pembalap jalanan idolanya, Yasa, yang saat itu tidak tau jika Lingga mengikutinya-. Melajukan mobil yang dikendarainya diatas kecepatan rata-rata. Dan tentu saat itu Lingga, yg baru lancar mengendarai mobil tertinggal jauh di belakangnya. Lalu Lingga melambatkan laju kendaraannya, menepi dan berhenti. Mencoba mencari titik atau sesuatu yang bisa menjadi petunjuk dimana ia saat ini. Lingga benci mengakuinya. Tapi kali ini ia memang benar-benar telah tersesat dijalan kehidupan.(?) Ah bukan, tapi dijalan yang tak ia tau dimana ini.
__ADS_1
Lingga beringsut, ia buru-buru keluar setelah melihat siluet cahaya lampu mobil mendekat. Ia lambaikan tangan. Berharap sang pengemudi berhenti dan mau membantunya. Dan, great! Mobil yang ia ketahui berjenis Nissan Silvia itu menepi dan berhenti di belakang mobilnya. Sesosok manusia yg memakai jaket putih berhoodie dengan dua garis merah di bagian lengannya keluar. Hidung dan mulutnya tertutupi masker, rambutnya tertutup hoodie jacket hingga ia tak tau model dan warnanya. Dan yang ia tau ia hanya melihat iris biru yang terpantul akibat pencahayaan lampu mobil dan sedikit cahaya rembulan. Sosok yg misterius. Lingga hanya bisa berharap dan berdoa jika orang ini tak punya niat jahat terhadapnya.
"Mobilmu macet?" Tanyanya. Dari suaranya, Lingga bisa menyimpulkan jika orang ini seorang pria. Tubuhnya semampai, tak terlalu tinggi namun juga tak bisa dikatakan pendek.
Lingga hanya mengangguk pelan dan tangannya mulai berkeringat dingin. Jujur saja, pikiran buruk nya tadi masih saja berkeliaran di benaknya.
"Dan kau juga tersesat." Tambahnya.
Hell...
Tentu saja tersesat. Dan Lingga semakin merasa dongkol jika diingatkan tentang hal ini.
"Ya. Mobilku macet dan aku tersesat." Kata Lingga.
"Boleh ku chek?" Lingga mengangguk dan memberikan kunci mobilnya ke sosok berjubah itu. Matanya masih menelisik dan mencoba mencari tanda-tanda yang mungkin bisa ia jadikan petunjuk untuk mencarinya suatu saat nanti. Bukan apa, ia hanya berencana untuk membalas jasanya di lain waktu.
Lingga mengamati tindak tanduk sosok itu. Sepertinya bukan sosok jahat seperti yang ada di pikirannya selama ini. Nyatanya, sosok itu cekatan dalam menangani mobilnya. Setelah beberapa kali chek starter, buka kap mesin dan starter lagi, tanpa banyak omong sosok itu berjalan kearah mobilnya. Mengambil beberapa kunci pas dan mulai mengotak atik mesin mobil Lingga.
Lingga menghampirinya. Menghampiri sosok yang saat ini sedang mengotak-atik mesin mobil nya dan berdiri di sebelahnya, mengamati betapa lihainya sosok itu.
"Apakah anda seorang pembalap jalanan?" Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Lingga. Sejenak sosok itu
menghentikan aktivitasnya.
"Dari mana kau tau?" Sosok itu menatap Lingga dan kemudian terkekeh kecil mendengar pertanyaan yang Lingga lontarkan padanya.
"Mobil anda adalah Nissan Silvia 15. Dikenal dengan nama Silvia Ichigo di Negara pembuatannya. Generasi terakhir. Mobil yang pas untuk balap jalanan meski tak setangguh saudaranya, GTR. Tapi bila di dengar dari
deru knalpotnya, sepertinya anda telah memodif beberapa bagian dalamnya. Bukankah hal ini biasa untuk para pembalap jalanan? Lagi pula tadi saya seperti melihat mobil ini di pertandingan balap dan melawan Yasa dengan sengit." Ucap Lingga.
"Kau masih muda, tapi kau tau jika mobil ini sudah kumodif? Bahkan suara mesin dan knalpotnya tak jauh beda dengan asalnya. Dan jika boleh, ku taksir usiamu bahkan belum sampai 14 tahun."
"Benar. Dan aku ingin menapaki dunia balap liar." Ujar Lingga.
Sosok itu menoleh,
"Kau tau. Dunia balap malam tak seindah yang terlihat. Kau bisa saja meregang nyawa kapanpun." tambahnya.
"Ya. Aku tau. Boleh ku tau nama anda? Agar aku bisa mencari anda dan menantang anda suatu saat jika aku dewasa dan siap. akan ku balas jasa anda lain waktu dan anggap ini hutangku."
Sosok itu tertawa kecil,
"Aku tak akan memberitahu namaku padamu. Tapi kenal lah aku hanya sebagai pengendara Silvia Ichigo. Begitulah mereka menyebut ku. Carilah aku. Dan tantang lah aku saat kau telah membawa beberapa kemenangan di pundakmu. Dan jika kau menang melawanku, Ichigo ku milikmu" Kata sosok itu. Pekerjaannya telah selesai dan ia beranjak membereskan alat bengkelnya lalu membawanya menuju bagasi mobil.
"Tentu. Silvia Ichigo. Begitulah. Akan ku panggil anda begitu. Dan ketika saat itu tiba aku akan menantang anda."
"Tentu." Pengendara itu telah memasuki mobilnya. Menyalakan mesin dan meninggalkan Lingga yang menatap langit. Sepertinya ia punya tujuan yang lebih mantap untuk ke depannya. Ya.. ia bertekad untuk bertarung
dengan pengendara itu dan mengambil Ichigo-nya suatu saat nanti. Saat dimana ia telah membawa beberapa kemenangan di jalanan.
.
.
.
Lingga mengatuk-atukkan jarinya keatas meja cafe. Dirinya masih menunggu si rambut bentuk nanas yang belum juga menampakkan batang hidungnya. Ia jengah dan belum memesan apapun sejak kedatangannya sepuluh menit
yang lalu. Menghela nafas - hembuskan - hela lagi - hembuskan. Begitu terus hingga tepukan tangan di pundaknya menyadarkannya dari acara menghela nafas.
"Sepuluh menit. Kau terlambat sepuluh menit dari kesepakatan kita. Padahal aku ingat dengan jelas jika kau mengatakan kau benci keterlambatan." Lingga menatap jengah kearah pemuda yang dengan seenaknya datang terlambat dan duduk manis lalu nyengir begitu saja di hadapannya ini.
"Aku masih harus menyelesaikan tugas ku sebentar." Ucap Madhiaz.
"Hei..... kau junior disekolahku?" Madhiaz melirik lengan kanan Lingga yang terdapat tanda kelasnya.
"Iya. Ku panggil kau Senior saja kalau begitu. Jika memakai seragam."
Madhiaz mengedikkan bahunya pelan, "Nope. Aku bukan orang yang terlalu peduli tentang panggilan."
"Mau pesan sesuatu?" Tawar Lingga.
"Tentu. Black tea dan pie nanas." Jawab Madhiaz.
"Ok." Lingga beranjak kemeja kasir untuk memberitahukan pesanannya dan meninggalkan Madhiaz yang bersedekap di atas kursi yang ditempatinya.
"Langsung saja. Apa yg ingin kau ketahui dariku. Lingga." Kata Madhiaz.
Lingga menghela nafas dalam-dalam. Seniornya ini, tidakkah ia mengajak Lingga berbasa-basi sedikit saja? Misalnya menanyakan tentang hidup Lingga, atau tentang hal di sekolah Lingga, misalnya?
"Pengendara Silvia Ichigo. Warna biru dengan aksen orange di mobilnya." Ucap Lingga saat ia telah selesai memesan menu.
"Apa hubunganmu dengannya?"
"Aku punya janji padanya."
"Janji?" Madhiaz menaik kan salah satu alisnya. Janji? Janji tentang apa hingga Lingga sepenasaran ini?
"Boleh ku tahu janji apa itu?" Lanjutnya.
"Kalau aku tak mau cerita?" Tantang Lingga.
"Tentu saja aku tak akan memberi tahu mu apapun."
__ADS_1
"Ck... "Lingga mendecak kesal. Sepertinya tak ada lagi hal yang harus ia tutupi jika ingin mendapat informasi dari pemuda berkuncir nanas di hadapannya ini.
"Sepertinya tak ada lagi pilihan untukku selain menceritakan hal ini padamu. Dengar. Aku tidak pernah menceritakan hal ini pada orang lain. Dan tentunya sekarang aku akan menceritakannya padamu." Lalu Lingga
menceritakan kronologi tentang pertemuannya dengan pengendara silvia itu. Dan sosok di depannya itu mendengarkan dengan seksama.
"Jadi?" Madhiaz mengernyit. Ia sedikit pusing mendengar cerita pemuda di hadapannya itu. Setelah diceritakan panjang lebar, ia bisa menangkap inti cerita itu meski ia tak yakin untuk bisa mengerti sepenuhnya.
"Jadi apalagi? Tentu saja beritahu aku." Kata Lingga. Ia mulai tak sabar. Jika begini ia merasa jika Madhiaz ingin berbasa-basi dan bertele-tele tentang informasi yang ia butuhkan. Ia heran, sebenarnya Madhiaz ini orang yang seperti apa?
"Aku ingin tau kenapa kau menemuiku begitu saja. Seingat ku kau masih baru disini. Dan kau langsung menuju kepadaku untuk mencari informasi. Bisa saja kan? Aku tidak punya informasi yang kau butuhkan."
"Aku sudah mencari informasi tentangnya dua tahun belakangan ini. Dan tentu saja. Salah satu sumberku mengatakan jika dia melihat mu memasuki mobil itu. Tidak mungkin bukan? Kau memasuki mobilnya tanpa mengenal siapa dia?"
"Ya... aku memang mengenalnya. Tapi aku tidak tahu secara detail informasi tentangnya. Dan yang perlu kau tahu, Lingga. Kurasa apa yang kau inginkan tak akan kau dapatkan secepat yang kau kira."
"Tak masalah. Asal kau beritahu aku apa yang kau tau. Bagiku, sedikit info saja sudah cukup untuk dijadikan sebuah petunjuk."
"Baiklah. Tapi dengarkan aku baik-baik. Aku tak akan mengulang cerita ku." Madhiaz menjeda. Menghembuskan nafas sebentar dan melanjutkan ceritanya.
"Dia, yang kau sebut Ichigo. Pembalap jalanan yang terkenal di daerah sini. Ia seperti angin. Terkadang juga dia dikenal sebagai God of wind. Dewa angin. Yang pergi dan datang sesuka hatinya. Dia selalu menjadi pemenang
di setiap kehadirannya. Tak setiap ada balapan dia datang. Dan setiap kedatangannya, dia selalu memakai jubah putih, masker penutup mulut dan hoodie yang menyembunyikan warna rambutnya. Hanya iris secerah langitnya lah yg bisa diketahui. Itu pun hanya segelintir yang tau. Ia seolah menyembunyikan dirinya. Mobil yg ia pakai pun tak pernah terlihat dijalan. Bahkan jika ada yang mengikutinya pasti berakhir dengan tersesatnya orang itu. Aku yang kau tahu mengenalnya, memang pernah menaiki mobil itu. Itu pun karena terpaksa. Aku butuh tumpangan dan dia yang hanya lewat memberi ku tumpangan. Itu saja. Tapi itu sudah dua tahun yang lalu. Ia tak terdengar lagi kabarnya dan tak pernah muncul lagi di arena balap hingga sekarang."
"2 tahun yang lalu? Aku bertemu dengannya 3 tahun yang lalu. Berarti setahun setelah pertemuan kami malam itu."
"Mungkin, ya."
"Lalu dimana dia sekarang?"
"Itu yang harus kau cari tau. Bukankah tadi aku sudah mengatakannya padamu? Dia menghilang begitu saja." Madhiaz kesal. Bagaimana bisa Lingga tidak menangkap maksud yang telah ia jabarkan panjang lebar tadi.
"Yah. Maafkan aku. Aku terlalu bingung dengan semua ini."
"Noprob. Jadi. Aku akan menghabiskan hidangan ini dan langsung pulang. Masih ada hal yang harus kukerjakan."
"Tentu. Tapi, boleh aku meminta nomor mu?" Madhiaz mengernyit heran. Hei. Baru kali ini ada pria yang meminta nomornya. Biasanya juga wanita. Hehehehe.
" Untuk apa?" Ujarnya.
"Aku masih baru disini. Selain kau. Aku tidak punya orang lain yang kukenal dengan baik." Lingga mendengus karena Madhiaz sangatlah tidak peka. Memang apa yang ada di pikiran seniornya ini saat ia meminta nomor
ponselnya?
"Kemarikan ponselmu" tambah Lingga.
Madhiaz menyodorkan ponsel berwarna hitam metalik miliknya. Dan Lingga dengan cepat mengetik nomornya dan mendial nomor yg telah ia ketik. Setelah nomornya muncul dengan segera Lingga men-save nomor itu di ponsel miliknya.
"Aku pulang dulu."ujar Madhiaz. Ternyata dia telah menyelesaikan apa yang di hadapannya. Lingga mengangguk. Dirinya masih ingin sendiri. Dan sepertinya merenung beberapa saat di cafe ini tidaklah buruk.
.
.
.
Sementara itu....
Seorang gadis berambut lurus panjang dengan mata biru jernih sedang asyik mengelap kaca mobil yang telah dicuci oleh temannya. Sesekali mulutnya bersiul, atau ikut menyanyi mengikuti irama lagu yg diputar oleh media player ditempatnya saat ini. Tangan mungilnya dengan cekatan membersihkan beberapa sudut mobil yang masih kotor.
"Putriku, kau lelah? Jika lelah istirahatlah. Atau gantikan saja ayah menjaga kasir disini." Seorang pria paruh baya yg memiliki surai cepak dan iris biru jernih yang identik seperti gadisitu hanya menatap iba, gadis kecil yang kini beranjak dewasa. Putri semata wayangnya itu.
"Sudahlah, ayah. berhenti mengkhawatirkan Farrand. Farrand masih punya stamina lebih saat ini."
"Ya.. ya.. ya... Ayah akan mengikuti kehendak tuan putri." Farrand terkekeh kecil. Ayahnya selalu saja bisa membuatnya tersanjung. Ayah yang disayanginya. Satu-satunya keluarga yang ia miliki saat ini.
"Hey paman Arash. Aku lelah. Bisakah kau menawariku seperti kau menawari Farrand? " celetuk seorang pemuda berambut spike dengan 2 tatto sayap di lengannya.
"Tidak Keano. Berhenti mengeluh atau kau kusuruh memakai seragam dengan rok?" Ucap Arash.
"No.."Keano menggeleng cepat. Ia lebih suka melanjutkan pekerjaannya daripada nanti bekerja memakai rok seperti yang Arash katakan.
Arash yang memiliki usaha pencucian mobil hanya mempunyai dua orang pekerja. Putrinya, Farrand. Yang biasanya membantunya setelah pulang sekolah. Dan Keano. Pemuda tetangganya yang sudah selesai jenjang High School namun tidak melanjutkan karena keterbatasan biaya. Terkadang ia juga ikut turun tangan jika sedang ramai atau Farrand sedang sekolah. Sebenarnya ia tak ingin putrinya membantu. Namun kekeras kepalaan putrinya membuat hatinya luluh dan mengabulkan permintaan putri kecilnya. Tentu dengan syarat hanya sampai jam 5 sore. Sedang usahanya tutup pukul 7 malam.
"Ayah. Aku akan pulang lebih awal, boleh?" Ujar Farrand. Rupanya ia telah menyelesaikan pekerjaannya.
"Tentu. Sekarang pun boleh. Lagi pula sekarang sedang sepi." Kata Arash.
"Tidak ayah, aku akan menunggu hingga jam setengah 5 nanti."
"ya.. ya.... tuan putri.." Farrand terkikik. Ayahnya baik sekali. Tak pernah melarang atau pun membentaknya. Dia selalu diperlakukan lemah lembut. Mencukupi kebutuhannya dan berperan ganda sebagai ayah dan ibu
disaat yang bersamaan, setelah istri yang dicintai nya meninggal beberapa tahun silam.
"Aku nanti akan belanja. Persediaan makanan kita habis, yah. Ayah ingin menu apa nanti untuk makan malam?"
"Apapun yang putri kecil ayah masak. Akan ayah makan dengan senang hati." Arash tersenyum. Senyum menawan yang membuat pipi putrinya merona.
"Farrand sayang ayah. Dan ayah cinta pertama Farrand." Farrand memeluk leher ayahnya sambil mencium pipi Arash. Bukankah memang seharusnya begitu? Ayah adalah cinta pertama bagi putrinya. Dan bagi Farrand, tiada lelaki yang lebih baik dari ayahnya saat ini.
"Suatu saat Farrand ingin punya suami seperti ayah." Tambah Farrand.
"Aku seperti paman Arash, Farrand. Jadi, maukah kau menikah denganku?" Celetuk Keano. Dan......... tuk...... sebuah botol semprot cairan pencuci mobil menghapiri kepala surai jabriknya. Disusul suara sexi nan cempreng yang menggelegar indah
"Mati saja kau Keano."
-----------------------tbc--------------------------
__ADS_1