Cinta Di Atas Aspal

Cinta Di Atas Aspal
Episode 16


__ADS_3

Farrand masih terduduk diranjangnya. Begitupun dengan Lingga. Tak ada salah


satu dari mereka yang memejamkan matanya meski waktu sudah menunjukkan tengah


malam. Tak ada yang menjaga, ayahnya pamit pulang dan Madhiaz pergi keluar


untuk mencari makanan ntuk mereka bertiga.


"Besok aku sudah diperbolehkan untuk pulang." Ucap Farrand memecah


keheningan. Sejujurnya saja ia benci keheningan seperti ini. Tapi mengingat


tadi siang, ia jadi merasa canggung kepada Lingga karena tadi ia telah banyak


memarahi pemuda itu.


"Hn"


"Kau bagaimana?"


"Aku juga."


"Benarkah? Tidakkah itu terlalu cepat untukmu?"


"Hm. Aku sudah tak apa. Jadi aku sudah bisa di izinkan pulang oleh


dokter yang memeriksaku."


"Lalu kakimu?"


"retakannya tak terlalu parah, dan aku bisa berjalan dengan bantuan


tongkat."


Farrand mencebik kesal. Susah payah ia mencari topik pembicaraan, yang di


ajak bicara hanya menjawab dengan kalimat-kalimat singkat. Ia bingung. Apakah Lingga


masih merasa kesal karna ulahnya tadi pagi? Sungguh, ia tadi hanya terbawa hormon


hingga meledak hanya karna masalah sepele. Ia juga tak bermaksud menjadikan Lingga


sasaran, namun keberadaan pria itu disini sedikit banyak merusak mood nya yang memang sudah buruk itu.


"Kau masih marah atas sikapku tadi?" Farrand mencoba memberanikan


diri menanyakan hal itu. Ia tau, tak seharusnya ia mudah meluapkan emosinya


pada Lingga.


Sedangkan Lingga? Didalam hati ia tertawa. Ia menertawakan tingkah Farrand


yang seolah memelas ingin meminta maaf padanya. Sebenarnya ia tak masalah,


mengingat ia pernah mengalami hal ini sebelumnya. Tapi ia ingin bermain-main


dulu dengan perasaan Farrand. Sedikit membalas perlakuannya yang menjengkelkan


itu tak masalah kan?


"Aku minta maaf. Ayolah... maafkan aku ya, Ling?" Sungguh. Didalam


hati Lingga benar-benar tak tahan melihat ekspresi Farrand yang sudah seperti


kucing kecil dipinggir jalan yang minta dipungut. Ingin ia mengatakan tidak


apa-apa secepatnya. Tapi, lagi-lagi egonya melarangnya melakukan hal itu.


Omong-omong, ia masih ingin melihat ekspresi Farrand yang jarang keluar itu


sedikt lebih lama lagi. Atau mungkin menunggu gadis memberi kompensasi, eh?


"Aku akan mengajakmu dalam pameran mobil bulan depan jika kau mau


memaafkanku." Yosh! Gotcha!!!. Hal inilah yang Lingga


tunggu-tunggu. Yap. Ia menantikan Farrand yang menjanjikan sebuah hal agar ia


memaafkannya. Hm.. sebuah seringaian muncul dibibirnya. It's show time.


"Pameran mobil?"


"Ya. Pameran mobil. Aku tau hal ini dari Dhiaz."


"Mengapa ia tak memberitahukannya padaku?"


"Entahlah." Farrand menggelengkan kepalanya. Mood Lingga


yang sudah bagus kembali buruk karena merasa kesal kepada Madhiaz yang tak


memberitahunya perihal pameran mobil.


"Dimana tempatnya." Ucap Lingga. Nada ketus mengalir dari


ucapannya. Tapi Farrand tak mau ambil pusing. Lingga sudah mau berbicara


padanya saja ia sudah senang. Setidaknya ia tak akan mati bosan berdua diruang


inap dengan saling berdiam diri.


"FCP. Falen Central Park. Gedung pameran dipusat kota Falen."


"Menarikkah disana?"


"Kau fikir aku mau kesana jika tak menarik? Aku dengar ada beberapa supercar yang sudah modif disana. Ada yang lokal, juga ada yang import." Mata Farrand


terlihat menggebu-gebu saat menceritakannya. Lingga tak habis fikir. Hanya


dengan membayangkan pameran saja sudah bisa membuat wanita itu bersemangat.


"Kau terlihat semangat dan antusias sekali saat menceritakan tentang


pameran itu."


"Tentu saja aku bersemangat. Coba kau bayangkan. Belum pernah diadakan


pameran seperti ini di kota Falen. Bahkan saat aku di Kota Halu pun aku tak


pernah tau ada pameran seperti ini. Jika biasanya yang dipamerkan adalah mobil


keluaran terbaru dengan segala kecanggihannya, disana hanya ada mobil bekas


lama yang sudah termodif. Dan kudengar ada bintang tamu istimewa yang akan


dipertontonkan disana. Bagaimana aku tak tertarik jika beberapa hal akan


dimunculkan disana."


"Kau ingin segera membeli mobil ya?" Tanya Lingga.


 Jleb...


Jantung Farrand terasa dihujam pisau. Tepat sekali Lingga menebak maksud


terdalam dihatinya. Ia memang ingin mobil baru. Dan ia berharap bisa mendapat


mobil bagus dengan datang ke pameran itu. Yah.... meski ia tak terlalu berharap


banyak mengingat tabungannya yang tak seberapa.


"Kau tau dengan jelas maksudku."


"Berapa uang yang kau punya saat ini?"


"Tak banyak. Tapi aku berharap bisa mendapat mobil nanti. Mungkin jika


uangku kurang, boleh aku pinjam uangmu?"


Farrand memandang Lingga penuh harap. Berharap pemuda itu mau menjawab iya


dan sedikit memberi pencerahan dihatinya yang begitu menggebu ingin memiliki


kendaraan sendiri.


"Akan kupertimbangkan." Jawab Lingga.


Seperti baru mendapat angin segar. Wajah Farrand sumringah. Ia cukup senang


mendengar Lingga mau membantunya.


"hm...... Kudengar dari Dhiaz jika Mustangmu rusak parah dan tak


bisa diperbaiki sesuai kondisi semula ya?" Sebisa mungkin Farrand menekan


nadanya. Ia tak ingin Lingga tersinggung ataupun sedih.


"Yeah.... mau bagaimana lagi. Tapi setidaknya mobilnya tidak di derek


oleh polisi. Mungkin aku akan memperbaikinya sedikit demi sedikit, walau pada


akhirnya tak bisa sesempurna dulu."


"Aku turut berduka." Farrand menundukkan kepalanya, hatinya terasa


sakit. Meski mobil itu bukan miliknya, tapi bagaimanapun juga mobil itu sudah


menemani Lingga dijalanan selama beberapa tahun.


"Tak masalah. Asal mobil itu masih bisa dikendarai, itu sudah cukul


untukku. Aku masih punya GTR untuk ku bawa balapan."


"Ngomong-ngomong masalah GTR, kurasa bukan hanya karena mobil itu kau


dapatkan secara gratis bukan? Hingga kau begitu menyayanginya."


"Aku tak tau kalau kau bisa perhatian dengan hal sedetail itu."


"Well. Terkadang aku suka memperhatikan hal rinci seperti


itu."


"Huh...." Lingga menghela nafas, sebenarnya ia tak ahli dalam hal


menjelaskan perasaan. Tapi mungkin menjelaskan sedikit pada gadis disampingnya


itu tak masalah bukan?


"Aku suka pada GTR dibeberapa hal. 4WD nya, tenaganya, dan


tampilannya."

__ADS_1


"Mobil itu sudah modif bukan?"


"Ya."


"Dan kalau aku tak salah menebak, kekuatannya mencapai 600hp?"


"Darimana kau tau?"


"Deru mesinnya, dan juga rasa mengemudikannya saat itu."


"Kau tau kekuatannya hanya dengan mendengar deru mesinnya?"


"Memang apa yang mengejutkan dari hal itu?"


Lingga terkekeh. Ia benar-benar tak menyangka hal itu. See? Betapa di


dunia ini banyal hal yang penuh dengan kejutan? Jika dilihat dengan sekilas,


gadis disampingnya itu terlihat cukup normal untuk gadis sejajarannya. Namun


siapa sangka? Jika dibalik ke’normal’annya itu terdapat hal yang mampu membuat


beberapa orang mengangakan mulutnya? Ah, ia jadi semakin yakin jika ia tak


salah memilihnya menjadi navigator.


"Lalu, menurut nona navigator, apa kurangnya mobilku itu?"


"Tenaganya terlalu besar dan mesin 4WD nya tak begitu cocok untuk


balapan gunung. Mengingat kemampuan drift mu, kau belum bisa membuat


mobil itu mengeluarkan semua potensinya untuk balapan gunung."


"Aku rasa tak terlalu masalah. Bukankah inti balapan adalah


kecepatan?"


"Kau tak mengerti, Lingga."


"Jadi, hal mana yang membuatku tak mengerti, nona navigator?"


"Sungguh, Ling. Mendengarmu berulang kali menyebutku nona navigator terdengar menggelikan ditelingaku."


Lingga terkekeh lagi. Sungguh, setelah ini ia akan memasukkan hal mengerjai


dan membuat Farrand jengkel kedalam hal yang perlu ia lakukan lebih sering.


Lihatlah, ekspresi merajuk Farrand yang menggemaskan terlihat begitu indah


dimatanya.


"Oke. Oke. Aku tak akan memanggilmu nona navigator lagi. Tapi


sebagai gantinya aku akan memanggilmu Fa."


"Panggilan macam apa itu? Sejujurnya aku lebih suka dipanggil Farrand


secara lengkap"


"Tentu saja panggilan khusus dariku. Dan tentu saja. Tak boleh ada yang


memanggilmu Fa selain aku."


"Panggilan itu terdengar aneh."


"Tapi menurutku panggilan itu terdengar indah."


Pipi Farrand bersemu. Ia berpura-pura kesal dengan memalingkan mukanya dan


mendengus. Namun sebenarnya, entah mengapa disudut hatinya terasa menghangat


mendengarnya.


"Jadi. Kita lanjutkan pembicaraan kita tadi. Bagian mana yang tak


kumengerti? Bukankah GTR termasuk mobil yang hebat?"


Farrand menghela nafas, wajahnya yang tertunduk ia dongakkan dan ia pejamkan


matanya. Mencoba mengingat beberapa hal dan setelah itu membuka mulutnya untuk


bersuara.


"Balapan lebih sering diadakan di bukit dan gunung. Kau tau sendiri,


bukan. Jika kau jarang mengalami balapan dijalur kota." Lingga mengangguk.


Farrand benar. Ia jarang sekali mengalami balapan diarena kota yang datar.


"Balapan dijalur landai lebih simple. Itu karena kau tidak


memerlukan bermacam-macam teknik seperti balapan dijalur gunung. Jalur gunung


tidak hanya memiliki lintasan berbelok yang tajam. Tapi juga tanjakan dan


turunan. Disaat melewatinya lah kau diharuskan mengeluarkan seluruh teknik yang


kau miliki agar bisa mendapat kecepatan maksimum."


"...."


"Untuk menaklukkan tikungan dengan kecepatan tinggi, kau perlu


menginjak pedal gas dalam-dalam. Dan bagian belakang mobil cenderung mengayun,


jika kau berusaha mengendalikannya menggunakan pedal seperti yang dilakukan


pada mobil sistem FR. Dan akselerasi penuh adalah cara 4WD untuk dapat melakukannya.


Untuk itulah mengapa 4WD lebih sulit untuk dikemudikan."


"..."


"Pembalap biasa tidak akan bisa berbelok dikecepatan penuh. Tapi begitu


kau menguasai teknik itu, kau bisa berbelok di bermacam-macam tikungan pada


kecepatan yang sangat cepat."


"...." Lingga kicep. Lagi-lagi ia hanya bisa terkagum-kagum


melihat penjelasan Farrand. Entah apa yang telah dilalui gadis itu hingga ia


tau banyak hal yang bahkan ia sendiri tak tau.


"Lalu menurutmu aku harus bagaimana?" Ucap Lingga setelah pulih


dari rasa kagumnya pada Farrand.


"Kuasai akselerasi drift 4WD mu. Dengan begitu kau bisa mengeluarkan


seluruh potensi GTR mu."


"Tapi bagaimana caranya."


"Tentu saja banyak berlatih! Kau ini bagaimana sih? Teknik akselerasi


4WD tidak bisa serta merta kau kuasai dalam beberapa hari."


Lingga menundukkan kepalanya. Ia tak menyangka jika mobil yang ia kagumi


bisa sesulit itu untuk dikemudikan. Mau ganti mobil pun tak mungkin. Ia telah


terlanjur menyayangi mobil itu.


"Kau harus menemaniku menyempurnakan teknikku itu, Fa."


Farrand memalingkan wajahnya lagi karena semburat merah lagi-lagi mampir di


pipi putihnya. Hei... apa ini berarti ia harus selalu ada bersama pemuda itu


setiap pemuda itu berkendara? Oh, ini bukan hal baik untuk jantungnya.


Sementara itu disisi lain, Lingga menyeringai puas melihat Farrand. Meskipun


gadis itu memalingkan mukanya, bukan berarti ia menolak tawaran Lingga bukan?


Selama ia tak mengucapkan kata tidak, maka Lingga akan menganggapnya 'iya'.


.


.


.


Sementara itu ditempat Arasya...


"Lama tak jumpa, teman lamaku. Suka dengan kejutanku?"


Arasya membelalakkan matanya saat pengemudi itu keluar dari mobil yang


serupa dengan miliknya. Meskipun wajahnya tertutup sebagian, ia kenal postur


ini. Ia tau siapa orang yang kini berada dihadapannya dan memakai pakaian yang


sama persis dengan dirinya.


"Aku tak menyangka kau datang padaku dengan keadaan seperti ini.


Sebegitu tak mampukah dirimu menggeser posisiku hingga kau memanfaatkan keadaan


dan muncul sebagai diriku?" Arasya terkekeh. Ia bersandar santai di kap


mobil sambil dengan perlahan tangannya membuka masker serta hoodie jubah


yang dikenakannya. Lantas seulas senyum muncul dibibirnya dan mensidekapkan


tangannya.


"Lama tak jumpa juga, Elon." Ucapnya kemudian.


Pria yang Arasya panggil Elon kini tertawa keras. Ia juga membuka hoodie dan masker seperti yang Arasya lakukan. Dan disana terlihat perban melilit


rahangnya.


"Aku tak menyangka kau langsung mengenaliku, Arasya. Setelah sekian


lama kita tak berjumpa, tentunya."


"Mana mungkin aku melupakan rival abadiku."

__ADS_1


"Aku tak yakin kemampuanmu masih sama seperti dulu. Dan mungkin


sekarang aku bisa mengalahkanmu dengan mudah."


"Terlalu percaya diri. Kurasa hal itu tak pernah hilang dari


kepribadianmu, Elon."


"Bagaimana jika kita bertanding lagi?"


"Dengan pertaruhan jika aku yang menang maka kau berhenti muncul


menjadi diriku yang seperti itu." Mata Arasya berkilat. Terlihat kilas


marah dari mata tajamnya. Biar bagaimanapun juga pertaruhan itu ia lakukan agar


Elon berhenti menyamar menjadi dirinya. Dan dengan begitu putrinya tak perlu


resah lagi dan Lingga bisa berhenti mengejarnya.


"Setuju. Dan jika aku menang, kau berhenti seperti ini dan aku yang


akan menggantikanmu."


Tanpa banyak basa basi Arasya langsung menyetujui tawaran Elon begitu saja.


"Finish berada diarea parkir kaki bukit. Dan kita akan mulai hitungan


mundur bersama. Jangan tutup jendela mobilmu."


Arasya mengangguk. Setelah itu mereka masuk kedalam mobil masing-masing dan


mulai mengambil start. Arasya disebelah kiri, dan Elon disebelah kanannya. Elon


bersiap. Mereka mulai menghitng mundur dari bilangan 3, setelah hitungan sampai


satu, keduanya langsung menginjak pedal gas dalam-dalam. Dan entah disengaja


atau tidak, Elon memimpin dan Arasya berada tepat beberapa inchi dibelakang


mobil yang dikendarai Elon.


Suasana sunyi pegunungan menemani aktivitas balapan mereka berdua. Tak ada


yang tau, karena mereka lebih memilih merahasiakan balapannya dan berharap


tidak ada yang melihat. Dua mobil melaju, dengan warna dan type yang serupa.


Dan hanya berbeda plat nomornya saja.


Keduanya beriringan dengan kecepatan yang sama. Tak ada yang berubah dengan


jarak mereka hingga tikungan ketiga. Tak ada pula tanda-tanda Arasya akan


menyalip mobil serupa didepannya itu. Jika dilihat dengan sekilas keduanya sama


dalam segala hal. Entah itu dalam kecepatan, drift, atau bahkan


pengereman. Mereka memiliki waktu yang sama untuk melakukannya. Bahkan saat inertia


drift pun mereka melakukannya dengan catatan waktu yang sama. Seandainya


saja ada yang menonton di tepi jalan seperti saat balapan berlangsung seperti


biasa, pastilah penonton berdecak kagum dan mengatakan dengan kompak jika kedua


mobil ini sama hebatnya.


Namun setelah setengah perjalanan, Arasya mulai menyadari jika semakin


kedepan Elon semakin liar dan tak lagi menggunakan rem. Hati Arasya merasa


was-was. Ia merasakan ada sesuatu hal yang tak beres dengan Elon. Dan ia


berinisiatif untuk menyalipnya, mancari tau apa yang terjadi dengan rivalnya


itu.


Arasya tau kelemahan Elon. Dan selama itu ia terus mencari celah untuk


menyalipnya. Atau mungkin saja lebih tepatnya ia menunggu waktu pas untuk


menyalip.


Setelah sampai di tikungan kanan terakhir dijalan landai, Arasya segera


bergegas menyalipnya. Disinilah titik ia bisa menyalip. Ia tau, dari dulu Elon


memang lemah ditikungan kekanan, dan jarak yang sedikit melebar membuat Arasya


bisa menyalipnya dari sisi dalam. Ketika menyalip Arasya melirik Elon sekilas,


dan ia melihat raut sedih dan kecewa di wajahnya. Elon terlihat tertunduk, dan


hal itu membuat Arasya mengambil langkah spontan untuk membanting steer dan membuat mobilnya berbalik hingga berhadapan langsung dengan mobil Elon.


Tabrakan ringan pun tak terelakkan lagi. Hingga Elon yang terkejut dengan


tindakan spontan yang dilakukan Arasyapun langsung menginjak pedal rem. Mobil


keduanya berhenti tepat dijalan lurus dengan posisi yang berhadapan. Dan Elon


langsung keluar menuju sebuah kursi yang terletak dipinggir jalan.


Elon duduk dengan menundukkan kepalanya. Kedua tangannya terangkat, dan


setelah itu meremat rambut cepaknya sambil berteriak frustasi. Dengan perlahan Arasya


berjalan menghampiri Elon dan mengambil tempat duduk disebelahnya.


"Aku marah padamu." Ucap Elon.


"Aku tau." Arasya menjawab singkat. Surai legam disertai sedikit


poni yang menjutai agak panjang yang membingkai wajahnya bergoyang pelan


tertiup angin malam yang berhembus menerpanya.


"Karna kau aku kehilangan permata hatiku."


"Aku tau."


"Aku berniat menghabisimu saat kudengar Janitra telah meninggal. Dan


aku merencanakan skenario ini semata-mata agar kau bisa musnah dari dunia


ini."


Arasya tersenyum. Ia lega mendengar rivalnya itu mengeluarkan unek-unek yang


ada dihatinya. Secara tak langsung Arasya merasa lega karena Elon masih mau


berbicara dengannya. Yah, meski dengan nada yang tidak bisa dikatakan lembut.


"Jika aku tak mempunyai tanggungan. Maka aku akan dengan senang hati


mengantarkan nyawaku kehadapanmu."


"..."


"Ku tau aku gagal menjagakan Janitra untukmu. Dan setelah ia pergi aku


merasa jika aku merasa sangat tak berguna dan begitu lemah."


"Baru menyadarinya sekarang, huh?"


"Ya. Kau benar. Tapi aku tau, jika aku mengakhiri hidupku saat itu


juga, Janitra pasti akan kecewa padaku karena aku tak bisa menjaga


titipannya."


Elon memalingkan wajahnya kearah Arasya. Bisa ia lihat gulir kekecewaan


diraut wajah yang tak terlalu berbeda dengan yang dulu ia kenal.


"Sebelum Janitra meninggalkanku dan putri kami, ia berpesan agar aku


bisa hidup tanpanya dan menjaga buah hati kami dengan baik. Hidup dengan layak dan


juga menyampaikan permintaan maafnya padamu."


Tes....


Setitik airmata jatuh dari bola mata milik Elon. Ia menangis. Ia menangisi


dirinya yang bahkan dihari kepergian pujaan hatinya, ia tak disana.


"Ia juga menitipkan pesan untukmu. Dia bilang kau harus bisa menjalani


hidup dengan baik. Mencari wanita untuk dijadikan pendamping dan juga menjadi


paman yang baik untuk putrinya. Putri kami."


Air mata Elon mengalir semakin deras. Lidahnya kelu. Ia tak sanggup


mengeluarkan kata-kata sekedar untuk membalas perkataan Arasya padanya.


"Hiduplah dengan baik, Elon. Karena aku yakin Janitra tidak akan


memaafkanku jika aku melihatmu membuat onar dan aku tak melakukan apa-apa untuk


menghentikanmu. Kau tau dengan baik bukan, jika Janitra juga selalu


mengkhawatirkan keadaanmu?"


"..." Elon masih tak bergeming. Air mata masih mengalir deras dari


pelupuk matanya. "Janitra pasti marah padaku karena aku telah mencelakakan


putrinya." Lirihnya.


"Putri kami baik-baik saja. Kau jangan khawatir, ia tak mengalami


cedera yang serius." Ujar Arasya sambil menepuk bahu Elon.


"Mainlah ketempatku kapan pun kau sempat." Lanjutnya.


Sebelum pergi meninggalkan Elon, Arasya sempat tersenyum kearahnya. Ia tau,


hati Elon masih labil, dan ia tak khawatir meninggalkannya karena Elon tak kan

__ADS_1


berbuat diluar nalar lagi.


Tbc


__ADS_2