
Farrand menghela nafas, sudah hampir seminggu ini Lingga mengacuhkannya.
Berbicara padanya hanya pada masalah pelajaran saja. Itupun dengan nada dingin.
Bahkan ia tak diajak dalam ajang balapannya kemarin yang diadakan dua hari yang
lalu. Yang berakhir dengan kekalahan Lingga oleh pendatang baru dari kota Taraka.
Nadeen yang mengamati mereka berdua dari kejauhanpun hanya bisa berdiam
diri. Ia bingung dengan keduanya. Pernah sekali ia menanyakan tentang hal ini
pada Farrand maupun Lingga, namun jawaban yang ia dapatkan dari keduanya
benar-benar tak memuaskannya. Farrand mengatakan jika ia tak tau apa-apa,
sedangkan Lingga, dia mengatakan jika tidak ada apa-apa di antara mereka
berdua. Huh! Rasanya ia ingin mengikat mereka berdua dikursi saja dan
memaksanya mengatakan semua yang terjadi. Tapi sudahlah! Tidak ada gunanya juga
ia melakukan hal itu.
Dan untungnya, Madhiaz tidak tau tentang masalah yang terjadi diantara
mereka. Karena jika Madhiaz tau, bukan tak mungkin ia akan datang dan menghajar
Lingga begitu saja tanpa mendengar penjelasannya terlebih dahulu.
Jam pelajaran pertama telah usai dan digantikan jam istirahat. Farrand masih
menundukkan kepalanya sementara yang lainnya berebut keluar kelas secepat yang
dibisa. Nadeen memandang Farrand penuh iba,tapi ia tak tau harus melakukan apa
untuk menyatukan mereka lagi. Memang, Nadeen pernah menaruh rasa pada Lingga.
Namun melihat Lingga yang hanya melihat kearah Farrand membuatnya lebih memilih
untuk mundur dan merelakannya untuk Farrand. Cinta tak harus memiliki, dan ia
yakin jika Lingga akan lebih bahagia bersama Farrand daripada dengannya.
"Farrand, aku akan kekantin untuk makan siang. Kau tak ikut?" Sapa
Nadeen setelah kelas sudah terasa agak sepi.
"Kau duluan saja. Aku akan ketaman belakang dan makan disana. Aku bawa
bekal seperti biasa." balas Farrand. Ia tersenyum. Namun Nadeen yakin jika
senyum yang Farrand lontarkan adalah senyum palsu untuk menutupi kesedihannya.
Nadeen mengangguk. Ia sepenuhnya mengerti jika Farrand masih ingin sendiri
saat ini. Ia beranjak keluar kelas dan melirik kearah Lingga yang juga masih
terdiam dibangkunya.
Kini dikelas hanya ada mereka berdua, Farrand dan Lingga. Yang terduduk
dibangkunya masing-masing tanpa berniat bertegur sapa.
Sreeett.
Lingga beranjak, ia berjalan melewati bangku Farrand begitu saja tanpa menegurnya
sama sekali. Sedang Farrand, yang melihat Lingga melewatinya hanya bisa
menggigit pelan bibirnya, berharap dengan itu ia bisa mengurangi rasa sakit
dihatinya dan bisa membendung air matanya.
"Ling,.. "panggilnya pada Lingga.
"Hn." Lingga hanya terdiam dan menghentikan langkahnya mendengar
panggilan dari Farrand.
"Aku bawa bekal lebih. Kau mau?"
"Aku kenyang."
"Ya sudah...Anu, Ling. Lusa ada balapan di gunung Inoha. Kau mau
ikut?"
"Hn."
"Aku boleh ikut?"
"Aku bisa sendiri." Hati Farrand mencelos sakit mendengar jawaban
ketus nan dingin milik Lingga.
Tumpah sudah airmatanya yang sedari tadi susah payah ditahannya. Lingga kini
mengabaikannya. Padahal, ia merasa jika ia tak salah apapun pada Lingga. Dan
sebenarnya, ia hanya ingin tau saja seberapa dalam Lingga mencintainya dengan
melayangkan pernyataan seperti itu. Tapi entahlah, ia bingung sendiri kepada
hatinya yang merasa sakit karena diabaikan oleh Lingga.
Dengan langkah gontai Farrand beranjak keluar kelas sambil menuju taman
belakang tempatnya biasa menyendiri. Ia menenteng bekalnya, bekal yang ia
siapkan susah payah dan sengaja ia buat lebih untuk diberikan kepada Lingga.
Dan sesampainya ditaman belakang, ia dikejutkan dengan adanya sosok Dion
yang terduduk sendiri membelakanginya. Dalam hati Farrand bertanya, kemana
sosok Zennie sang tunangan yang biasanya selalu menempel pada Dion?
"Dion, kau disini?" Tegurnya.
Dion menoleh, ia tersenyum mendapati Farrand berdiri dibelakangnya sambil
menenteng dua buah kotak bekal.
"Kau sendirian?"
"Ya..."
"Apa kau membawa bekal lebih? Untuk siapa?"
Farrand tersenyum dan mendudukkan dirinya disebelah Dion duduk. "Aku
sengaja membawa lebih, firasatku mengatakan jika ada orang yang mau memakan
bekal lebihku." Ujarnya. Ia berbohong, padahalbekal itu sengaja ia buat
untuk Lingga karena pemuda itu sering mengatakan jika ia sangat suka bekal
buatannya. Tapi apa daya, Lingga tak akan mau, bahkan untuk sekedar menegurnya
pun kini ia segan.
"Apakah sudah ada yang mau memakannya?" Farrand menggeleng pelan,
"Kalau begitu, boleh aku saja yang memakannya?" Tambah Dion.
Farrand mengangguk, ia senang. Setidaknya bekal yang ia buat dengan susah
payah tak akan terbuang sia-sia.
Farrand membuka bungkus bekalnya dan memberikan satu kotak untuk Dion. Wajah
Dion berbinar, ia lantas memakan bekal buatan Farrand dan menyantapnya lahap
dengan tenang tanpa mengeluarkan sepatah katapun hingga bekal itu habis.
"Terimakasih atas makanannya, Rand. Masakanmu selalu enak seperti biasa."
Farrand tersenyum kecil, selalu saja seperti ini.
"Kau selalu seperti itu. Lihat, aku bahkan belum menghabiskan
makananku. Dan kau sudah menghabiskannya tanpa sisa." Ujar Farrand.
"Aku selalu suka makanan apapun yang kau masak. Masakanmu selalu cocok
untuk lidahku."
"Kalau begitu bilang ke Zennie untuk membuatkanmu bekal setiap hari,
agar kau nanti akan terbiasa memakan masakannya dan melupakan rasa masakanku."
"..." Dion terdiam dan tak tau harus berekspresi bagaimana. Ia
tau, dirinya dengan Farrand kini sudah tak bisa seperti dulu lagi.
"Ups... maafkan aku, Dion. Aku tak bermaksud menyinggungmu."
"Tak masalah, kau benar. Aku harus membiasakan diri untuk Zennie. Dan
seperti yang pernah kau katakan, aku tak boleh mengecewakan ayahku,
bukan?"
Farrand mengangguk pelan. Ia ingat, ia sendirilah yang menyuruh Dion untuk
mematuhi perintah ayahnya.
"Maafkan aku, Dion."
"Tak masalah Rand. Itu bukan salahmu. Akulah yang terlalu lemah hingga
aku tak bisa mempertahankan keberadaanmu disisiku."
"Sudahlah, tak akan ada habisnya jika kita membicarakan masalah itu
terus menerus. Lebih baik kita memikirkan jalan kita masng-masing. Kita masih
memiliki banyak hal yang harus digapai, bukan? Tentunya termasuk kebahagiaanmu.
Bahagiakan Zennie, Dion. Karena dengan begitu kau bisa bahagia dengan dirimu
nantinya. Cinta bisa datang seiring waktu, yang bisa kau lakukan adalah
menjemputnya perlahan."
Dion tersenyum getir, Farrand benar. Kini ia sudah tak bisa lagi mengelak
dari jalan yang ada dihadapannya.
"Oh iya, bagaimana hubunganmu dengan Lingga? Kulihat akhir-akhir ini
kalian seperti menjauh."
Farrand menunduk, "Kau benar, aku membuat kesalahan dan sepertinya ia
tak bisa mentolerin kesalahanku itu."
"Boleh kutau apa itu?"
"Maafkan aku, Dion. Tapi aku tak bisa mengatakannya padamu. Ini hanya
masalah kecil antara kami berdua. Dan kau tak perlu khawatir, kami akan segera
__ADS_1
menyelesaikannya"
Dion menghembus nafas pelan. Sebenarnya ia penasaran tentang apa yang
terjadi, namun ia urungkan untuk bertanya lebih jauh pada Farrand dan memilih
untuk diam saja.
"Ano, Farrand. Kau tau kemana Dhiaz? Semenjak aku melihatnya dipameran
mobil waktu itu, ia tak terlihat sama sekali. Nomor ponselnya pun tak bisa
kuhubungi."
"Dia sedang mengurusi beberapa hal tentang beasiswanya. Kudengar dari
paman dia sedang mengajukan beberapa aplikasi untuk mengambil beasiswa penuh ke
Universitas ternama di kota Inoha."
"Begitukah?"
Farrand mengangguk.
"Pantas saja aku tak pernah melihatnya masuk sekolah."
"Ya. Begitulah. Lalu kau? Bukankah kau akan lulus sama seperti Dhiaz?
Akan kemana kau setelah lulus dari sini, Dion?"
"Tentu saja masuk ke universitas pilihan ayahku. Memang apa yang kau
harapkan selain itu?"
"Kau benar. Maaf aku lupa jika hidupmu sudah diatur sedemikian rupa
oleh ayahmu."
"Kau tak perlu meminta maaf."
Setelahnya, obrolan ringan mengalir begitu saja dari percakapan mereka
berdua. Bisa dilihat, sesekali Farrand tersenyum karena Dion menceritakan beberapa
hal lucu kepada Farrand. Dan tanpa disadari keduanya, Lingga melihat keakraban
mereka berdua dengan tatapan benci dan menusuk. Ia beranjak, tak kuat lebih
lama disana dan melihat kebersamaan Farrand dan Dion lebih lama lagi.
.
.
.
Hujan deras kembali mengguyur Kota Falen. Membuat beberapa siswa yang akan
pulang dan tidak membawa payung berdiri berteduh dikoridor sekolah. Tak
terkecuali Farrand, ia yang tak membawa persiapan apa-apa pun juga ikut berdiri
sambil memandang tetesan hujan yang turun semakin lebat. Padahal dalam hati Farrand,
ia ingin sekali pulang cepat karena ayahnya hari ini sengaja meluangkan waktu
untuk membereskan rumah baru mereka. Ya, ayahnya telah memberi rumah baru, dan
tak hanya itu saja, ayahnya juga telah membelikannya mobil yang selama ini ia
idam-idamkan. Maka dari itu ia ingin pulang cepat dan membantu ayahnya beberes
rumah baru mereka dan juga mengecek mobil yang dibelikan ayahnya.
Lingga memandang Farrand yang terlihat melamun. Ingin ia kembali mengajak Farrand
pulang bersama seperti saat itu karena sekarang ia tengah membawa payung. Namun
ia urungkan niatnya karena ia mengingat kejadian saat istirahat tadi ditaman
belakang. Ia beranjak pergi, namun tarikan kuat dikerah kemejanya mau tak mau
membuatnya terseret mengikuti pelaku penarikan.
Bruk...
Lingga dihempaskan begitu saja oleh orang menariknya tadi. Dan kini, mereka
berdua berada dikoridor sepi yang menuju ketaman belakang.
"Apa maumu dengan paksa menyeretku kesini, Dion." Lingga berang
atas sikap Dion. Ia merasa tak memiliki salah pada pemuda dihadapannya kini dan
tau-tau ia dihempas dengan kasar setelah diseret begitu saja.
Bukk..
Dion memukul pipi Lingga hingga Lingga terhuyung dan punggungnya membentur
dinding belakangnya.
Lingga berniat membalas pukulan Dion, namun Dion terlihat mahir dalam
beladiri hingga ia dengan mudahnya menghindari serangan dari Lingga.
"Aku tak tau apa yang terjadi diantara kalian berdua. Tapi
kuperingatkan kau, Ling! Jangan kau sakiti Farrand atau aku akan membuatmu
terkapar dan berakhir dirumah sakit."
"Apa urusanmu hingga kau mengancamku seperti itu. Bukankah kau telah
menyakiti Farrand dan meninggalkannya demi wanita lain? Aku heran, siapa yang
Brukk...
Sekali lagi Dion mencengkram erat kerah baju Lingga dan menghantamkan
punggungnya ketembok. Lingga meringis, perlakuan Dion padanya seperti bukan
main-main saat ini. Lingga kesal, ia kesal karena ia tak bisa membebaskan
dirinya dari cengkraman kuat tangan Dion padanya. Dalam hati ia sedikit
merutuki, mengapa dulu ia tak mendalami ilmu bela diri juga?
"Lepaskan aku, syaland! Aku sama sekali tak menyakiti Farrand
seperti yang kau tuduhkan padaku."
"Lalu apa? Kau tau aku tak cukup bodoh untuk menebak keadaan kalian
yang seolah menjaga jarak. Terutama kau, Lingga. Yang kulihat kau seperti
menghindari Farrand."
"Dan apa urusanmu tentang hal itu. Aku bebas mendekati siapa saja dan
menjauhi siapapun."
"Jaga ucapanmu, Ling! Kemarin aku sudah merelakan jika Farrand memilih
bersamamu, tapi belum genap sebulan kau sudah menjauhinya. Sebenarnya apa maumu
selama ini? Mempermainkannya? JAWAB!!!"
"....."
"Aku tak tau jika kau bisu mendadak."
Lingga melemaskan cengkraman tangannya pada tangan Dion. Ia menunduk. Dan
setelah Dion melepaskan cengkraman tangannya, ia merosot dan terduduk lemas.
"Aku tak tau aku harus marah atau kecewa padanya." Lirih Lingga. Dion
mencoba duduk disamping Lingga.
"Ku akui aku memang pernah menyatakan cinta padanya. Dan diapun juga
mengatakan jika dia bersedia menerimaku dan berusaha mencintaiku, disaat masih
ada kau dihatinya. Namun aku tak tau, jika mendengar pengakuannya saja bisa
membuat hatiku sesakit ini." Tambah Lingga.
"Memang apa yang telah ia katakan padamu?"
"Ia bilang jika dia telah kehilangan kesuciannya."
Dion tersentak, Farrand mengatakan hal itu pada Lingga? Ia memang tak tau
apa yang terjadi pada Farrand selama ia tak berada disampingnya. Namun
mendengar hal itu, ia pun mengakui jika dirinya merasa kaget. Karena selama
yang ia tau, Farrand bukan orang yang mudah dibujuk rayu begitu saja. Bahkan
selama mereka menjalin kasih pun, Farrand benar-benar menjaga dirinya sendiri
hingga sedemikian rupa. Tapi entahlah, mungkin Dion melewatkan sesuatu tentang Farrand.
Atau selama ia jauh dari Farrand, Farrand pernah mendapatkan pelecehan?
"Aku tak tau jika mendengarnya seperti itu bisa membuatku hatiku
sesakit ini. Aku tak pernah seperti ini. Dan selama ini aku menghindarinya
semata-mata agar aku tidak semakin kecewa dan selalu teringat apa yang dikatakannya
saat itu."
"...."
"Aku lelaki. Dan kuakui aku telah jatuh hati pada Farrand melebihi
cinta yang selama ini aku rasakan pada lainnya. Tapi aku juga belum bisa
menerima kenyataan yang menghempaskanku seperti ini."
"..." Dion masih sibuk akan keterdiamannya, ia bingung. Ia tak
memiliki satu kata pun di kepalanya untuk dikatakan pada Lingga.
"Katakan padaku, Dion. Bagaimana jika kau berada diposisiku saat ini.
Kau juga pernah mencintai Farrand dan pernah menjadi kekasihnya, bukan? Katakan
padaku! Apa dia pernah mengatakan hal ini padamu? Atau jangan-jangan malah kau
yang mengambil pengalaman pertamanya?"
Dion melongo dam bingung atas apa yang diucapkan Lingga padanya. Dion tau
jika dirinya lelaki tak baik, yang dengan seenaknya ia meninggalkan Farrand
begitu saja. Tapi untuk merengut kesucian Farrand, ia rasa ia masih cukup waras
untuk melakukan hal yang menurutnya merusak masa depan Farrand.
"Apa yang membuatmu mengatakan hal itu? Kau tau, kata-katamu seolah
__ADS_1
menuduhku jika aku bukan lelaki baik-baik." Ucap Dion.
"Jika bukan kau lalu siapa? Bagaimanapun juga hanya kau yang kuketahui
pernah menjalin hubungan dengan Farrand."
"Aku memang pernah menjalin hubungan dengannya, namun bukan berarti aku
juga melakukan hal itu padanya, bukan?"
"Tidak ada yang bisa menjamin kau tidak melakukan hal itu."
"Sudah kubilang aku tidak melakukannya."
Lingga terdiam. Ia lantas menekuk lututnya dan membenamkan wajahnya disana.
"Ok. Lupakan perdebatan kita tentang hal itu. Tapi sungguh, demi apapun
aku berani bersumpah jika aku tak pernah menyentuhnya hingga sejauh itu."
Ujar Dion.
"..."
"Dan untuk masalah kalian, aku ingin bertanya sesuatu padamu, Lingga."
"Bertanyalah."
"Dan kuharap kau menjawab pertanyaanku dengan penuh kejujuran."
Lingga mengangguk lemah.
"Apa kau mencintainya."
Lingga kembali mengangguk.
"Dan kau juga sudah mengungkapkan perasaanmu padanya, bukan?"
Lingga mengangguk, lagi.
"Menurutku, jika kau memang mencintainya, kau akan menerima apapun
kekurangannya, bukan."
Kali ini Lingga hanya bisa terdiam dan tak mengangguk seperti tadi.
"Cinta bukan hanya tentang memberi, Lingga. Tapi cinta juga tentang
menerima. Kau memutuskan untuk mencintai Farrand. Dan itu artinya kau juga
harus memutuskan untuk menerima segala kekurangan yang ada pada dirinya."
"..."
"Dengar, Lingga. Farrand mungkin saja punya kelebihan atas
kecantikannya, kepiawaiannya dalam memasak, dan juga kepintarannya dalam hal
otomotif, dalam hal ini adalah mobil balap. Dan kurasa hal itu merupakan poin
lebih yang ia miliki."
"..."
"Tapi kurasa mungkin kau melupakan sesuatu. Bahwa disetiap ada
kelebihan yang menonjol, disitu ada kekurangan yang berarti. Dan kurasa, itulah
kekurangannya yang kuyakin dengan berat hati ia beritahukan padamu. Kau tidak
tau betapa beratnya memberitahukan sesuatu hal yang kita pendam pada orang lain
sebegitu mudahnya. Jika ia memberitahumu, bukankah itu berarti ia percaya
padamu?"
Lingga masih mematung dan berdiam diri. Namun dalam hatinya, ia membenarkan
seluruh perkataan Dion.
"Bukankah Farrand juga manusia? Itu berarti dia juga punya kekurangan
kan? Dan apapun alasannya, kurasa kau tak berhak membenci Farrand ataupun
kecewa terlalu berlebih padanya. Kau tau, jika mungkin aku berada diposisi Farrand,
aku pasti harus mengumpulkan keberanian yang besar untuk mengatakan hal itu
kepada laki-laki yang mengatakan cinta padaku. Tidakkah kau fikir hal itu lebih
baik jika kau mendengarnya langsung dari Farrand daripada kau mendengarnya dari
orang lain? Kau tau, Farrand hanya tidak ingin kau kecewa nantinya."
Kali ini, Lingga mengangguk kembali. Hatinya berdenyut nyeri mendengar
penuturan dari Dion. Dion benar, dan ia merasa jika semua yang Dion katakan
tadi adalah benar adanya. Ia sangat menyayangkan tindakannya yang mengabaikan Farrand
begitu saja. Seharusnya ia tak perlu terbawa emosi sesaat dan berlaku seperti
ini pada Farrand.
"Kau membawa payung, bukan?"
Lingga mengangguk lagi,
"Lalu tunggu apalagi? Segera kejar dia dan ajaklah ia pulang bersama
seperti saat itu." Tambah Dion.
Lingga terkejut, bagaimana bisa Dion tau jika ia dan Farrand pernah pulang
bersama dalam satu payung?
"Aku tau darimana tentang hal itu tentulah bukan urusanmu. Jangan
menanyakan apapun lagi. Karena hal itu terlihat jelas dimatamu."
Lingga tak membuang waktu lagi, ia segera beranjak dan pergi dari sana,
berniat untuk mengajak Farrand pulang bersama.
"Sepertinya aku memang benar-benar harus merelakan Farrand untuk Lingga."
Monolog Dion setelah melihat Lingga berlari menjauh darinya.
Sesampainya ditempatnya tadi, ia menengok kekiri dan kekanan bermaksud
mencari keberadaan Farrand. Namun nihil. Tak ia temukan Farrand dimanapun,
bahkan hingga ia berbalik dan mencari diseluruh lorong pun ia tak menemukannya.
Ia terlambat, mungkin saja Farrand telah pulang terlebih dahulu tanpa
menunggu siapapun dengan cara menerobos hujan seperti waktu itu. Atau mungkin
sudah ada yang mengjaknya terlebih dahulu?
'Sial,' maki Lingga dalam hati. Rasa takut menjalari hatinya. Ia
takut jika Farrand benar-benar menerobos hujan dan berakhir sakit untuk
beberapa hari kedepan.
.
.
.
Farrand sampai dirumah dengan keadaanya yang basah kuyup. Ia lega, setelah
menerobos hujan tadi, beban dihatinya sedikit terangkat karena ia menumpahkan
segala kekesalan dan tangisannya ditengah hujan lebat yang mengguyur tubuhnya.
"Farrand, kau tak apa? Mengapa kau menerobos hujan begitu saja? Jika
kau menelpon ayah, ayah pasti akan menjemputmu." Ujar Arasya. Terdengar
sebuah nada cemas dari ucapannya. Ia yang tadi sedang mengelap mobil Farrand
langsung meninggalkan pekerjaannya begitu saja dan berlari kearah Farrand yang
terlihat menyedihkan.
"Maaf, aku membuat ayah khawatir. Namun percayalah, ayah. Aku tak
apa-apa. Sungguh. Ayah kan tau jika aku anak yang kuat?"
Arasya mengangguk, sedikit banyak ia membenarkan perkataan Farrand.
"Segeralah mandi dengan airhangat dan setelah itu ganti baju dengan
baju yang hangat. Ayah akan membuatkanmu bubur dan teh hangat agar kau tidak sakit."
Farrand mengangguk. Setelah itu beranjak menuju kamar dan melakukan apa yang
ayahnya perintahkan untuknya. Ia tersenyum kecil, saat memgingat betapa ayahnya
sangat menyayanginya dari dulu hingga kini.
Setelah Farrand selesai dengan aktifitasnya, ia menghampiri Farrand yang
duduk terdiam sambil memainkan ponselnya di beranda depan. Sebelumnya ia sempat
khawatir karena belakangan ini Farrand terlihat murung. Namun sekarang, ia tak
lagi melihat wajah kusut menghampiri Farrand.
"Ne, Farrand. Kau mau mengasah kemampuan mengemudimu dengan menggunakan
mobil barumu? Ayah bisa membantumu." Ucap Arasya sambil tersenyum.
"Maksud ayah, ayah ingin mengajariku?"
"Ya.. anggap saja seperti itu."
"Apa ayah punya cukup waktu untuk mengajariku?"
"Ayah akan berusaha, setidaknya ayah akan mengajarimu dua kali kali
dalam seminggu."
"Benarkah?"
"Tentu saja benar."
Farrand mengangguk dengan semangat. akhirnya, setelah semua yang terjadi
akhirnya dirinya bisa diajari lagi oleh Arasya seperti dulu.
"Tapi, ayah akan mengajarimu dengan berada didepanmu menggunakan mobil
ayah. Apapun hasilnya, kau harus bisa belajar sendiri tentang apa yang kau
lihat."
Farrand mengangguk. Baginya, Arasya mau mengajarinya lagi saja itu sudah
lebih cukup untuk membuatnya senang.
__ADS_1
"Dan kita akan melakukannya dijam 3 pagi."
***tbc***