Cinta Di Atas Aspal

Cinta Di Atas Aspal
Episode 13


__ADS_3

Madhiaz bergerak gelisah di tempatnya berdiri. Ia sangat penasaran. Apakah


benar pengendara s15 itu akan muncul? Setaunya paman Arasya tidak


memberitahukan perihal kedatangannya itu. Ia ingin mencoba menanyakan pada Farrand,


akan tetapi wanita itu hanya mampu menjawab dengan gelengan kepala. Ia tak tau


menau tentang hal itu. Ayahnya pun sama sekali tak menyinggungnya saat makan


malam tadi. Dan karena itulah ia ikut Madhiaz untuk melihat siapa yang memberi


pengumuman itu. Tak mungkin rasanya jika orang yang kau kenal dengan baik itu


tak memberitahu apa-apa. Apalagi tentang hal sepenting ini. Hal yang bisa


menyangkut harga diri ayahnya.


Dipihak Farrand, ia juga bingung. Sama seperti halnya Madhiaz yang kaget


mendapat berita seperti itu. Ayahnya sama sekali tak memberitahunya tentang hal


ini. Tidak mungkin juga ia sekarang menelpon ayahnya dan memberi tahu tentang


hal ini, bisa-bisa ayahnya datang tanpa persiapan dan bisa diketahui banyak


orang tentang idenditasnya. Tidak! Tentunya ia tak akan membiarkan hal itu


terjadi. Banyak spekulasi tentang berita kemunculan s15 itu, namun ia


belum bisa menyimpulkan apa-apa sebelum melihat secara langsung siapa yang


datang. Jika itu ayahnya, ia pasti akan langsung mengenali postur tubuh pria


itu.


Lain dengan Madhiaz, Lingga, dan Farrand. Nadeen hanya bisa menunggu dengan


perasaan yang campur aduk. Ia bingung. Ketiga orang disampingnya itu hanya


berdiam diri seperti terlarut dalam fikirannya masing-masing. Ia tak tau apa


yang dari masing-masing mereka fikirkan. Tapi mungkinkah disini hanya dirinya


yang tak tau apa-apa tentang kemunculan s15 yang kata orang-orang kehadirannya


selalu ditunggu-tunggu itu? Duh, kemana ia selama ini hingga orang yang begitu


terkenal beginipun ia tak tau apa-apa?


Brumm... brummmm....


Suara deru mobil mulai mendekat. Mereka bersiaga, terutama untuk trio penasaran


Farrand-Lingga-Madhiaz. Jantung mereka berdegup semakin kencang. Sesekali Lingga


menelan ludah karena kegugupannya. Fyuhhhh.... tak tau saja dia jika dua orang


disampingnya juga melakukan hal yang sama dengannya.


Ckiitttttt...


Mobil itu telah datang. Mereka bertiga meneliti dengan baik mobil yang berhenti


ditengah jalan dan orang-orang mulai mendekatinya. Untung saja jalanan bukit sedang


lenggang. Jadi mobil itu bisa aman-aman saja tanpa mengganggu jalannya lalu


lintas.


Farrand akui jika mobil itu dibuat semirif mungkin dengan mobil ayahnya.


Tapi jujur, itu bukan plat nomornya. Dua mobil bisa dibuat dengan tampilan dan


gaya semirif mungkin, tapi tidak dengan plat nomornya. Meskipun plat nomor bisa


dimanipulasi, tentunya hal itu akan berdampak pada jalur hokum ditempat ini. Ia


ingat dengan jelas detail mobil yang selalu ia dan ayahnya kendarai itu. Baik


dari segi fisik maupun cacat cela sekecil apapun itu.


Tanpa sadar tubuhnya bergerak menuju mobil itu. Orang-orang disekitarnya


menatapnya heran. Bagaimana bisa seorang wanita muda berambut panjang dikepang


longgar berlari begitu saja menuju mobil itu? Apakah ada suatu hubungan di


antara keduanya? Tentunya jika dilihat sekilas, tampilan Farrand sama sekali


tak bisa meyakinkan semua orang. Bagaimana terkenalnya mobil dan pengendaranya


yang misterius itu, juga penampilan Farrand yang tak terlihat seperti wanita


yang berkecimpung di dunia balap malam.


Madhiaz dan Lingga yang baru pulih dari keterkejutannya pun langsung


menyusul Farrand. Ia juga penasaran. Penasaran tentang seseorang dibalik


kemudinya. Apakah benar pengemudinya memang orang itu? Atau orang lain yang dengan isengnya ingin


numpang terkenal juga?


Cklek.....


Pintu mobil itu terbuka. Farrand yang telah hampir sampai pun menghentikan


langkahnya. Begitu pula dengan Madhiaz dan Lingga. Mereka berdua berhenti tepat


dibelakang Farrand.


Seperti gerakan slow motion, mereka mengamati setiap inchi tubuh


pengemudinya. Dengan perlahan orang itu telah keluar sepenuhnya diikuti seorang


perempuan berambut hitam pendek yang keluar dari pintu sebelah. Farrand


mengernyit. Itu bukan postur tubuh ayahnya. Postur itu lebih kurus dan sedikit


lebih pendek dari postur ayahnya. Sekarang ia benar-benar yakin jika pengendara


ini bukanlah ayahnya. Apalagi setelah melihat mereka –orang itu dan wanitanya-bersama,


huh..... ayahnya sama sekali tak pernah menggandeng perempuan dengan gaya seperti


itu, terlalu intim dan menurutnya menjiikkan untuk ukuran konsumsi publik. Dan


setelah ia telah ia tau jika itu bukan ayahnya, ia berbalik. Menghampiri Madhiaz


dan membisikkan sesuatu padanya. Madhiaz mengangguk, lalu mengikuti Farrand


kembali menuju mobilnya.


Sedangkan Lingga, ia langsung menyerobot dan berlari kearah pengemudi itu

__ADS_1


setelah melihat Farrand dan Madhiaz pergi. Ia ingin benar-benar memastikannya,


apakah benar orang itu adalah orang yang selama ini ia cari atau bukan. Ia


ingin balapan dengannya dan mendeklarasikan kemenangan untuk dirinya.


"Ada apa, anak muda! Apakah kau ada perlu denganku?" Sapa pria berjubah itu yang


diyakini oleh Lingga adalah pria yang sama dengan pria yang pernah ia temui


dijalanan kota Halu waktu itu.


"Aku ingin balapan denganmu. Jika aku menang, kuambil mobilmu."


Tantang Lingga.


"Ho..... aku baru datang dan sekarang sudah ada yang menantangku?


Baiklah... baiklah... kuterima tantanganmu." Lingga seakan mau muntah.


Sungguh!! Pria itu terlihat sangat menjijikkan dan sama sekali tak ada


mirip-mirpnya dengan pria yang ia temui beberapa tahun yang lalu. Dilihatnya


tangan pria itu bermain nakal di area sensitif wanita yang dibawanya, dan


bukannya mencegah, wanita itu hanya bisa terkekeh geli.


"baiklah! Ayo kita sama-sama mengambil start." Lingga langsung


melesat mengambil mobilnya dan dengan jantung yang berdebar dan tangan gemetar.


Secepatnya ia mengambil posisi start disamping s15 itu. Ia tak ingin kehilangan


lagi seperti pertemuan mereka yang lalu.


Farrand yang melihat gelagat Lingga pun segera menyusulnya. Firasatnya tidak


enak. Entah apa yang akan terjadi setelah ini. Namun hatinya mengatakan jika ia


harus mengikuti mereka. Segera ia masuk kedalam mobil Madhiaz beserta Madhiaz.


Ia memutuskan jika dirinya yang menyetir kali ini. Dan sebelum melajukan


mobilnya, ia berkata pada Nadeen untuk mengikuti mereka dan membawa serta


Madhiaz.


"5....." seseorang maju dan mulai menghitung mundur. "4...


3.... 2...." suara deru mesin terdengar semakin liar.


"1.....go....." Lingga langsung menginjak pedal gasnya dalam-dalam.


Tak peduli lagi akan hal apapun. Ia bahkan tak ingat jika ia punya navigator, dan ia tinggalkan begitu saja. Sudahlah, ia kini tengah kehilangan separuh


akal warasnya dan ia tinggalkan di tepi jalan tadi.


Sementara itu, pengemudi s15 itu terbahak-bahak dan mengemudikan mobilnya berada


tepat dibelakang Lingga. Entah apa yang sedang ia rencanakan. Farrand yang


melihat hal itu dari mobil yang ditumpanginya  hanya bisa menggelengkan kepala. Ia


menyayangkan sikap Lingga yang terselimuti kabut emosi sekarang ini. Dan ia


hanya bisa berdoa semoga Lingga tak apa-apa.


"Shi-kun. Ada yang tak beres disini. Kuharap kita nanti cepat


bertindak jika ada hal yang tak diinginkan terjadi."


serius seperti ini. Setaunya, firasat yang dikatakan Farrand dalam keadaan


serius adalah hal yang akan terjadi. Belum pernah ia jumpai firasat Farrand


meleset.


Lingga telah melajukan kendaraanya agak jauh di depan pengendara s15 itu.


Matanya sesekali melirik spion untuk melihat posisinya. Saat mereka melewati


tikungan, pengendara itu menyusulnya dengan cepat. Jantung Lingga berdebar


semakin keras. Ia gugup. Keringat bahkan telah mengalir di kedua telapak


tangannya hingga membuat tangannya yang mencengkram steer menjadi basah.


Brakkk.......


Sedetik kemudian Lingga membulatkan matanya. Mobil yang ia tumpangi terasa


melayang dan terbalik begitu saja. Ia baru sadar, pengemudi itu telah


menabraknya dengan keras ditikungan menurun hingga menyebabkan mobilnya loncat


dan melayang hingga jalan dibawahnya. Beruntung airbag mobilnya


berfungsi dengan benar hingga ia masih memiliki kesadaran hingga saat ini.


sebisa mungkin ia berusaha keluar dari mobilnya yang bisa meledak kapan saja.


Dan ia tak ingin hidupnya berakhir sampai disini. Tidak! Setidaknya jangan


berakhir dulu dalam waktu dekat ini karena masih banyak yang mesti ia lakukan


di waktu depan. Dan salah satunya adalah memiliki Farrand. Eh?


Nafas Farrand tercekat melihat pemandangan didepannya. Ia tak menyangka Lingga


mengalami hal itu. Dengan cepat ia menginjak pedal gas lebih dalam dan berusaha


menormalkan detak jantungnya yang kian menggebu. Ia tak boleh dikuasai emosi.


Jika emosi menguasainya, habislah ia.


"Shi-kun. Bantu Lingga keluar dan setelah itu menumpanglah di


mobil Nadeen. Bawa Lingga kerumah sakit secepat yang kau bisa. Terlalu lama


jika kita menunggu ambulan. Ambil kemudi. Biarkan kau yang menyetir dan Nadeen


yang menjaga Lingga. Aku akan mengejar pengendara itu. Bagaimanapun juga nama


ayah dipertaruhkan disini." Tatapan Farrand masih tajam, dan sedetikpun ia


tak menoleh kearah Madhiaz saat berbicara. Madhiaz hanya bisa mengangguk


mengiyakan. Lidahnya terlalu kelu untuk menyuarakan pendapatnya dan yang bisa


ia lakukan hanya menuruti apa kata Farrand.


Begitu mereka sampai ditempat Lingga, Madhiaz langsung melesat keluar dan menyelamatkan


Lingga. Agak susah mengeluarkannya. Ia harus bekerja ektra untuk membuka pintu

__ADS_1


mobil dan mengeluarkan Lingga dari sana. Beruntung saja Lingga tidak menutup


kaca jendela secara penuh.


"Kau masih sadar?" Madhiaz menepuk pelan pipi Lingga untuk


memastikan kesadaran pria itu. Lingga mengangguk lemah. Kemudian Madhiaz


bergegas mengeluarkan dan segera memapahnya. Beruntung tak ada kebocoran yang


berarti. Jadi mereka bisa merasa sedikit tenang karena setidaknya mobilnya tak


akan terbakar.


Sambil memapah Lingga, sebelah tangan Madhiaz berusaha menelpon mobil derek


untuk mengangkut mobil Lingga. Ia tak ingin mobil Lingga diangkut oleh polisi


jika tak di ambil dengan segera. Setelah Nadeen sampai, Madhiaz mengambil alih


kemudi seperti perintah Farrand kepadanya. Sedangkan Nadeen duduk dibelakang


dan Lingga duduk disamping Madhiaz.


Farrand masih mengejar mobil s15 di depannya. Matanya masih fokus dan ia


dilanda kekesalan setengah mati. Pengemudi itu seperti mempermainkannya.


Menarik ulur dirinya, menghilang dengan cepat ditikungan dan melambat dijalanan


lurus setelahnya. Syaland! Ia tak bisa lebih sabar lagi kali ini. Ia harus bisa


mengejarnya dan mendapatkannya bagaimanapun caranya. Kemudian menanyakan


mengapa ia melakukan itu. Citra ayahnya dipertaruhkan disini, dan ia tak mau


citra ayahnya menjadi buruk. Sudah cukup masalah yang timbul selama ini, dan ia


tak ingin menambahnya lagi meski masalahnya tak berhubungan langsung dengannya.


Ketika tiba di tikungan tajam kekiri, Farrand sedikit menambah laju


mobilnya. Ia harus bisa mengejar dan menghentikannya. Namun naas, sebelum ia


keluar tikungan kekiri, ia melihat mobil didepannya itu mengerem. Secara reflek


ia menginjak pedal rem terlalu dalam hingga ia kehilangan keseimbangannya.


Akibatnya, ia langsung membanting stir kekanan untuk menghindari tabrakan,


membuat mobilnya berputar dan menabrak pembatas jalan hingga dua kali. Menabrak


dengan bagian depan kemudian bagian belakang saat mundur. Bayangan hitam mulai


menghampiri Farrand. Ia telah kehilangan kesadarannya dengan kondisi darah yang


mengalir di dahinya karena membentur kemudi.


Madhiaz kaget setengah mati saat melihat kondisi mobilnya yang berantakan.


Ia panik. Ia menghawatirkan keselamatan Farrand yang sedang berada di dalam


mobilnya. Ia parkirkan mobil Nadeen yang dikendarainya kesamping mobil Farrand.


Nadeen yang melihatnya memekik hingga membuat Lingga berjengit kaget. Lingga


ingin keluar dan memastikan Farrand baik-baik saja dengan mata kepalanya


sendiri. Tapi niat itu harus terhalang karena kondisinya saat ini. Kaki kirinya


terasa sulit untuk digerakkan. Dan lagipula, Madhiaz sudah lebih dahulu berlari


kesana. Alhasil, ia hanya bisa duduk pasrah saja ditempatnya dan berdoa agar


tak terjadi sesuatu yang serius pada Farrand.


Madhiaz melihat kondisi Farrand lewat kaca jendela mobilnya. Ia mencoba


membuka pintu dan hasilnya nihil. Pintunya terkunci dari dalam. Ia mengumpat


pelan, setelah itu ia mencoba membuka pintu dibagian penumpang. Dan ketika ia


mendapati pintunya tidak terkunci, ia mendesah lega. Untung saja kemarin ia tak


sempat memperbaiki kuncian pintu penumpang di mobilnya hingga tak bisa mengunci


secara otomatis. Ia masuk dan membuka kunci pintu sebelah Farrand. Ia harus


bertindak cepat. Farrand dalam kondisi buruk akibat tak sadarkan diri dan


secepatnya ia harus membawa Farrand menuju rumah sakit.


Setelah membuka kunci pintunya, Madhiaz kembali lagi ke mobil Nadeen. Ia


membuka pintu mobil dibagian penumpang dan memaksa Lingga keluar dengan cara


memapahnya. Hatinya kalut saat ini. Namun ia harus tetap mempertahankan


ketenangan hatinya agar tidak membuat situasi semakin kacau.


"Maaf Lingga. Kau harus keluar sebentar." Ujar Madhiaz. Lingga


hanya mengangguk. Tak banyak hal yang bisa ia perbuat saat ini. "Dan kau, Nadeen.


Pindahlah ke depan dan kemudikan mobil. Cepatlah." Tambah Madhiaz. Dan


seperti Lingga, Nadeen hanya bisa mengangguk patuh dan melaksanakan perintah Madhiaz.


Nadeen telah keluar dan menempati kursi kemudi, Lingga pun telah dikembalikan ketempatnya oleh Madhiaz. Nadeen langsung menyalakan mobil dan melajukannya


meuju rumah sakit terdekat. Dan setelahnya, Shika bergegas kembali menuju Farrand,


membuka pintunya dan menggendongnya menuju kekursi penumpang. dan setelahnya ia


berdoa semoga mobilnya masih bisa dikendarai.


Madhiaz mendesah lega. Meski sedikit, dadanya terasa sedikit lega saat tau


mobilnya masih bisa dikendarai setelah menabrak pembatas jalan. Ia harus


bergegas. Lagi-lagi ia diharuskan untuk bergegas karena ia tak ingin Farrand


terlambat mendapat penanganan.


"Kumohon. Bertahanlah Farrand. Aku tak ingin kau kenapa-napa.


Bertahanlah! Sebentar lagi kita akan sampai." Monolog Shika. Di usapnya


tangan kanan Farrand dengan menggunakan tangan kirinya yang bebas. Berharap ia


bisa menyalurkan tenaga ke Farrand yang sedang tak sadarkan diri itu. Entah


kenapa, waktu terasa berjalan sangat lambat dan jalan yang ditempuhnya terasa


lebih panjang dari biasanya.

__ADS_1


'Apa yang akan kukatakan pada paman setelah ini' batin Shika.


***tbc***


__ADS_2