
Madhiaz bergerak gelisah di tempatnya berdiri. Ia sangat penasaran. Apakah
benar pengendara s15 itu akan muncul? Setaunya paman Arasya tidak
memberitahukan perihal kedatangannya itu. Ia ingin mencoba menanyakan pada Farrand,
akan tetapi wanita itu hanya mampu menjawab dengan gelengan kepala. Ia tak tau
menau tentang hal itu. Ayahnya pun sama sekali tak menyinggungnya saat makan
malam tadi. Dan karena itulah ia ikut Madhiaz untuk melihat siapa yang memberi
pengumuman itu. Tak mungkin rasanya jika orang yang kau kenal dengan baik itu
tak memberitahu apa-apa. Apalagi tentang hal sepenting ini. Hal yang bisa
menyangkut harga diri ayahnya.
Dipihak Farrand, ia juga bingung. Sama seperti halnya Madhiaz yang kaget
mendapat berita seperti itu. Ayahnya sama sekali tak memberitahunya tentang hal
ini. Tidak mungkin juga ia sekarang menelpon ayahnya dan memberi tahu tentang
hal ini, bisa-bisa ayahnya datang tanpa persiapan dan bisa diketahui banyak
orang tentang idenditasnya. Tidak! Tentunya ia tak akan membiarkan hal itu
terjadi. Banyak spekulasi tentang berita kemunculan s15 itu, namun ia
belum bisa menyimpulkan apa-apa sebelum melihat secara langsung siapa yang
datang. Jika itu ayahnya, ia pasti akan langsung mengenali postur tubuh pria
itu.
Lain dengan Madhiaz, Lingga, dan Farrand. Nadeen hanya bisa menunggu dengan
perasaan yang campur aduk. Ia bingung. Ketiga orang disampingnya itu hanya
berdiam diri seperti terlarut dalam fikirannya masing-masing. Ia tak tau apa
yang dari masing-masing mereka fikirkan. Tapi mungkinkah disini hanya dirinya
yang tak tau apa-apa tentang kemunculan s15 yang kata orang-orang kehadirannya
selalu ditunggu-tunggu itu? Duh, kemana ia selama ini hingga orang yang begitu
terkenal beginipun ia tak tau apa-apa?
Brumm... brummmm....
Suara deru mobil mulai mendekat. Mereka bersiaga, terutama untuk trio penasaran
Farrand-Lingga-Madhiaz. Jantung mereka berdegup semakin kencang. Sesekali Lingga
menelan ludah karena kegugupannya. Fyuhhhh.... tak tau saja dia jika dua orang
disampingnya juga melakukan hal yang sama dengannya.
Ckiitttttt...
Mobil itu telah datang. Mereka bertiga meneliti dengan baik mobil yang berhenti
ditengah jalan dan orang-orang mulai mendekatinya. Untung saja jalanan bukit sedang
lenggang. Jadi mobil itu bisa aman-aman saja tanpa mengganggu jalannya lalu
lintas.
Farrand akui jika mobil itu dibuat semirif mungkin dengan mobil ayahnya.
Tapi jujur, itu bukan plat nomornya. Dua mobil bisa dibuat dengan tampilan dan
gaya semirif mungkin, tapi tidak dengan plat nomornya. Meskipun plat nomor bisa
dimanipulasi, tentunya hal itu akan berdampak pada jalur hokum ditempat ini. Ia
ingat dengan jelas detail mobil yang selalu ia dan ayahnya kendarai itu. Baik
dari segi fisik maupun cacat cela sekecil apapun itu.
Tanpa sadar tubuhnya bergerak menuju mobil itu. Orang-orang disekitarnya
menatapnya heran. Bagaimana bisa seorang wanita muda berambut panjang dikepang
longgar berlari begitu saja menuju mobil itu? Apakah ada suatu hubungan di
antara keduanya? Tentunya jika dilihat sekilas, tampilan Farrand sama sekali
tak bisa meyakinkan semua orang. Bagaimana terkenalnya mobil dan pengendaranya
yang misterius itu, juga penampilan Farrand yang tak terlihat seperti wanita
yang berkecimpung di dunia balap malam.
Madhiaz dan Lingga yang baru pulih dari keterkejutannya pun langsung
menyusul Farrand. Ia juga penasaran. Penasaran tentang seseorang dibalik
kemudinya. Apakah benar pengemudinya memang orang itu? Atau orang lain yang dengan isengnya ingin
numpang terkenal juga?
Cklek.....
Pintu mobil itu terbuka. Farrand yang telah hampir sampai pun menghentikan
langkahnya. Begitu pula dengan Madhiaz dan Lingga. Mereka berdua berhenti tepat
dibelakang Farrand.
Seperti gerakan slow motion, mereka mengamati setiap inchi tubuh
pengemudinya. Dengan perlahan orang itu telah keluar sepenuhnya diikuti seorang
perempuan berambut hitam pendek yang keluar dari pintu sebelah. Farrand
mengernyit. Itu bukan postur tubuh ayahnya. Postur itu lebih kurus dan sedikit
lebih pendek dari postur ayahnya. Sekarang ia benar-benar yakin jika pengendara
ini bukanlah ayahnya. Apalagi setelah melihat mereka –orang itu dan wanitanya-bersama,
huh..... ayahnya sama sekali tak pernah menggandeng perempuan dengan gaya seperti
itu, terlalu intim dan menurutnya menjiikkan untuk ukuran konsumsi publik. Dan
setelah ia telah ia tau jika itu bukan ayahnya, ia berbalik. Menghampiri Madhiaz
dan membisikkan sesuatu padanya. Madhiaz mengangguk, lalu mengikuti Farrand
kembali menuju mobilnya.
Sedangkan Lingga, ia langsung menyerobot dan berlari kearah pengemudi itu
__ADS_1
setelah melihat Farrand dan Madhiaz pergi. Ia ingin benar-benar memastikannya,
apakah benar orang itu adalah orang yang selama ini ia cari atau bukan. Ia
ingin balapan dengannya dan mendeklarasikan kemenangan untuk dirinya.
"Ada apa, anak muda! Apakah kau ada perlu denganku?" Sapa pria berjubah itu yang
diyakini oleh Lingga adalah pria yang sama dengan pria yang pernah ia temui
dijalanan kota Halu waktu itu.
"Aku ingin balapan denganmu. Jika aku menang, kuambil mobilmu."
Tantang Lingga.
"Ho..... aku baru datang dan sekarang sudah ada yang menantangku?
Baiklah... baiklah... kuterima tantanganmu." Lingga seakan mau muntah.
Sungguh!! Pria itu terlihat sangat menjijikkan dan sama sekali tak ada
mirip-mirpnya dengan pria yang ia temui beberapa tahun yang lalu. Dilihatnya
tangan pria itu bermain nakal di area sensitif wanita yang dibawanya, dan
bukannya mencegah, wanita itu hanya bisa terkekeh geli.
"baiklah! Ayo kita sama-sama mengambil start." Lingga langsung
melesat mengambil mobilnya dan dengan jantung yang berdebar dan tangan gemetar.
Secepatnya ia mengambil posisi start disamping s15 itu. Ia tak ingin kehilangan
lagi seperti pertemuan mereka yang lalu.
Farrand yang melihat gelagat Lingga pun segera menyusulnya. Firasatnya tidak
enak. Entah apa yang akan terjadi setelah ini. Namun hatinya mengatakan jika ia
harus mengikuti mereka. Segera ia masuk kedalam mobil Madhiaz beserta Madhiaz.
Ia memutuskan jika dirinya yang menyetir kali ini. Dan sebelum melajukan
mobilnya, ia berkata pada Nadeen untuk mengikuti mereka dan membawa serta
Madhiaz.
"5....." seseorang maju dan mulai menghitung mundur. "4...
3.... 2...." suara deru mesin terdengar semakin liar.
"1.....go....." Lingga langsung menginjak pedal gasnya dalam-dalam.
Tak peduli lagi akan hal apapun. Ia bahkan tak ingat jika ia punya navigator, dan ia tinggalkan begitu saja. Sudahlah, ia kini tengah kehilangan separuh
akal warasnya dan ia tinggalkan di tepi jalan tadi.
Sementara itu, pengemudi s15 itu terbahak-bahak dan mengemudikan mobilnya berada
tepat dibelakang Lingga. Entah apa yang sedang ia rencanakan. Farrand yang
melihat hal itu dari mobil yang ditumpanginya hanya bisa menggelengkan kepala. Ia
menyayangkan sikap Lingga yang terselimuti kabut emosi sekarang ini. Dan ia
hanya bisa berdoa semoga Lingga tak apa-apa.
"Shi-kun. Ada yang tak beres disini. Kuharap kita nanti cepat
bertindak jika ada hal yang tak diinginkan terjadi."
serius seperti ini. Setaunya, firasat yang dikatakan Farrand dalam keadaan
serius adalah hal yang akan terjadi. Belum pernah ia jumpai firasat Farrand
meleset.
Lingga telah melajukan kendaraanya agak jauh di depan pengendara s15 itu.
Matanya sesekali melirik spion untuk melihat posisinya. Saat mereka melewati
tikungan, pengendara itu menyusulnya dengan cepat. Jantung Lingga berdebar
semakin keras. Ia gugup. Keringat bahkan telah mengalir di kedua telapak
tangannya hingga membuat tangannya yang mencengkram steer menjadi basah.
Brakkk.......
Sedetik kemudian Lingga membulatkan matanya. Mobil yang ia tumpangi terasa
melayang dan terbalik begitu saja. Ia baru sadar, pengemudi itu telah
menabraknya dengan keras ditikungan menurun hingga menyebabkan mobilnya loncat
dan melayang hingga jalan dibawahnya. Beruntung airbag mobilnya
berfungsi dengan benar hingga ia masih memiliki kesadaran hingga saat ini.
sebisa mungkin ia berusaha keluar dari mobilnya yang bisa meledak kapan saja.
Dan ia tak ingin hidupnya berakhir sampai disini. Tidak! Setidaknya jangan
berakhir dulu dalam waktu dekat ini karena masih banyak yang mesti ia lakukan
di waktu depan. Dan salah satunya adalah memiliki Farrand. Eh?
Nafas Farrand tercekat melihat pemandangan didepannya. Ia tak menyangka Lingga
mengalami hal itu. Dengan cepat ia menginjak pedal gas lebih dalam dan berusaha
menormalkan detak jantungnya yang kian menggebu. Ia tak boleh dikuasai emosi.
Jika emosi menguasainya, habislah ia.
"Shi-kun. Bantu Lingga keluar dan setelah itu menumpanglah di
mobil Nadeen. Bawa Lingga kerumah sakit secepat yang kau bisa. Terlalu lama
jika kita menunggu ambulan. Ambil kemudi. Biarkan kau yang menyetir dan Nadeen
yang menjaga Lingga. Aku akan mengejar pengendara itu. Bagaimanapun juga nama
ayah dipertaruhkan disini." Tatapan Farrand masih tajam, dan sedetikpun ia
tak menoleh kearah Madhiaz saat berbicara. Madhiaz hanya bisa mengangguk
mengiyakan. Lidahnya terlalu kelu untuk menyuarakan pendapatnya dan yang bisa
ia lakukan hanya menuruti apa kata Farrand.
Begitu mereka sampai ditempat Lingga, Madhiaz langsung melesat keluar dan menyelamatkan
Lingga. Agak susah mengeluarkannya. Ia harus bekerja ektra untuk membuka pintu
__ADS_1
mobil dan mengeluarkan Lingga dari sana. Beruntung saja Lingga tidak menutup
kaca jendela secara penuh.
"Kau masih sadar?" Madhiaz menepuk pelan pipi Lingga untuk
memastikan kesadaran pria itu. Lingga mengangguk lemah. Kemudian Madhiaz
bergegas mengeluarkan dan segera memapahnya. Beruntung tak ada kebocoran yang
berarti. Jadi mereka bisa merasa sedikit tenang karena setidaknya mobilnya tak
akan terbakar.
Sambil memapah Lingga, sebelah tangan Madhiaz berusaha menelpon mobil derek
untuk mengangkut mobil Lingga. Ia tak ingin mobil Lingga diangkut oleh polisi
jika tak di ambil dengan segera. Setelah Nadeen sampai, Madhiaz mengambil alih
kemudi seperti perintah Farrand kepadanya. Sedangkan Nadeen duduk dibelakang
dan Lingga duduk disamping Madhiaz.
Farrand masih mengejar mobil s15 di depannya. Matanya masih fokus dan ia
dilanda kekesalan setengah mati. Pengemudi itu seperti mempermainkannya.
Menarik ulur dirinya, menghilang dengan cepat ditikungan dan melambat dijalanan
lurus setelahnya. Syaland! Ia tak bisa lebih sabar lagi kali ini. Ia harus bisa
mengejarnya dan mendapatkannya bagaimanapun caranya. Kemudian menanyakan
mengapa ia melakukan itu. Citra ayahnya dipertaruhkan disini, dan ia tak mau
citra ayahnya menjadi buruk. Sudah cukup masalah yang timbul selama ini, dan ia
tak ingin menambahnya lagi meski masalahnya tak berhubungan langsung dengannya.
Ketika tiba di tikungan tajam kekiri, Farrand sedikit menambah laju
mobilnya. Ia harus bisa mengejar dan menghentikannya. Namun naas, sebelum ia
keluar tikungan kekiri, ia melihat mobil didepannya itu mengerem. Secara reflek
ia menginjak pedal rem terlalu dalam hingga ia kehilangan keseimbangannya.
Akibatnya, ia langsung membanting stir kekanan untuk menghindari tabrakan,
membuat mobilnya berputar dan menabrak pembatas jalan hingga dua kali. Menabrak
dengan bagian depan kemudian bagian belakang saat mundur. Bayangan hitam mulai
menghampiri Farrand. Ia telah kehilangan kesadarannya dengan kondisi darah yang
mengalir di dahinya karena membentur kemudi.
Madhiaz kaget setengah mati saat melihat kondisi mobilnya yang berantakan.
Ia panik. Ia menghawatirkan keselamatan Farrand yang sedang berada di dalam
mobilnya. Ia parkirkan mobil Nadeen yang dikendarainya kesamping mobil Farrand.
Nadeen yang melihatnya memekik hingga membuat Lingga berjengit kaget. Lingga
ingin keluar dan memastikan Farrand baik-baik saja dengan mata kepalanya
sendiri. Tapi niat itu harus terhalang karena kondisinya saat ini. Kaki kirinya
terasa sulit untuk digerakkan. Dan lagipula, Madhiaz sudah lebih dahulu berlari
kesana. Alhasil, ia hanya bisa duduk pasrah saja ditempatnya dan berdoa agar
tak terjadi sesuatu yang serius pada Farrand.
Madhiaz melihat kondisi Farrand lewat kaca jendela mobilnya. Ia mencoba
membuka pintu dan hasilnya nihil. Pintunya terkunci dari dalam. Ia mengumpat
pelan, setelah itu ia mencoba membuka pintu dibagian penumpang. Dan ketika ia
mendapati pintunya tidak terkunci, ia mendesah lega. Untung saja kemarin ia tak
sempat memperbaiki kuncian pintu penumpang di mobilnya hingga tak bisa mengunci
secara otomatis. Ia masuk dan membuka kunci pintu sebelah Farrand. Ia harus
bertindak cepat. Farrand dalam kondisi buruk akibat tak sadarkan diri dan
secepatnya ia harus membawa Farrand menuju rumah sakit.
Setelah membuka kunci pintunya, Madhiaz kembali lagi ke mobil Nadeen. Ia
membuka pintu mobil dibagian penumpang dan memaksa Lingga keluar dengan cara
memapahnya. Hatinya kalut saat ini. Namun ia harus tetap mempertahankan
ketenangan hatinya agar tidak membuat situasi semakin kacau.
"Maaf Lingga. Kau harus keluar sebentar." Ujar Madhiaz. Lingga
hanya mengangguk. Tak banyak hal yang bisa ia perbuat saat ini. "Dan kau, Nadeen.
Pindahlah ke depan dan kemudikan mobil. Cepatlah." Tambah Madhiaz. Dan
seperti Lingga, Nadeen hanya bisa mengangguk patuh dan melaksanakan perintah Madhiaz.
Nadeen telah keluar dan menempati kursi kemudi, Lingga pun telah dikembalikan ketempatnya oleh Madhiaz. Nadeen langsung menyalakan mobil dan melajukannya
meuju rumah sakit terdekat. Dan setelahnya, Shika bergegas kembali menuju Farrand,
membuka pintunya dan menggendongnya menuju kekursi penumpang. dan setelahnya ia
berdoa semoga mobilnya masih bisa dikendarai.
Madhiaz mendesah lega. Meski sedikit, dadanya terasa sedikit lega saat tau
mobilnya masih bisa dikendarai setelah menabrak pembatas jalan. Ia harus
bergegas. Lagi-lagi ia diharuskan untuk bergegas karena ia tak ingin Farrand
terlambat mendapat penanganan.
"Kumohon. Bertahanlah Farrand. Aku tak ingin kau kenapa-napa.
Bertahanlah! Sebentar lagi kita akan sampai." Monolog Shika. Di usapnya
tangan kanan Farrand dengan menggunakan tangan kirinya yang bebas. Berharap ia
bisa menyalurkan tenaga ke Farrand yang sedang tak sadarkan diri itu. Entah
kenapa, waktu terasa berjalan sangat lambat dan jalan yang ditempuhnya terasa
lebih panjang dari biasanya.
__ADS_1
'Apa yang akan kukatakan pada paman setelah ini' batin Shika.
***tbc***