
Lingga menghela nafas dan membuangnya kasar. Ia gugup. Melihat kondisi saat
ini membuatnya susah dan gelisah. Ludah yang ia telan pun terasa cekat
ditenggorokan dan rasanya itu seperti ia tak minum selama seminggu. Ah,
memangnya dia pernah tak minum hingga seminggu lamanya? Konyol.
Ia melirik kesamping dimana Farrand
berada. Ia menengguk ludah lagi. Melihat Farrand dengan hem putih lengan pendeknya
mau tak mau membuat jantungnya berpacu lebih cepat.
'Shit!' Umpatnya. Hei... dia itu remaja yang mulai beranjak
dewasa. Melihat hal seperti itu juga membuat sedikit banyak membuat jiwanya
berguncang.
"Tidak kah kau merasa
hawanya semakin panas?" Farrand bergerak gelisah di tempatnya duduk.
Keringat mengalir di sepanjang pelipisnya. Dan Lingga yang melihat hal itu
semakin merasa terguncang. Menyesal ia tak melarang Farrand memakai pakaian
terkutuk itu.
"Apa perlu kunyalakan AC
nya?"
Farrand menggeleng,
"Jangan. Buka saja
jendelanya. Aku lebih nyaman membuka jendela jika mobil masih belum
berjalan."
"Ok." Seperti kerbau
yang dicolok hidungnya, begitulah keadaan Lingga saat ini. Ia hanya bisa
menurut dan menyanggupi peekataan Farrand. Ia yang masih belum bisa meredam
gejolak hatinya hanya bisa memilih mengiyakan saja.
"Sepertinya akan ada hujan.
Kau sudah mengganti ban nya bukan?"
"Sudah. Bagaimana kau tau
jika malah ini akan hujan?"
"Hawanya. Tidakkah kau
merasa hawanya mengandung sedikit uap air?"
"Tidak. Memang kau
merasakannya?"
"Ya. Aku merasakannya. Hawa
panas ini terasa menyakitkan. Aku selalu tak suka. Hawa panas yang bisa
membuatku serasa tercekik saja."
"Mengapa tak kau buka saja
bajumu?" Ups.... Lingga merutuki mulut bodohnya. Bagaimana bisa ia
mengatakan untuk membuka baju seorang wanita disampingnya itu dengan nada yang
ringan dan seolah hal itu adalah hal yang lumrah untuk dilakukan?
"Ide bagus."
Gila!!
Lingga mengumpat dan menyumpah
serapah mulut kurang ajarnya itu. Ia bahkan bersiap-siap jika Farrand
melayangkan pukulan dipipinya. Tapi reaksi yang ditunjukkan Farrand sangat
berbeda dari bayangannya. Ia melirik keadaan Farrand dari ujung matanya. Ia tak
ingin melihat langsung dan mendapat cap mesum. Terlihat Farrand yang mulai
membuka kancing bajunya satu-persatu, seperti gerakan slow motion, dan
hal itu cukup membuat jakunnya naik turun. Namun setelah turun hingga ke
kancing ketiga,matanya tertutup. Ia mendesah lega kala mendapati ada sebuah
kaos singlet berwarna putih menyembul dari sana. Ia fikir, ia akan mendapati
sepasang bra manis dengan renda-renda berwarna putih yang menggoda. Ah, sial! Lagi-lagi
Lingga merutuki pikirannya yang sealu melayang kemana- mana jika itu menyangkut
Farrand.
Setelah melepas kancingnya, Farrand
tak langsung melepas hemnya. Ia biarkan begitu saja dan melirik Lingga yang
masih mencengkram erat kemudinya. Pria itu terlihat begitu tenang dan menatap
lurus kedepandan seolah tak mempedulikan kehadirannya disini. Padahal jika
ditelisik lebih jauh lagi, Lingga akan terlihat mengeluarkan keringat berlebih
dan sedikit gugup juga tegang. Dan mungkin jika ia mendengar umpatan Lingga
tadi tentang dirinya, ia akan mengubah pandangannya terhadap pria disebelahnya
itu.
Balapan masih akan dimulai 20
menit lagi. Lumayan banyak yang datang. Di samping kanannya sudah ada Madhiaz
dengan Mazdanya. Dirinya dan Farrand dengan GT-R Lingga, dan dibelakangnya ada Evan
dengan s14 nya. Zennie dengan Mazda rx-8 nya, dan yang paling belakang ada Nadeen
dengan sil80nya. Farrand menengok kebelakang dan melihat para pengendara mobil
itu. Matanya terpaku pada sosok disamping Zennie. Dion. Kenapa pemuda itu
disini dan duduk disebelah Zennie? Apa sekarang setelah berhenti menjadi
pengendara, ia banting setir menjadi seperti dirinya? Seorang navigator?
Melihat Farrand yang terpekur
sambil menoleh kebelakang membuat Lingga lumayan penasaran. Ada hal apa yang
mampu membuat wanita itu menoleh hingga cukup lama? Dan begitu diikutinya arah
pandang Farrand, ia mendecak. 'Pantas saja'. Fikirnya. Ia dapati Dion
yang sudah duduk manis disamping Zennie. Pastilah hal itu yang membuat navigatornya termenung dengan tatapan sendu.
"Hei. Kau tak akan
kehilangan konsentrasi dan membuat kita berdua kalah bukan?" Ucapan Lingga
menyadarkan Farrand dari ketermenungannya. Ia tatap manik kelam milik Lingga
dengan tatapan sendu. Hati Lingga mengiba, ingin ia menghibur namun justru
bingung. Ia bukan penghibur yang baik. Bisa-bisa bukan kata-kata penghibur yang
akan dikeluarkannya nanti, tapi malah kata-kata kasar yang menusuk hati hingga
ia semakin melukai perasaan Farrand.
"Tenang saja. Aku memiliki
kendali emosi yang baik saat didalam mobil. Kau tak perlu khawatir aku
kehilangan konsentrasi. Sekarang ini hal yang perlu kau khawatirkan adalah
cuaca yang bisa tiba-tiba memburuk." Ucapan Farrand yang tenang membuat Lingga
yakin. Ia tak salah memilih seorang navigator.
"Kau pernah mengendara
dijalanan licin akibat hujan?" Tambah Farrand. Lingga menggeleng. Biasanya
ia tak akan ikut balapan dengan kondisi cuaca yang buruk. Ini pertama kalinya.
Dan kali ini ia menghadapinya.
"jika kau takut, aku bisa
menggantikanmu. Tenang saja."
"Jangan bercanda, Farrand.
Kau ingin kita mati karena terperosok kejurang, huh?"
Farrand tak menjawab, ia hanya
bisa menahan tawanya saat ini. Lingga terlalu meremehkannya. Dan ia tak suka
diremehkan. Tunggu saja. Ia pasti akan balas meremehkan Lingga.
"Kenapa tertawa?" Lingga
mengernyit tak suka. Bagaimana bisa wanita itu tertawa tertahan seperti itu?
Apa kata-kata yang ia ucapkan tadi begitu terdengar lucu dipendengaran wanita
itu?
"Tidak! Maaf ya, maaf. Aku
hanya tak menyangka sebegitu ketakutannya kah kau jika aku yang mengendarai
mobilmu."
"Bagaimana bisa aku tidak
takut jika kau yang akan menggantikanku menyetir, sedangkan aku tak tau kau
bisa atau tidak mengemudikan mobil? Bukankah kau memintaku mengajarimu? Itu
artinya kemampuanmu dibawahku, bukan?" Farrand hanya bisa mengangguk.
Membenarkan kata-kata panjang yang dikeluarkan mulut Lingga.
"Aku ingin menjadi pembalap.
Itulah ambisiku saat ini. Dan akan kulakukan apapun untuk meraihnya."
"Dan sebelum kau melangkah
__ADS_1
meraih ambisimu itu. Pastikan kau punya mobil terlebih dahulu."
"Ya ya ya... aku tau. Jika
kita selalu mengikuti acara balapan dan hadiahnya selalu besar, mungkin tak
sampai setahun aku sudah bisa memiliki mobilku sendiri."
"Dan kau akan berhenti jadi navigatorku?"
"Tentu saja. Aku mungkin
akan memiliki posisi yang sama sepertimu saat ini. Duduk dibelakang kemudi dan
melihat jalanan didepanku."
"Ta.."
"READY?" ucapan Lingga
dan percakapan keduanya terhenti saat ia mendengar seseorang dengan suara
lantang nya mulai memberi aba-aba. Ia harus fokus san mulai menstarter mobilnya. Di ikuti peserta lain.
"5......4......3......2.......1...."
ada jeda sebentar dan "Goooo." Seiring dengan diturunkannya tangan
sang penghitung, para pembalap illegal menginjak pedal gas mobil
mereka dalam-dalam. Kekuatan mobil mereka masih belum tertampakkan. Mereka
mulai berjalan beriringan saat akan memasuki tikungan pertama menaiki puncak.
Kali ini balapan diadakan di gunung Falen, puncak yang lebih tinggi dari bukit Falenca.
Mereka dituntut untuk sebisa mungkin menekan performa mobil mereka
masing-masing. Dan alamlah yang akan menyeleksi siapa diantara mereka yang akan
jadi pemenang sejati.
Sudah 10 menit mereka saling
memacu kendaraan besi yang mereka miliki. Deru mobil terdengar nyaring meski
dari kejauhan. Madhiaz masih memimpin. Di ikuti dengan Evan dan Lingga
setelahnya. Hanya mereka bertiga yang bertarung sengit digaris depan. Sedang
dua lainnya, Zennie dan Nadeen berada di urutan jauh dibelakang.
Crasshhhhhhhhhh.....
Hujan tiba-tiba turun begitu saja tanpa aba-aba. Membuat kendaraan yang sedang
melintasi arena balap mau tak mau mengurangi kecepatannya. Namun berbeda dengan
Evan. Ia malah menambah kecepatannya dijalan yang licin dan berhasil menyalip Madhiaz
diposisi terdepan.
"Ikuti Evan tepat dibelakangnya.
Amati pergerakannya dan kalau kau bisa melihat tekniknya, pakai!" Perintah
Farrand. Lingga hanya mengangguk dan mulai menambah kecepatannya.
"Jangan gugup. Percaya pada
mobilmu dan yakinlah jika kalian bisa." Lanjutnya.
"Kalian?"
"Iya. Kau dan mobilmu, Lingga."
"Bukankah lawanku hanya Evan
saja? Kekuatan mobil kami berbeda. Kekuatan GTR ku jauh diatas s14
miliknya."
Tak... Farrand menggeplak kepala Lingga.
Ia tak habis fikir, seberapa bangganya ia pada mobilnya itu hingga ia melupakan
hal paling penting dalam dunia balap malam ini? Sesuatu bisa saja terjadi, bukan?
"Apa-apaan kau ini? Kau tak
lihat jika kita sedng dalam arena balap? Kau ingin aku menabrak pembatas jalan
tau masuk jurang, huh?" Lingga tak terima. Ia bingung kenapa Farrandnya
itu tiba-tiba memukul kepalanya. Tidak lucu bukan, jika mereka akan masuk
jurang karena sang pengemudi kaget?
"Lingga, dengar!
Jangan terlalu terfokus pada kekuatan mesin mobilmu ini. Kau tak lihat?
Cara mengemudi Evan yang begitu lancar? Dilihat dari belakang sini, cara
mengemudinya seperti sudah terlatih untuk menghadapi cuaca yang buruk."
Lingga terdiam, dan dalam diamnya
ia membenarkan perkataan Farrand. Cara mengemudi Evan memang meningkat jika
dibandingkan dengan balapan dikondisi cuaca yang cerah. Ia akui itu. Terbukti
dengan dirinya yang susah payah mengikuti laju mobil Evan. Padahal jika dalam
kondisi cerah ia dengan mudah melewatinya. Ia heran, apa Evan memiliki
"Hentikan fikiranmu tentang
kekuatan tersembunyi Evan. Aku tau kau memikirkannya, Lingga. Evan hanya sudah
terbiasa mengasah kemampuannya di cuaca buruk seperti ini. Jadi ia tak terlalu
baik dikondisi cerah. Bagaimanapun juga kota Taraka adalah tempat tinggal Evan.
Dan tempat itu setiap harinya selalu hujan."
Decak kagum timbul dihati Lingga.
Ia tak tau jika selain bisa membaca fikirannya, Farrand juga banyak tau tentang
lawannya.
"Hentikan pemikiran koyolmu
itu, Lingga. Aku tau dari tadi kau menggerutu didalam hati dan mengomentari
setiap ucapanku."
"Ehehehehhee... " dan Lingga
hanya bisa terkekeh pelan saat ia tertangkap basah sedang memikirkan banyak hal
oleh Farrand.
"Perhatikanlah detail
sekecil mungkin. Itu bisa membantumu. Kulihat cat mobil Evan agak pudar dan
tingkat kepudarannya berbeda. Bercak pudar dimobil Evan hanya bisa didapat jika
mobil sering terkena hujan. Lagipula Evan bukan beraal dari sini ataupun Halu.
Jadi kusimpulkan ia berasal dari Taraka." Lingga hanya mengangguk. Kagum
atas penjelasan detail sang navigator.
"Evan memiliki keuntungan.
Mobilnya lebih ringan daripada milikmu. GTR memang punya tenaga lebih besar.
Namun bebannya pun juga besar hingga bisa memberi effect yang
lumayan."
"Lalu kau ingin mengatakan
jika kita tak punya kesempatan?"
"Aku tidak akan mengatakan
hal itu. Bagaimanapun juga kita masih memiliki kesempatan. Aku hafal jalur ini.
Jadi akan kupertimbangkan dimana nanti kita bisa menyalipnya. Sebentar lagi
kita sampai dipuncak. Dan saat turunanlah pertarungan kita yang
sebenarnya."
"Pertarungan kita yang
sebenarnya? Apa kau bercanda? Aku bahkan sudah mati-matian mengejarnya dan kau
seakan bilang kita belum bertanding? Kalau begitu aku menyerah saja."
"Cih... menyerah katamu?
Kita sudah berjalan sejauh ini kau akan menyerah? Aku benci kalah. Dan aku juga
benci pecundang. Aku harus menang. Dan jika kau menyerah berjuang bersamaku.
Biarkan aku yang berjuang sendiri."
"Apa maksudmu?"
"Maksudku, jika kau tak
sanggup, biar aku yang saja yang menyetir."
"Apa-apaan kau ini? Aku
tidak akan membiarkan amaterasu kau kemudikan. Tetaplah disana dan beri aku
masukan saja."
"Tadi kau bilang kau tak
sanggup? Masih ada waktu mengejar jika kau ingin bertukar posisi
denganku."
"Dan membiarkan kita
terperosok kejurang? Enak saja."
"Baiklah.. baiklah.. aku
akan memberi aba-aba dan arahan. Tapi berjanjilah untuk tidak banyak protes dan
mengeluh. Jika mengeluh lagi. Kupastikan aku yang akan mengemudi bagaimanapun
caranya."
"Baiklah..."
"Turunan depan adalah
__ADS_1
turunan dengan tikungan pertama. Selanjutnya tikungan beruntun kiri-kanan-kiri.
Tetap pertahankan kecepatan." Kali ini Lingga hanya bisa mengangguk
pasrah. Ia sudah berjanji, dan tidak akan mengingkari.
Lingga memantapkan hatinya untuk
menang, dan ia bertekad akan mengikuti saran dari navigator nya itu.
Susah payah ia mengimbangi kecepatan Evan. Kondisi hujan yang lebat dan jarak
pandang terbatas membuatnya memacu lebih dalam adrenalinnya. Matanya ia
tajamkan untuk melihat kondisi jalan dihadapannya. Jantungnya pun berdetak
lebih kencang. Seolah ikut berpacu dengan tunggangannya itu.
Mereka akan keluar dari tikungan
dan kemudian melewati jalan lurus yang agak panjang. Farrand menyadari sesuatu.
Dan itu bukanlah hal baik.
"Usahakan untuk membuat
mobil mu memakai jalur saluran air yang tertutup. Ban depannya sudah mulai aus.
Kemungkinan kau akan mengalami understeer di lima tikungan terakhir
sangat besar. Jadi. Mulai manfaatkan itu sedari sekarang. Asal jangna terlalu
sering. Cukup sesekali saja." Lagi-lagi Lingga hanya bisa mengangguk. Ia
meningkatkan konsentrasinya dan mulai mencoba merasakan kemudinya. Ia tak boleh
gegabah. Salah langkah sedikit saja ia bisa kalah dan berakhir.
"Setelah ini adalah 5
tikungan tajam berurutan. Kita akan menyalip di salah satu tikungannya. Ada dua
titik untuk menyalip. Aku berharap kau bisa memanfaatkannya."
Sementara itu, Evan yang terus
dibayangi kehadiran Lingga dibelakangnya merasa tertekan. Dirinya hampir
kehilangan kontrol emosi dan menambah kecepatan sedikit demi sedikit. Ia gugup.
Pasalnya, ia yang telah terbiasa berkendara dijalanan licin dan belum pernah
terkalahkan di cuaca buruk seperti ini merasa gundah. Sebelum ini, ia belum
pernah sekalipun didekati oleh pengendara lain sampai sedekat ini. Ah, tidak.
Ia ingat jika ia pernah mengalami ini sekali. Dulu, saat berkendara di
perbukitan Halu ia pernah dikalahkan oleh pengendara s15 biru bergaris orange.
Tapi selama ini ia tak pernah bertemu dengannya lagi. Dan sepertinya kini ia
mengalami lagi kejadian itu meski oleh mobil berbeda. Dalam hati ia yakin jika
pengendaranya pun berbeda.
Evan gelisah. Sesekali ia melirik
kaca spion dan masih melihat GTR dibelakangnya itu dengan jarak yang seperti
tadi. Tak ada tanda-tanda peserta lain didekatnya. Dan sepertinya ia juga
sanksi jika peserta lain ada dijarak yang lumayan dekat dengan mereka berdua
dengan kondisi cuaca yang seperti ini.
"Arg….. Sial" Evan berdecak. Masih ada 4 tikungan lagi dan
kini ban depannya sudah mulai menunjukkan tanda-tanda understeer. Jarak
berbeloknya sudah tidak setajam tadi dan mulai berangsur-angsur melebar seiring
ausnya ban dan kelicinan jalan yang bertambah.
"Lingga. Ditikungan kiri
kedepan, kurangi sedikit jarak. Buat mobilmu tidak terlihat oleh Evan dan
matikan lampu sorot mobilmu." Farrand memberi aba-aba lagi. Lingga? Ia
mendengus sebal dan ingin protes namun diurungkannya mengingat ia telah
berjanji. Dengan adanya lampu saja ia sudah sulit untuk melihat jalan,
bagaimana jika lampunya dimatikan? Oh.. mungkin ia akan menabrak.
"Kita akan bergerak cepat.
Seret kebelakang jok nya, diam ditempatmu, dan aku akan mengambil kendali
kemudi. Hanya sebentar. Dan setelah kita menyalip aku akan kembali keposisiku
semula. Setelah kuberi aba-aba, lakukan yang kuperintahkan dengan cepat."
'9...8....7.....6...5...' Farrand
menghitung dalam hati. Ia sudah mengambil aba-aba akan pindah ke kursi Lingga.
'4...3...2....'
"Sekarang." Tangan Lingga
bergerak cepat memudurkan jok dan mematikan lampu mobilnya. Tangan kanannya
masih memegang kemudi dan ujung jari kakinya masih menginjak pedal gas.
Bagaimanapun juga ia harus menjaga laju mobilnya.
Begitupun dengan Farrand, ia juga
bergerak cepat saat Lingga mundur dan mengambil alih kemudi juga pedal di
kakinya. Lingga yang merasakan Farrand mengambil kemudinya kemudian melepaskan
tangan dan kakinya. Jantungnya berdebar semakin keras. Dengan Farrand yang
duduk didepannya cukup membuat nafasnya kembang kempis. Ia tatap punggung Farrand
dihadapannya. Ia seperti merasa menghadapi orang lain jika melihat Farrand dari
posisinya kini.
'Bahunya lebih lebar daripada
ukuran bahu perempuan pada umumnya.' Batin Lingga.
Evan melirik spion lagi. Ia
mendesah lega, ia tak lagi mendapati mobil Lingga dibelakangnya. Dan dengan
perlahan ia mulai mengurangi kecepatannya sedikit demi sedikit. Padahal,
disitulah kesalahannya. Mobil Lingga memang tak terlihat dan berada agak jauh
dengannya. Tapi setelah Farrand mengambil kursi kemudi, ia melajukan mobilnya
lebih cepat. Mengikis jarak diantara mereka dan mulai mendekati tikungan
kekanan. Ditikungan itulah Farrand berencana menyalip mobil Evan. Melihat
teknik drift Evan yang sudah melebar akibat ausnya ban, ia mengira akan
mendapatkan cukup ruang disisi kanan untuknya melaju.
Gotcha!!!Seringai muncul
dibibir tipisnya saat melihat Evan mengurangi sedikit laju mobilnya dan mulai
memasuki tikungan kekanan. Sesuai prediksinya, Evan berbelok dengan arah yang
agak melebar. Dan whusshhh..... Farrand menambah kecepatannya. Saat mobilnya
telah berpapasan dengan mobil Evan, klik... ia menyalakan lampu mobil
kembali dan membuat Evan terkejut. Evan tak menyangka jika mobil Lingga 'terlihat' menghilang akibat lampunya dimatikan. Dan tiba-tiba muncul begitu saja
disampingnya dengan kembali menyalakan lampu mobilnya.
Sreettt... whushhh...
Dengan mudahnya GTR itu menyalip s14 milik Evan. Kecepatannya pun bertambah.
Hingga Evan tak bisa menyusulnya dan mobil itu seperti hilang di belokan
depannya.
Huuhhhhh...
Farrand menghelakan nafasnya setelah kembali keposisinya dan begitu pula Lingga,
ia telah memajukan kembali jok nya dan mengambil kemudi secara penuh setelah Farrand
memberi jarak cukup banyak dengan mobil Evan.
"Kendalikan mobil seperti
semula dan pertahankan kecepatannya. Finish sudah didepan." Lagi-lagi Lingga
hanya mengangguk lemah mendengar ucapan Farrand.
"Dan jangan ceritakan hal
tadi pada siapapun juga termasuk Madhiaz." tambah Farrand. Dan Lingga pun
mengangguk, lagi. Bibirnya seperti terkunci rapat.
"Horeeee....."
sorak-sorai penonton menggema saat mobil Lingga melewati garis finish, disusul
kemudian mobil Evan.
Lingga baru bisa benar-benar
bernagas lega saat melewati garis akhir tadi. Ia tak menyangka akan mendapat
pengalaman menakjubkan semenakjubkan tadi.
"Syukurlah ... kita
berhasil, kan?" Farrand tersenyum kearah Lingga, dan hanya dibalas
anggukan olehnya.
"Aku akan keluar ambil
hadiahnya. Kau mau ikut?" Tawar Lingga.
"Tidak. Aku akan disini
saja." Balas Farrand.
"Besok kutraktir di cafe lotus. Datanglah jm 3 sore. Kutunggu kau disana."
Farrand mengangguk sambil tersenyum kecil. Syukurlah! Ia bisa melewati satu
__ADS_1
langkah dengan mulus tanpa hambatan berarti.
***tbc***