Cinta Di Atas Aspal

Cinta Di Atas Aspal
Episode 11


__ADS_3

Lingga menghela nafas dan membuangnya kasar. Ia gugup. Melihat kondisi saat


ini membuatnya susah dan gelisah. Ludah yang ia telan pun terasa cekat


ditenggorokan dan rasanya itu seperti ia tak minum selama seminggu. Ah,


memangnya dia pernah tak minum hingga seminggu lamanya? Konyol.


Ia melirik kesamping dimana Farrand


berada. Ia menengguk ludah lagi. Melihat Farrand dengan hem putih lengan pendeknya


mau tak mau membuat jantungnya berpacu lebih cepat.


'Shit!'  Umpatnya. Hei... dia itu remaja yang mulai beranjak


dewasa. Melihat hal seperti itu juga membuat sedikit banyak membuat jiwanya


berguncang.


"Tidak kah kau merasa


hawanya semakin panas?" Farrand bergerak gelisah di tempatnya duduk.


Keringat mengalir di sepanjang pelipisnya. Dan Lingga yang melihat hal itu


semakin merasa terguncang. Menyesal ia tak melarang Farrand memakai pakaian


terkutuk itu.


"Apa perlu kunyalakan AC


nya?"


Farrand menggeleng,


"Jangan. Buka saja


jendelanya. Aku lebih nyaman membuka jendela jika mobil masih belum


berjalan."


"Ok." Seperti kerbau


yang dicolok hidungnya, begitulah keadaan Lingga saat ini. Ia hanya bisa


menurut dan menyanggupi peekataan Farrand. Ia yang masih belum bisa meredam


gejolak hatinya hanya bisa memilih mengiyakan saja.


"Sepertinya akan ada hujan.


Kau sudah mengganti ban nya bukan?"


"Sudah. Bagaimana kau tau


jika malah ini akan hujan?"


"Hawanya. Tidakkah kau


merasa hawanya mengandung sedikit uap air?"


"Tidak. Memang kau


merasakannya?"


"Ya. Aku merasakannya. Hawa


panas ini terasa menyakitkan. Aku selalu tak suka. Hawa panas yang bisa


membuatku serasa tercekik saja."


"Mengapa tak kau buka saja


bajumu?" Ups.... Lingga merutuki mulut bodohnya. Bagaimana bisa ia


mengatakan untuk membuka baju seorang wanita disampingnya itu dengan nada yang


ringan dan seolah hal itu adalah hal yang lumrah untuk dilakukan?


"Ide bagus."


Gila!!


Lingga mengumpat dan menyumpah


serapah mulut kurang ajarnya itu. Ia bahkan bersiap-siap jika Farrand


melayangkan pukulan dipipinya. Tapi reaksi yang ditunjukkan Farrand sangat


berbeda dari bayangannya. Ia melirik keadaan Farrand dari ujung matanya. Ia tak


ingin melihat langsung dan mendapat cap mesum. Terlihat Farrand yang mulai


membuka kancing bajunya satu-persatu, seperti gerakan slow motion, dan


hal itu cukup membuat jakunnya naik turun. Namun setelah turun hingga ke


kancing ketiga,matanya tertutup. Ia mendesah lega kala mendapati ada sebuah


kaos singlet berwarna putih menyembul dari sana. Ia fikir, ia akan mendapati


sepasang bra manis dengan renda-renda berwarna putih yang menggoda. Ah, sial! Lagi-lagi


Lingga merutuki pikirannya yang sealu melayang kemana- mana jika itu menyangkut


Farrand.


Setelah melepas kancingnya, Farrand


tak langsung melepas hemnya. Ia biarkan begitu saja dan melirik Lingga yang


masih mencengkram erat kemudinya. Pria itu terlihat begitu tenang dan menatap


lurus kedepandan seolah tak mempedulikan kehadirannya disini. Padahal jika


ditelisik lebih jauh lagi, Lingga akan terlihat mengeluarkan keringat berlebih


dan sedikit gugup juga tegang. Dan mungkin jika ia mendengar umpatan Lingga


tadi tentang dirinya, ia akan mengubah pandangannya terhadap pria disebelahnya


itu.


Balapan masih akan dimulai 20


menit lagi. Lumayan banyak yang datang. Di samping kanannya sudah ada Madhiaz


dengan Mazdanya. Dirinya dan Farrand dengan GT-R Lingga, dan dibelakangnya ada Evan


dengan s14 nya. Zennie dengan Mazda rx-8 nya, dan yang paling belakang ada Nadeen


dengan sil80nya. Farrand menengok kebelakang dan melihat para pengendara mobil


itu. Matanya terpaku pada sosok disamping Zennie. Dion. Kenapa pemuda itu


disini dan duduk disebelah Zennie? Apa sekarang setelah berhenti menjadi


pengendara, ia banting setir menjadi seperti dirinya? Seorang navigator?


Melihat Farrand yang terpekur


sambil menoleh kebelakang membuat Lingga lumayan penasaran. Ada hal apa yang


mampu membuat wanita itu menoleh hingga cukup lama? Dan begitu diikutinya arah


pandang Farrand, ia mendecak. 'Pantas saja'. Fikirnya. Ia dapati Dion


yang sudah duduk manis disamping Zennie. Pastilah hal itu yang membuat navigatornya termenung dengan tatapan sendu.


"Hei. Kau tak akan


kehilangan konsentrasi dan membuat kita berdua kalah bukan?" Ucapan Lingga


menyadarkan Farrand dari ketermenungannya. Ia tatap manik kelam milik Lingga


dengan tatapan sendu. Hati Lingga mengiba, ingin ia menghibur namun justru


bingung. Ia bukan penghibur yang baik. Bisa-bisa bukan kata-kata penghibur yang


akan dikeluarkannya nanti, tapi malah kata-kata kasar yang menusuk hati hingga


ia semakin melukai perasaan Farrand.


"Tenang saja. Aku memiliki


kendali emosi yang baik saat didalam mobil. Kau tak perlu khawatir aku


kehilangan konsentrasi. Sekarang ini hal yang perlu kau khawatirkan adalah


cuaca yang bisa tiba-tiba memburuk." Ucapan Farrand yang tenang membuat Lingga


yakin. Ia tak salah memilih seorang navigator.


"Kau pernah mengendara


dijalanan licin akibat hujan?" Tambah Farrand. Lingga menggeleng. Biasanya


ia tak akan ikut balapan dengan kondisi cuaca yang buruk. Ini pertama kalinya.


Dan kali ini ia menghadapinya.


"jika kau takut, aku bisa


menggantikanmu. Tenang saja."


"Jangan bercanda, Farrand.


Kau ingin kita mati karena terperosok kejurang, huh?"


Farrand tak menjawab, ia hanya


bisa menahan tawanya saat ini. Lingga terlalu meremehkannya. Dan ia tak suka


diremehkan. Tunggu saja. Ia pasti akan balas meremehkan Lingga.


"Kenapa tertawa?" Lingga


mengernyit tak suka. Bagaimana bisa wanita itu tertawa tertahan seperti itu?


Apa kata-kata yang ia ucapkan tadi begitu terdengar lucu dipendengaran wanita


itu?


"Tidak! Maaf ya, maaf. Aku


hanya tak menyangka sebegitu ketakutannya kah kau jika aku yang mengendarai


mobilmu."


"Bagaimana bisa aku tidak


takut jika kau yang akan menggantikanku menyetir, sedangkan aku tak tau kau


bisa atau tidak mengemudikan mobil? Bukankah kau memintaku mengajarimu? Itu


artinya kemampuanmu dibawahku, bukan?" Farrand hanya bisa mengangguk.


Membenarkan kata-kata panjang yang dikeluarkan mulut Lingga.


"Aku ingin menjadi pembalap.


Itulah ambisiku saat ini. Dan akan kulakukan apapun untuk meraihnya."


"Dan sebelum kau melangkah

__ADS_1


meraih ambisimu itu. Pastikan kau punya mobil terlebih dahulu."


"Ya ya ya... aku tau. Jika


kita selalu mengikuti acara balapan dan hadiahnya selalu besar, mungkin tak


sampai setahun aku sudah bisa memiliki mobilku sendiri."


"Dan kau akan berhenti jadi navigatorku?"


"Tentu saja. Aku mungkin


akan memiliki posisi yang sama sepertimu saat ini. Duduk dibelakang kemudi dan


melihat jalanan didepanku."


"Ta.."


"READY?" ucapan Lingga


dan percakapan keduanya terhenti saat ia mendengar seseorang dengan suara


lantang nya mulai memberi aba-aba. Ia harus fokus san mulai menstarter mobilnya. Di ikuti peserta lain.


"5......4......3......2.......1...."


ada jeda sebentar dan "Goooo." Seiring dengan diturunkannya tangan


sang penghitung, para pembalap illegal  menginjak pedal gas mobil


mereka dalam-dalam. Kekuatan mobil mereka masih belum tertampakkan. Mereka


mulai berjalan beriringan saat akan memasuki tikungan pertama menaiki puncak.


Kali ini balapan diadakan di gunung Falen, puncak yang lebih tinggi dari bukit Falenca.


Mereka dituntut untuk sebisa mungkin menekan performa mobil mereka


masing-masing. Dan alamlah yang akan menyeleksi siapa diantara mereka yang akan


jadi pemenang sejati.


Sudah 10 menit mereka saling


memacu kendaraan besi yang mereka miliki. Deru mobil terdengar nyaring meski


dari kejauhan. Madhiaz masih memimpin. Di ikuti dengan Evan dan Lingga


setelahnya. Hanya mereka bertiga yang bertarung sengit digaris depan. Sedang


dua lainnya, Zennie dan Nadeen berada di urutan jauh dibelakang.


Crasshhhhhhhhhh.....


Hujan tiba-tiba turun begitu saja tanpa aba-aba. Membuat kendaraan yang sedang


melintasi arena balap mau tak mau mengurangi kecepatannya. Namun berbeda dengan


Evan. Ia malah menambah kecepatannya dijalan yang licin dan berhasil menyalip Madhiaz


diposisi terdepan.


"Ikuti Evan tepat dibelakangnya.


Amati pergerakannya dan kalau kau bisa melihat tekniknya, pakai!" Perintah


Farrand. Lingga hanya mengangguk dan mulai menambah kecepatannya.


"Jangan gugup. Percaya pada


mobilmu dan yakinlah jika kalian bisa." Lanjutnya.


"Kalian?"


"Iya. Kau dan mobilmu, Lingga."


"Bukankah lawanku hanya Evan


saja? Kekuatan mobil kami berbeda. Kekuatan GTR ku jauh diatas s14


miliknya."


Tak... Farrand menggeplak kepala Lingga.


Ia tak habis fikir, seberapa bangganya ia pada mobilnya itu hingga ia melupakan


hal paling penting dalam dunia balap malam ini? Sesuatu bisa saja terjadi, bukan?


"Apa-apaan kau ini? Kau tak


lihat jika kita sedng dalam arena balap? Kau ingin aku menabrak pembatas jalan


tau masuk jurang, huh?" Lingga tak terima. Ia bingung kenapa Farrandnya


itu tiba-tiba memukul kepalanya. Tidak lucu bukan, jika mereka akan masuk


jurang karena sang pengemudi kaget?


"Lingga, dengar!


Jangan  terlalu terfokus pada kekuatan mesin mobilmu ini. Kau tak lihat?


Cara mengemudi Evan yang begitu lancar? Dilihat dari belakang sini, cara


mengemudinya seperti sudah terlatih untuk menghadapi cuaca yang buruk."


Lingga terdiam, dan dalam diamnya


ia membenarkan perkataan Farrand. Cara mengemudi Evan memang meningkat jika


dibandingkan dengan balapan dikondisi cuaca yang cerah. Ia akui itu. Terbukti


dengan dirinya yang susah payah mengikuti laju mobil Evan. Padahal jika dalam


kondisi cerah ia dengan mudah melewatinya. Ia heran, apa Evan memiliki


"Hentikan fikiranmu tentang


kekuatan tersembunyi Evan. Aku tau kau memikirkannya, Lingga. Evan hanya sudah


terbiasa mengasah kemampuannya di cuaca buruk seperti ini. Jadi ia tak terlalu


baik dikondisi cerah. Bagaimanapun juga kota Taraka adalah tempat tinggal Evan.


Dan tempat itu setiap harinya selalu hujan."


Decak kagum timbul dihati Lingga.


Ia tak tau jika selain bisa membaca fikirannya, Farrand juga banyak tau tentang


lawannya.


"Hentikan pemikiran koyolmu


itu, Lingga. Aku tau dari tadi kau menggerutu didalam hati dan mengomentari


setiap ucapanku."


"Ehehehehhee... " dan Lingga


hanya bisa terkekeh pelan saat ia tertangkap basah sedang memikirkan banyak hal


oleh Farrand.


"Perhatikanlah detail


sekecil mungkin. Itu bisa membantumu. Kulihat cat mobil Evan agak pudar dan


tingkat kepudarannya berbeda. Bercak pudar dimobil Evan hanya bisa didapat jika


mobil sering terkena hujan. Lagipula Evan bukan beraal dari sini ataupun Halu.


Jadi kusimpulkan ia berasal dari Taraka." Lingga hanya mengangguk. Kagum


atas penjelasan detail sang navigator.


"Evan memiliki keuntungan.


Mobilnya lebih ringan daripada milikmu. GTR memang punya tenaga lebih besar.


Namun bebannya pun juga besar hingga bisa memberi effect yang


lumayan."


"Lalu kau ingin mengatakan


jika kita tak punya kesempatan?"


"Aku tidak akan mengatakan


hal itu. Bagaimanapun juga kita masih memiliki kesempatan. Aku hafal jalur ini.


Jadi akan kupertimbangkan dimana nanti kita bisa menyalipnya. Sebentar lagi


kita sampai dipuncak. Dan saat turunanlah pertarungan kita yang


sebenarnya."


"Pertarungan kita yang


sebenarnya? Apa kau bercanda? Aku bahkan sudah mati-matian mengejarnya dan kau


seakan bilang kita belum bertanding? Kalau begitu aku menyerah saja."


"Cih... menyerah katamu?


Kita sudah berjalan sejauh ini kau akan menyerah? Aku benci kalah. Dan aku juga


benci pecundang. Aku harus menang. Dan jika kau menyerah berjuang bersamaku.


Biarkan aku yang berjuang sendiri."


"Apa maksudmu?"


"Maksudku, jika kau tak


sanggup, biar aku yang saja yang menyetir."


"Apa-apaan kau ini? Aku


tidak akan membiarkan amaterasu kau kemudikan. Tetaplah disana dan beri aku


masukan saja."


"Tadi kau bilang kau tak


sanggup? Masih ada waktu mengejar jika kau ingin bertukar posisi


denganku."


"Dan membiarkan kita


terperosok kejurang? Enak saja."


"Baiklah.. baiklah.. aku


akan memberi aba-aba dan arahan. Tapi berjanjilah untuk tidak banyak protes dan


mengeluh. Jika mengeluh lagi. Kupastikan aku yang akan mengemudi bagaimanapun


caranya."


"Baiklah..."


"Turunan depan adalah

__ADS_1


turunan dengan tikungan pertama. Selanjutnya tikungan beruntun kiri-kanan-kiri.


Tetap pertahankan kecepatan." Kali ini Lingga hanya bisa mengangguk


pasrah. Ia sudah berjanji, dan tidak akan mengingkari.


Lingga memantapkan hatinya untuk


menang, dan ia bertekad akan mengikuti saran dari navigator nya itu.


Susah payah ia mengimbangi kecepatan Evan. Kondisi hujan yang lebat dan jarak


pandang terbatas membuatnya memacu lebih dalam adrenalinnya. Matanya ia


tajamkan untuk melihat kondisi jalan dihadapannya. Jantungnya pun berdetak


lebih kencang. Seolah ikut berpacu dengan tunggangannya itu.


Mereka akan keluar dari tikungan


dan kemudian melewati jalan lurus yang agak panjang. Farrand menyadari sesuatu.


Dan itu bukanlah hal baik.


"Usahakan untuk membuat


mobil mu memakai jalur saluran air yang tertutup. Ban depannya sudah mulai aus.


Kemungkinan kau akan mengalami understeer di lima tikungan terakhir


sangat besar. Jadi. Mulai manfaatkan itu sedari sekarang. Asal jangna terlalu


sering. Cukup sesekali saja." Lagi-lagi Lingga hanya bisa mengangguk. Ia


meningkatkan konsentrasinya dan mulai mencoba merasakan kemudinya. Ia tak boleh


gegabah. Salah langkah sedikit saja ia bisa kalah dan berakhir.


"Setelah ini adalah 5


tikungan tajam berurutan. Kita akan menyalip di salah satu tikungannya. Ada dua


titik untuk menyalip. Aku berharap kau bisa memanfaatkannya."


Sementara itu, Evan yang terus


dibayangi kehadiran Lingga dibelakangnya merasa tertekan. Dirinya hampir


kehilangan kontrol emosi dan menambah kecepatan sedikit demi sedikit. Ia gugup.


Pasalnya, ia yang telah terbiasa berkendara dijalanan licin dan belum pernah


terkalahkan di cuaca buruk seperti ini merasa gundah. Sebelum ini, ia belum


pernah sekalipun didekati oleh pengendara lain sampai sedekat ini. Ah, tidak.


Ia ingat jika ia pernah mengalami ini sekali. Dulu, saat berkendara di


perbukitan Halu ia pernah dikalahkan oleh pengendara s15 biru bergaris orange.


Tapi selama ini ia tak pernah bertemu dengannya lagi. Dan sepertinya kini ia


mengalami lagi kejadian itu meski oleh mobil berbeda. Dalam hati ia yakin jika


pengendaranya pun berbeda.


Evan gelisah. Sesekali ia melirik


kaca spion dan masih melihat GTR dibelakangnya itu dengan jarak yang seperti


tadi. Tak ada tanda-tanda peserta lain didekatnya. Dan sepertinya ia juga


sanksi jika peserta lain ada dijarak yang lumayan dekat dengan mereka berdua


dengan kondisi cuaca yang seperti ini.


"Arg….. Sial" Evan berdecak. Masih ada 4 tikungan lagi dan


kini ban depannya sudah mulai menunjukkan tanda-tanda understeer. Jarak


berbeloknya sudah tidak setajam tadi dan mulai berangsur-angsur melebar seiring


ausnya ban dan kelicinan jalan yang bertambah.


"Lingga. Ditikungan kiri


kedepan, kurangi sedikit jarak. Buat mobilmu tidak terlihat oleh Evan dan


matikan lampu sorot mobilmu." Farrand memberi aba-aba lagi. Lingga? Ia


mendengus sebal dan ingin protes namun diurungkannya mengingat ia telah


berjanji. Dengan adanya lampu saja ia sudah sulit untuk melihat jalan,


bagaimana jika lampunya dimatikan? Oh.. mungkin ia akan menabrak.


"Kita akan bergerak cepat.


Seret kebelakang jok nya, diam ditempatmu, dan aku akan mengambil kendali


kemudi. Hanya sebentar. Dan setelah kita menyalip aku akan kembali keposisiku


semula. Setelah kuberi aba-aba, lakukan yang kuperintahkan dengan cepat."


'9...8....7.....6...5...' Farrand


menghitung dalam hati. Ia sudah mengambil aba-aba akan pindah ke kursi Lingga.


'4...3...2....'


"Sekarang." Tangan Lingga


bergerak cepat memudurkan jok dan mematikan lampu mobilnya. Tangan kanannya


masih memegang kemudi dan ujung jari kakinya masih menginjak pedal gas.


Bagaimanapun juga ia harus menjaga laju mobilnya.


Begitupun dengan Farrand, ia juga


bergerak cepat saat Lingga mundur dan mengambil alih kemudi juga pedal di


kakinya. Lingga yang merasakan Farrand mengambil kemudinya kemudian melepaskan


tangan dan kakinya. Jantungnya berdebar semakin keras. Dengan Farrand yang


duduk didepannya cukup membuat nafasnya kembang kempis. Ia tatap punggung Farrand


dihadapannya. Ia seperti merasa menghadapi orang lain jika melihat Farrand dari


posisinya kini.


'Bahunya lebih lebar daripada


ukuran bahu perempuan pada umumnya.' Batin Lingga.


Evan melirik spion lagi. Ia


mendesah lega, ia tak lagi mendapati mobil Lingga dibelakangnya. Dan dengan


perlahan ia mulai mengurangi kecepatannya sedikit demi sedikit. Padahal,


disitulah kesalahannya. Mobil Lingga memang tak terlihat dan berada agak jauh


dengannya. Tapi setelah Farrand mengambil kursi kemudi, ia melajukan mobilnya


lebih cepat. Mengikis jarak diantara mereka dan mulai mendekati tikungan


kekanan. Ditikungan itulah Farrand berencana menyalip mobil Evan. Melihat


teknik drift Evan yang sudah melebar akibat ausnya ban, ia mengira akan


mendapatkan cukup ruang disisi kanan untuknya melaju.


Gotcha!!!Seringai muncul


dibibir tipisnya saat melihat Evan mengurangi sedikit laju mobilnya dan mulai


memasuki tikungan kekanan. Sesuai prediksinya, Evan berbelok dengan arah yang


agak melebar. Dan whusshhh..... Farrand menambah kecepatannya. Saat mobilnya


telah berpapasan dengan mobil Evan, klik... ia menyalakan lampu mobil


kembali dan membuat Evan terkejut. Evan tak menyangka jika mobil Lingga 'terlihat' menghilang akibat lampunya dimatikan. Dan tiba-tiba muncul begitu saja


disampingnya dengan kembali menyalakan lampu mobilnya.


Sreettt... whushhh...


Dengan mudahnya GTR itu menyalip s14 milik Evan. Kecepatannya pun bertambah.


Hingga Evan tak bisa menyusulnya dan mobil itu seperti hilang di belokan


depannya.


Huuhhhhh...


Farrand menghelakan nafasnya setelah kembali keposisinya dan begitu pula Lingga,


ia telah memajukan kembali jok nya dan mengambil kemudi secara penuh setelah Farrand


memberi jarak cukup banyak dengan mobil Evan.


"Kendalikan mobil seperti


semula dan pertahankan kecepatannya. Finish sudah didepan." Lagi-lagi Lingga


hanya mengangguk lemah mendengar ucapan Farrand.


"Dan jangan ceritakan hal


tadi pada siapapun juga termasuk Madhiaz." tambah Farrand. Dan Lingga pun


mengangguk, lagi. Bibirnya seperti terkunci rapat.


"Horeeee....."


sorak-sorai penonton menggema saat mobil Lingga melewati garis finish, disusul


kemudian mobil Evan.


Lingga baru bisa benar-benar


bernagas lega saat melewati garis akhir tadi. Ia tak menyangka akan mendapat


pengalaman menakjubkan  semenakjubkan tadi.


"Syukurlah ... kita


berhasil, kan?" Farrand tersenyum kearah Lingga, dan hanya dibalas


anggukan olehnya.


"Aku akan keluar ambil


hadiahnya. Kau mau ikut?" Tawar Lingga.


"Tidak. Aku akan disini


saja." Balas Farrand.


"Besok kutraktir di cafe lotus. Datanglah jm 3 sore. Kutunggu kau disana."


Farrand mengangguk sambil tersenyum kecil. Syukurlah! Ia bisa melewati satu

__ADS_1


langkah dengan mulus tanpa hambatan berarti.


***tbc***


__ADS_2