
Lingga masih setia menemani Farrand yang melamun disamping tempatnya duduk.
Sesekali ia lirik wajah Farrand, ia penasaran tentang apa yang difikirkannya.
Apakah tentang dirinya, atau tentang mobil yang ada dipameran tadi? Yah, mereka
tak langsung pulang setelah menghadiri pameran. Dan sekarang, disinilah mereka
berada, duduk disalah satu bangku taman yang berada dibawah pohon Sakura.
"Apa kau masih memikirkan
mobil itu?" Ucap Lingga memecah keheningan. Ia bosan berada dalam situasi
monoton seperti ini terus. Karena sejak mereka pulang dari pameran, Farrand
sama sekali tak membuka suaranya.
"Yah.... sebenarnya hal itu
sedikit benar."
"Jika itu sedikit benar, lalu
dimana banyak salahnya?" canda Lingga. Sebenarnya niat hatinya ingin
memberi beberapa candaan ringan yang bisa membuat Farrand sedikit tersenyum
atau bahkan tertawa. Atau paling tidak minimal ia bisa membuat Farrand
tersenyum meski tipis. Tapi nyatanya, ia bahkan tak bisa membuat Farrand
merubah ekspresinya. Jika begini, ia sepperti orang yang tak nyambung saja jika
di ajak ngobrol.
"Aku memikirkan, jika pun
aku meminjam uangmu, paling yang bisa ku beli hanya ae86."
"He? Kau tak suka mobil type
itu?"
"Hn"
"Kufikir kau suka pada mobil
legenda seperti itu. Kau tau kan, mobil itu memiliki legenda dan cerita uniknya
tersendiri."
"Memang mobil itu legenda drift dan memiliki cerita tersendiri
maupun kelebihan yang bisa membuat beberapa pembalap jalanan terkesima. Tapi sungguh, tak ada sedikitpun minat dariku pada mobil itu."
"Aku pernah mendengar jika
mobil itu bisa mengajari pengemudinya karena mobil itu sedikit susah
dikemudikan."
Farrand menghela nafas pelan, Lingga
benar. Tapi ia tetap tak menyukai mobil itu.
"Sudahlah. Tak akan ada
habisnya jika kita membicarakan mobil. Lagipula aku juga masih belum terlalu
mahir mengemudi." Ujar Farrand. Ia tersenyum. Dan Lingga membalas
senyumannya.
"Ok, lipakan tentang masalah
mobil. Sekrang, kau tak lupa hal lain bukan? Hal tentang kau berjanji akan
belajar mencintaiku?"
Farrand mengangguk, membenarkan
perkataan Lingga. Tapi sejujurnya ia juga sedikit melupakannya karena terlalu
terfokus pada masalah mobilnya. Hehe….
"Kalau begitu, ayo. Kuajak
kau ke suatu tempat favoritku." Ucap Lingga. Ia berdiri dan mengulurkan
tangannya pada Farrand yang masih terduduk di kursi taman.
"Dimana?" Farrand
mendongak, dania menatap Lingga dengan tatapan penasarannya.
"Suatu tempat diperbatasan Kota
Halu. Aku menemukannya saat berencana kabur dari rumah."
"Kau gila."
"Ya... aku gila. Gila karena
ayah selalu menuntutku untuk selalu menjadi seperti yang di inginkannya."
Farrand terkikik pelan. Ia suka
melihat ekspresi Lingga yang seperti ini. Ia terlihat lucu, namun terkesan
dingin disaat yang bersamaan.
"Ayo.. " Lingga
beranjak dan mengulurkan tangannya pada Farrand. Farrand tersenyum, dan ia
menangkap tangan Lingga yang terulur padanya.
Huupppp...
Tarikan Lingga terlalu kuat hingga tubuhnya tertarik ke dada bidang milik Lingga.
Tak membuang waktu, Lingga pun langsung mendekap tubuh kecil milik Farrand. Ia
sesap dalam-dalam aroma lily yang menguar dari tubuhnya. Menenangkan, begitulah
fikirnya. Dan setelah itu yang Lingga rasakan adalah jantungnya yang berdebar
keras.
"Ling, jantungmu."
"Ada apa dengan jantungku, Fa."
"Aku bisa merasakan debaran
jantungmu yang begitu kencang. Serasa jantungmu ingin melompat keluar dadi
dadamu."
Farrand menyandarkan kepalanya ke dada Lingga. Tingginya yang hanya sebatas
dagu Lingga membuatnya mudah mendekatkan telinga kanannya ke dada Lingga dan
dekat denga jantungnya.
"Kau tau betul jika aku
mencintaimu. Dan seperti inilah rasanya jika aku bersamamu. Berada dekat
denganmu. Jantungku akan berdebar kencang. Dan ada rasa bahagia dalam hatiku
yang seakan membuncah penuh memenuhi setiap sudut diruang hati."
Gombal!
"..." Dan Farrand hanya bisa tersenyum tipis mendengarnya.
"Aku mencintaimu Ru, seberapa kerasnya aku menolak rasa ini, rasa ini
tetap ada. Dulu aku hanya mencintai dunia balap dan taka da niat sedikitpun
untuk menjalin cinta di tengah waktu seperti ini. Hingga aku memutuskan untuk
pergi dari rumah karena ayah menyuruhku meninggalkan dunia balap ini. Tapi
begitu mengenalmu, aku lebih mencintaimu dari dunia balap ini. Andaipun ayah
menyuruhku berhenti balapan, aku rela berhenti. Asal dengan itu aku bisa
bersamamu dan mencintaimu seperti ini."
Farrand semakin mengeratkan
pelukannya terhadap Lingga. Hatinya menghangat, ruang hati yang sebelumnya
kosong kini terasa berisi setelah pernyataan cinta - yang entah keberapa
kalinya ini- dari Lingga. Namun ketika ia semakin ingin mengingat Lingga saja,
bayangan Dion terlintas. Ingin ia mengatakan maaf pada Lingga, namun biarlah
begini saja adanya. Bukankah ia sudah berjanji untuk belajar mencintai Lingga
setelah ini?
"Maafkan aku, Dion."
Bisiknya selirih mungkin. Ia berharap Lingga tak mendengarnya.
"Ayo, kita jangan
membuang-buang waktu lagi. Perjalanan panjang masih menanti kita."
"Tapi aku mau pulang ke
apartment. Tak mungkin kan jika aku pergi menggunakan dress ini? Setidaknya
biarkan aku memakai pakaian yang lebih santai. Tak nyaman rasanya jika kita
jalan-jalan dan aku memakai dress formal seperti akan menghadiri acara seperti
ini."
"Aku punya sepasang baju
santai yang mungkin bisa kau pakai. Kau bisa mengganti bajumu ditoilet."
Lingga menarik tangan Farrand
menuju mobilnya. Ia masuk, dan setelah itu menyerahkan baju yang masih
terbungkus kepadanya.
"Kau mencurigakan."
Farrand memandang Lingga dengan
penuh menyelidik. Ia heran, bagaimana bisa Lingga punya baju perempuan
untuknya?
"Jangan memandangku seperti
itu, Fa. Kemarin aku memang bermaksud membelikanmu baju. Kufikir baju itu bisa
kuberikan padamu saat kencan pertama kita nanti. Namun tak kusangka aku akan memberikannya
secepat ini padamu. Tapi biarlah. Anggap ini kencan pertama kita. Dan anggap
pula pernyataan di pantai waktu itu adalah hari dimana kita jadian."
“Hei, mana bisa begitu?”
“Bisa, Fa. Dan aku tekankan itu padamu. Jangan menolak dan terima saja
keadaannya karena aku tak menerima penolakan darimu.”
__ADS_1
Pipi Farrand bersemu. Ia tak
pernah berfikir jika Lingga akan berlaku sejauh itu padanya.
"Anggaplah baju itu hadiah
dariku untukmu." Lingga tersenyum, lagi. Ah, berada disamping Farrand
selama ini bisa membuat pipinya linu akibat terlalu banyak tersenyum. Tapi
biarlah, toh ia tersenyum karena memang hal itu membuatnya terasa bahagia.
Baginya sekarang, Farrand adalah sumber kebahagiaanya.
"Kutunggu kau disini.
Cepatlah, atau kau mau aku yang menggantikan baju itu untukmu, Fa?" Candanya.
"Dasar!" gerutu Farrand.
Ia mengambil baju itu, berbalik dan segera berlari sambil senyuman tipis
tersungging dibibirnya.
.
.
.
Lingga mendudukkan dirinya
dibawah pohon yang tumbuh rindang sambil menatap hamparan rumput luas yang
berada didepannya. Sedangkan Farrand, ia hanya berdiri disamping Lingga sambil
menikmati semilir angin yang berhembus perlahan membelai helai rambutnya. Ia
merasa damai. Dan perlahan ia hanyut oleh suasanya hingga memejamkan matanya
dan bersenandung kecil. Tak terlalu keras, bahkan Lingga yang berada
disampingnya pun tak mendengarnya dengan jelas.
"Duduklah disini, Fa."
Farrand menoleh, menghentikan
senandungnya dan melirik kearah Lingga.
"Duduk dimana?"
"Dipangkuanku."
Farrand mengernyit heran. Dipangkuannya katanya? Apa ia tak salah mendengar?
Lingga melihat Farrand yang
terdiam dan mulai kehabisan kesabaran menunggunya menjawab. Dengan segera ia
mengulurkan tangannya dan menarik tangan Farrand hingga ia terduduk dipangkuan Lingga
dengan posisi membelakanginya.
"Sudah kukatakan
untuk duduk dipangkuanku, kau masih saja berfikir terlalu lama untuk itu."
"Kau menyebalkan, Ling."
"Tak masalah. Jika dengan
sifat menyebalkanku bisa membuatmu dekat denganku, aku rela menjadi menyebalkan
selama apapun itu."
"Kau selalu
menyangku-pautkan semuanya kepadaku. Sebenarnya apa yang diotakmu itu selain
aku, Ling?"
"Hanya ada dirimu. Sungguh,
aku bahkan tak tau apa lagi yang harus kufikirkan selain dirimu."
"Mulutmu minta disumpal ya,
agar tak banyak berbicara omongan tak bermutu seperti itu terus."
"Asal itu dengan bibirmu,
aku rela."
"Makan saja sepatuku."
Puk! Sebuah sepatu melayang kewajah Lingga dan pelaku pelemparan hanya memasang
wajah polos seperti tak tau apa-apa.
"Kau jahat, Fa. Bagaimana jika
nanti aku amnesia dan melupakan cintaku padamu?"
"Biar saja! Dan, Oh. Kau
harus masukkan sifat jahatku kedalam ingatanmu agar kau tak macam-macam
denganku."
Sret...
Lingga memeluk Farrand dari belakang dan meletakkan kepalanya kepundak Farrand.
Ia pejamkan matanya, kemudian meraup udara sebanyak mungkin sambil menyesapi
aroma lily yang menguar dari tubuh Farrand.
"Kumohon, diamlah dan
biarkan aku seperti ini barang sejenak. Aku ingin menikmatinya lebih
"Setelah ini, kau tidak
boleh dekat dengan wanita manapun. Karena jika kau dekat dengan wanita lain,
kupastikan aku akan mengikatmu dan memberimu pelajaran." Balas Farrand.
"Tentu."
"Dan aku akan menghukummu
dan membuatmu menyesal."
"Akan kunantikan hal itu, Fa."
"Bersi....."
"Sttt.... diamlah. Aku masih
ingin menikmati moment ini selama mungkin."
Farrand kicep. Ia langsung
menuruti perkataan Lingga begitu saja.
'Kurasa bersamanya tak buruk
juga' batin Farrand.
Lingga menyingkirkan helai surai
panjang milik Farrand dan mengecupnya perlahan. Farrand berjengit, mendengus
kesal atas perlakuan Lingga yang menurutnya terlalu tiba-tiba itu hingga
memunculkan rasa gelanyar aneh ditubuhnya.
"Kau tak ingin pulang? Jika
kita terlalu lama disini kita bisa terlambat sampai rumah." Bisik Lingga.
"Ayah mengatakan padaku jika
ia tak pulang lagi malam ini. Jadi tak masalah bagiku jika pulang
terlambat."
"Begitukah?"
"Heem."
"Fa, tak takutkah dirimu
jika aku bisa saja berbuat sesuatu padamu?"
"Memang apa yang ingin kau
perbuat padaku?"
"Ehm," Lingga berdehem
pelan. Ia bingung harus mengatakan dari mana untuk memulai pembicaraan yang
sedikit lebih serius.
"Kau tau jika aku lelaki, bukan?" Tambahnya.
"Yah. Meski aku tak
memastikan secara langsung, aku yakin dengan pasti jika kau lelaki."
"Dan aku juga bukan anak
kecil, Fa."
"Yah. Akupun tau jika kau
sudah remaja."
"Dan kau tau bagaimana
hormon seorang remaja pria?"
"Aku tau."
"Lalu, tak adakah rasa takut
darimu jika aku bisa saja..... ehm.... maksudku, melakukan hal yang bisa saja
menghancurkanmu? Menghancurkan hidupmu atau masa depanmu, mungkin?"
"Tidak."
"Mengapa kau begitu yakin, Fa?
Kau pasti bisa merasakan degup jantungku dijarak kita yang sedekat ini."
"Lalu?"
"Tak hanya jantungku,
sesuatu ditubuhku pun ikut bangkit jika kita hanya berdua dengamu seperti
ini."
Farrand tersenyum mendengar
penjelasan Lingga. Bukan ia tak tau apa yang dimaksud Lingga. Sangat tau, hanya
saja ia punya keyakinan akan suatu hal hingga ia percaya pada Lingga.
"Kau mengatakan jika kau
mencintaiku, bukan?" Lingga mengangguk mendengar pertanyaan Farrand.
"Dan aku yakin, jika kau
__ADS_1
benar-benar mencintaiku dengan tulus dari hatimu, kau akan berfikir dua kali
untuk melakukan hal itu padaku."
"Mengapa kau bisa seyakin
itu padaku?"
"Aku percaya padamu."
"Kau naif, Fa. Kau tau,
terkadang jika kau terlalu mudah percaya kepada orang lain, orang lain akan
menyalahgunakan kepercayaanmu dan bisa saja menghancurkanmu akibat kepercayaan
yang kau berikan padanya."
Set..
Lingga membalikkan wajah Farrand, membaringkannya dipangkuannya dan langsung
meraup bibir Farrand dengan sedikit melumatnya. Farrand tak bereaksi. Ia diam
saja saat Lingga melakukan hal itu padanya.
"Lakukan, Ling. Jika itu
bisa membuatmu terpuas atasku. Aku percaya padamu, karena kau telah mengatakan
jika kau mencintaiku. Dan akupun mengatakan untuk belajar mencintaimu. Maka
dari itu tak ada alasan untukku untuk tidak mempercayaimu menjagaku dan diriku.
Karena aku percaya jika cinta itu menjaga. Bukan menyakiti." Ucap Farrand
lembut.
Lingga tertegun atas ucapan Farrand.
Ia menyesal, menyesal telah meragukan Farrand dan membuatnya seperti lelaki
brengsek. Tak ia sangka jika Farrand akan pasrah begitu saja atas apa yang ia
lakukan. Ia fikir, Farrand akan menjauhinya dan menolak mentah-mentah atas apa
yang dilakukannya tadi.
"Aku yakin, kau bukan lelaki
brengsek yang bisa semudah itu melakukan hal buruk padaku." Farrand
tersenyum, tangannya terulur dan membawa Lingga yang termenung kedalam
pelukannya.
"Aku rasa aku mulai
mencintaimu, Ling. Mungkin terlalu cepat untukku mengatakannya, namun aku tak
berbohong tentang hatiku saat ini. Tidakkah kau merasakan jika jantungku
berdegup kencang sama sepertimu?"
Lingga mengangguk pelan seakan
membenarkan perkataan Farrand. Ia merasa tenang berada dalam dekapan Farrand.
"Ling, kau mengatakan jika
kau mencintaiku, bukan?"
Lingga mengangguk lagi.
"Apa kau menerimaku dengan
segala kekurangan yang ada pada diriku?"
"..."
"Maukah kau tetap
mencintaiku, bahkan jika aku telah kehilangan sesuatu yang berharga
untukku?"
"Apa maksudmu?"
"Aku telah kehilangan kesucianku,
Ling." Pandangan Farrand menyendu, menatap Lingga yang terlihat sedikit
kaget atas apa yang telah diucapkannya.
"Apa maksudmu, Fa?"
"Kau tau dengan pasti apa
yang kumaksud. Aku tak sebaik yang kau fikirkan tentangku selama ini."
Pandangan Lingga yang semula
hangat kini berganti mendingin. Ia merasa kecewa atas apa yang telah ia dengar
dari mulut Farrand.
"Apa kau masih mau
menerimaku apa adanya?"
"...." Lingga terdiam
tak menjawab. Lidahnya seakan kelu untuk mengucapkan beberapa patah kata
balasan.
"Ku mohon, Ling. Katakan
sesuatu. Jangan mendiamkanku seperti ini."
"..."
"Kau kecewa padaku, Begitu?
Atau kau merasa jika aku wanita yang tak baik?"
"Tidak." Ujar Lingga.
Nada dingin terselip diperkataan yang ia lontarkan sebagai jawaban atas
pertanyaan Farrand.
"Jangan membohongiku. Aku
bisa melihat raut kecewamu padaku."
"..." Dan lagi-lagi,
Lingga masih terdiam.
"Kau boleh meninggalkanku
setelah ini. Dan aku janji tak akan menggangumu. Kau boleh mengacuhkanku, dan
kurasa itu hak mu jika kau ingin mundur dan setelah ini meninggalkanku."
Setetes air mata meluncur dari pipi mulus milik Farrand. Hatinya merasa perih.
Sebenarnya ia telah menduga akan hal ini, tapi ia tetap memaksakan diri dan
beginilah hasilnya.
'Ternyata mengalaminya
langsung lebih menyakitkan dari pada hanya membayangkannya saja.' Batin Farrand.
"Ayo pulang. Kita akan
terlambat makan malam jika menunda kepulangan kita. Aku akan memasak makan
malam. Kau mau ku masakkan apa?" Tanya Farrand dengan nada lembut.
Mengabaikan hatinya yang perih akan keterdiaman Lingga dan mengusap air matanya
kasar.
"Tidak perlu repot-repot.
Nanti malam aku ada janji dengan Madhiaz." Ucap Lingga.
Batin Farrand terasa sakit.
Padahal sedari tadi ia telah menguatkan hatinya dan berusaha meredam gejolak
hatinya jika ia mendapat perlakuan dingin dari Lingga. Ia tau, Lingga hanya
berusaha menghindarinya dengan mengatakan jika dirinya punya janji dengan Madhiaz.
Dan Farrand yakin, jika sebenarnya Lingga tak memiliki janji apapun dengan Madhiaz.
Lingga bangkit dari duduknya, ia
menatap Farrand yang terduduk dengan pandangan yang sulit diartikan. Hatinya
terasa kacau. Pernyataan Farrand telah mengguncang batinnya hingga ia merasa
buruk seperti ini.
"Ayo pulang." Ujarnya
dingin. Farrand bangkit, dengan langkah gontai dan dengan kepala menunduk ia
berjalan mengikuti Lingga yang telah lebih dulu beranjak menuju mobilnya. Lingga
hanya diam, dan ia sakit akan hal itu.
Selama perjalanan pulang pun
mereka hanya bisa terdiam tanpa ada sepatah kata yang keluar dari bibir
masing-masing seperti saat mereka berangkat tadi. Tak ada sapaan dan candaan
ringan dari Lingga untuk Farrand yang berada disampingnya. Sesekali Farrand
melirik Lingga yang menyetir dengan posisi serius dan tak berusaha mencuri
pandang kearahnya barang sekejap. Ia maklumi itu, dan setelah itu ia putuskan
untuk menyandarkan kepalanya kejendela. Berusaha mengalihkan rasa sakitnya
dengan melihat pemandangan yang dilewatinya.
'Aku akan menunggu seperti apa
perlakuanmu padaku setelah ini, Ling. Dan apapun keputusanmu, akan kuterima
dengan senang hati.' Batin Farrand.
"Aku tau kau mendengarkanku.
Dan aku yakin kau kecewa padaku. Tapi ketahuilah, aku masih memegang
perkataanmu yang mengatakan kau mencintaiku dan tak akan melepaskanku."
Lingga tertegun. Ia memang
memdengar perkataan Farrand. Dan ia akui jika ia terguncang karena ia
diingatkan kembali tentang perasaan cintanya pada Farrand. Ia bimbang, bimbang
dengan dirinya yang masih kecewa. Dan tanpa disadarinya, sudut hatinya
mengatakan jika tak seharusnya ia mengacuhkan Farrand seperti sekarang ini
hanya karena Farrand sudah kehilangan sesuatunya yang berharga. Dan bukankah,
jika dirinya memang mencintai Farrand, hal itu bukan menjadi masalah untuknya?
__ADS_1
***tbc***