Cinta Di Atas Aspal

Cinta Di Atas Aspal
Episode 20


__ADS_3

Lingga masih setia menemani Farrand yang melamun disamping tempatnya duduk.


Sesekali ia lirik wajah Farrand, ia penasaran tentang apa yang difikirkannya.


Apakah tentang dirinya, atau tentang mobil yang ada dipameran tadi? Yah, mereka


tak langsung pulang setelah menghadiri pameran. Dan sekarang, disinilah mereka


berada, duduk disalah satu bangku taman yang berada dibawah pohon Sakura.


"Apa kau masih memikirkan


mobil itu?" Ucap Lingga memecah keheningan. Ia bosan berada dalam situasi


monoton seperti ini terus. Karena sejak mereka pulang dari pameran, Farrand


sama sekali tak membuka suaranya.


"Yah.... sebenarnya hal itu


sedikit benar."


"Jika itu sedikit benar, lalu


dimana banyak salahnya?" canda Lingga. Sebenarnya niat hatinya ingin


memberi beberapa candaan ringan yang bisa membuat Farrand sedikit tersenyum


atau bahkan tertawa. Atau paling tidak minimal ia bisa membuat Farrand


tersenyum meski tipis. Tapi nyatanya, ia bahkan tak bisa membuat Farrand


merubah ekspresinya. Jika begini, ia sepperti orang yang tak nyambung saja jika


di ajak ngobrol.


"Aku memikirkan, jika pun


aku meminjam uangmu, paling yang bisa ku beli hanya ae86."


"He? Kau tak suka mobil type


itu?"


"Hn"


"Kufikir kau suka pada mobil


legenda seperti itu. Kau tau kan, mobil itu memiliki legenda dan cerita uniknya


tersendiri."


"Memang mobil itu legenda drift dan memiliki cerita tersendiri


maupun kelebihan yang bisa membuat beberapa pembalap jalanan terkesima. Tapi sungguh, tak ada sedikitpun minat dariku pada mobil itu."


"Aku pernah mendengar jika


mobil itu bisa mengajari pengemudinya karena mobil itu sedikit susah


dikemudikan."


Farrand menghela nafas pelan, Lingga


benar. Tapi ia tetap tak menyukai mobil itu.


"Sudahlah. Tak akan ada


habisnya jika kita membicarakan mobil. Lagipula aku juga masih belum terlalu


mahir mengemudi." Ujar Farrand. Ia tersenyum. Dan Lingga membalas


senyumannya.


"Ok, lipakan tentang masalah


mobil. Sekrang, kau tak lupa hal lain bukan? Hal tentang kau berjanji akan


belajar mencintaiku?"


Farrand mengangguk, membenarkan


perkataan Lingga. Tapi sejujurnya ia juga sedikit melupakannya karena terlalu


terfokus pada masalah mobilnya. Hehe….


"Kalau begitu, ayo. Kuajak


kau ke suatu tempat favoritku." Ucap Lingga. Ia berdiri dan mengulurkan


tangannya pada Farrand yang masih terduduk di kursi taman.


"Dimana?" Farrand


mendongak, dania menatap Lingga dengan tatapan penasarannya.


"Suatu tempat diperbatasan Kota


Halu. Aku menemukannya saat berencana kabur dari rumah."


"Kau gila."


"Ya... aku gila. Gila karena


ayah selalu menuntutku untuk selalu menjadi seperti yang di inginkannya."


Farrand terkikik pelan. Ia suka


melihat ekspresi Lingga yang seperti ini. Ia terlihat lucu, namun terkesan


dingin disaat yang bersamaan.


"Ayo.. " Lingga


beranjak dan mengulurkan tangannya pada Farrand. Farrand tersenyum, dan ia


menangkap tangan Lingga yang terulur padanya.


Huupppp...


Tarikan Lingga terlalu kuat hingga tubuhnya tertarik ke dada bidang milik Lingga.


Tak membuang waktu, Lingga pun langsung mendekap tubuh kecil milik Farrand. Ia


sesap dalam-dalam aroma lily yang menguar dari tubuhnya. Menenangkan, begitulah


fikirnya. Dan setelah itu yang Lingga rasakan adalah jantungnya yang berdebar


keras.


"Ling, jantungmu."


"Ada apa dengan jantungku, Fa."


"Aku bisa merasakan debaran


jantungmu yang begitu kencang. Serasa jantungmu ingin melompat keluar dadi


dadamu."


Farrand menyandarkan kepalanya ke dada Lingga. Tingginya yang hanya sebatas


dagu Lingga membuatnya mudah mendekatkan telinga kanannya ke dada Lingga dan


dekat denga jantungnya.


"Kau tau betul jika aku


mencintaimu. Dan seperti inilah rasanya jika aku bersamamu. Berada dekat


denganmu. Jantungku akan berdebar kencang. Dan ada rasa bahagia dalam hatiku


yang seakan membuncah penuh memenuhi setiap sudut diruang hati."


Gombal!


"..." Dan Farrand hanya bisa tersenyum tipis mendengarnya.


"Aku mencintaimu Ru, seberapa kerasnya aku menolak rasa ini, rasa ini


tetap ada. Dulu aku hanya mencintai dunia balap dan taka da niat sedikitpun


untuk menjalin cinta di tengah waktu seperti ini. Hingga aku memutuskan untuk


pergi dari rumah karena ayah menyuruhku meninggalkan dunia balap ini. Tapi


begitu mengenalmu, aku lebih mencintaimu dari dunia balap ini. Andaipun ayah


menyuruhku berhenti balapan, aku rela berhenti. Asal dengan itu aku bisa


bersamamu dan mencintaimu seperti ini."


Farrand semakin mengeratkan


pelukannya terhadap Lingga. Hatinya menghangat, ruang hati yang sebelumnya


kosong kini terasa berisi setelah pernyataan cinta - yang entah keberapa


kalinya ini- dari Lingga. Namun ketika ia semakin ingin mengingat Lingga saja,


bayangan Dion terlintas. Ingin ia mengatakan maaf pada Lingga, namun biarlah


begini saja adanya. Bukankah ia sudah berjanji untuk belajar mencintai Lingga


setelah ini?


"Maafkan aku, Dion."


Bisiknya selirih mungkin. Ia berharap Lingga tak mendengarnya.


"Ayo, kita jangan


membuang-buang waktu lagi. Perjalanan panjang masih menanti kita."


"Tapi aku mau pulang ke


apartment. Tak mungkin kan jika aku pergi menggunakan dress ini? Setidaknya


biarkan aku memakai pakaian yang lebih santai. Tak nyaman rasanya jika kita


jalan-jalan dan aku memakai dress formal seperti akan menghadiri acara seperti


ini."


"Aku punya sepasang baju


santai yang mungkin bisa kau pakai. Kau bisa mengganti bajumu ditoilet."


Lingga menarik tangan Farrand


menuju mobilnya. Ia masuk, dan setelah itu menyerahkan baju yang masih


terbungkus kepadanya.


"Kau mencurigakan."


Farrand memandang Lingga dengan


penuh menyelidik. Ia heran, bagaimana bisa Lingga punya baju perempuan


untuknya?


"Jangan memandangku seperti


itu, Fa. Kemarin aku memang bermaksud membelikanmu baju. Kufikir baju itu bisa


kuberikan padamu saat kencan pertama kita nanti. Namun tak kusangka aku akan memberikannya


secepat ini padamu. Tapi biarlah. Anggap ini kencan pertama kita. Dan anggap


pula pernyataan di pantai waktu itu adalah hari dimana kita jadian."


“Hei, mana bisa begitu?”


“Bisa, Fa. Dan aku tekankan itu padamu. Jangan menolak dan terima saja


keadaannya karena aku tak menerima penolakan darimu.”

__ADS_1


Pipi Farrand bersemu. Ia tak


pernah berfikir jika Lingga akan berlaku sejauh itu padanya.


"Anggaplah baju itu hadiah


dariku untukmu." Lingga tersenyum, lagi. Ah, berada disamping Farrand


selama ini bisa membuat pipinya linu akibat terlalu banyak tersenyum. Tapi


biarlah, toh ia tersenyum karena memang hal itu membuatnya terasa bahagia.


Baginya sekarang, Farrand adalah sumber kebahagiaanya.


"Kutunggu kau disini.


Cepatlah, atau kau mau aku yang menggantikan baju itu untukmu, Fa?" Candanya.


"Dasar!" gerutu Farrand.


Ia mengambil baju itu, berbalik dan segera berlari sambil senyuman tipis


tersungging dibibirnya.


.


.


.


Lingga mendudukkan dirinya


dibawah pohon yang tumbuh rindang sambil menatap hamparan rumput luas yang


berada didepannya. Sedangkan Farrand, ia hanya berdiri disamping Lingga sambil


menikmati semilir angin yang berhembus perlahan membelai helai rambutnya. Ia


merasa damai. Dan perlahan ia hanyut oleh suasanya hingga memejamkan matanya


dan bersenandung kecil. Tak terlalu keras, bahkan Lingga yang berada


disampingnya pun tak mendengarnya dengan jelas.


"Duduklah disini, Fa."


Farrand menoleh, menghentikan


senandungnya dan melirik kearah Lingga.


"Duduk dimana?"


"Dipangkuanku."


Farrand mengernyit heran. Dipangkuannya katanya? Apa ia tak salah mendengar?


Lingga melihat Farrand yang


terdiam dan mulai kehabisan kesabaran menunggunya menjawab. Dengan segera ia


mengulurkan tangannya dan menarik tangan Farrand hingga ia terduduk dipangkuan Lingga


dengan posisi membelakanginya.


"Sudah kukatakan


untuk duduk dipangkuanku, kau masih saja berfikir terlalu lama untuk itu."


"Kau menyebalkan, Ling."


"Tak masalah. Jika dengan


sifat menyebalkanku bisa membuatmu dekat denganku, aku rela menjadi menyebalkan


selama apapun itu."


"Kau selalu


menyangku-pautkan semuanya kepadaku. Sebenarnya apa yang diotakmu itu selain


aku, Ling?"


"Hanya ada dirimu. Sungguh,


aku bahkan tak tau apa lagi yang harus kufikirkan selain dirimu."


"Mulutmu minta disumpal ya,


agar tak banyak berbicara omongan tak bermutu seperti itu terus."


"Asal itu dengan bibirmu,


aku rela."


"Makan saja sepatuku."


Puk! Sebuah sepatu melayang kewajah Lingga dan pelaku pelemparan hanya memasang


wajah polos seperti tak tau apa-apa.


"Kau jahat, Fa. Bagaimana jika


nanti aku amnesia dan melupakan cintaku padamu?"


"Biar saja! Dan, Oh. Kau


harus masukkan sifat jahatku kedalam ingatanmu agar kau tak macam-macam


denganku."


Sret...


Lingga memeluk Farrand dari belakang dan meletakkan kepalanya kepundak Farrand.


Ia pejamkan matanya, kemudian meraup udara sebanyak mungkin sambil menyesapi


aroma lily yang menguar dari tubuh Farrand.


"Kumohon, diamlah dan


biarkan aku seperti ini barang sejenak. Aku ingin menikmatinya lebih


"Setelah ini, kau tidak


boleh dekat dengan wanita manapun. Karena jika kau dekat dengan wanita lain,


kupastikan aku akan mengikatmu dan memberimu pelajaran." Balas Farrand.


"Tentu."


"Dan aku akan menghukummu


dan membuatmu menyesal."


"Akan kunantikan hal itu, Fa."


"Bersi....."


"Sttt.... diamlah. Aku masih


ingin menikmati moment ini selama mungkin."


Farrand kicep. Ia langsung


menuruti perkataan Lingga begitu saja.


'Kurasa bersamanya tak buruk


juga' batin Farrand.


Lingga menyingkirkan helai surai


panjang milik Farrand dan mengecupnya perlahan. Farrand berjengit, mendengus


kesal atas perlakuan Lingga yang menurutnya terlalu tiba-tiba itu hingga


memunculkan rasa gelanyar aneh ditubuhnya.


"Kau tak ingin pulang? Jika


kita terlalu lama disini kita bisa terlambat sampai rumah." Bisik Lingga.


"Ayah mengatakan padaku jika


ia tak pulang lagi malam ini. Jadi tak masalah bagiku jika pulang


terlambat."


"Begitukah?"


"Heem."


"Fa, tak takutkah dirimu


jika aku bisa saja berbuat sesuatu padamu?"


"Memang apa yang ingin kau


perbuat padaku?"


"Ehm," Lingga berdehem


pelan. Ia bingung harus mengatakan dari mana untuk memulai pembicaraan yang


sedikit lebih serius.


"Kau tau jika aku lelaki, bukan?" Tambahnya.


"Yah. Meski aku tak


memastikan secara langsung, aku yakin dengan pasti jika kau lelaki."


"Dan aku juga bukan anak


kecil, Fa."


"Yah. Akupun tau jika kau


sudah remaja."


"Dan kau tau bagaimana


hormon seorang remaja pria?"


"Aku tau."


"Lalu, tak adakah rasa takut


darimu jika aku bisa saja..... ehm.... maksudku, melakukan hal yang bisa saja


menghancurkanmu? Menghancurkan hidupmu atau masa depanmu, mungkin?"


"Tidak."


"Mengapa kau begitu yakin, Fa?


Kau pasti bisa merasakan degup jantungku dijarak kita yang sedekat ini."


"Lalu?"


"Tak hanya jantungku,


sesuatu ditubuhku pun ikut bangkit jika kita hanya berdua dengamu seperti


ini."


Farrand tersenyum mendengar


penjelasan Lingga. Bukan ia tak tau apa yang dimaksud Lingga. Sangat tau, hanya


saja ia punya keyakinan akan suatu hal hingga ia percaya pada Lingga.


"Kau mengatakan jika kau


mencintaiku, bukan?" Lingga mengangguk mendengar pertanyaan Farrand.


"Dan aku yakin, jika kau

__ADS_1


benar-benar mencintaiku dengan tulus dari hatimu, kau akan berfikir dua kali


untuk melakukan hal itu padaku."


"Mengapa kau bisa seyakin


itu padaku?"


"Aku percaya padamu."


"Kau naif, Fa. Kau tau,


terkadang jika kau terlalu mudah percaya kepada orang lain, orang lain akan


menyalahgunakan kepercayaanmu dan bisa saja menghancurkanmu akibat kepercayaan


yang kau berikan padanya."


Set..


Lingga membalikkan wajah Farrand, membaringkannya dipangkuannya dan langsung


meraup bibir Farrand dengan sedikit melumatnya. Farrand tak bereaksi. Ia diam


saja saat Lingga melakukan hal itu padanya.


"Lakukan, Ling. Jika itu


bisa membuatmu terpuas atasku. Aku percaya padamu, karena kau telah mengatakan


jika kau mencintaiku. Dan akupun mengatakan untuk belajar mencintaimu. Maka


dari itu tak ada alasan untukku untuk tidak mempercayaimu menjagaku dan diriku.


Karena aku percaya jika cinta itu menjaga. Bukan menyakiti." Ucap Farrand


lembut.


Lingga tertegun atas ucapan Farrand.


Ia menyesal, menyesal telah meragukan Farrand dan membuatnya seperti lelaki


brengsek. Tak ia sangka jika Farrand akan pasrah begitu saja atas apa yang ia


lakukan. Ia fikir, Farrand akan menjauhinya dan menolak mentah-mentah atas apa


yang dilakukannya tadi.


"Aku yakin, kau bukan lelaki


brengsek yang bisa semudah itu melakukan hal buruk padaku." Farrand


tersenyum, tangannya terulur dan membawa Lingga yang termenung kedalam


pelukannya.


"Aku rasa aku mulai


mencintaimu, Ling. Mungkin terlalu cepat untukku mengatakannya, namun aku tak


berbohong tentang hatiku saat ini. Tidakkah kau merasakan jika jantungku


berdegup kencang sama sepertimu?"


Lingga mengangguk pelan seakan


membenarkan perkataan Farrand. Ia merasa tenang berada dalam dekapan Farrand.


"Ling, kau mengatakan jika


kau mencintaiku, bukan?"


Lingga mengangguk lagi.


"Apa kau menerimaku dengan


segala kekurangan yang ada pada diriku?"


"..."


"Maukah kau tetap


mencintaiku, bahkan jika aku telah kehilangan sesuatu yang berharga


untukku?"


"Apa maksudmu?"


"Aku telah kehilangan kesucianku,


Ling." Pandangan Farrand menyendu, menatap Lingga yang terlihat sedikit


kaget atas apa yang telah diucapkannya.


"Apa maksudmu, Fa?"


"Kau tau dengan pasti apa


yang kumaksud. Aku tak sebaik yang kau fikirkan tentangku selama ini."


Pandangan Lingga yang semula


hangat kini berganti mendingin. Ia merasa kecewa atas apa yang telah ia dengar


dari mulut Farrand.


"Apa kau masih mau


menerimaku apa adanya?"


"...." Lingga terdiam


tak menjawab. Lidahnya seakan kelu untuk mengucapkan beberapa patah kata


balasan.


"Ku mohon, Ling. Katakan


sesuatu. Jangan mendiamkanku seperti ini."


"..."


"Kau kecewa padaku, Begitu?


Atau kau merasa jika aku wanita yang tak baik?"


"Tidak." Ujar Lingga.


Nada dingin terselip diperkataan yang ia lontarkan sebagai jawaban atas


pertanyaan Farrand.


"Jangan membohongiku. Aku


bisa melihat raut kecewamu padaku."


"..." Dan lagi-lagi,


Lingga masih terdiam.


"Kau boleh meninggalkanku


setelah ini. Dan aku janji tak akan menggangumu. Kau boleh mengacuhkanku, dan


kurasa itu hak mu jika kau ingin mundur dan setelah ini meninggalkanku."


Setetes air mata meluncur dari pipi mulus milik Farrand. Hatinya merasa perih.


Sebenarnya ia telah menduga akan hal ini, tapi ia tetap memaksakan diri dan


beginilah hasilnya.


'Ternyata mengalaminya


langsung lebih menyakitkan dari pada hanya membayangkannya saja.' Batin Farrand.


"Ayo pulang. Kita akan


terlambat makan malam jika menunda kepulangan kita. Aku akan memasak makan


malam. Kau mau ku masakkan apa?" Tanya Farrand dengan nada lembut.


Mengabaikan hatinya yang perih akan keterdiaman Lingga dan mengusap air matanya


kasar.


"Tidak perlu repot-repot.


Nanti malam aku ada janji dengan Madhiaz." Ucap Lingga.


Batin Farrand terasa sakit.


Padahal sedari tadi ia telah menguatkan hatinya dan berusaha meredam gejolak


hatinya jika ia mendapat perlakuan dingin dari Lingga. Ia tau, Lingga hanya


berusaha menghindarinya dengan mengatakan jika dirinya punya janji dengan Madhiaz.


Dan Farrand yakin, jika sebenarnya Lingga tak memiliki janji apapun dengan Madhiaz.


Lingga bangkit dari duduknya, ia


menatap Farrand yang terduduk dengan pandangan yang sulit diartikan. Hatinya


terasa kacau. Pernyataan Farrand telah mengguncang batinnya hingga ia merasa


buruk seperti ini.


"Ayo pulang." Ujarnya


dingin. Farrand bangkit, dengan langkah gontai dan dengan kepala menunduk ia


berjalan mengikuti Lingga yang telah lebih dulu beranjak menuju mobilnya. Lingga


hanya diam, dan ia sakit akan hal itu.


Selama perjalanan pulang pun


mereka hanya bisa terdiam tanpa ada sepatah kata yang keluar dari bibir


masing-masing seperti saat mereka berangkat tadi. Tak ada sapaan dan candaan


ringan dari Lingga untuk Farrand yang berada disampingnya. Sesekali Farrand


melirik Lingga yang menyetir dengan posisi serius dan tak berusaha mencuri


pandang kearahnya barang sekejap. Ia maklumi itu, dan setelah itu ia putuskan


untuk menyandarkan kepalanya kejendela. Berusaha mengalihkan rasa sakitnya


dengan melihat pemandangan yang dilewatinya.


'Aku akan menunggu seperti apa


perlakuanmu padaku setelah ini, Ling. Dan apapun keputusanmu, akan kuterima


dengan senang hati.' Batin Farrand.


"Aku tau kau mendengarkanku.


Dan aku yakin kau kecewa padaku. Tapi ketahuilah, aku masih memegang


perkataanmu yang mengatakan kau mencintaiku dan tak akan melepaskanku."


Lingga tertegun. Ia memang


memdengar perkataan Farrand. Dan ia akui jika ia terguncang karena ia


diingatkan kembali tentang perasaan cintanya pada Farrand. Ia bimbang, bimbang


dengan dirinya yang masih kecewa. Dan tanpa disadarinya, sudut hatinya


mengatakan jika tak seharusnya ia mengacuhkan Farrand seperti sekarang ini


hanya karena Farrand sudah kehilangan sesuatunya yang berharga. Dan bukankah,


jika dirinya memang mencintai Farrand, hal itu bukan menjadi masalah untuknya?

__ADS_1


***tbc***


__ADS_2