
Seorang gadis berambut pirang pucat duduk dengan melipatkan
kakinya disalah satu kursi yang ada disebuah ruang basement yang
terdapat beberapa mobil didalamnya. Ruangannya sedikit temaram, dan disana ada
beberapa orang yang duduk sembarang. Dihadapannya, duduk seorang lelaki
berambut coklat panjang dengan manik peraknya.
"Apa yang akan kau lakukan dengan mobil dan jubah itu, Ava?"
Lelaki bersurai panjang itu memulai percakapan kepada wanita pirang yang
terduduk itu. Asap menyembul perlahan, seiring dihembuskannya batang bernikotin
itu dari mulutnya yang dikerucutkan sebelumnya.
"Tentu saja aku akan memakainya. Kau tau dengan pasti jika
aku belum mempunyai mobil."
"Lalu jubah itu? Kau masih ingat bukan, pria itu mengatakan
apa?"
"'Pakailah jubah ini saat kau memakai mobil ini. Jika
ada yang bertanya, katakan jika kau telah mengalahkanku' begitu bukan?
Tentu saja aku masih ingat. Kau tak perlu mengingatkanku berulang kali seperti
itu, Sammy." Wanita itu, yang ternyata bernama Ava mengucapkannya dengan
nada bosan. Ia sudah di ingatkan beberapa kali tentang itu oleh lelaki
berambut panjang yang panggil Sammy itu. Tapi ia sama sekali belum mengerti
tentang maksudnya.
"Berhenti memangilku dengan panggilan itu, Av. Kau tau aku
lebih suka dipanggil Sam saja. Atau sekalian Samuel. Kau tau, panggilan Sammy
itu terdengar menggelikan ditelingaku.”
“Tapi aku menyukainya, Sammy. Atau anggap saja jika itu
panggilan khususku padamu.”
Lelaki yang dipanggil Sammy itu mendesah lelah. Baginya, percuma
ia beradu argument dengan wanita pirang panjang dihadapannya itu. Ia akan
selalu kalah.
“Baiklah. Sesukamu saja. Asalkan tidak ada lagi yang akan
memanggilku begitu atau akan kuhajar orang itu.
Wanita yang dipanggil Ava itu hanya bisa mengangguk mengiyakan.
Baginya tak masalah. Toh, ia juga tak mendapat perlakuan apapun dari sahabatnya
itu. Karena baginya, omongan sahabatnya itu hanya gertakan semata. Buktinya,
sudah lama ia diperingatkan namun lelaki itu tak memberikan perlakuan apapun
selain menggerutu.
“Oh iya, Av. Kurasa kita akan siap menantang di Kota Falen satu
minggu lagi."
"Mengapa harus seminggu lagi? Kalau perlu kita bisa
melakukannya nanti malam. Persiapan kita sudah selesai sepenuhnya dan
mobil-mobil serta pengendaranya telah tak sabar ingin melakukan balapan lagi."
"Kau tak mengerti, Av. Lebih baik kita mengumpulkan
persiapan yang lebih matang dan mengulur waktu terlebih dahulu sebelum ini.
Bukankah besok kau masih harus menjalani hari pertamamu bersekolah? Lagipula Salma
masih belum selesai mengganti piston mobilnya saat ini."
"Oh iya. Aku lupa jika besok harus masuk sekolah baru. Aku
tak ingin terlambat. Bukankah kesan pertama itu diperlukan? Dan bagaimana
dengan yang lainnya? Apa mereka sudah siap? Kupikir semua telah sempurna dan
siap untuk melakukan balapan sekarang juga."
"Belum siap sepenuhnya. S13 milik Cyrus, lan evo 3 milikku,
dan s15 milikmu sudah siap. Tinggal sil80 milik Salma yang belum. Selebihnya,
kita membutuhkan 3 mobil lagi untuk kendaraan yang akan dipakai Hasti, Zal, dan
Daryush."
"Aku bisa memberikan mereka mobil ayahku yang sudah lama.
Mengapa mereka tak menerimanya saja? Biar bagaimanapun juga aku ingin kita
menetap di Kota Falen."
"Eg6, s14, dan r32. Meski itu mobil lama namun masih bisa
digunakan untuk balapan, aku tidak bisa menerimanya begitu saja, Ava. Kau lupa
tujuan awalku untuk membentuk tim balap? Aku ingin kita memiliki tim lengkap
yang kendaraannya kita peroleh dari hasil kita sendiri."
"Ya.ya.ya... terserah kau saja."
"Lagipula kudengar di Kota Falen banyak yang memiliki kendaraan
bagus. Tapi aku yakin mereka hanya bisa mengandalkan kekuatan mobil saja."
"Memang apa targetmu disana? Kudengar ada yang punya r34,
NSX, dan rx7. Dari kesemuanya, salah satu dari mereka tak ada yang mempunyai
posisi bertahan. Hanya pemilik r34 yang sekiranya sedikit sulit dikalahkan
karena memiliki prestasi yang lumayan dari beberapa perlombaan."
Samuel mengendikkan bahunya pelan. "Targetku adalah
menemukan orang yang bisa mengalahkanku. Itu saja."
Ava mendecih. Orang yang bisa mengalahkannya katanya? Hey, apa
itu tidk salah? Ia tau bagaimana sepak terjang pemuda itu ketika berada di
arena balap. Ia juga mengetahui bagaimana detail kemampuan yang dimiliki pria
berambut panjang dihadapannya ini. Dan utnuk orang yang katanya bisa
mengalahkannya di arena balap, apakah itu terlalu tinggi? Bagaimanapun juga
selama ini ia masih belum menemukan orang yang bisa mengalahkan Samuel.
"Makanya cari pacar, Sammy. Agar ada perempuan yang bisa
mengalahkanmu. Yah.... meski tidak selalu dalam balapan." Ujar Ava.
"Apa hubungannya dengan yang kau sebutkan itu tadi.
Lagipula, aku akan cari pacar. Jika ada wanita yang bisa mengalahkanku
dijalanan."
Gila!
Satu kata itu yang berada di fikiran Ava. Perempuan yang bisa
mengalahkannya katanya? Hey, laki-laki saja susah bagaimana dengan perempuan? Sungguh!
Ia ingin berteriak di telinga Samuel dan mengatakan jika keinginannya itu
terlalu tinggi, namun ia masih melihat sekelilingnya dan memilih mengurungkan
hal itu.
"Kau berkhayal terlalu tinggi. Jika aku jadi orang itu, aku
tak akan mau jadi pacarmu. Lagipula, bagaimana jika yang mengalahkanmu itu
seorang laki-laki? Tetap kau jadikan pacarmu, begitu?"
"Kau tenang saja, Ava. Kau tak akan bisa mengalahkanku
sampai kapanpun. Aku tau batas kemampuanmu sampai mana. Dan lagipula aku masih
lurus. Aku tak akan mengambil seorang laki-laki untuk kujadikan kekasih meski
orang itu bisa mengalahkanku."
"Kau terlalu percaya diri, Sammy. Bagaimana jika ada wanita
yang mengalahkanmu dan dia itu rupanya jelek?"
Samuel terkekeh,"Aku akan membawanya ke Korea untuk oprasi
plastik. Tapi tentunya setelah kunikahi."
"Lalu jika wanita sudah punya kekasih, atau suami?"
"Jika kekasih, aku akan merebutnya dengan jantan. Jika
suami, aku mundur."
"Kau harusnya mulai cari pendamping mulai sekarang. Ingat,
usiamu bahkan sudah 24. Dan kau sama sekali belum pernah merasakan rasanya
pacaran. Sekalipun. Kutekankan sekali lagi, se-ka-li-pun." Ucap Ava dengan
sungguh- sungguh. Ia bahkan sampai mengacung-acungkan tangannya kehadapan Sammy.
"Mendengarmu mengatakan hal itu dengan tegas, entah mengapa
membuat telingaku terasa sakit, Ava." Sammy menghela nafas pelan. Ia tau,
bahkan sangat tau hal itu. Tapi ia tetap masih ingin mempertahankan argumennya
__ADS_1
sejak dulu, bahwa ia akan menikah dengan wanita yang mampu membuatnya jatuh
hati. Dan selama ini, ia belum menemukannya sama sekali.
"Kau terlalu berlebihan, Sammy." Ava kembali
merilekskan dirinya dan duduk santai sambil mensidekapkan tangannya.
"Tidak. Aku sudah melangkah sejauh ini. Jadi aku tak akan
menyerah begitu saja. Aku bahkan masuk Senju School semata-mata agar aku
menemukan pembalap wanita yang mampu mengalahkanku. Namun nihil. Hingga aku
lulus dari sana dan menjadi pembalap reli setahun kemudian pun aku tetap tak
menemukannya."
"Kriteriamu terlalu tinggi, Sam. Jadilah sulit untuk
menemukannya."
"Baiklah.. bagaimana jika aku menurunkannya menjadi wanita
yang mampu membuat jantungku berdebar kencang. Kurasa itu tak terlalu tinggi. Bagaimana
menurutmu?"
"Dan jika hal itu terjadi, dengan senang hati aku akan
membantumu mendapatkannya."
"Kau bersunguh-sunguh? Akan aku tunggu saat itu tiba."
“Tentu saja aku bersungguh-sungguh akan ucapanku. Ingat, aku tak
pernah menarik kembali ucapan dan janji yang kubuat.”
Sammy tersenyum, begitu pula Ava. Suasana menghangat sejak
mereka saling melempar pembicaraan. Dan tanpa mereka sadari, waktu telah
bergulir begitu saja dan mulai memasuki waktu senja.
.
.
.
Arashya menatap jendela kaca yang kini ada dihadapannya, ia
menghembus nafas kasar. Memang, ia akui pemandangan yang dilihat dari atas
gedung sangatlah indah. Apalagi seluruh kota sedang diselimuti salju seperti
ini, semua hampir terlihat putih yang mendominasi.
Setelah dokter yang memeriksa putrinya pulang, Farrand
bersikeras agar ia kembali ke kantor untuk bekerja. Ia juga beralasan jika ia
ingin tidur saja agar ayahnya tak menjaganya. Alasan yang menurutnya tak masuk
akal. Tapi bagaimanapun juga biarlah seperti ini. Ia akan menyerahkan beberapa
keputusan pada putrinya, dan ia tak akan mengekangnya dengan beberapa hal yang
dikehendakinya sendiri.
Dalam lamunannya, ia kembali teringat akan tim yang baru
terbentuk. Bukan ia tak tau, tapi ia hanya ingin diam dan mengamati saja. Dan
bahkan, ia tau beberapa data tentang pembalap itu.
Tapi jika ia fikir lebih jauh lagi, kondisi di Kota Falen jauh lebih
mengkhawatirkan. Beberapa pembalap ia tau kemampuannya. Bahkan ia juga tau jika
dalam tim baru itu terdapat mantan pembalap reli. Jika asumsinya benar, maka Lingga
pun tak akan bisa melawan mereka.
Harapan yang ada difikirannya hanya putrinya. Namun dengan
kondisi cuaca yang seperti ini, ia akan melarang dengan keras jika putrinya
turun langsung. Seperti kata dokter tadi, musim dingin saat ini lebih dingin
dari musim dingin tahun lalu. Jika tahun lalu putrinya masih bisa ia ajak
berkendara di arena bersalju, tidak sekarang. Udara yang lebih dingin dan
ditambah dengan kekebalan putrinya yang sedang menurun sungguh perpaduan pas.
Meski dokter sudah memberi resep dan vitamin, ia tetap tidak yakin jika
putrinya akan membaik dalam kurun waktu satu minggu ini.
Sebenarnya ia bisa saja ikut bertanding, namun ia ingat, ini
bukan lagi masanya. Tetapi ini adalah masa generasi yang lebih muda darinya.
usianya jauh dibawahnya itu.
Dalam pemikiran panjangnya, ia tiba-tiba teringat jika ia ada
janji dengan seorang teman dari dealer yang menawarinya kendaraan yang sedang
dibutuhkannya. Ia mengambil hp yang ia letakkan disakunya dan memencet beberapa
tombol disana.
"Aku ingin test drive menggunakan mobil
yang kau tawarkan kemarin. Dan aku akan menunggumu di lobi kantor satu jam dari
sekarang." Putusnya.
Ia mematikan sepihak panggilan itu. Dan setelahnya, ia kembali
menatap kota yang tertutupi salju musim dingin.
.
.
.
Madhiaz, Lingga dan Nadeen kini sedang duduk disalah satu bangku
disudut kantin. Mereka memilih tempat terpojok, memesan beberapa makanan dan
minuman sambil sesekali berbincang. Yah... meski perbincangan itu lebih banyak
didominasi oleh Madhiaz dan Lingga.
"Aku tak tau jika Farrand akan mengalami sakit lebih parah
dari tahun kemarin." Madhiaz membuka percakapan. Ia heran, ia tak
mendapati Farrand dikelasnya dan ketika ia menanyakannya pada Nadeen, Nadeen
menjawab ia akan memberitahunya sambil makan dikantin. Ia pasrah saja, pasalnya
ia juga sedang lapar saat ini. Jadi mengiyakan untuk tawaran makan tak masalah bukan?
"Kau masih
belum mendapat kabar lagi?" Ujar Lingga. Ia yang sedari tadi asyik memakan
bekal yang dibuatkan Farrand kini membuka mulutnya untuk bersuara. Sepertinya
bekal Farrand telah ia habiskan dengan cepat.
"Mereka memberi kabar jika akan ada balapan seminggu
lagi." Madhiaz mensidekapkan tangannya, ia kemudian menghela nafas dan
memejamkan matanya sembari menikmati bisingnya suara kantin saat jam istirahat.
"Bagaimanapun juga, sebenarnya aku tak ingin kita tak
terlibat dengan mereka." Lanjutnya.
"Mengapa? Bukankah Lingga cukup bisa di andalkan?"
Celetuk Nadeen.
"Kau benar. Tapi aku tetap khawatir. Farrand pasti tak bisa
ikut untuk menjadi navigator Lingga hingga musim dingin ini berakhir.
Dan aku yakin mereka tak akan mau menunggu selama itu."
"Lalu, bagaimana rencana kita untuk menghadapi mereka?"
Nadeen mengatakannya dengan nada cemas yang sedikit kentara. Dihatinya ia
merasa takut, takut jika dirinya tak bisa berbuat apa-apa.
"Ayahku dan paman Arashya sudah tau, dan kurasa mereka bisa
memberi bantuan jika keadaan menjadi tak terkendali. Aku tak yakin seratus
persen. Tapi untuk sementara kita sebaiknya berpikir tenang dalam melangkah. Kalian
tau, berfikir terburu-buru tidak baik
dan bisa menghasilkan sesuatu yang buruk."
Lingga dan Nadeen mengangguk bersamaan.
"Ano, Dhiaz. Aku
tak tau jika kau bisa terlihat kalut begitu saat membicarakan mereka."
"Kau tak mengerti, Lingga. Mereka mengambil mobil yang
dikalahkannya. Bisa kau bayangkan? Jika kau dan aku kalah, R34 mu dan rx7 ku
akan melayang. Mereka ambil begitu saja dan mereka pakai. Tak ada harapan baik
__ADS_1
jika kita kalah dengan cepat. Kau tau, para pembalap Kota Falen telah
menghubungiku dan mereka menumpukan harapan mereka pada kita. Kebanyakan dari
mereka taka da yang ingin kehilangan mobilnya. "
"Mengapa harus kita? Mengapa tidak orang lain saja." Lingga
mengernyit, bagaimana bisa mereka mengatakan hal itu? Secara tak langsung
mereka ingin mengatakan jika mereka tak mau terlibat bukan?
"Harapan mereka hanya kau dan aku, Lingga. Kita yang
memiliki rekor kemenangan paling banyak di antara mereka."
"Tapi bagaimana dengan Farrand? Aku tau dia pemula, tapi
aku yakin jika kemampuannya juga tak kalah dengan kita. Kau juga tau bukan jika
dia mengalahkanku di pertandingan beberapa waktu lalu? Aku juga yakin kau tau
kemampuannya."
"Tunggu, Farrand pernah mengalahkanmu? Kapan? Mengapa aku
tak tau akan hal ini?" Nadeen mennginterupsi percakapan dua pria
dihadapannya ini. Ia sedari tadi memang hanya ingin mendengarkan saja. Nammun
begitu mendengar nama Farrand disebut, ia tahan untuk tidak berkomentar dan
membuat dua orang pria yang semeja dengannya itu menolehkan kepela mereka
serentak kepada Nadeen.
"Ia ikut pertandingan beberapa waktu lalu dibukit Indra.
Tempatnya sedikit jauh, dan saat itu kau menolak untuk kuajak bukan?" Nadeen
mengangguk membenarkan mendengar pertanyaan dari Madhiaz.
"Dan saat itu ia datang dengan memakai mobilnya, ia
mengalahkan kami. Dan itu adalah pertandingan pertamanya." Tambah Madhiaz.
"Aku menaruh harapanku pada Farrand." Lirih Lingga.
"Dan kini Farrand sedang terbaring sakit. Aku tak tau
sampai kapan. Tapi yang pasti paman Arashya tidak akan mengijinkannya keluar
selama musim dingin ini jika keadaannya tidak lebih baik dari tahun kemarin. Kalian
tau bukan, jika balapan selalu di adakan di tengah malam? Dan saat itu pastinya
udara sangan dingin. Farrand tak akan kuat menghadapinya."
Lingga dan Nadeen mengangguk bersamaan, bermaksud membenarkan
perkataan yang dilayangkan Madhiaz.
"Aku hanya berharap kita tak kalah dam bertanding melawan
mereka. Kalian tau, pemimpinnya bahkan lulusan Senju School dan mantan pembalap
reli. Yah.. meski ia tak lama dalam kejuaraan reli.
"Senju School?" Lingga melayangkan pertanyaannya pada Nadeen
dan Madhiaz.
"Kau tak tau apa itu?"
Lingga mengangguk. Setelah itu di ikuti dengusan kasar oleh Nadeen.
"Senju School, sekolah otomotif yang didirikan oleh Senju Fahrezan
yang merupakan pengusaha properti terbesar. Ada kabar yang mengatakan jika dulu
ia pernah menjadi pembalap pro sebelum kecelakaan menimpanya dan membuatnya
berhenti. Sekolah itu sangat hebat, banyak dari lulusannya berkecimpung menjadi
pembalap pro atau reli. Beberapa dari mereka juga ada yang tengah mengikat
kontrak dengan tim balap internasional."
"..."
"Sekolah itu tergolong baru didirikan, namun kharismanya
sudah terkenal dan dielu-elukan memiliki kurikulum yang sangat bagus. Kepala
sekolahnya, putra dari tuan Fahrezan yang bernama Julius tak akan segan-segan
menghukum dengan tangannya sendiri jika ada murid yang melanggar aturan."
Lingga mengangguk lemah. Ia baru tau jika ada sekolah yang
seperti itu.
"Sekolah ideal untuk orang yang bercita-cita menjadi
mekanik dan pembalap profesional." Sambung Nadeen.
"Kau benar." Tambah Madhiaz.
"Lalu bagaimana sekarang? Apa yang harus kita perbuat untuk
melawan mantan pembalap reli itu?" Lingga frustasi, ia bahkan sampai
mengacak-acak surai kelamnya itu.
"Berfikirlah secara jernih, Lingga. Jika mereka menantang kita,
kita hadapi dan bersiap dengan segala resiko yang terjadi." Ucap Madhiaz.
Ia kemudian menepuk pundak Lingga dan setelahnya meninggalkan mereka berdua.
"Aku merasa jika aku tak berguna saat ini." Lirih Nadeen.
Lingga sedikit sedih mendengarnya, dan ia merasa jika dirinya juga tak jauh
berbeda dengan Nadeen.
"Aku hanya bisa berharap semoga aku masih bisa
mempertahankan R34 ku." Lirih Lingga. Kedua kini sama terdiam dan menunduk
dengan fikiran masing-masing. Dan entahlah, mereka kini terlihat seperti
sepasang kekasih yang sedang bertengkar.
.
.
.
Malam kini telah larut dan hawa beringsut semakin dingin. Namun
hal seperti itu tak menyurutkan niat Sammy untuk berkeliling bukit Kota Falen
dan meneliti jalurnya. Ia memang tak bisa tidur saat ini, jadi ia putuskan
untuk berkeliling dan sekalian pemanasan sebelum bertanding.
Saat hampir tiba ditengah-tengah bukit, ia melihat siluet lampu
mobil mendekat. Ia semakin menambah laju kecepatannya dan bermaksud ingin
bermain-main sebentar dengan pengendara itu.
Setelah mobil itu dekat, ia tak bermaksud sedikitpun untuk
membiarkannya menyalip dirinya. Maka dari itu ia melaju dengan kecepatan tinggi
dan terus menerus berada dijalur yang agak ketengah. Berharap ia bisa
meninggalkan mobil itu di belakang.
Namun sepertinya tak berjalan sesuai dengan harapannya, mobil
itu menempel ketat dibelakangnya hingga ia yakin mobil itu hanya berjarak
beberapa centi saja dari mobilnya kini. Jantungnya berdegup kencang, belum
pernah ia merasa ditempeli hingga sedekat ini.
Mereka terus seperti itu hingga saat ini mereka sudah sampai di
6 tikungan terakhir. Keringat Sammy bercucuran, ia sedikit mengamati mobil yang
menempel ketat padanya itu dari spionnya. Dari yang ia lihat, ia menduga jika
mobil itu adalah mobil dengan tipe penggerak roda belakang. Terlihat dari
caranya melakukan drift.
Sammy merasa sedikit mengalami kurangnya keseimbangan mobilnya
akibat memaksakan berjalan dengan kecepatan yang sangat tinggi. Ia akui ia
sedikit kewalahan, dan setelah berada ditikungan tajam, ia dikagetkan oleh
lampu mobil yang muncul disamping kanannya. padahal ia yakin jika jalur
disampingnya itu kurang muat jika dilewati oleh sebuah mobil.
Tanpa ia duga, ternyata mobil yang berwarna merah itu sedikit
mengeluarkan ban kanannya hingga berada sedikit keluar jalur. Ia tak menyangka
akan hal itu. Namun ia yakin jika mobil berwarna merah itu adalah mobil seri
NSX. Dan setelah ia keluar tikungan, NSX merah itu keluar dengan cepat dan
meninggalkan Sammy dibelakangnya dengan perasaan tak menentu.
"Aku harus mengikutinya dan mencari tau siapa
pengendaranya. Mungkin ia adalah salah satu yang harus kuhadapi nanti."
Monolognya.
Tbc
__ADS_1