Cinta Di Atas Aspal

Cinta Di Atas Aspal
Episode 26


__ADS_3

Seorang gadis berambut pirang pucat duduk dengan melipatkan


kakinya disalah satu kursi yang ada disebuah ruang basement yang


terdapat beberapa mobil didalamnya. Ruangannya sedikit temaram, dan disana ada


beberapa orang yang duduk sembarang. Dihadapannya, duduk seorang lelaki


berambut coklat panjang dengan manik peraknya.


"Apa yang akan kau lakukan dengan mobil dan jubah itu, Ava?"


Lelaki bersurai panjang itu memulai percakapan kepada wanita pirang yang


terduduk itu. Asap menyembul perlahan, seiring dihembuskannya batang bernikotin


itu dari mulutnya yang dikerucutkan sebelumnya.


"Tentu saja aku akan memakainya. Kau tau dengan pasti jika


aku belum mempunyai mobil."


"Lalu jubah itu? Kau masih ingat bukan, pria itu mengatakan


apa?"


"'Pakailah jubah ini saat kau memakai mobil ini. Jika


ada yang bertanya, katakan jika kau telah mengalahkanku' begitu bukan?


Tentu saja aku masih ingat. Kau tak perlu mengingatkanku berulang kali seperti


itu, Sammy." Wanita itu, yang ternyata bernama Ava mengucapkannya dengan


nada bosan.  Ia sudah di ingatkan beberapa kali tentang itu oleh lelaki


berambut panjang yang panggil Sammy itu. Tapi ia sama sekali belum mengerti


tentang maksudnya.


"Berhenti memangilku dengan panggilan itu, Av. Kau tau aku


lebih suka dipanggil Sam saja. Atau sekalian Samuel. Kau tau, panggilan Sammy


itu terdengar menggelikan ditelingaku.”


“Tapi aku menyukainya, Sammy. Atau anggap saja jika itu


panggilan khususku padamu.”


Lelaki yang dipanggil Sammy itu mendesah lelah. Baginya, percuma


ia beradu argument dengan wanita pirang panjang dihadapannya itu. Ia akan


selalu kalah.


“Baiklah. Sesukamu saja. Asalkan tidak ada lagi yang akan


memanggilku begitu atau akan kuhajar orang itu.


Wanita yang dipanggil Ava itu hanya bisa mengangguk mengiyakan.


Baginya tak masalah. Toh, ia juga tak mendapat perlakuan apapun dari sahabatnya


itu. Karena baginya, omongan sahabatnya itu hanya gertakan semata. Buktinya,


sudah lama ia diperingatkan namun lelaki itu tak memberikan perlakuan apapun


selain menggerutu.


“Oh iya, Av. Kurasa kita akan siap menantang di Kota Falen satu


minggu lagi."


"Mengapa harus seminggu lagi? Kalau perlu kita bisa


melakukannya nanti malam. Persiapan kita sudah selesai sepenuhnya dan


mobil-mobil serta pengendaranya telah tak sabar ingin melakukan balapan lagi."


"Kau tak mengerti, Av. Lebih baik kita mengumpulkan


persiapan yang lebih matang dan mengulur waktu terlebih dahulu sebelum ini.


Bukankah besok kau masih harus menjalani hari pertamamu bersekolah? Lagipula Salma


masih belum selesai mengganti piston mobilnya saat ini."


"Oh iya. Aku lupa jika besok harus masuk sekolah baru. Aku


tak ingin terlambat. Bukankah kesan pertama itu diperlukan? Dan bagaimana


dengan yang lainnya? Apa mereka sudah siap? Kupikir semua telah sempurna dan


siap untuk melakukan balapan sekarang juga."


"Belum siap sepenuhnya. S13 milik Cyrus, lan evo 3 milikku,


dan s15 milikmu sudah siap. Tinggal sil80 milik Salma yang belum. Selebihnya,


kita membutuhkan 3 mobil lagi untuk kendaraan yang akan dipakai Hasti, Zal, dan


Daryush."


"Aku bisa memberikan mereka mobil ayahku yang sudah lama.


Mengapa mereka tak menerimanya saja? Biar bagaimanapun juga aku ingin kita


menetap di Kota Falen."


"Eg6, s14, dan r32. Meski itu mobil lama namun masih bisa


digunakan untuk balapan, aku tidak bisa menerimanya begitu saja, Ava. Kau lupa


tujuan awalku untuk membentuk tim balap? Aku ingin kita memiliki tim lengkap


yang kendaraannya kita peroleh dari hasil kita sendiri."


"Ya.ya.ya... terserah kau saja."


"Lagipula kudengar di Kota Falen banyak yang memiliki kendaraan


bagus. Tapi aku yakin mereka hanya bisa mengandalkan kekuatan mobil saja."


"Memang apa targetmu disana? Kudengar ada yang punya r34,


NSX, dan rx7. Dari kesemuanya, salah satu dari mereka tak ada yang mempunyai


posisi bertahan. Hanya pemilik r34 yang sekiranya sedikit sulit dikalahkan


karena memiliki prestasi yang lumayan dari beberapa perlombaan."


Samuel mengendikkan bahunya pelan. "Targetku adalah


menemukan orang yang bisa mengalahkanku. Itu saja."


Ava mendecih. Orang yang bisa mengalahkannya katanya? Hey, apa


itu tidk salah? Ia tau bagaimana sepak terjang pemuda itu ketika berada di


arena balap. Ia juga mengetahui bagaimana detail kemampuan yang dimiliki pria


berambut panjang dihadapannya ini. Dan utnuk orang yang katanya bisa


mengalahkannya di arena balap, apakah itu terlalu tinggi? Bagaimanapun juga


selama ini ia masih belum menemukan orang yang bisa mengalahkan Samuel.


"Makanya cari pacar, Sammy. Agar ada perempuan yang bisa


mengalahkanmu. Yah.... meski tidak selalu dalam balapan." Ujar Ava.


"Apa hubungannya dengan yang kau sebutkan itu tadi.


Lagipula, aku akan cari pacar. Jika ada wanita yang bisa mengalahkanku


dijalanan."


Gila!


Satu kata itu yang berada di fikiran Ava. Perempuan yang bisa


mengalahkannya katanya? Hey, laki-laki saja susah bagaimana dengan perempuan? Sungguh!


Ia ingin berteriak di telinga Samuel dan mengatakan jika keinginannya itu


terlalu tinggi, namun ia masih melihat sekelilingnya dan memilih mengurungkan


hal itu.


"Kau berkhayal terlalu tinggi. Jika aku jadi orang itu, aku


tak akan mau jadi pacarmu. Lagipula, bagaimana jika yang mengalahkanmu itu


seorang laki-laki? Tetap kau jadikan pacarmu, begitu?"


"Kau tenang saja, Ava. Kau tak akan bisa mengalahkanku


sampai kapanpun. Aku tau batas kemampuanmu sampai mana. Dan lagipula aku masih


lurus. Aku tak akan mengambil seorang laki-laki untuk kujadikan kekasih meski


orang itu bisa mengalahkanku."


"Kau terlalu percaya diri, Sammy. Bagaimana jika ada wanita


yang mengalahkanmu dan dia itu rupanya jelek?"


Samuel terkekeh,"Aku akan membawanya ke Korea untuk oprasi


plastik. Tapi tentunya setelah kunikahi."


"Lalu jika wanita sudah punya kekasih, atau suami?"


"Jika kekasih, aku akan merebutnya dengan jantan. Jika


suami, aku mundur."


"Kau harusnya mulai cari pendamping mulai sekarang. Ingat,


usiamu bahkan sudah 24. Dan kau sama sekali belum pernah merasakan rasanya


pacaran. Sekalipun. Kutekankan sekali lagi, se-ka-li-pun." Ucap Ava dengan


sungguh- sungguh. Ia bahkan sampai mengacung-acungkan tangannya kehadapan Sammy.


"Mendengarmu mengatakan hal itu dengan tegas, entah mengapa


membuat telingaku terasa sakit, Ava." Sammy menghela nafas pelan. Ia tau,


bahkan sangat tau hal itu. Tapi ia tetap masih ingin mempertahankan argumennya

__ADS_1


sejak dulu, bahwa ia akan menikah dengan wanita yang mampu membuatnya jatuh


hati. Dan selama ini, ia belum menemukannya sama sekali.


"Kau terlalu berlebihan, Sammy." Ava kembali


merilekskan dirinya dan duduk santai sambil mensidekapkan tangannya.


"Tidak. Aku sudah melangkah sejauh ini. Jadi aku tak akan


menyerah begitu saja. Aku bahkan masuk Senju School semata-mata agar aku


menemukan pembalap wanita yang mampu mengalahkanku. Namun nihil. Hingga aku


lulus dari sana dan menjadi pembalap reli setahun kemudian pun aku tetap tak


menemukannya."


"Kriteriamu terlalu tinggi, Sam. Jadilah sulit untuk


menemukannya."


"Baiklah.. bagaimana jika aku menurunkannya menjadi wanita


yang mampu membuat jantungku berdebar kencang. Kurasa itu tak terlalu tinggi. Bagaimana


menurutmu?"


"Dan jika hal itu terjadi, dengan senang hati aku akan


membantumu mendapatkannya."


"Kau bersunguh-sunguh? Akan aku tunggu saat itu tiba."


“Tentu saja aku bersungguh-sungguh akan ucapanku. Ingat, aku tak


pernah menarik kembali ucapan dan janji yang kubuat.”


Sammy tersenyum, begitu pula Ava. Suasana menghangat sejak


mereka saling melempar pembicaraan. Dan tanpa mereka sadari, waktu telah


bergulir begitu saja dan mulai memasuki waktu senja.


 


 


.


.


.


Arashya menatap jendela kaca yang kini ada dihadapannya, ia


menghembus nafas kasar. Memang, ia akui pemandangan yang dilihat dari atas


gedung sangatlah indah. Apalagi seluruh kota sedang diselimuti salju seperti


ini, semua hampir terlihat putih yang mendominasi.


Setelah dokter yang memeriksa putrinya pulang, Farrand


bersikeras agar ia kembali ke kantor untuk bekerja. Ia juga beralasan jika ia


ingin tidur saja agar ayahnya tak menjaganya. Alasan yang menurutnya tak masuk


akal. Tapi bagaimanapun juga biarlah seperti ini. Ia akan menyerahkan beberapa


keputusan pada putrinya, dan ia tak akan mengekangnya dengan beberapa hal yang


dikehendakinya sendiri.


Dalam lamunannya, ia kembali teringat akan tim yang baru


terbentuk. Bukan ia tak tau, tapi ia hanya ingin diam dan mengamati saja. Dan


bahkan, ia tau beberapa data tentang pembalap itu.


Tapi jika ia fikir lebih jauh lagi, kondisi di Kota Falen jauh lebih


mengkhawatirkan. Beberapa pembalap ia tau kemampuannya. Bahkan ia juga tau jika


dalam tim baru itu terdapat mantan pembalap reli. Jika asumsinya benar, maka Lingga


pun tak akan bisa melawan mereka.


Harapan yang ada difikirannya hanya putrinya. Namun dengan


kondisi cuaca yang seperti ini, ia akan melarang dengan keras jika putrinya


turun langsung. Seperti kata dokter tadi, musim dingin saat ini lebih dingin


dari musim dingin tahun lalu. Jika tahun lalu putrinya masih bisa ia ajak


berkendara di arena bersalju, tidak sekarang. Udara yang lebih dingin dan


ditambah dengan kekebalan putrinya yang sedang menurun sungguh perpaduan pas.


Meski dokter sudah memberi resep dan vitamin, ia tetap tidak yakin jika


putrinya akan membaik dalam kurun waktu satu minggu ini.


Sebenarnya ia bisa saja ikut bertanding, namun ia ingat, ini


bukan lagi masanya. Tetapi ini adalah masa generasi yang lebih muda darinya.


usianya jauh dibawahnya itu.


Dalam pemikiran panjangnya, ia tiba-tiba teringat jika ia ada


janji dengan seorang teman dari dealer yang menawarinya kendaraan yang sedang


dibutuhkannya. Ia mengambil hp yang ia letakkan disakunya dan memencet beberapa


tombol disana.


"Aku ingin test drive menggunakan mobil


yang kau tawarkan kemarin. Dan aku akan menunggumu di lobi kantor satu jam dari


sekarang." Putusnya.


Ia mematikan sepihak panggilan itu. Dan setelahnya, ia kembali


menatap kota yang tertutupi salju musim dingin.


 


 


.


.


.


Madhiaz, Lingga dan Nadeen kini sedang duduk disalah satu bangku


disudut kantin. Mereka memilih tempat terpojok, memesan beberapa makanan dan


minuman sambil sesekali berbincang. Yah... meski perbincangan itu lebih banyak


didominasi oleh Madhiaz dan Lingga.


"Aku tak tau jika Farrand akan mengalami sakit lebih parah


dari tahun kemarin." Madhiaz membuka percakapan. Ia heran, ia tak


mendapati Farrand dikelasnya dan ketika ia menanyakannya pada Nadeen, Nadeen


menjawab ia akan memberitahunya sambil makan dikantin. Ia pasrah saja, pasalnya


ia juga sedang lapar saat ini. Jadi mengiyakan untuk tawaran makan  tak masalah bukan?


"Kau masih


belum mendapat kabar lagi?" Ujar Lingga. Ia yang sedari tadi asyik memakan


bekal yang dibuatkan Farrand kini membuka mulutnya untuk bersuara. Sepertinya


bekal Farrand telah ia habiskan dengan cepat.


"Mereka memberi kabar jika akan ada balapan seminggu


lagi." Madhiaz mensidekapkan tangannya, ia kemudian menghela nafas dan


memejamkan matanya sembari menikmati bisingnya suara kantin saat jam istirahat.


"Bagaimanapun juga, sebenarnya aku tak ingin kita tak


terlibat dengan mereka." Lanjutnya.


"Mengapa? Bukankah Lingga cukup bisa di andalkan?"


Celetuk Nadeen.


"Kau benar. Tapi aku tetap khawatir. Farrand pasti tak bisa


ikut untuk menjadi navigator Lingga hingga musim dingin ini berakhir.


Dan aku yakin mereka tak akan mau menunggu selama itu."


"Lalu, bagaimana rencana kita untuk menghadapi mereka?"


Nadeen mengatakannya dengan nada cemas yang sedikit kentara. Dihatinya ia


merasa takut, takut jika dirinya tak bisa berbuat apa-apa.


"Ayahku dan paman Arashya sudah tau, dan kurasa mereka bisa


memberi bantuan jika keadaan menjadi tak terkendali. Aku tak yakin seratus


persen. Tapi untuk sementara kita sebaiknya berpikir tenang dalam melangkah. Kalian


tau, berfikir terburu-buru tidak  baik


dan bisa menghasilkan sesuatu yang buruk."


Lingga dan Nadeen mengangguk bersamaan.


"Ano, Dhiaz. Aku


tak tau jika kau bisa terlihat kalut begitu saat membicarakan mereka."


"Kau tak mengerti, Lingga. Mereka mengambil mobil yang


dikalahkannya. Bisa kau bayangkan? Jika kau dan aku kalah, R34 mu dan rx7 ku


akan melayang. Mereka ambil begitu saja dan mereka pakai. Tak ada harapan baik

__ADS_1


jika kita kalah dengan cepat. Kau tau, para pembalap Kota Falen telah


menghubungiku dan mereka menumpukan harapan mereka pada kita. Kebanyakan dari


mereka taka da yang ingin kehilangan mobilnya. "


"Mengapa harus kita? Mengapa tidak orang lain saja." Lingga


mengernyit, bagaimana bisa mereka mengatakan hal itu? Secara tak langsung


mereka ingin mengatakan jika mereka tak mau terlibat bukan?


"Harapan mereka hanya kau dan aku, Lingga. Kita yang


memiliki rekor kemenangan paling banyak di antara mereka."


"Tapi bagaimana dengan Farrand? Aku tau dia pemula, tapi


aku yakin jika kemampuannya juga tak kalah dengan kita. Kau juga tau bukan jika


dia mengalahkanku di pertandingan beberapa waktu lalu? Aku juga yakin kau tau


kemampuannya."


"Tunggu, Farrand pernah mengalahkanmu? Kapan? Mengapa aku


tak tau akan hal ini?" Nadeen mennginterupsi percakapan dua pria


dihadapannya ini. Ia sedari tadi memang hanya ingin mendengarkan saja. Nammun


begitu mendengar nama Farrand disebut, ia tahan untuk tidak berkomentar dan


membuat dua orang pria yang semeja dengannya itu menolehkan kepela mereka


serentak kepada Nadeen.


"Ia ikut pertandingan beberapa waktu lalu dibukit Indra.


Tempatnya sedikit jauh, dan saat itu kau menolak untuk kuajak bukan?" Nadeen


mengangguk membenarkan mendengar pertanyaan dari Madhiaz.


"Dan saat itu ia datang dengan memakai mobilnya, ia


mengalahkan kami. Dan itu adalah pertandingan pertamanya." Tambah Madhiaz.


"Aku menaruh harapanku pada Farrand." Lirih Lingga.


"Dan kini Farrand sedang terbaring sakit. Aku tak tau


sampai kapan. Tapi yang pasti paman Arashya tidak akan mengijinkannya keluar


selama musim dingin ini jika keadaannya tidak lebih baik dari tahun kemarin. Kalian


tau bukan, jika balapan selalu di adakan di tengah malam? Dan saat itu pastinya


udara sangan dingin. Farrand tak akan kuat menghadapinya."


Lingga dan Nadeen mengangguk bersamaan, bermaksud membenarkan


perkataan yang dilayangkan Madhiaz.


"Aku hanya berharap kita tak kalah dam bertanding melawan


mereka. Kalian tau, pemimpinnya bahkan lulusan Senju School dan mantan pembalap


reli. Yah.. meski ia tak lama dalam kejuaraan reli.


"Senju School?" Lingga melayangkan pertanyaannya pada Nadeen


dan Madhiaz.


"Kau tak tau apa itu?"


Lingga mengangguk. Setelah itu di ikuti dengusan kasar oleh Nadeen.


"Senju School, sekolah otomotif yang didirikan oleh Senju Fahrezan


yang merupakan pengusaha properti terbesar. Ada kabar yang mengatakan jika dulu


ia pernah menjadi pembalap pro sebelum kecelakaan menimpanya dan membuatnya


berhenti. Sekolah itu sangat hebat, banyak dari lulusannya berkecimpung menjadi


pembalap pro atau reli. Beberapa dari mereka juga ada yang tengah mengikat


kontrak dengan tim balap internasional."


"..."


"Sekolah itu tergolong baru didirikan, namun kharismanya


sudah terkenal dan dielu-elukan memiliki kurikulum yang sangat bagus. Kepala


sekolahnya, putra dari tuan Fahrezan yang bernama Julius tak akan segan-segan


menghukum dengan tangannya sendiri jika ada murid yang melanggar aturan."


Lingga mengangguk lemah. Ia baru tau jika ada sekolah yang


seperti itu.


"Sekolah ideal untuk orang yang bercita-cita menjadi


mekanik dan pembalap profesional." Sambung Nadeen.


"Kau benar." Tambah Madhiaz.


"Lalu bagaimana sekarang? Apa yang harus kita perbuat untuk


melawan mantan pembalap reli itu?" Lingga frustasi, ia bahkan sampai


mengacak-acak surai kelamnya itu.


"Berfikirlah secara jernih, Lingga. Jika mereka menantang kita,


kita hadapi dan bersiap dengan segala resiko yang terjadi." Ucap Madhiaz.


Ia kemudian menepuk pundak Lingga dan setelahnya meninggalkan mereka berdua.


"Aku merasa jika aku tak berguna saat ini." Lirih Nadeen.


Lingga sedikit sedih mendengarnya, dan ia merasa jika dirinya juga tak jauh


berbeda dengan Nadeen.


"Aku hanya bisa berharap semoga aku masih bisa


mempertahankan R34 ku." Lirih Lingga. Kedua kini sama terdiam dan menunduk


dengan fikiran masing-masing. Dan entahlah, mereka kini terlihat seperti


sepasang kekasih yang sedang bertengkar.


 


 


.


.


.


Malam kini telah larut dan hawa beringsut semakin dingin. Namun


hal seperti itu tak menyurutkan niat Sammy untuk berkeliling bukit Kota Falen


dan meneliti jalurnya. Ia memang tak bisa tidur saat ini, jadi ia putuskan


untuk berkeliling dan sekalian pemanasan sebelum bertanding.


Saat hampir tiba ditengah-tengah bukit, ia melihat siluet lampu


mobil mendekat. Ia semakin menambah laju kecepatannya dan bermaksud ingin


bermain-main sebentar dengan pengendara itu.


Setelah mobil itu dekat, ia tak bermaksud sedikitpun untuk


membiarkannya menyalip dirinya. Maka dari itu ia melaju dengan kecepatan tinggi


dan terus menerus berada dijalur yang agak ketengah. Berharap ia bisa


meninggalkan mobil itu di belakang.


Namun sepertinya tak berjalan sesuai dengan harapannya, mobil


itu menempel ketat dibelakangnya hingga ia yakin mobil itu hanya berjarak


beberapa centi saja dari mobilnya kini. Jantungnya berdegup kencang, belum


pernah ia merasa ditempeli hingga sedekat ini.


Mereka terus seperti itu hingga saat ini mereka sudah sampai di


6 tikungan terakhir. Keringat Sammy bercucuran, ia sedikit mengamati mobil yang


menempel ketat padanya itu dari spionnya. Dari yang ia lihat, ia menduga jika


mobil itu adalah mobil dengan tipe penggerak roda belakang. Terlihat dari


caranya melakukan drift.


Sammy merasa sedikit mengalami kurangnya keseimbangan mobilnya


akibat memaksakan berjalan dengan kecepatan yang sangat tinggi. Ia akui ia


sedikit kewalahan, dan setelah berada ditikungan tajam, ia dikagetkan oleh


lampu mobil yang muncul disamping kanannya. padahal ia yakin jika jalur


disampingnya itu kurang muat jika dilewati oleh sebuah mobil.


Tanpa ia duga, ternyata mobil yang berwarna merah itu sedikit


mengeluarkan ban kanannya hingga berada sedikit keluar jalur. Ia tak menyangka


akan hal itu. Namun ia yakin jika mobil berwarna merah itu adalah mobil seri


NSX. Dan setelah ia keluar tikungan, NSX merah itu keluar dengan cepat dan


meninggalkan Sammy dibelakangnya dengan perasaan tak menentu.


"Aku harus mengikutinya dan mencari tau siapa


pengendaranya. Mungkin ia adalah salah satu yang harus kuhadapi nanti."


Monolognya.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2