Cinta Di Atas Aspal

Cinta Di Atas Aspal
Episode 35


__ADS_3

Lingga menghela napasnya pelan, ia merindukan kekasihnya. Nanti adalah malam tahun baru dan itu berarti, kekasihnya itu akan di tunangkan. Sebenarnya ia tak rela, tapi mau bagaimana lagi? Ia tak punya apa-apa untuk dipersembahkan pada Farrand dan ayahnya. Ia hanya seorang remaja yang kabur dari keluarganya. Dan berbicara tentang keluarganya, sepertinya ia menyesali kelakuannya yang pergi begitu saja. Andai ia masih disana, tentunya ia bisa meminta ayahnya untuk melamar kan Farrand untuknya. Ah, tapi menyesal sekarang pun percuma karena semua hal yang sudah terjadi tak akan pernah kembali lagi ke waktu asal. Setidaknya ia bersyukur karena hal itu ia bisa bertemu dan bersama dengan Farrand.


Hari ini sekolah di liburkan, jadi ia sama sekali tak memiliki aktivitas untuk saat ini. Ia ingin ke tempat Madhiaz, tapi kakak kelasnya itu mengatakan jika saat ini ia sedang sibuk karena kepulangan ibunya dari rumah sakit. Sebenarnya ia ingin menyervis GTR nya. Setelah Mustang nya ia jual pada Abel, ia fokus pada perawatan GTR, mobil satu-satunya yang ia punya.


Sebenarnya ia terpaksa menjualnya. Mobil itu performanya masih bagus meski tak sebaik dulu, namun karena akhir-akhir ini tak pernah lagi ada balapan, ia kebingungan soal dana. Dan ketika ia mencari pekerjaan sambilan, belum ada toko yang mau mempekerjakannya. Alhasil, Mustangnya harus ia relakan dibawa Abel. Lagi pula ia percaya pada Abel, pemuda itu pasti bisa merawat Mustangnya lebih baik darinya.


Lingga yang merasa bosan hanya bisa menatap sekeliling apartmentnya dengan pandangan malas. Jantungnya berdebar keras, ia sangat takut jika setelah ini ia akan kehilangan Farrandnya.


"Apa yang harus kulakukan?" Ucapnya, ia tau, tak akan ada yang menjawab pertanyaannya itu karena ia hanya sendiri disini. Ia merebahkan dirinya ke sofa empuk di ruang tamunya, dan setelahnya, ia hanya memandang langit-langit ruang itu dan melamun sambil mengingat setiap jengkal pertemuannya dengan Farrand.


Masih segar di ingatannya saat pertama kali memakan bekal pemberian Farrand. Rasanya masih terasa, rasa masakan yang hampir sama dengan masakan ibunya. Dan setelah itu, ia menaruh atensinya pada Farrand. Padahal sebelumnya ia tak pernah memperhatikan Farrand meski ia berada di kelas yang sama. Sepertinya ia harus berterima kasih pada Nadeen, karena tanpanya, ia tak akan menjadi sedekat ini dengan Farrand.


Lalu ingatannya beralih pada kejadian setelahnya, dimana ia yang tertawan pada senyuman manis Farrand sesaat setelah pertandingan berakhir. Namun setelahnya ia harus menelan pil pahit karena ternyata, Farrand telah memiliki kekasih. Dan kekasihnya bukan lah orang sembarangan.


Tapi sepertinya keberuntungan masih berpihak padanya. Nyatanya, tak lama setelah itu mereka berpisah, dan seolah melihat celah Lingga maju dan berusaha memikat hati Farrand dengan segala yang ia bisa. Farrand telah menunjukkan padanya jika Farrand adalah wanita sempurna. Dia tak hanya memiliki paras yang amat menawan, namun keahliannya di arena balap juga tak bisa di sepelekan begitu saja. Maka dari itu lah ia yang awalnya mengagumi Farrand, perlahan mulai mencintainya.


Tak bisa Lingga pungkiri, jika dirinya masih memiliki rasa cinta untuk Ava. Tapi sekarang rasa itu hanya sebatas rasa kagum saja, bukan rasa ingin memiliki seperti yang ia rasakan pada Farrand. Meski pada nyatanya Ava tak berbeda jauh dengan Farrand, tapi Lingga merasa jika Farrand lebih spesial dari Ava.


Mereka berdua memiliki surai yang hampir sama panjangnya, iris mata yang hampir terlihat serupa dan sama, perawakan dan juga keahlian yang hampir sama. Namun disana Lingga juga tak memungkiri jika ia merasa Farrand 'sedikit' lebih gila dari Ava. Ah, memikirkan Farrand membuatnya semakin menatap miris dirinya yang tak bisa berbuat banyak untuk mempertahankan Farrand.


"Aku harus bagaimana lagi?" Ucapnya lagi. Ia kembali bertanya pada kesunyian meski ia tau tak akan ada yang menjawabnya. Ia menatap layar smartphone di tangannya, dan ia tersenyum saat melihat foto cantik Farrand yang menjadi wallpapernya.


Seakan mendapat kekuatan, Lingga bangkit. Ia ingin selalu melihat senyuman Farrand dan selalu berada di sampingnya. Tempo hari ia sudah berjanji akan memperjuangkan Farrand, dan kini, seakan mendapat suntikan semangat setelah menatap foto Farrand, ia bangkit. Ia akan pergi kerumah Farrand dan bermaksud akan meminta langsung pada ayahnya agar perjodohan Farrand dibatalkan. Ia tak bisa menerima jika ia akan berpisah dengan Farrand, dan dalam hati ia bertekad, ia akan berjuang meski Arasya harus membunuhnya sekalipun. Ah, seperti ia akan sungguh melakukannya saja.


Lingga menyambar jaket tebal dan kunci mobilnya dengan kasar. Sudah ia putuskan, ia akan pergi dan memperjuangkan apa yang seharusnya ia perjuangkan. Ia akan kerumah Farrand, dan ia akan menghadapi ayah Farrand apapun yang akan terjadi nanti.


.


.


.


Suasana hening masih melingkupi mereka berdua, dua orang itu, seorang pria paruh baya dengan seorang remaja berambut kelam yang sedang duduk di hadapannya. Belum ada yang memulai percakapan di antara mereka. Bahkan setelah kedatangannya seperempat jam yang lalu, Lingga hanya diam menunduk dihadapan Arasya. Hey.... mana tekad dan semangat yang kau koar-koarkan tadi, Lingga?


"Jadi, untuk apa kau datang kemari, Lingga. Putri ku bilang jika kau ingin menemui ku dan mengatakan sesuatu pada ku. Tapi lihat lah, dari tadi kau hanya bisa menunduk diam seperti itu. Jika tak ada yang ingin kau sampaikan, aku akan membantu putri ku memasak di dapur. Tamu kami akan segera datang."


Nyuut...


Hati Lingga terasa sakit setelah mendengar Arasya mengatakan hal itu. Ia tahu, tamu yang dimaksud Arasya adalah tamu yang akan melamar Farrand.


Arasya beranjak dari sofa yang didudukinya dengan jengah, namun sebelum ia melangkah, Lingga telah membuka suaranya.


"Paman....." Arasya menatap Lingga yang masih terduduk sambil menundukkan kepalanya. Ia tak berani menatap langsung pada Arasya, karena ia tau, jika ia menatap mata Arasya ia akan meneteskan air matanya.


"Katakan apa maumu." Ujar Arasya. Ia berkata dengan nada tegas, dan ia kembali duduk setelah Lingga memanggilnya.


"Aku mohon, tolong batalkan pertunangan Farrand." Ucap Lingga.


Arasya terhenyak, ia sedikit menatap kagum atas ucapan langsung dari Lingga yang meminta pembatalan perjodohan Farrand.


"Katakan alasan mengapa aku harus membatalkannya."


Lingga menengguk ludah karena gugup. Ia tak menyangka, ucapan tegas dari Arasya mampu membuat kekuatan yang tadi di kumpulkannya luluh seketika.


"Aku mencintainya. Begitu pula Farrand, dia juga mencintaiku."


Arasya terkekeh pelan," Cinta katamu? Hei, anak muda. Masih terlalu dini untukmu mengatakan cinta pada putriku."


"Aku tau, paman. Tapi ku mohon. Aku masih belum sanggup jika aku harus berpisah dengannya. Aku mohon, paman. Biarkan aku yang bersamanya. Aku akan membahagiakannya."


"Apa jaminan yang kau tawarkan pada putriku?"


"Jaminan?"


"Ya. Jaminan agar putriku akan selalu kau bahagiakan."


"Aku tidak punya jaminan apa-apa, paman. Tapi aku telah bertekad pada diriku sendiri jika aku akan berusaha sebaik mungkin untuk membahagiakannya."


"Kata-katamu terlalu manis, pemuda. Usiamu saja masih belum bisa di katakan dewasa dan kau sudah mengeluarkan kata-kata itu. Hati-hati, bisa saja esok kau menemukan hal yang lebih menarik dari putriku dan meninggalkannya, melupakan janji mu dan membuatnya sengsara."

__ADS_1


Sejenak Lingga terdiam mendengar ucapan Arasya. Pria itu benar, ia memang tidak bisa menjaminkan apapun yang lebih meyakinkan dan pantas untuk di persembahkan untuk wanitanya itu. Tapi jika boleh jujur juga di dalam hatinya ia ingin berontak dan mengatakan jika ia menginginkan Farrand lebih untuk dirinya sendiri.


"Aku tak tau lagi tentang apa yang harus ku katakan agar paman mempercayaiku. Tapi ketahuilah, paman, aku selalu bersungguh-sungguh atas ucapan ku."


"Kau tahu, aku membesarkan Farrand sendirian sejak ia berusia 7 tahun. Ibunya tiada karena pendarahan akibat keguguran yang di alaminya. Itu adalah penyesalan terbesarku, karena aku berjanji padanya untuk selalu bersamanya, nyatanya, aku tak ada di sampingnya saat ia terjatuh hingga ia terlambat mendapat penanganan. Aku tahu setelah itu Farrand selalu bersedih sepanjang hari, ah tidak, bahkan sepanjang waktu. Dan kau tahu, setelahnya aku selalu berusaha agar aku menjadi orang yang selalu membahagiakannya."


"......" Lingga terdiam mendengarkan.


"Dan setelah itu aku tau dia telah disakiti oleh pemuda yang katanya cinta pertamanya itu. Jika kau melihat putriku yang kuat, kau harus tahu bahwa sesungguhnya ia sangat rapuh."


"...."


"Setelah ia disakiti, aku yakin jika aku tak bisa mempercayakannya pada sembarang pria yang menjanjikan kebahagiaan untuknya."


"...."


"Karena harus kau tau, pemuda itu juga dulu mengucapkan kata-kata yang sama denganmu. Aku percaya dan menerimanya, namun setelahnya aku kecewa karena ia hanya punya omongan kosong belaka."


"Tapi aku akun berusaha lebih baik, paman."


"Aku tau, karena aku sudah pernah mendengar hal itu. Dan aku tak akan merubah keputusanku."


Set....


Lingga berdiri dan mengambil posisi bersujud disamping sofa yang diduduki Arasya.


"Aku mohon. Dengan segala kerendahan diri ku, aku memohon untuk merestuiku dengan Farrand."


"Aku tak ingin membuang-buang waktu untuk hal yang sia-sia, Lingga."


"Tidak, ini bukanlah hal yang kuanggap sia-sia. Aku benar-benar akan memperjuangkan Farrand di sisiku." Tes... Airmata Lingga lolos begitu saja setelah Arasya sama sekali tak merubah keputusannya. Kini ia tahu dari mana sifat keras kepala yang dimiliki oleh Lingga.


Tap tap tap....


Farrand berjalan menghampiri ayahnya yang terduduk. Ia yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka dan menangis tanpa isakan kini menggenggam tangan ayahnya, menciumnya, dan mendongakkan kepalanya sambil menatap wajah tegas ayahnya dengan tatapan penuh airmatanya.


"Lalu apa yang akan kau lakukan jika aku tetap pada pendirianku, Farrand?"


Farrand terkesiap, Lingga yang sedari tadi masih menundukkan kepalanya kini mendongak, mencoba menatap manik biru milik Arasya.


"Paman, aku benci harus mengatakan ini. Tapi untuk saat ini, Farrand sedang mengandung darah dagingku."


Farrand yang mendengar ucapan Lingga langsung membolakan matanya, ia panik, ia melihat perubahan raut wajah ayahnya dan langsung reflek menahan tangan ayahnya yang akan memberi tindakan pada Lingga.


"Ayah kumohon. Jangan sakiti dia."


"Katakan jika kalian berbohong." Ujar Arasya dingin


"Apakah dengan aku mengatakan hal itu, paman akan menarik kembali keputusan paman?"


"Tidak."


"Maka aku tak akan memungkirinya." Lingga mengalihkan pandangannya. Ia tak berani menatap Arasya secara langsung karena ia takut jika Arasya tau kebohongannya.


"Ayah...." Farrand berkata lirih, ia masih menggenggam erat tangan Arasya dan sesekali menciumnya.


"Ayah, aku tau aku bukan putri ayah yang baik. Tapi kumohon ayah, tolong persatukan kami. Ayah tak ingin jika cucu ayah terlahir tanpa ayah, bukan?" Lanjut Farrand.


"Ayah tahu....."


Tok...tok...tok...


Ucapan Arasya terhenti saat ada suara ketukan di pintunya. Raut wajah ketakutan dan kecemasan tergambar jelas di muka Farrand dan Lingga.


Merasa jika langkahnya terhalang dua orang yang sedang menangis itu, Arasya merogoh sakunya dan mengambil ponselnya. Ia memencet beberapa tombol dan mendekatkannya pada telinganya.


"Masuk lah, pintunya tidak dikunci. Ada sedikit drama disini. Aku yakin kau masih tau caranya membuka pintu, bukan?" Ucapnya.


Klik.

__ADS_1


Sambungan itu terputus, dan setelahnya, pintu terdengar terbuka, membuat ketiga pasang mata menoleh secara bersamaan kearah pintu yang seperti gerakan lambat, pintu terbuka perlahan.


"Arasya, mana calon menantuku yang cantik itu." Ucap seorang wanita yang kini berdiri di ambang pintu. Mata Lingga terbelalak, bibirnya perlahan terbuka dan tubuhnya terasa mematung.


"Hey, kau apakan kedua anak ini, Arasya? Jangan bilang kau yang membuat mereka tampak berantakan seperti ini." Lanjutnya. Lingga menatap ayahnya yang tersenyum dan Lingga yang syok secara bergantian.


"Ma-mama." Lirih Lingga. Farrand menangkap suaranya, dan ia tak bisa menampilkan raut keterkejutannya saat menyadari kemiripan antara Lingga dan wanita paruh baya itu.


"Selamat datang, Ariana. Maaf ada jika ada sedikit drama kecil disini." Ujar Arasya. Ia tersenyum, dan sedetik kemudian, Lingga beranjak dan berlari menerjang wanita yang masih berdiri di ambang pintu itu.


"Mama. Aku merindukanmu." Lingga membenamkan wajah penuh air matanya pada pelukan wanita yang Arasya panggil Ariana itu.


"Hey? Lingga. Mengapa kau terlihat seperti ini? Apa Arasya menyakitimu?" Aura suram dikeluarkan Ariana. Arasya yang menyadarinya langsung menengguk ludah dan mengeluarkan keringat dingin.


"Tentu saja tidak, Yana. Aku hanya sedikit bermain-main disini." Glup. Arasya menengguk ludah lagi. Ia masih gugup karena menghadapi aura kelam yang terus menerus menguar dari tubuh Ariana.


"Ayo, masuk lah mama. Kau tak ingin membuat kami berdua mati kedinginan diluar sini kan?"


Ucapan seseorang membuat Ariana tersadar dan terkekeh pelan. Lingga melepaskan pelukannya dan langsung berganti memeluk bocah itu.


"Daniel." Lirihnya.


"Kakak. Aku merindukanmu. Mengapa kau sangat betah hidup sendirian disini?" Ucapnya. Lingga kembali terisak, dan dengan perlahan ia mengelus surai panjang yang di ikat kebelakang milik adiknya itu.


"Ehm." Suara deheman membuat Lingga mendongakkan kepalanya. Dan disana, ia bisa mendapati raut tegas milik ayahnya yang telah lama tidak ia lihat.


"Ayo kita masuk dan duduk. Aku tak mau kita semua masuk angin." Ucap Ariana. Lingga melepas pelukannya dan memberi jalan pada ketiganya untuk masuk.


Tanpa diminta, Ariana menyeret Daniel dan Lingga ke sofa dan mengajaknya duduk. Lingga tak banyak berkata lagi. Ia hanya diam dan pasrah saat ibunya mendudukkannya diantara Daniel dan ibunya. Ia terdiam, dan berusaha mencerna keadaan.


"Kau tak ingin duduk, Jason." Jason mendengus, ia mendecih pelan mendengar ucapan Arasya. Dan setelahnya, ia berjalan dan mengambil tempat duduk disamping Ariana.


"Kau keterlaluan, Arasya. Lihat, kau membuat calon menantu dan anakku berantakan seperti itu." Arasya terkekeh, ia tatap Farrand yang masih terdiam dalam keterkejutannya karena masih belum percaya atas apa yang telah dilihatnya.


"Jadi, Farrand. Apa kau ingin ayah membatalkan perjodohan ini? Katakan dan ayah dengan senang hati akan membatalkannya." Arasya menatap Farrand dan tersenyum manis semanis-manisnya. Farrand tersentak, ia menoleh kearah Lingga yang menunduk. Ia tak menyangka akan hal ini. Ia tak menyangka jika orang tua Lingga lah yang datang.


"Ucapkan pembatalan dan aku dengan senang hati akan menculik Farrand dan membawanya ke Kota Halu. Arasya." Ujar Ariana.


Arasya kembali terkekeh dan menatap Farrand dengan pandangan melembut,"Kau mau melanjutkan, atau membatalkan perjodohan ini, putri kecil ayah?"


Farrand terkesiap, ia menggeleng keras dan langsung berlari meninggalkan mereka.


"Hey, Farrand ternyata malu ya." Ariana terkikik melihat tingkah Farrand. Disampingnya, Lingga maaih betah dengan keterdiamannya. Sepertinya ia syok dan masih belum sepenuhnya sadar dengan semuanya.


"Jadi, apa benar putriku mengandung anakmu, Lingga?" Tanya Arasya, Lingga mendongakkan kepalanya dan menggeleng keras.


"Heh, apa?" Ariana berteriak kaget, ia tak menyangka Arasya akan mengucapkan hal itu.


Tak,


Ariana menggeplak puncak kepala Lingga hingga si pemilik mengaduh."Kau nakal, Lingga. Tapi ibu salut padamu. Kau jantan." Ucapnya.


"Nah, Daniel. Jangan tiru kakakmu, oke. Atau mama akan menghukummu."


Daniel mengangguk mantap. Ia memandang ngeri pada ibunya yang mengeluarkan aura kemarahannya.


"Na, Lingga. Kau masih mau menolak perjodohan yang ku buat untuk Farrand?" Goda Arasya. Ia tersenyum puas. Puas karena telah menggoda dua sejoli itu habis-habisan.


"Jangan, paman. Kumohon." Lirihnya.


Arasya tertawa,"Sudah ku bilang tadi, sia-sia kau melakukan hal itu. Karena pada akhirnya, kalian lah yang memohon agar perjodohan ini dilanjutkan."


Wajah Lingga memerah, ia tak menyangka jika ayah Farrand bisa bertingkah jahil hingga sejauh itu.


tbc


 


 

__ADS_1


__ADS_2