
Farrand kini sedang termenung menikmati secangkir teh hangat di depan minimarket. Saat ini masih jam 7 malam. Jadi ada tenggang waktu 2 jam sampai pertandingan yang dijanjikan dimulai. Hawa dingin mulai merasuk ke tubuh kecilnya, ia yang saat ini memakai pakaian tebal dengan sepatu boot hitam pun mulai merasa jika tubuhnya sedikit menggigil. Ia tak terlalu merasakannya, dan kini, pikirannya fokus pada ingatannya saat malam natal setelah kepulangan Lingga.
Flashback.
Farrand yang masih terduduk di ruang tamu dengan ayahnya kini sedang menyesap teh hangat dengan perlahan. Tak ada percakapan yang melingkupi mereka meski mereka kini hanya tinggal berdua saja. Tak biasanya mereka hanya bisa berdiam, namun sejak kepulangan Lingga dan Nadeen satu jam yang lalu, ayahnya terlihat seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
"Hey, ayah. Apa ada hal yang mengganjal pikiranmu?" Tanya Farrand. Ia tak betah dengan kondisi yang terus menerus seperti ini.
"Sebenarnya, ada beberapa hal yang ingin ayah sampaikan padamu. Tapi sebelumnya, boleh ayah bertanya beberapa hal?"
Farrand mengangguk pelan. Sebenarnya jantungnya berdegup kencang mendengar nada berat yang di ucapkan ayahnya, tapi, ia mencoba berusaha bersikap setenang mungkin. Setahunya selama ini, ayahnya tidak akan menggunakan nada seperti itu jika tidak dalam pembicaraan yang serius.
"Bertanyalah yah. Akan ku jawab jika aku punya jawabannya."
"Ne, Farrand. Apa kau mencintai Lingga?"
Farrand tersentak kecil, mencintai? Bukankah hal itu terlihat sangat jelas? Mengapa ayahnya menanyakan lagi tentang hal itu?
"Kurasa, ya. Mengapa ayah menanyakan hal itu?"
"Sebenarnya......" Arasya menghela nafas sejenak, ia seperti ingin mencari kata yang pas untuk di ucapkannya.
"Ayah keluar kota beberapa hari kemarin bukan hanya untuk perjalanan bisnis semata. Melainkan juga mengunjungi teman lama ayah."
"Lalu?"
"Dia mempunyai dua orang putra. Yang sulung usianya tak jauh beda denganmu."
"Dan apa hubungannya denganku, yah?"
Arasya menghela nafas lagi.
"Sejak kalian kecil, kami telah bermaksud menjodohkan kalian berdua. Kau, dan putra sulungnya."
Nyuuttt...
Ulu hati Farrand terasa sakit, dijodohkan katanya? Mengapa ayahnya baru mengatakan sekarang? Disaat hatinya kini telah tertambat pada pemuda berambut kelam itu.
"Menjodohkan kami? Lalu bagaimana hubungan ku dengan Lingga?"
"Ayah tak tau pasti. Tapi mereka berencana akan kemari saat malam perayaan tahun baru."
Perayaan tahun baru? Bukankah itu beberapa hari lagi? Dan mereka, akan kemari? Lalu, bagaimana tentang hubungannya dengan Lingga setelah ini?
"Ayah, bukankah ayah tau jika aku sedang menjalin hubungan dengan Lingga?"
"Ayah tau."
"Lalu mengapa ayah mengatakan hal ini padaku?"
Tes....
Sebuah bulir air mata jatuh dari kelopak mata Farrand yang tertunduk. Ia tak sanggup menerima berita yang mendadak seperti ini.
"Ayah tau ini terlalu mendadak untukmu. Tapi percayalah. Ayah hanya menginginkan yang terbaik untukmu."
Terbaik katanya? Apa membuat hati anaknya sakit seperti ini adalah keputusan yang terbaik?
"Mengapa ayah mengatakan hal ini secara tiba-tiba seperti ini? Memang apa yang membuat ayah merasa ini keputusan terbaik?"
"Dengar, Farrand sayang. Mendiang ibumu telah menginginkan hal ini sejak kau masih bayi. Memang kau tak mengenal mereka karena kami telah lama tak bertemu. Mereka teman akrab ayah dan juga ibumu. Mereka juga yang diam-diam membantu perusahaan kita. Dan kemarin, ayah telah banyak bercerita tentang kita. Bagaimanapun juga, kami telah terikat janji lama itu dan kami ingin mewujudkannya."
"Lalu bagaimana denganku, yah? Apa ayah tak mengatakan pada mereka jika aku telah memiliki kekasih?"
"Sudah ayah katakan."
"Mengapa ayah tidak membatalkannya saja?"
"Ayah tidak bisa. Ayah sudah terikat janji, lagi pula bukankah cinta bisa datang seiring waktu berjalan? Kau bisa mengenal keluarganya dan dia setelah ini. Dia anak yang baik, dan mungkin, ayah bisa tenang jika merelakanmu padanya."
"Bagaimana denganku? Itu menurut ayah. Aku bahkan sama sekali tak tau siapa mereka yang ayah maksud."
"Mereka teman lama ayah. Dan kau pasti lupa karena kalian bertemu bahkan sebelum usia kalian genap tiga tahun."
Farrand terisak. Ia sudah tak bisa lagi membendung air mata yang telah merengsak keluar dari kelopak matanya.
"Farrand......"
"Aku.... aku tak tau harus bagaimana, yah."
"Maafkan ayah..."
"Sudahlah......"
Farrand bangkit, ia yang tak kuasa menahan sakit di hatinya kini beranjak meninggalkan ayahnya yang masih terduduk di meja santai ruang keluarga itu. Dengan langkah yang pasti, ia masuk ke kamar dengan membanting pintu lalu menguncinya dari dalam. Ia duduk bersandar pada daun pintu yang telah ia tutup dan menenggelamkan wajah penuh airmatanya pada lipatan kaki yang ia tekuk. Ia merasa kacau. Ia baru menapaki jalan baru bersama Lingga dan kini keputusan ayahnya seolah menghancurkannya. Ia bingung harus bagaimana menjelaskannya pada Lingga. Namun yang jelas, sebenarnya ia masih tak terima atas keputusan sepihak ayahnya ini. Dalam batinnya, mengapa, ayahnya yang sedari dulu selalu terbuka padanya itu tidak mengatakannya sama sekali? Jika ayahnya mengatakannya lebih awal, tentunya ia akan lebih berhati-hati untuk tidak mencintai seseorang.
Flashback end.
Farrand menghela nafas lagi yang entah ke berapa kali saat ini. Setelah malam pengakuan ayahnya itu, dia lebih suka berdiam diri, ayahnya di acuhkannya. Bahkan ia juga sedikit mendiamkan Lingga. Dan kini, untung saja ayahnya sedang keluar. Jadi dia bisa keluar lebih awal dan berakhir disini.
"Mengapa aku bisa seperti ini?" Monolognya.
__ADS_1
"Lusa keluarga itu akan datang. Tapi sampai sekarang aku bahkan masih belum memberitahu Lingga. Apa dia baik-baik saja jika aku memberitahukan hal ini padanya?" Tambahnya.
Hanya hening yang melingkupinya saat ini. Meski suasana di sekitarnya tak terlalu sepi karena masih ada beberapa orang yang lalu lalang.
Setelahnya ia merogoh ponsel yang ia letakkan di saku pakaian hangatnya, menggeser sedikit dan bermaksud menelpon seseorang.
"Halo" Suara di seberang terdengar, tapi lidahnya seakan kelu untuk sekedar membalasnya.
"Ada apa, Fa?"
"Ling, kau dimana?" Ucapnya kemudian.
"Aku ada di apartment. Ada apa? Suaramu terdengar serak. Apa kau habis menangis?"
"Aku akan kesana. Tunggu aku."
Klik.
Tanpa mendengar persetujuan dari Lingga, Farrand segera mengakhiri panggilannya secara sepihak dan langsung memasukkan ponselnya kedalam saku. Ia langsung menyambar kunci mobilnya yang ia letakkan di meja. Ia bergegas, dan tujuannya kini adalah apartment Lingga.
Begitu ia sampai di basement apartment, Farrand langsung berlari menuju apartment yang ditempati kekasihnya itu. Ia berlari dengan kelopak mata yang terus menerus mengalirkan airmata. Ia bahkan tak peduli jika ia telah menabrak beberapa orang yang berjalan melintas di depannya. Dan sontak kelakuan Farrand mendapat atensi dari beberapa pasang mata.
Cklik.
Pintu apartment Lingga langsung terbuka saat ia mengetuknya. Lingga telah menunggunya, dan raut wajah yang menyiratkan kecemasan kini bertengger di mukanya.
Bruk....
Farrand langsung menerjang tubuh tegap Lingga begitu pintu itu terbuka dan memperlihatkan sosok Lingga yang berada dibaliknya. Lingga terkesiap, ia yang tak menyangka jika Farrand akan langsung menerjangnya begitu saja sempat oleng dan untungnya ia tak terjatuh.
"Ada apa, Fa? Kau tak menjawab pertanyaanku dari tadi."
Farrand menggeleng. Ia semakin mengeratkan pelukannya dan membenamkan wajah penuh air matanya kedada bidang milik Lingga.
"Ayo kita bicara di dalam. Aku akan menutup pintunya dulu."
Farrand mengangguk, ia melepas pelukannya dan mengusap air matanya dengan kasar. Dan setelah Lingga telah selesai menutup pintu, ia menggandeng Farrand dan mengajaknya ke ruang tamu.
"Duduklah dulu. Aku akan membuatkan minuman hangat untukmu."
Farrand menggeleng, ia kembali memeluk Lingga dan kembali menangis.
"Ada apa, Fa. Aku merasa bingung dengan keadaanmu saat ini. Ada masalah kah?"
Farrand mengangguk pelan, isakan tangis semakin jelas terdengar darinya.
"Kumohon, Ling. Katakan padaku. Apa kau mencintaiku?"
Lingga mengernyit mendengarnya, "Tentu saja aku mencintaimu, Fa." Ucapnya.
"Aku tak akan meninggalkanmu."
"Apa kau akan memperjuangkanku? Bahkan jika ayahku akan menghalangi hubungan kita?"
Lingga terlihat semakin bingung saat ini. "Sebenarnya apa yang telah terjadi?
"Ayah ..... dia...."
"Ada apa dengan paman?"
"Dia menjodohkanku dengan putra sulung dari temannya."
Hati Lingga mendadak sakit mendengar Farrand mengatakannya. Ia tertegun seiring dengan suara tangis Farrand yang semakin menderu.
"Aku tak mau, Ling. Aku tak mau dijodohkan dengan orang yang belum ku kenal sama sekali."
"Jadi, jika orang itu kau kenal, kau mau?"
Farrand menggeleng keras, "Hanya jika orang itu adalah kau. Aku mau."
Sebenarnya hati Lingga sedikit menghangat mendengar Farrand mengucapkan hal itu. Namun fakta tentang Farrand yang telah dijodohkan, tak bisa ia tampik begitu saja.
"Katakan Ling. Jika kau akan memperjuangkanku. Aku tak ingin berpisah darimu."
"Aku.... "
"Katakan Ling."
"Aku akan memperjuangkanmu. Dan aku tak akan melepaskanmu dengan mudah."
Isakan Farrand semakin menjadi. Ia mengeratkan pelukannya dan semakin membenamkan wajahnya pada dada Lingga. Dan Lingga, ia mengusap lembut surai panjang milik Farrand dan sedikit mengecup puncak kepalanya. Agak lama mereka seperti itu, dan setelahnya, Farrand merasa dunianya gelap dan kesadaran terengut darinya.
Lingga yang merasakan tubuh Farrand memberat dengan tanpa isakan lagi, segera melonggarkan pelukannya. Ia melihat wajah Farrand, dan terkejut setelah mendapati Farrand kehilangan kesadarannya. Dengan agak sudah payah, ia membopong tubuh Farrand dan membawanya menuju ranjang yang ada di satu-satunya kamar apartmennya. Ia kalang kabut, ia segera mengambil sebotol minyak kayu putih untuk menyadarkan Farrand. Setelah didapatkannya, ia menggosok-gosokkan minyak ketelapak tangannya, membuat Farrand membauinya, dan menepuk-nepuk pelan pipi Farrand. Sebenarnya ia tak tau apa pun tentang menyadarkan orang pingsan, dan hal itu ia lakukan secara abstrak dan hanya mengikuti apa kata hatinya saja.
"Ku mohon. Sadarlah." Ujar Lingga. Ia masih menepuk-nepuk pipi Farrand, berharap sang pemilik membuka matanya.
"Ling...." Lirih Farrand.
__ADS_1
Berhasil, dengan perlahan Farrand membuka matanya dan memanggil nama Lingga dengan lirih. Lingga merasa lega melihatnya. Dan kemudian Lingga melihat Farrand akan mendudukkan dirinya, ia langsung menahannya.
"Jangan bangun dulu. Aku akan mengambilkan minum untukmu."
Farrand mengangguk lemah. Ingin ia menangis lagi, namun hal itu di urungkannya dan mencoba menahan laju airmata nya.
"Ini. Minumlah." Lingga menyodorkan sekotak jus apel pada Farrand dan disambut anggukan olehnya. Ia ingin duduk, dan dengan hati-hati Lingga membantunya dan memberikan bantal penyangga di punggungnya.
"Maaf telah merepotkanmu."
Lingga menggeleng, "Aku begitu takut melihat kau tak sadarkan diri, Fa. Aku takut kau akan meninggalkanku."
"Maukah kau mempertahankanku untuk disisimu, Ling?"
"Aku akan melakukannya. Aku akan meyakinkan pada paman Arasya jika aku mencintaimu. Bahkan aku tak peduli jika aku akan berakhir di tangannya."
"Jika itu terjadi, aku akan menyusulmu."
"Aku mencintaimu." Farrand menggerakkan tangannya dan merengkuh Lingga kedalam pelukannya. Lingga mendongak, ia menatap mata Farrand dan kemudian menciumnya dengan lembut. Tak ada *******. Hanya sekedar tertempelnya dua bibir.
"Berapa lama aku tak sadarkan diri?"
"Tak lama."
"Jam 9 nanti aku akan memenuhi tantangan Samuel. Ikut denganku, ya."
"Tapi, diluar sangat dingin. Aku takut kau akan sakit mengingat tubuhmu tak kuat menahan hawa dingin."
"Tak apa. Aku butuh pelampiasan saat ini. Perasaanku kacau. Lagi pula aku tak mungkin mengatakan pada ayah dan menyuruhnya datang untuk bertanding dengan Samuel."
"Mengapa?"
"Aku mendiamkan ayah beberapa hari ini. Biarlah. Aku akan mengatakan sejujurnya pada Samuel. Lagi pula, aku tak yakin akan menang."
"Kau bisa kehilangan mobilmu jika kau kalah."
"Biarlah. Aku akan mengambilnya lain waktu."
Lingga mengatupkan mulutnya, ia tak bisa membantah keinginan kekasihnya itu. Yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah mendukungnya dan mengikutinya saja.
"Nanti. Kau keluarlah. Aku tak akan menampakkan diri pada Samuel sebelum pertandingan berakhir. Aku khawatir jika ia tak mendapati ayahku, dia membatalkan pertandingannya."
Lingga mengangguk. Ia bisa memahami apa yang kekasihnya itu inginkan. Ia akan melakukan apa yang Farrand katakan.
Dan di sinilah mereka kini, di rest area bawah bukit Falenca. Samuel yang lebih dahulu datang telah siap dibalik kemudi dengan kuda besinya. Di sebuah kursi yang tak jauh dari mobil Samuel, ada Ava yang terduduk dengan memakai baju tebal. Tak banyak yang dilakukannya, kegiatannya hanya berkutat pada layar smartphone yang ada di genggamannya. Ia yang sengaja membawa mobil Lingga hanya bisa terdiam karena Samuel telah memperingatkannya terlebih dahulu agar ia tak bertindak terlalu banyak.
Lingga yang telah keluar dari mobil Farrand kini menghampiri Samuel. Ia akan mengatakan tentang hal yang telah ia dan Farrand sepakati sebelumnya. Ia akan menghitung mundur, dan Farrand akan melawan Samuel dari belakang kemudi masing-masing.
"Samuel. Disini aku yang akan menghitung mundur. Apapun hasilnya nanti, kuharap kau tak akan menarik kembali kata-katamu." Ujar Lingga.
"Aku tau. Aku akan mengembalikan mobilmu jika dia menang. Dan sebaliknya, aku akan mengambil mobilnya jika dia kalah."
"Dan satu lagi. Apapun yang terjadi, kau jangan lagi berharap bisa menantangnya kembali."
"Aku tau. Dan aku berjanji. Kau bisa langsung membawa mobilmu jika dia menang karena aku telah menyuruh Ava membawanya malam ini."
Lingga mengangguk pelan dan mengambil posisi untuk bersiap menghitung. Mobil Samuel berada disisi kiri, dan ketika ia berusaha mencari tau seseorang yang dia lawan, dia hanya melihat siluetnya saja karena buramnya kaca mobil. Tapi ia yakin, dengan aura yang ia rasakan dan mobil yang di kenalinya itu, ia tak salah atas lawan yang telah ia tunggu.
"5......4......" Lingga mulai menghitung mundur, dan suara deru mesin kini terdengar nyaring.
"3......2......" Lingga mulai meragu atas hatinya. Entah mengapa ia merasakan hal buruk sedang mengintai Farrand. Tapi ia tak bisa mundur dan menghentikan pertandingannya begitu saja.
"1..... GO!!!!!" Rambut Lingga tergerak karena belaian angin yang ditinggalkan kedua mobil itu. Matanya terpana, ia kagum melihat kedua mobil itu meluncur dengan indahnya. Dan tanpa di sadarinya, Ava menghampirinya.
"Lingga, kau mau menunggu disini saja atau mengikuti mereka?" Tanya Ava.
"Entahlah."
"Jika mau, aku bisa membawamu mengikuti mereka dengan mobilku."
"Bolehkah?"
Ava mengangguk, "Tentu saja boleh." Ucapnya.
"Tapi biarkan aku yang menyetir."
"Tentu."
Ava tersenyum, sebenarnya ia ingin berdua saja dengan Lingga ditempat ini. Tapi tak apalah. Bukankah dengan berdua di dalam mobil itu juga sama saja? Dan saat melihat pandangan Lingga yang seolah penasaran atas keduanya, ia mengenyahkan pikiran itu dan mulai beranjak menuju ke mobil yang dibawa Ava. Sejenak ia tertegun, mobil itu, mobil yang selama ini ia rindukan. Mobil GTR hitam miliknya yang kini dibawa Ava.
Di perjalanan mereka, suasana hening lebih banyak mendominasi karena Lingga lebih memilih berkonsentrasi pada apa yang di hadapannya. Sedang Ava, ia lelah mengambil topik untuk di bincangkan karena Lingga tak merespon sama sekali.
Disisi lain, Samuel yang semula tenang karena NSX itu melaju lebih dulu kini mulai menunjukkan tanda-tanda kegusarannya. Tadi, ia berfikir jika mobil merah itu akan lebih cepat mengalami under-steer karena tidak memperhatikan kondisi ban. Namun dugaannya salah. Mobil itu melaju dengan kencang seolah licinnya salju tak menghalangi kendalinya atas kemudi. Jarak mereka cukup jauh, namun Samuel masih bisa melihatnya sesekali jika ada jalur lurus yang cukup panjang.
"Shit! Aku tak memperhitungkan hal ini." Umpat Samuel. Ia fikir, ia bisa mengikis jarak ditikungan karena mobilnya yang dilengkapi turbo dan misfiring system. Namun kenyataannya kini memukulnya telak. Ia tertinggal jauh dan belum bisa mengikis jarak sama sekali, karena disetiap tikungan, ia seolah melihat mobil itu menghilang dengan cepat dan hampir tidak mengerem kecuali untuk hal mendesak.
"Dia gila!" Ucap Samuel. Ia kembali berkomentar saat kefrustasian kembali melandanya. Tapi sebenarnya, di balik itu semua ada sedikit rasa puas menyeruak di hatinya. Di depannya itu, mobil yang sama yang telah mengalahkannya. Ia hafal betul irama sang pengemudi. Namun ia seperti menemukan sesuatu yang janggal tentang hal itu. Suara knalpot itu, ia seperti mendengar sebuah raungan kemarahan yang tertahan. Entah apa penyebabnya, yang jelas, ia khawatir jika sesuatu akan terjadi pada pengemudinya.
Dan ketika ia telah sampai pada tikungan terakhir sebelum finish, ia mendengar suara ledakan kecil. Ia bergegas, ia sedikit menambah kecepatannya dan berusaha menjaga keseimbangan akibat kecepatannya yang bertambah itu. Ia ingin segera sampai, dan segera mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Tbc
__ADS_1