
Lingga mengatuk-atukkan telunjuk jarinya ke dashboard mobilnya. Ia masih menunggu dijajaran garis start. Siapa yang datang
lebih awal, dialah yang berada di tempat depan. Dan begitulah peraturannya
untuk menentukan tempat start mereka. Dan alhasil, mereka datang dan mengambil
tempat untuk start bahkan 1 jam sebelum pertandingan dimulai. Dan sekarang, 10
menit sebelum dimulai. Ia berada di jajaran ketiga, setelah Dion dengan Agera
merahnya diposisi pertama dan Zennie dengan mazda rx-8 kuning nya diposisi
kedua. Sedang dibelakangnya ada Evan dengan Silvia 14 orange nya.
Bicara tentang Silvia. Sepertinya Lingga mengingat hal tentang
mobil Silvia 15 yang ia cari-cari. Madhiaz benar. Mobil itu seakan lenyap tanpa
jejak begitu saja. Dan satupun pentunjuk tentangnya tak ia dapatkan sama
sekali.
3 menit lagi. Dan sayup-sayup terdengar suara deru mesin di
kejauhan. Keadaan menghening. Semua yang ada disana menoleh kebelakang ingin
melihat siapa peserta terakhir yang datang. Suaranya terdengar semakin dekat.
Dan Lingga menolehkan pandangan matanya kearah spion.
'Apa mungkin Madhiaz yang datang?' Fikirnya. Namun, otaknya seketika terasa kosong. Matanya membulat melihat mobil
yang tengah mendekat kesana. Mobil itu. Mobil yang dikabarkan hilang. Mobil
yang selama ini ia cari-cari dan
belum pernh ia temukan lagi jeja keberadaannya. Dan mobil
itu sekarang berada dibelakangnya.
Seketika Lingga ingin membuka pintu mobil dan berlari kearah
mobil itu. Namun, hal itu diurungkannya saat mendengar instruksi menyalakan
mesin mobil karena balapan akan segera dimulai. Jantung Lingga berdebar
kencang. Ia merasa seakan saat ini adalah mimpinya yang berkelanjutan(?). Tapi
kenyataan lagi-lagi menamparnya. Ia melihat kenyataan dan dihadapannya sekarang adalah hal
yang benar-benar nyata dan bukan
sekedar mimpi yang biasa ia alami.
Setiap driver telah siap diposisi masing-masingnya.
Alat komunikasipun telah dibagikan dan dipakai untuk memantau kondisi balapan. Deru mesin
menggeram serasa mencoba menggertak lawannya dan seakan memberi tahu jika kuda
besi yang mereka tumpangi dalam kondisi prima siap mengalahkan siapapun juga.
Tapi berbeda dengan Lingga. Ia tak bias memfokuskan konsentrasinya danmasih
melirik mobil yang terderet paling belakang itu. Kaca mobil yang terlapisi kaca
film yang gelapmembuatnya sedikit kesulitan melihat wajah sipengendara. Namun, dapat
ia tangkap siluet hoodie jaketnya. Hoodie jaket yang sama dengan
yang ia temui beberapa tahun silam. Hoodie jaket putih yang menutup
kepala dan sebuah masker penutup mulut.
"10,.....9,.......8,.....7,....." seseorang berdiri
di depan garis start dan mulai menghitung hitungan mundur.
"6,...5,...4,...." suara deru mobil mengencang. "3,..."
penghitung mulai melambatkan hitungannya. "2,....." semua telah
bersiap. "1,...... go......." masing-masing mobil telah memacu
kecepatannya. Posisi masih sama. Dan tak ada tanda-tanda ada yang akan menyalip karena ini masih permulaan. Di posisi pertama, Dion melesat dengan kecepatan penuh karena tenaga
kuda besinya yang seperti monster.
Lingga masih mencari celah untuk menyalip Zennie yang berada
tepat didepannya. Di ikuti dua pengendara lainnya. Hati Lingga
mendongkol. Dion telah jauh didepannya dan seperti nya Zennie mencoba menahan
pengendara lainnya demi Dion.
Mereka masuk ke tikungan pertama. Pengendara terakhir mencoba
menyalip dari sisi dalam dengan teknik drift, dan sepertinya teknik
drift miliknya masihlah belum sempurna. Bumper mobilnya sampai
menyenggol besi pembatas jalan dan juga sedikit sisi mobil milik Evan. Namun ia
berhasil menyalip Evan dan menempati posisi 4. Tepat dibelakang Lingga.
Lingga masih mengumpat, Zennie tak hanya benar-benar buruk
dalam mengemudi. Berkali-kali mobilnya menyenggol pembatas jalan dan
meninggalkan jejak gores di body mobilnya. Tapi juga sepertinya berhasil
mencegah pengendara dibelakangnya melaju cepat menyusul Dion. Sedang saat ini Dion
sudah tak terlihat lagi.
"Syaland!..." maki Lingga sambil menggebrak kemudi
mobil dengan satu tangannya.
Brrummmm....
Sil-15 itu melaju
begitu saja saat Zennie sibuk meladeni Lingga yang mulai menggila dengan
sedikit menabrak body belakang mobil Zennie. Jarak sempit tak membuat
pengendara Sil-15 mengurungkan niatnya untuk menyalip Zennie. Ia memanfaatkan
selokan air di sisi jalan dan melaju menyalip Lingga dan Zennie sekaligus. Lingga
dan Zennie sampai cengo dibuatnya. Evan yang berusaha membuntutinya sedikit kesulitan saat melihat Lingga
akan menutup akses jalannya. Dan alhasil, Evan kembali dibelakang Lingga dengan
pengendara Sil-15 sudah melaju didepan Zennie.
Lingga sudah semakin geram saja. Pasalnya, Zennie benar-benar
tak mengizinkannya lewat. Ia tak boleh berakhir disini. Tidak. Setelah sampai finish nanti ia akan menghampirinya. Akan ia tagih janji yang dulu pengemudi mobil biru itulayangkan kepadanya.
Lingga menghembus nafas. Ia harus bisa mengendalikan emosinya
disini. Ia harus bisa menormalkan fikirannya dan mencari celah. Ini adalah
balapan pertamanya menggunakan GT-R milik Yahiko. Sejujurnya ia menyayangkan
jika mobilnya akan lecet disana-sini. Tapi mungkin itu urusan terakhir saja. Ia
__ADS_1
masih sanggup untuk memoles ulang mobilnya nanti. Setelah melihat celah
ditikungan tajam didepannya, Lingga mulai tancap gas dan mencoba mengikuti
teknik milik Sil-15 tadi. Ia menyalip melalui jalur dalam saat Zennie
melebarkan belokan mobilnya akibat kurangnya keseimbangan ditikungan. Dan
berhasil. Lingga berhasil mendahului Zennie. Secercah senyum melintas
dibibirnya, namun luntur seketika saat tak didapatinya Dion dan pengendara
Sil-15 itu.
‘Mereka telah
jauh’batin Lingga. Namun Lingga tak putus asa dan melajukan mobilnya
secepat yang ia bisa.
Sementara itu dibaris depan Agera milik Dion terus dibayangi
oleh Sil-15. Dion mulai tertekan. Tidak baik jika keadaan seperti ini terus.
Sebentar lagi mereka akan sampai puncak. Dan saat turunan mobil Dion akan kalah
dengan Silvia itu. Tenaga yang besar pada mobilnya tak bisa serta merta
membawanya kepuncak kemenangan. Dan sepertinya harus ia perhitungkan hal itu.
Tak dipungkiri jika Dion melaju menggunakan mobil tercepat.
Namun tekniknya masihlah standart. Ia masih tak begitu mahir menggunakan teknik drift untuk arena bukit. Apalagi untuk menghadapi Lingga yang lumayan
menguasai teknik drift. Maka dari itulah ia mengutus Zennie untuk memblokade pergerakan Lingga. Zennie memang tak ahli dalam balapan. Tapi apapun akan
dilakukan Zennie demi dirinya. Ya.... demi dirinya, dirinya yang seorang Dion.
Seorang Dion yang merebut hati Zennie hingga Zennie begitu tergila-gila
padanya. Tak ayal lagi, Zennie akan melakukan apapun yang di inginkan Dion
termasuk balapan.
Keadaan Sil-15 yang terus membayang di belakang Dion membuat
hatinya yang tertekan kini kian gusar. Ia tak bisa seperti terus. Ia harus
meninggalkan Sil-15 itu dibelakang dan mengambil kemenangannya di garis finish.
Ia harus menambah kecepatan. Saat ia akan menginjak pedal lebih dalam, ia
teringat sesuatu. Di depannya ada tikungan tajam kekiri dan mustahil
melewatinya dengan kecepatan yang ia miliki saat ini. Dan disaat ia melambatkan
laju mobilnya, si Silvia telah melaju mendahului nya.
'Ia tak kan selamat jika terus dalam kecepatan itu.' Batin
Dion. Namun prediksi Dion meleset. Silvia itu malah menambah kecepatannya.
Berbelok sedikit kekanan dan melakukan inertia drift dengan
sempurna. Dion menginjak pedal rem kuat-kuat. Ia telah dikalahkan bahkan
sebelum sampai finish. Ia kalah oleh teknik sempurna yang tidak ia
ketahui orang itu. Awalnya ia berfikir jika ia akan menang dengan menyingkirkan
Lingga terlebih dahulu. Namun perkiraannya meleset. Seseorang datang dan
ternyata dia tak lebih payah dari Lingga. Yang
tak ia duga, bahkan yng ia tau sebagai pendatang baru itu memiliki teknik yang
Dion menghentikan laju mobilnya, keluar dari mobil dan
bersandar disisinya. Ia merogoh saku kanan celananya dan mengeluarkan sebungkus
rokok. Sepertinya ia akan merokok saja untuk malam ini. Merokok untuk
melepaskan penat yang menghantuinya setelah malam ini. Ah, baru saja ia senang
karena bertemu dengan Farrand-nya. Berkencan dengannya, dan mungkin, setelah
ini Farrandnya akan pergi lagi. Pergi menjauhinya lagi. Dan pergi dari
hidupnya, lagi.
Lingga sudah melewatinya, melewati tempat dimana tadi Dion
berhenti. Sekilas ia melihat Lingga yang menatap heran padanya dibalik kaca
mobilnya. Namun hal itu tak ia indahkan sama sekali. Ia sudah menyerah.
Benar-benar menyerah untuk segalanya. Tentang dunia balapnya, dan tentang
cintanya.
Dion, yang sebelumnya telah berjanji kepada ayahnya akan
menyerah memperjuangkan Farrand, dan juga bersedia ditunangkan dengan Zennie
jika ia kalah malam ini. Ia memang pengecut. Menyerah begitu saja akan
keputusan ayahnya. Yah.... biar bagaimanapun juga ia masihlah bergantung pada
harta ayahnya. Ia belum siap jika harus berdiri sendiri tanpa sokongan siapapun. Apalagi jika
harus menanggung Farrand dalam genggamannya. Ia sangat sadar, ia masih belum
menjadi apa-apa dalam kehidupan ini. Dirinya yang sekarang hanyalah seorang
anak kecil yang masih meminta perlindungan dibawah ketiakorang tuanya.
Setelah beberapa isapan, ia melaju lagi. Melaju menuju garis
akhir meski hasilnya sudah didapat. Si pendatang itu pastilah telah mendapat
hadiahnya. Ia hanya melaju seperlunya. Tak perlu memacu kencang kuda besi
bernama Agera tersebut. Dan benar saja. Yang lain telah berkumpul dan
sipemenang telah mendapat hadiahnya. Sekilas ia penasaran. Siapa sosok dibalik
jubah itu hingga dipertandingan pertamanya ia telah meraih gelar sang juara. Dan,
sepertinya bukan hanya ia yang penasaran. Lingga pun terlihat begitu. Nyatanya
ia terlihat begitu terburu-buru menghampiri si sosok berjubah.
.
.
.
Lingga masih menunggu saat yang tepat untuk menghampiri pengendara Silvia itu.
Jantungnya berdebar kencang. Ia tak menyangka akan bertemu lagi di arena balap.
Tapi sepertinya ia merasa jika orang yang dihadapinya kini berbeda dengan orang
yang ditemuinya dulu.
__ADS_1
Setelah sosok berjubah itu selesai mengambil hadiahnya, ia
bergegas menghampirinya dan mencoba menghalanginya masuk kedalam mobil dengan
langsung mencekal tangan kiri sosok itu. Sosok itu menoleh. Dan Lingga
mendapati iris biru yang dulu. Ia tak mungkin salah mengenali iris itu. Tapi
entah kenapa ia merasa jika sosoknya terlihatlebih kecil?
"Maaf. Bisa kau lepaskan tanganku?" Suaranya
terdengar berat. Namun tak seberat yang di ingatnya dulu. Ia
tau dan ingat dengan persis jika suaranya bukan seperti ini.
"Apa kau tak terima dengan kemenanganku?" Tambahnya.
Tidak! Tentu saja bukan itu maksud Lingga.
"Apa kau lupa padaku? Apa kau lupa janji yang dulu kau
ucapkan?" Tanya Lingga.
"Aku tak mengenalmu. Seingatku pun aku tak pernah membuat
janji kepada siapapun." Nada dingin seolah tersirat dari kata-kata yang
dilontarkannya. Lingga terpaku. Tak ada nada kebohongan disana. Atau mungkin?
Benar jika mereka orang yang berbeda?
Lingga melepaskan genggamannya. Ia kecewa terhadap apa yang
didengarnya. Bertahun-tahun mencarinya namun yang ia dapatkan tak sesuai
bayangannya.
Sosok itu berlalu begitu saja saat Lingga melepaskan genggaman
tangannya. Ia langsung masuk kedalam mobil dan beranjak meninggalkan Lingga
yang masih mematung atas kepergiannya. Dan setelah Lingga pulih dari rasa
terkejutnya, ia langsung berlari menuju mobinya dan berencana mengejarnya.
Beruntung jarak mobilnya tak begitu jauh. Jadi ia bisa dengan cepat menyusul.
Farrand-sosok berjaket itu- melajukan mobilnya dengan
kecepatan sedang. Ia bahagia. Setidaknya dengan ini biaya perawatan ayahnya
akan tertanggungi. Dan mungkin lebih dari cukup untuk itu. Sekilas ia melirik
kaca spion, dilihatnya sebuah mobil melaju kearahnya. Jalanan menuju Kota Falen
cukup sepi. Sepertinya pesta di tempat balapan tadi masih berlanjut. Jadi ia
mulai menambah laju kecepatan mobilnya. Lagipula ia tak ingin ayahnya menunggu.
Kecepatan Lingga mulai menggila. Ia yakin pengendara s15 itu
akan menuju Kota Falen. Ia sempat melihat s15 itu berbelok ke arah bukit Falenca.
Ia tak ingin melewatkan kesempatan ini. Bagaimanapun juga ia harus mendapatkan
idenditasnya. Atau minimal dapat sedikit petunjuk tentangnya.
Secercah cahaya tertangkap retina matanya. Ia yakin. Itu pasti
si s15. Ini jalan lurus. Jadi dengan percaya diri ia membawa Aagneynya ke kecepatan maksimalnya. Ia tak peduli apapun. Yang ia pedulikan
hanya mobil didepannya terkejar. Namun sepertinya mobil itu juga terlihat mulai
menambah kecepatannya.
Lingga masih mengejar. Memangkas sedikit-demi-sedikit jarak di
antara mereka. Dan ketika mereka mulai memasuki arena bukit, aura balap
tercipta diantara mereka berdua. Dua mobil Nissan berbeda generasi, tenaga dan
warna terlihat saling kejar. Namun sekali lagi, perbedaan tenaga masihlah
mendominasi. Ini jalanan menanjak. Dan GT-R milik Lingga pastilah lebih unggul.
Apalagi ditambah pengalaman yang dimiliki. Jika saja tadi iatidak terhalang Zennie, mungkin ia lah yang
akan keluar sebagai pemenang.
Lingga sudah berada tepat dibelakang s15, sebentar lagi mereka
memasuki kawasan puncak dengan jalur lurus yang lebar. Ia harus menghentikan
nya disana. Harus. Dengan perlahan ia mulai mengambil aba-aba menyalip. Namun
hal yang tak ia duga tiba-tiba terjadi. S15 menepi dan berhenti mendadak. Mau
tak mau Lingga juga menginjak pedal rem dan menghampirinya.
Lingga keluar. Dengan buru-buru ia menggedor-gedor pintu mobil
itu seperti orang kesurupan. Ia benar-benar kehilangan kesabaran kali ini. Kaca
film pintu mobil yang tak terlalu gelap membuatnya bisa melihat melihat dengan
jelas jika sang pengendara duduk santai namun mencengkram erat kemudi.
"Bisa kau berhenti bertingkah seperti orang gila?"
Perlahan Farrand menurunkan kaca pintu mobilnya. Sedang Lingga berhenti
menggedor kaca begitu melihat kaca mulai diturunkan.
"Siapa kau?" Tanya Lingga.
"Bukankah aku yang seharusnya bertanya? Kau menggangguku
dan bertingkah seolah aku mencuri sesuatu darimu." Jawab Farrand seraya
menatap tajam Lingga.
Lingga mematung. Sedikit banyak ia terpana melihat iris coklatyang menatapnya
tajam." Keluarlah. Kita butuh berbicara." Ucapnya
"Berbicara? Untuk apa?"
"Untuk memastikan sesuatu."
"Aku akan keluar. Bisa kau menyingkir dari pintu mobilku?
Kau menghalangi jalanku"
Lingga menyingkir seperti yang diminta. Ia mundur dua langkah,
namun yang terjadi sungguh dilur dugaannya. Dia langsung tancap gas
begitu Lingga menjauh.
"Sialll........" Umpat Lingga. Ia sama sekali tidak
menyangka akan diperlakukan seperti ini. Sepertinya ia akan meminta penjelasan
lain kali. Mengejar s15 saat menuruni bukit bukan hal yang bagus. Dan Lingga
sadari itu. Namun firasatnya mengatakan jika ia masih akan bertemu lagi.
----tbc----
__ADS_1