Cinta Di Atas Aspal

Cinta Di Atas Aspal
Episode 6


__ADS_3

Lingga mengatuk-atukkan telunjuk jarinya ke dashboard mobilnya. Ia masih menunggu dijajaran garis start. Siapa yang datang


lebih awal, dialah yang berada di tempat depan. Dan begitulah peraturannya


untuk menentukan tempat start mereka. Dan alhasil, mereka datang dan mengambil


tempat untuk start bahkan 1 jam sebelum pertandingan dimulai. Dan sekarang, 10


menit sebelum dimulai. Ia berada di jajaran ketiga, setelah Dion dengan Agera


merahnya diposisi pertama dan Zennie dengan mazda rx-8 kuning nya diposisi


kedua. Sedang dibelakangnya ada Evan dengan Silvia 14 orange nya.


Bicara tentang Silvia. Sepertinya Lingga mengingat hal tentang


mobil Silvia 15 yang ia cari-cari. Madhiaz benar. Mobil itu seakan lenyap tanpa


jejak begitu saja. Dan satupun pentunjuk tentangnya tak ia dapatkan sama


sekali.


3 menit lagi. Dan sayup-sayup terdengar suara deru mesin di


kejauhan. Keadaan menghening. Semua yang ada disana menoleh kebelakang ingin


melihat siapa peserta terakhir yang datang. Suaranya terdengar semakin dekat.


Dan Lingga menolehkan pandangan matanya kearah spion.


'Apa mungkin Madhiaz yang datang?' Fikirnya. Namun, otaknya seketika terasa kosong. Matanya membulat melihat mobil


yang tengah mendekat kesana. Mobil itu. Mobil yang dikabarkan hilang. Mobil


yang selama ini ia cari-cari dan


belum pernh ia temukan lagi jeja keberadaannya. Dan mobil


itu sekarang berada dibelakangnya.


Seketika Lingga ingin membuka pintu mobil dan berlari kearah


mobil itu. Namun, hal itu diurungkannya saat mendengar instruksi menyalakan


mesin mobil karena balapan akan segera dimulai. Jantung Lingga berdebar


kencang. Ia merasa seakan saat ini adalah mimpinya yang berkelanjutan(?). Tapi


kenyataan lagi-lagi menamparnya. Ia melihat kenyataan dan dihadapannya sekarang adalah hal


yang benar-benar nyata dan bukan


sekedar mimpi yang biasa ia alami.


Setiap driver telah siap diposisi masing-masingnya.


Alat komunikasipun telah dibagikan dan dipakai untuk memantau kondisi balapan. Deru mesin


menggeram serasa mencoba menggertak lawannya dan seakan memberi tahu jika kuda


besi yang mereka tumpangi dalam kondisi prima siap mengalahkan siapapun juga.


Tapi berbeda dengan Lingga. Ia tak bias memfokuskan konsentrasinya danmasih


melirik mobil yang terderet paling belakang itu. Kaca mobil yang terlapisi kaca


film yang gelapmembuatnya sedikit kesulitan melihat wajah sipengendara. Namun, dapat


ia tangkap siluet hoodie jaketnya. Hoodie jaket yang sama dengan


yang ia temui beberapa tahun silam. Hoodie jaket putih yang menutup


kepala dan sebuah masker penutup mulut.


"10,.....9,.......8,.....7,....." seseorang berdiri


di depan garis start dan mulai menghitung hitungan mundur.


"6,...5,...4,...." suara deru mobil mengencang. "3,..."


penghitung mulai melambatkan hitungannya. "2,....." semua telah


bersiap. "1,...... go......." masing-masing mobil telah memacu


kecepatannya. Posisi masih sama. Dan tak ada tanda-tanda ada yang akan menyalip karena ini masih permulaan. Di posisi pertama, Dion melesat dengan kecepatan penuh karena tenaga


kuda besinya yang seperti monster.


Lingga masih mencari celah untuk menyalip Zennie yang berada


tepat didepannya. Di ikuti dua pengendara lainnya.  Hati Lingga


mendongkol. Dion telah jauh didepannya dan seperti nya Zennie mencoba menahan


pengendara lainnya demi Dion.


Mereka masuk ke tikungan pertama. Pengendara terakhir mencoba


menyalip dari sisi dalam dengan teknik drift, dan sepertinya teknik


drift miliknya masihlah belum sempurna. Bumper mobilnya sampai


menyenggol besi pembatas jalan dan juga sedikit sisi mobil milik Evan. Namun ia


berhasil menyalip Evan dan menempati posisi 4. Tepat dibelakang Lingga.


Lingga masih mengumpat, Zennie tak hanya benar-benar buruk


dalam mengemudi. Berkali-kali mobilnya menyenggol pembatas jalan dan


meninggalkan jejak gores di body mobilnya. Tapi juga sepertinya berhasil


mencegah pengendara dibelakangnya melaju cepat menyusul Dion. Sedang saat ini Dion


sudah tak terlihat lagi.


"Syaland!..." maki Lingga sambil menggebrak kemudi


mobil dengan satu tangannya.


Brrummmm....


Sil-15 itu melaju


begitu saja saat Zennie sibuk meladeni Lingga yang mulai menggila dengan


sedikit menabrak body belakang mobil Zennie. Jarak sempit tak membuat


pengendara Sil-15 mengurungkan niatnya untuk menyalip Zennie. Ia memanfaatkan


selokan air di sisi jalan dan melaju menyalip Lingga dan Zennie sekaligus. Lingga


dan Zennie sampai cengo dibuatnya. Evan yang berusaha membuntutinya sedikit kesulitan saat melihat Lingga


akan menutup akses jalannya. Dan alhasil, Evan kembali dibelakang Lingga dengan


pengendara Sil-15 sudah melaju didepan Zennie.


Lingga sudah semakin geram saja. Pasalnya, Zennie benar-benar


tak mengizinkannya lewat. Ia tak boleh berakhir disini. Tidak. Setelah sampai finish nanti ia akan menghampirinya. Akan ia tagih janji yang dulu pengemudi mobil biru itulayangkan kepadanya.


Lingga menghembus nafas. Ia harus bisa mengendalikan emosinya


disini. Ia harus bisa menormalkan fikirannya dan mencari celah. Ini adalah


balapan pertamanya menggunakan GT-R milik Yahiko. Sejujurnya ia menyayangkan


jika mobilnya akan lecet disana-sini. Tapi mungkin itu urusan terakhir saja. Ia

__ADS_1


masih sanggup untuk memoles ulang mobilnya nanti. Setelah melihat celah


ditikungan tajam didepannya, Lingga mulai tancap gas dan mencoba mengikuti


teknik milik Sil-15 tadi. Ia menyalip melalui jalur dalam saat Zennie


melebarkan belokan mobilnya akibat kurangnya keseimbangan ditikungan. Dan


berhasil. Lingga berhasil mendahului Zennie. Secercah senyum melintas


dibibirnya, namun luntur seketika saat tak didapatinya Dion dan pengendara


Sil-15 itu.


‘Mereka telah


jauh’batin Lingga. Namun Lingga tak putus asa dan melajukan mobilnya


secepat yang ia bisa.


Sementara itu dibaris depan Agera milik Dion terus dibayangi


oleh Sil-15. Dion mulai tertekan. Tidak baik jika keadaan seperti ini terus.


Sebentar lagi mereka akan sampai puncak. Dan saat turunan mobil Dion akan kalah


dengan Silvia itu. Tenaga yang besar pada mobilnya tak bisa serta merta


membawanya kepuncak kemenangan. Dan sepertinya harus ia perhitungkan hal itu.


Tak dipungkiri jika Dion melaju menggunakan mobil tercepat.


Namun tekniknya masihlah standart. Ia masih tak begitu mahir menggunakan teknik drift untuk arena bukit. Apalagi untuk menghadapi Lingga yang lumayan


menguasai teknik drift. Maka dari itulah ia mengutus Zennie untuk memblokade pergerakan Lingga. Zennie memang tak ahli dalam balapan. Tapi apapun akan


dilakukan Zennie demi dirinya. Ya.... demi dirinya, dirinya yang seorang Dion.


Seorang Dion yang merebut hati Zennie hingga Zennie begitu tergila-gila


padanya. Tak ayal lagi, Zennie akan melakukan apapun yang di inginkan Dion


termasuk balapan.


Keadaan Sil-15 yang terus membayang di belakang Dion membuat


hatinya yang tertekan kini kian gusar. Ia tak bisa seperti terus. Ia harus


meninggalkan Sil-15 itu dibelakang dan mengambil kemenangannya di garis finish.


Ia harus menambah kecepatan. Saat ia akan menginjak pedal lebih dalam, ia


teringat sesuatu. Di depannya ada tikungan tajam kekiri dan mustahil


melewatinya dengan kecepatan yang ia miliki saat ini. Dan disaat ia melambatkan


laju mobilnya, si Silvia telah melaju mendahului nya.


'Ia tak kan selamat jika terus dalam kecepatan itu.' Batin


Dion. Namun prediksi Dion meleset. Silvia itu malah menambah kecepatannya.


Berbelok sedikit kekanan dan melakukan inertia drift dengan


sempurna. Dion menginjak pedal rem kuat-kuat. Ia telah dikalahkan bahkan


sebelum sampai finish. Ia kalah oleh teknik sempurna yang tidak ia


ketahui orang itu. Awalnya ia berfikir jika ia akan menang dengan menyingkirkan


Lingga terlebih dahulu. Namun perkiraannya meleset. Seseorang datang dan


ternyata dia tak lebih payah dari Lingga. Yang


tak ia duga, bahkan yng ia tau sebagai pendatang baru itu memiliki teknik yang


Dion menghentikan laju mobilnya, keluar dari mobil dan


bersandar disisinya. Ia merogoh saku kanan celananya dan mengeluarkan sebungkus


rokok. Sepertinya ia akan merokok saja untuk malam ini. Merokok untuk


melepaskan penat yang menghantuinya setelah malam ini. Ah, baru saja ia senang


karena bertemu dengan Farrand-nya. Berkencan dengannya, dan mungkin, setelah


ini Farrandnya akan pergi lagi. Pergi menjauhinya lagi. Dan pergi dari


hidupnya, lagi.


Lingga sudah melewatinya, melewati tempat dimana tadi Dion


berhenti. Sekilas ia melihat Lingga yang menatap heran padanya dibalik kaca


mobilnya. Namun hal itu tak ia indahkan sama sekali. Ia sudah menyerah.


Benar-benar menyerah untuk segalanya. Tentang dunia balapnya, dan tentang


cintanya.


Dion, yang sebelumnya telah berjanji kepada ayahnya akan


menyerah memperjuangkan Farrand, dan juga bersedia ditunangkan dengan Zennie


jika ia kalah malam ini. Ia memang pengecut. Menyerah begitu saja akan


keputusan ayahnya. Yah.... biar bagaimanapun juga ia masihlah bergantung pada


harta ayahnya. Ia belum siap jika harus berdiri sendiri tanpa sokongan siapapun. Apalagi jika


harus menanggung Farrand dalam genggamannya. Ia sangat sadar, ia masih belum


menjadi apa-apa dalam kehidupan ini. Dirinya yang sekarang hanyalah seorang


anak kecil yang masih meminta perlindungan dibawah ketiakorang tuanya.


 


 


Setelah beberapa isapan, ia melaju lagi. Melaju menuju garis


akhir meski hasilnya sudah didapat. Si pendatang itu pastilah telah mendapat


hadiahnya. Ia hanya melaju seperlunya. Tak perlu memacu kencang kuda besi


bernama Agera tersebut. Dan benar saja. Yang lain telah berkumpul dan


sipemenang telah mendapat hadiahnya. Sekilas ia penasaran. Siapa sosok dibalik


jubah itu hingga dipertandingan pertamanya ia telah meraih gelar sang juara. Dan,


sepertinya bukan hanya ia yang penasaran. Lingga pun terlihat begitu. Nyatanya


ia terlihat begitu terburu-buru menghampiri si sosok berjubah.


.


.


.


Lingga masih menunggu saat yang tepat untuk menghampiri pengendara Silvia itu.


Jantungnya berdebar kencang. Ia tak menyangka akan bertemu lagi di arena balap.


Tapi sepertinya ia merasa jika orang yang dihadapinya kini berbeda dengan orang


yang ditemuinya dulu.

__ADS_1


Setelah sosok berjubah itu selesai mengambil hadiahnya, ia


bergegas menghampirinya dan mencoba menghalanginya masuk kedalam mobil dengan


langsung mencekal tangan kiri sosok itu. Sosok itu menoleh. Dan Lingga


mendapati iris biru yang dulu. Ia tak mungkin salah mengenali iris itu. Tapi


entah kenapa ia merasa jika sosoknya terlihatlebih kecil?


"Maaf. Bisa kau lepaskan tanganku?" Suaranya


terdengar berat. Namun tak seberat yang di ingatnya dulu. Ia


tau dan ingat dengan persis jika suaranya bukan seperti ini.


"Apa kau tak terima dengan kemenanganku?" Tambahnya.


Tidak! Tentu saja bukan itu maksud Lingga.


"Apa kau lupa padaku? Apa kau lupa janji yang dulu kau


ucapkan?" Tanya Lingga.


"Aku tak mengenalmu. Seingatku pun aku tak pernah membuat


janji kepada siapapun." Nada dingin seolah tersirat dari kata-kata yang


dilontarkannya. Lingga terpaku. Tak ada nada kebohongan disana. Atau mungkin?


Benar jika mereka orang yang berbeda?


Lingga melepaskan genggamannya. Ia kecewa terhadap apa yang


didengarnya. Bertahun-tahun mencarinya namun yang ia dapatkan tak sesuai


bayangannya.


Sosok itu berlalu begitu saja saat Lingga melepaskan genggaman


tangannya. Ia langsung masuk kedalam mobil dan beranjak meninggalkan Lingga


yang masih mematung atas kepergiannya. Dan setelah Lingga pulih dari rasa


terkejutnya, ia langsung berlari menuju mobinya dan berencana mengejarnya.


Beruntung jarak mobilnya tak begitu jauh. Jadi ia bisa dengan cepat menyusul.


Farrand-sosok berjaket itu- melajukan mobilnya dengan


kecepatan sedang. Ia bahagia. Setidaknya dengan ini biaya perawatan ayahnya


akan tertanggungi. Dan mungkin lebih dari cukup untuk itu. Sekilas ia melirik


kaca spion, dilihatnya sebuah mobil melaju kearahnya. Jalanan menuju Kota Falen


cukup sepi. Sepertinya pesta di tempat balapan tadi masih berlanjut. Jadi ia


mulai menambah laju kecepatan mobilnya. Lagipula ia tak ingin ayahnya menunggu.


Kecepatan Lingga mulai menggila. Ia yakin pengendara s15 itu


akan menuju Kota Falen. Ia sempat melihat s15 itu berbelok ke arah bukit Falenca.


Ia tak ingin melewatkan kesempatan ini. Bagaimanapun juga ia harus mendapatkan


idenditasnya. Atau minimal dapat sedikit petunjuk tentangnya.


Secercah cahaya tertangkap retina matanya. Ia yakin. Itu pasti


si s15. Ini jalan lurus. Jadi dengan percaya diri ia membawa Aagneynya ke kecepatan maksimalnya. Ia tak peduli apapun. Yang ia pedulikan


hanya mobil didepannya terkejar. Namun sepertinya mobil itu juga terlihat mulai


menambah kecepatannya.


Lingga masih mengejar. Memangkas sedikit-demi-sedikit jarak di


antara mereka. Dan ketika mereka mulai memasuki arena bukit, aura balap


tercipta diantara mereka berdua. Dua mobil Nissan berbeda generasi, tenaga dan


warna terlihat saling kejar. Namun sekali lagi, perbedaan tenaga masihlah


mendominasi. Ini jalanan menanjak. Dan GT-R milik Lingga pastilah lebih unggul.


Apalagi ditambah pengalaman yang dimiliki. Jika saja tadi iatidak terhalang Zennie, mungkin ia lah yang


akan keluar sebagai pemenang.


Lingga sudah berada tepat dibelakang s15, sebentar lagi mereka


memasuki kawasan puncak dengan jalur lurus yang lebar. Ia harus menghentikan


nya disana. Harus. Dengan perlahan ia mulai mengambil aba-aba menyalip. Namun


hal yang tak ia duga tiba-tiba terjadi. S15 menepi dan berhenti mendadak. Mau


tak mau Lingga juga menginjak pedal rem dan menghampirinya.


Lingga keluar. Dengan buru-buru ia menggedor-gedor pintu mobil


itu seperti orang kesurupan. Ia benar-benar kehilangan kesabaran kali ini. Kaca


film pintu mobil yang tak terlalu gelap membuatnya bisa melihat melihat dengan


jelas jika sang pengendara duduk santai namun mencengkram erat kemudi.


"Bisa kau berhenti bertingkah seperti orang gila?"


Perlahan Farrand menurunkan kaca pintu mobilnya. Sedang Lingga berhenti


menggedor kaca begitu melihat kaca mulai diturunkan.


"Siapa kau?" Tanya Lingga.


"Bukankah aku yang seharusnya bertanya? Kau menggangguku


dan bertingkah seolah aku mencuri sesuatu darimu." Jawab Farrand seraya


menatap tajam Lingga.


Lingga mematung. Sedikit banyak ia terpana melihat iris coklatyang menatapnya


tajam." Keluarlah. Kita butuh berbicara." Ucapnya


"Berbicara? Untuk apa?"


"Untuk memastikan sesuatu."


"Aku akan keluar. Bisa kau menyingkir dari pintu mobilku?


Kau menghalangi jalanku"


Lingga menyingkir seperti yang diminta. Ia mundur dua langkah,


namun yang terjadi sungguh dilur dugaannya. Dia langsung tancap gas


begitu Lingga menjauh.


"Sialll........" Umpat Lingga. Ia sama sekali tidak


menyangka akan diperlakukan seperti ini. Sepertinya ia akan meminta penjelasan


lain kali. Mengejar s15 saat menuruni bukit bukan hal yang bagus. Dan Lingga


sadari itu. Namun firasatnya mengatakan jika ia masih akan bertemu lagi.


----tbc----

__ADS_1


__ADS_2