Cinta Di Atas Aspal

Cinta Di Atas Aspal
Episode 44


__ADS_3

Air mata terus-menerus mengalir di pipi halus milik Farrand. Acara pemberkatan telah selesai satu jam yang lalu, dan kini mereka berdua masih berada di ruang inap Arashya. Mereka telah resmi menjadi sepasang suami istri, dan entah mengapa Farrand masih enggan beranjak dari tempatnya sekarang.


Tetapi, jika dipandang dari sudut manapun, adalah merupakan hal yang wajar jika Farrand menangis seperti itu. Hari ini adalah hari pernikahannya, dan ayahnya juga masih belum terbangun dari komanya. Menutup mata dan hanya suara dari alat pendeteksi jantung yang menunjukkan jika masih ada harapan untuk sadar meski itu sedikit.


"Fa."


Lingga mendekap tubuh ringkih itu selembut mungkin dari arah belakang. Ia sesap aroma menenangkan yang selalu menemani hari-harinya itu, dan membenamkan kepalanya di perpotongan leher jenjang milik Farrand. Sedikit rasa iba menggerogoti hatinya. Farrandnya, seorang kekasih yang kini telah menjadi seorang istri baginya itu kini terasa lebih kurus dari beberapa waktu lalu.


" Fa, kau semakin kurus. Lusa adalah keberangkatanmu ke Kota Dafan, dan bagaimana jika kau sakit? Aku tau selama ini kau tidak makan dengan teratur."


"Ga, jika bukan karena ayah yang meminta ku untuk makan dengan teratur, aku tak akan mau makan. Jika bukan karena ayah yang telah mendaftarkan ku dan meminta ku untuk melanjutkan pendidikan ku, aku tak akan mau pergi ke Kota Dafan. Andai saja saat itu aku memilih jurusan yang sama denganmu, tentunya aku akan menetap disini. Berada di kota ini dan menemani ayah disini."


"Sudahlah, Fa. Yang berlalu tidak bisa kita perbaiki. Paman, tidak. Maksudku ayah, akan merasa bangga saat dia bangun kau sudah menjadi apa yang sedari dulu kau impikan. Jangan terlalu larut dalam kesedihan, jika saat ini ayah sadar pun, pasti dia sedih melihatmu seperti ini. Ayo, kita bersama-sama mewujudkan keinginan yang ayah titipkan pada kita. Ayo kita buat ayah bangga karena telah memiliki kita."


Farrand mengangguk pelan, ia usap air mata yang mengalir di pipinya dengan punggung tangannya yang kasar. Namun sebelum habis sempurna, Lingga telah lebih dahulu mencegahnya dan menggantikan Farrand mengusap air matanya dengan lembut.


" Fa, kau jelek ketika habis menangis."


"Kalau begitu tinggalkan aku dan cari yang lebih cantik."


"Aku tidak bisa. Aku sudah mengikrarkan diriku untuk selalu bersamamu. Aku telah menerimamu dalam keadaan apapun."


"Kalau begitu berhenti mengataiku dengan sesuka hatimu."


Lingga tersenyum kecil. Menggoda Farrand seperti ini adalah sebuah kesenangan tersendiri untuknya. Setidaknya ia bersyukur, Farrand sudah mau membalas ucapannya dengan nada ringan seperti itu.


"Aku ingin mengunjungi ibu. Aku ingin menunjukkan padanya jika putri kecilnya ini telah menikah."


Lingga mengangguk,


"Ayo. Aku juga ingin menyapa ibu mertuaku. Aku juga ingin menunjukkan jika ibu mertuaku sudah memiliki menantu tampan sepertiku."


"Narsis."


"Tapi kau tak bisa memungkiri jika aku memang tampan."


"Sudahlah. Ayo kita pergi. Aku tak mau sampai disana terlalu malam."


Lingga hanya bisa mengangguk pasrah. Ia berjalan keluar sambil menggandeng tangan mungil Farrand dan menuntunnya menuju mobilnya di parkiran rumah sakit. Beberapa orang menoleh heran, namun ada juga beberapa yang tersenyum melihat pakaian mereka yang masih belum mengganti pakaian pernikahan mereka. Farrand memang sengaja. Ia ingin pergi ke pemakaman dengan memakai pakaian itu.


.


.


.


"Ibu, aku datang dengan membawa seorang menantu untukmu. Dia orang yang sejak dulu kau gadang-gadang untuk kau jadikan menantu."


Farrand bersimpuh dan meletakkan karangan bunga lily ke pusara tempat terbaring jasad ibunya. Lingga mengikutinya, ia mengucap salam dan doa lalu ikut bersimpuh di samping Farrand. Tak peduli jika pakaiannya kotor, ia tetap tenang dengan posisi seperti itu.


"Ibu, aku selalu penasaran siapa yang meletakkan satu bunga lavender itu."


Farrand menjeda, dan Lingga bertanya dalam benaknya tentang ucapan Farrand. Ia tak berani bertanya lebih jauh, karena ia tak ingin menggangu acara istrinya.


"Aku tau ibu terkadang mendapat bunga lily dari ayah. Dan sekarang bunga ibu berkurang karena ayah sedang tak bisa membawakan untuk ibu. Maka dari itu, ibu. Lingga menggantikannya dan jumlah bunga ibu menjadi tetap. Aku juga tau jika paman Elon sering membawakan ibu bunga. Dari kesemuanya, bunga yang ibu dapatkan adalah bunga lily. Kurasa itu wajar, karena yang ku tahu ibu sangat suka bunga itu."


"..."


"Tapi aku selalu heran dengan bunga lavender itu, bu. Siapa dia? Aku ingin sekali saja bertemu dengan orang itu dan menanyakan alasannya."


"..."


"Aku mungkin akan jarang mengunjungi ibu seperti saat aku di Kota Falen. Aku akan ke Kota Dafan, bu. Aku memenuhi permintaan ayah yang memintaku mengejar keinginanku dan tak berhenti apapun yang terjadi. Jika ibu bertemu dengan ayah, katakan padanya aku akan menunggu ayah kembali."


"...."


"Bu, setiap malam aku selalu terbayang. Bagaimana jika ayah mengisi ruang kosong di samping ibu? Bagaimana jika ayah meninggalkan aku untuk menemui ibu? Tapi setelah aku tertidur dan bangun di pagi harinya, aku merasa kosong dan berharap ayah kembali kepadaku. Aku tau ayah sangat mencintai ibu. Tapi tak bisa kah ayah menunda rasa rindunya pada ibu dan menemaniku lebih lama lagi?"


Air mata Farrand kembali terjatuh. Lingga terenyuh, ia kembali merengkuh badan rapuh nan kurus itu ke pelukannya.


"Ibu. Aku menikah dengan pria yang kau jodohkan padaku sedari kecil. Senang kah engkau? Aku sama sekali tak menyangka jika aku di pertemukan dengannya dalam keadaan yang tak ku duga sebelumnya. Aku ingin mendengar cerita ibu, tentang ibu dulu dan pertemuan ibu dengan ayah. Aku ingin mendengar kisah ibu."


"...."

__ADS_1


"Ibu. Aku akan datang lagi lusa sebelum keberangkatanku ke Kota Dafan. Tapi untuk hari ini, aku akan pulang dulu. Ibu, semoga kau tenang disana."


Tangan Farrand tertangkup, ia memberi salam dan mengucap doa dalam hati laku beranjak dan pulang bersama Lingga. Hatinya merasa sedikit lega. Setidaknya, ia merasa jika tadi ibunya datang dan mendengar keluh kesahnya. Ia senang hanya dengan merasakan keberadaan ibunya, meski tak bisa mendengar jawaban apapun, ia yakin jika ibunya pasti tengah tersenyum padanya. Namun tanpa Farrand ketahui, sesosok transparan memandangnya dari kejauhan dengan pandangan teduh dan sedikit senyuman.


.


.


.


"Ling...."


"Hn"


"Apa kau tak keberatan dengan hal ini?"


"Tidak."


Dengan menghela nafas berat, Lingga mengeratkan pelukannya pada tubuh Farrand. Dan disinilah mereka sekarang, berada di salah satu kamar apartment baru mereka di Kota Halu dengan keadaan saling berbagi pelukan.


Setelah hari kelulusan, mereka memutuskan untuk mencari apartment. Meski Ariana bersikeras agar Farrand tinggal di rumahnya saja, pendirian mereka tak goyah sedikitpun. Lingga berdalih jika dirinya ingin mencari apartment yang dekat dengan kantornya, dan tentunya Farrand bisa menjadi seorang istri sepenuhnya jika mereka tinggal di apartment. Pusat kantor Arashya sudah berpindah ke Kota Halu, dan yang ada di Kota Falen ia serahkan pada Mirza.


" Fa..."


Lingga menyesap aroma khas milik Farrand. Dengan posisi Farrand yang membelakangi Lingga, membuat Lingga dengan bebas mencecap aroma di sekitar lehernya.


"Ling, geli."


"Ini malam pertama kita. Mengapa tak kita nikmati saja?"


"Kau pura-pura lupa atau mendadak pikun? Malam pertamaku sudah kau ambil sejak dulu."


"Tapi ini adalah malam dimana kita bisa melakukannya sepuas kita dan dengan status yang telah jelas."


"Apa yang tadi belum cukup? Aku sudah lelah."


"Belum. Dan aku masih punya tenaga lagi jika kau katakan kau siap."


"Tidak. Aku lelah."


"Ga, bagaimana nanti hidupmu jika aku telah berada di Kota Dafan?"


"Hm?" Lingga semakin mengeratkan pelukannya. Jika sudah seperti ini, pastilah Farrand sedang mengajaknya untuk berbicang.


"Jangan melirik wanita lain selain aku, Ga. Aku tak suka berbagi."


Lingga tersenyum, ia sedikit tau kemana arah pembicaraan mereka saat ini.


"Tak akan, Fa. Aku akan mencari kesibukan sebanyak mungkin. Aku akan sering berolah raga pagi, atau mungkin ke gym. Aku akan menyelesaikan pekerjaanku lebih cepat agar di sabtu dan minggu aku bisa menjemputmu di Kota Dafan."


"Siapa yang akan memasakkanmu?"


"Aku bisa memasak menu yang simpel. Aku bisa menyewa petugas kebersihan agar kau tidak perlu bersih-bersih saat pulang nanti."


Tangan Lingga mulai merayap pelan ke bagian sensitif milik Farrand. Farrand tak menyadarinya, ia yang terlalu sibuk atas pemikirannya kini tak tau jika Lingga mulai kembali menggodanya.


"Aku juga akan berusaha, Ga. Aku akan menyelesaikan tugas kuliah secepat mungkin agar aku punya waktu luang di hari sabtu dan minggu."


"Dan jangan terpikat lelaki lain di luar sana, Fa."


Farrand tersenyum, ia kini merasa jika Lingga mulai posesif terhadap dirinya.


"Jangan membawa kendaraan, aku sudah mencarikan apartment yang terdekat dengan kampus. Sakura sudah berada disana sejak dua hari yang lalu, dan dia mengabariku jika dia merindukanmu."


"Fyuhhh. Aku merasa bersalah padanya. Aku bahkan tidak memberitahukannya jika kita menikah hari ini."


"Sudahlah, Fa. Ini keinginan ayah, dan aku akan berusaha sebaik mungkin untuk menyembunyikan status kita. Dan setelah ini, kuharap kita terlihat seperti sepasang kekasih saja."


"Iya. Aku tau itu."


"Ngomong-ngomong, Fa. Bagaimana tentang kita di hari-hari yang esok?"


"Maksudmu apa, Ga?"

__ADS_1


"Kau memakai implan, bukan? Dan yang kudengar, jika terlalu lama memakainya kau bisa bermasalah dengan rahimmu. Bukankah kau juga mendengar itu dari dokter saat memasangnya?"


Farrand menghela nafas dalam-dalam. Perkataan Lingga ada benarnya, dan ia tak mungkin seperti ini dalam jangka waktu yang lama. Lingga butuh penerus, dan ia juga nantinya akan merindukan sosok kecil penghangat keluarga mereka.


"Aku akan melepasnya jika nanti aku merasa sudah cukup umur. Aku bisa mengambil cuti kuliah sementara dan menggunakan waktu sebaik mungkin untuk menghadirkannya. Kau masih ingat jika aku masih berusia 18 tahun bukan?"


"Ya. Aku tau, Fa. Tapi aku juga tak akan memaksamu. Aku akan menunggu hingga kau merasa siap untuk menghadirkan Yui di antara kita."


"Yui?"


"Ya. Yui. Aku pernah bermimpi kita menjadi keluarga utuh dengan seorang putri cantik yang bernama Yui. Dia berambut kelam sepertiku, namun matanya seperti milikmu."


Farrand terkekeh pelan. Ia tak menyangka jika Lingga telah berpikiran sejauh itu.


"Tapi jika nanti malah laki-laki, maka akan ku beri nama Yue."


"Tidak akan. Aku yakin jika nanti akan perempuan. Aku akan menjadi ayah yang baik dan melindunginya sekuat tenagaku. Aku akan menjadi panutannya dan membuat diriku menjadi cinta pertamanya."


"Kau keterlaluan."


"Tidak. Aku memang menginginkan seorang bayi perempuan di antara kita jika saat itu tiba. Aku akan memanjangkan rambutnya, membelikannya banyak jepit rambut dan baju-baju cantik yang akan membuatnya semakin menawan."


"Kalau begitu kau akan mengundang banyak pasang mata pria yang menatap putri kita dengan tatapan lapar."


"Jika itu terjadi, aku akan menyewa beberapa penjaga untuk menjaganya."


"Dan kau akan dibenci oleh putrimu jika kau lakukan itu semua."


"Arrrggggghhhh. Fa. Mengapa kau menghancurkan mimpiku yang indah ini?"


"Bukan kuhancurkan. Tapi aku hanya menyadarkanmu akan segala kemungkinan yang bisa terjadi."


"Sudahlah. Kau selalu bisa mematahkan semangatku, Fa."


Farrand terkekeh kecil,


"Bukan mematahkan semangatmu. Tapi menyadarkanmu."


"Sama saja."


"Hei... Jangan seperti itu. Kau tak pantas memasang raut kecewa seperti itu."


"Jadi?"


"Entahlah."


Suara helaan nafas yang berat terdengar dari mereka berdua. Mereka kembali terdiam, dan suara denting jam kembali mendominasi kamar mereka.


Syuuuttt....


"Ga..." Farrand terhenyak, jari tangan Lingga tiba-tiba bergerak dengan cepat di tubuh bagian bawahnya. Membuat nafas Farrand kini semakin memburu.


"Aku tau kau tak akan menolak ini, Fa. Diam dan nikmati saja."


Bisikan lembut Lingga mengalun merdu di telinga Farrand. Bibir Farrand terkatup rapat. Ia tak memungkiri jika tubuhnya menginginkan lagi dengan tidak memberontak atas sentuhan Lingga.


Cup...


Lingga mengecup daun telinga Farrand yang telah kembali memerah dan ********** pelan. Tubuh Farrand berbalik, kini ia telah menghadap Lingga dengan tatapan mata yang sayu.


"Kau... akan kubuat kau menyerah karena membangunkanku, Ga."


Farrand bangun dan menindih Lingga hingga pria itu berada di bawahnya. Lingga menyeringai senang, hal inilah yang ia nantikan dari Farrand. Dimana sisi liar Farrand bangkit dan menjadi dominasi di antara mereka berdua. Farrand memang jarang melakukannya, ia yang lebih banyak pasif membuat Lingga merasa gemas sendiri dan mencari cara untuk bisa selalu memancing kebangkitan sisi liar dari Farrand.


"Kutunggu pelayananmu, Fa. Jangan kecewakan aku. Aku telah menjadi milikmu dan tak akan ada yang melarang kita melakukan ini sebanyak mungkin."


"Jangan menyesal. Dan pastikan besok kau yang mengambil alih semua tugas rumah tangga."


"Apapun untukmu asal malam ini kita nikmati berdua, my wife."


Lingga tersenyum kembali. Ia menikmati sisi liar Farrand dan berusaha mengimbanginya sebaik mungkin. Ia tak ingin kalah dalam pertarungan ini. Dan ia ingin menunjukkan jika dirinya mutlak menjadi seorang suami.


Tbc

__ADS_1


 


 


__ADS_2