Cinta Di Atas Aspal

Cinta Di Atas Aspal
Episode 22


__ADS_3

Lingga mencengkram erat kemudinya. Ia menghela nafas lagi. Dibalapannya kali


ini, ia sendirian lagi. Dan disaat seperti inilah ia merindukan kehadiran Farrand


disampingnya. Baiklah, katakan jika dirinya begitu bodoh. Yang dengan seenaknya


mengejar cinta Farrand. Namun begitu Farrand berbalik kearahnya, menceritakan


betapa buruk dirinya, dengan seenaknya pula Lingga mengacuhkan dan


menghindarinya meski Farrand berusaha mendekatinya dengan sebaik mungkin. Tapi


sungguh, setelah Dion memukulnya saat itu dia menyesal. Menyesal karena


sebenarnya Farrand tidaklah salah, yang salah adalah dirinya yang tidak


menerima Farrand apa adanya.


Penyesalannya kini tak berujung. Ketika hujan lebat saat itu dia


mengejarnya, tetapi ia sama sekali tak mendapati kehadiran Farrand dimanapun. Farrand


seolah menghilang, ia bahkan tak masuk sekolah sejak saat itu. Tak ada yang


mengetahui keberadaannya, bahkan Nadeen dan Madhiaz pun menjawab tak tau saat


ia menanyakan keberadaan Farrand. Dan juga, beberapa kali ia ke apartmen Farrand


untuk mencari keberadaannya. Namun lagi-lagi nihil, apartmen Farrand telah


kosong seolah pemiliknya telah meninggalkannya. Atau mungkin bukan seolah lagi,


tapi benar-benar ditinggalkan pemiliknya.


Ia bingung dengan keadaannya sekarang. Ia ingat, Farrand sempat mengajaknya


mengikuti balapan dan dia menolak kehadiran Farrand begitu saja. Ingin ia


memutar waktu, mengatakan pada Farrand jika ia ingin bersamanya dan


menginginkan Farrand untuk selalu berada disisinya dengan apapun kondisi yang


dimiliki Farrand.


Ia pandang jalanan menanjak dihadapannya. Jalanan yang lumayan kecil, hingga


ia yakin pasti kesulitan untuk dua mobil berjalan beriringan. itu mungkin saja.


Karena yang ia tau bukit ini mempunyai jalur berbeda untuk menaiki dan menuruni


bukit.


Semua sudah bersiap. Namun ia seakan tak pernah siap. Ia berada diposisi


kedua sekarang. Didepannya, ada pembalap yang mengendarai mobil Lan-Evo X.


Mobil yang mempunyai nama panjang Mitsubishi Lancer Evolution itu terlihat


cukup kuat untuk ia kalahkan. Dibelakangnya, ada mobil sil-14 milik Madhiaz dan


dibelakang Madhiaz ada mobil NSX merah yang tidak ia ketahui siapa


pengemudinya. Kacanya terlalu gelap, jadilah ia tak bisa melihat dengan jelas


siapa orang dibalik kemudinya.


Berbicara tentang NSX merah, ia jadi mengingat Farrand lagi. Wanita itu,


yang ia ketahui sangatlah ingin memiliki kendaraan seperti itu. Dan jika dia


disini, pastilah ia akan melihat mobil itu dengan penuh kekaguman. Seperti yang


terjadi saat pameran. Dan kini, ia kembali murung saat mengingat Farrand.


Kalau saja ia boleh berandai-andai, maka ia akan berandai-andai jika


pengemudi NSX itu ada Farrand-nya. Karena setau yang ia lihat, NSX itu terlihat


elegan dan cantik disaat yang bersamaan. Sangat cocok dengan kepribadian Farrand.


Balapan sudah dimulai, mengejutkan Lingga yang terlarut dalam lamunannya


tentang Farrand dan mobil NSX itu. Ia berusaha untuk konsentrasi. Ia ingin


menyalip, namun sepertinya lawan didepannya memang terlalu tangguh untuk


dihadapi. Padahal Madhiaz bukan orang yang mudah tertinggal, namun saat ia


melirik spion, ia tak mendapati Madhiaz lagi. Hanya ada mobil merah itu yang


berada tepat dibelakangnya. Tunggu, sejak kapan mobil itu menyalip Madhiaz dan


mengekorinya hingga sedekat ini?


Hingga balapan sudah hampir mencapai puncak, posisi mereka tetaplah sama.


Lan-Evo itu masih memimpin dengan jarak yang lumayan bisa dikatakan jauh dari


posisi Lingga dan mobil dibelakangnya. Lingga yang ditempel sebegitu dekat


hanya bisa menghela nafas karena jantungnya yang berdegup kencang.


Tepat saat tikungan pertama saat turunan kekanan, Lingga kaget. Ia disalip


dari sisi dalam dan melihat mobil itu menghilang dengan cepat saat keluar


tikungan. Dalam keadaan seperti itu, lamat-lamat ia mengingat perkataan Farrand


tentang NSX yang keluar cepat ditikungan karena posisi mesin tengahnya. Dalam


hati ia membenarkan hal itu, dan ia hanya bisa menggelengkan kepalanya karena


merasa jika kenangan Farrand teramat dekat dengannya.


Meski Lingga telah berusaha mengejar, ia tetap tak mampu mendekati dua mobil


yang berada agak jauh didepannya. Ia terkagum, terkagum atas pemandangan


menakjubkan yang tersuguh dihadapannya. Dimana ada dua mobil, hitam dan merah,


Lan-Evo dan NSX, dalam temaramnya lampu jalanan saling mengejar dalam kecepatan


sama yang membuat mereka terlihat seperti tarian kilat merah akibat ilusi


cahaya lampu belakang mobil. Keduanya sama cepat, dan jarak keduanya selalu


sama hingga jarak yang mereka ciptakan selalu sama. Namun, ketika ia perhatikan


ditikungan, drift keduanya sangatlah berbeda, mungkin sistem mobil


keduanyalah yang membuat berbeda. Lan-evo menggunakan sistem 4wd sama seperti


mobilnya, dan NSX tidak. Mungkin jika Farrand disisinya, ia pasti dengan senang


hati akan menjelaskan kondisi dua mobil itu. Ah, lagi-lagi ia memikirkan Farrand.


Dan kali ini dia sangat sadar bahwa kehadiran Farrand sudah menjadi candu


baginya.


Ia tersenyum. Ia seperti sedang menonton aksi balapan yang hanya dilakukan


oleh dua mobil itu. Ia merasa kalah. Merasa jika ia hanya bisa menonton pertandingan


dua mobil itu tanpa bisa membuatnya menjadi peserta yang sama-sama mengikuti


balapan ini.


Bisa dikatakan ia putus asa. Tapi beginilah keadaannya sekarang. Ia telah


memiliki jarak yang lumayan jauh dengan keduanya.


Jauh agak didepan Lingga bisa melihat ada jembatan yang lumayan panjang.


Namun jembatan itu tak terlalu lebar untuk diisi dua mobil yang saling melaju.


Pandangan Lingga kini fokus pada mobil merah. Bisa ia lihat dengan jelas jika


mobil merah itu menekuk spion dikiri dan kanannya. Dan dengan perlahan, mobil


itu masuk disisi kiri dan menambah kecepatan hingga sejajar dengan Lan-Evo.


Kedua mobil kini beriringan, dan sepertinya tikungan kekiri diujung jembatan


merupakan keberuntungan untuk NSX itu. Lan -Evo disampingnya tak akan bisa menikung


dengan jarak tipis dengan pembatas jalan disamping kanannya.


Tepat seperti perkiraan Lingga, NSX itu telah menyalip ditikungan kekiri.


Dalam hatinya ia bersorak. Ia seperti mendapat hiburan tersendiri hanya dengan


melihat pertandingan dua mobil itu.


Dua mobil itu telah mencapai finish dengan rentang waktu yang hanya berbeda


beberapa detik saja. NSX merah didepan, dan Lan-Evo dibelakangnya. Setelah


beberapa menit barulah Lingga datang disusul dengan Madhiaz.

__ADS_1


Madhiaz keluar dari mobil dan menghampiri Lingga yang bersedekap di samping


mobilnya. Menepuk pundaknya, dan tersenyum meremehkan padanya.


"Kau baru sadar jika kau tak berdaya tanpa Farrand disisimu?" Ucap


Madhiaz ketus.


Lingga melirik Madhiaz dengan ekor matanya. Sedikit banyak ia membenarkan


perkataan seniornya itu.


"Aku menyesal. Aku berharap aku bisa menemui Farrand dan meminta maaf


padanya."


Madhiaz mendecih pelan. "Saat mendengarmu menanyakan Farrand padaku


saat itu, aku tau kau pasti mempunyai masalah dengannya. Dan aku ingin sekali


menghabisimu saat itu juga. Ingat. Kau berjanji padaku untuk tak


menyakitinya."


"Tapi aku tak menyakitinya, Dhiaz."


"Secara tak sadar kau menyakitinya. Mengacuhkannya berhari-hari dan


menolak ajakannya untuk balapan bersamamu."


"Aku menyesal."


"Menyesal itu harus. Karena dengan menyesal kau baru mengetahui tentang


arti penting Farrand disisimu. Lantas, apa yang akan kau lakukan jika Farrand


muncul lagi kehadapanmu?"


"Aku akan meminta maaf padanya."


"Kau fikir hanya dengan meminta maaf maka semua masalah selesai?"


Lingga menggeleng pelan, "Tidak juga. Tapi aku berjanji akan


memperbaiki keadaan ini."


"Kalau begitu, perhatikan dengan seksama mobil NSX merah itu. Diam dan


lakukan apa yang kusuruh. Dan aku tak ingin mendengar apapun darimu."


Glup..


Lingga meneguk ludahnya yang terasa sangat kering itu. Ia mengangguk, dan


setelah itu mengamati mobil merah itu dari tempatnya kini. Ia heran, sedari


tadi pengemudinya tak keluar sama sekali. Ditengah rasa herannya, ia kembali


dikejutkan dengan sesuatu yang sulit untuk ia percayai. Lan-Evo itu,


pengemudinya ternyata adalah pemuda berambut merah yang ia temui saat


dipameran.


Pemuda merah itu terlihat menghampiri mobil NSX, mengetuk kacanya pelan dan


...


Cklekk..


Ia menajamkan matanya bermaksud melihat pengemudinya yang sebentar lagi keluar.


Deg......


Jantung Lingga berdegup semakin kencang saat ia melihat siluet wanita yang ia


cari beberapa hari ini. Madhiaz menggeleng, ia lantas berbalik dan kembali


kearah mobilnya berada, menyisakan Lingga yang masih kaget. Matanya membulat,


dan tanpa sadar ia melangkah kearah Farrand dengan air mata menggenang


dipelupuk matanya.


"Aku merindukanmu, kumohon. Jangan pergi dan menghilang lagi seperti


ini." Lingga memeluk erat tubuh kecil dihadapannya. Matanya memburam, dan


pandangannya tak jelas akibat airmata yang terus menerus keluar dari bola


matanya.


Lingga menghentikan tangisannya saat mendengar suara Farrand memanggilnya. Ia


menoleh, dan ia berjengit dan langsung melepaskan pelukannya begitu saja saat


didapatinya rambut berwarna merah dan cepak.


"Kau terlihat menggelikan." Ujar pemuda itu dingin.


"Aku disini, Ling." Ucap Farrand pelan. Lingga menoleh, wajahnya


memerah saat ia sadar jika yang dipeluknya tadi bukanlah Farrand. Melainkan


lelaki bersurai merah yang ia benci mati-matian.


"Bagaimana kau bisa disitu, Fa?" Tanya Lingga.


"Dari tadi aku memang disini. Kau saja yang salah memeluk." Jawab Farrand


datar. Ia menyidekapkan tangannya dan bersandar di kap mobil merahnya. Jika


ditelisik lebih detail, terdapat setetes warna merah dilubang hidung Farrand.


Dan ketika Farrand sadar jika ada sesuatu yang mengalir dihidungnya, ia


mengusapnya segera. Berharap Lingga tak menyadarinya.


"Farrand, kau mimisan?" Shit! Ternyata Abel lebih dulu


menyadarinya.


"A-ah... tidak, Bel."


Lingga termenung sesaat. Ia malu. Malu karena yang dipeluknya bukanlah Farrand.


Dan ketika kesadarannya terkumpul, ia menyeret tangan Farrand dan membawanya


menjauh dari keramaian.


Dan disinilah mereka kini, disuatu tempat yang agak jauh dari finish


tempatnya bertanding tadi. Tempatnya lumayan sepi, namun terdapat sebuah bangku


dan pohon yang menaunginya.


"Aku minta maaf, Fa." Ucap Lingga yang mencoba memecah kesunyian


diantara mereka.


"Mengapa kau minta maaf, Ling. Kau sama sekali tak mempunyai salah


padaku."


"Aku telah mengabaikanmu, maaf."


Lingga menunduk, dengan segera Farrand memegang tangannya dan mengusapnya


pelan.


"Tidak. Itu bukan salahmu, Ling. Itu salahku. Jadi wajar saja jika kau


menjauhiku."


"Tak seharusnya aku bersikap seperti itu padamu, Fa."


"Kau tau, aku bahkan telah bersiap akan pergi darimu jika kau tak


memberikan kepastian padaku lebih lama lagi."


"....."


"Hatiku terasa sakit saat kau mengabaikanku. Jauh lebih sakit saat


kulihat Dion menghianatiku saat itu."


"..."


"Tapi aku merasa seperti wanita brengsek. Yang dengan cepat bisa


berpindah mencintai hati yang lain secepat ini."


Lingga menunduk. Jujur saja, ucapan singkat Farrand begitu terdengar


menyakitkan. "Aku benar-benar minta maaf."


"Sudahlah Ling. Mendengarmu berulang kali mengucapkan kata maaf seperti


itu membuat telingaku sakit. Hentikan. Jika memang kau merasa bersalah, tak

__ADS_1


perlu risau. Aku sudah memaafkanmu."


Lingga mendongakkan kepalanya, menghadap Farrand dan meraih tengkuk Farrand


dengan tangan kirinya. Ia rengkuh badan mungil milik Farrand, didekapnya dan ia


usap pelan rambut panjang terurainya.


"Aku mencintaimu, Fa." Bisiknya.


"Aku juga, Ling. Mungkin terdengar terlalu cepat, tetapi aku merasa


jika hatiku hampa saat kau jauh dariku."


"Aku mencintaimu. Tak peduli berapa kalipun aku mengatakannya, lidahku


merasa tak bosan mengatakannya."


"Jika kau benar-benar mencintaiku, maukah kau menerimaku dengan segala


kekuranganku? Bagaimanapun juga aku hanya manusia biasa. Aku juga punya


kekurangan."


"Aku menerimanya, Ru. Bahkan jika aku bukan yang pertamapun, tak


masalah bagiku."


"Bukan hanya itu, kau mungkin akan menemui kekuranganku yang lainnya


dilain waktu."


Lingga mnggeleng pelan, dan seutas senyumnan terbit di bibirya yag tak


terlalu tebal itu.


"Aku akan menerimanya. Asal kau tidak membagi hatimu untuk pria lain,


aku akan menerimanya."


"Tapi selamanya kau tak bisa memiliki hatiku sepenuhnya, Ling. Karena


kuyakin kau hanya akan menjadi yang kedua."


"Lalu aku harus bagaimana? Haruskah aku menyingkirkan si pemuda panda


itu agar aku bisa menjadi satu-satunya untukmu?"


"Tidak bisa, Ling."


Fyuuuhhhh......


Lingga menghela nafas panjang. Berdebat seperti ini tentunya akan memakan waktu


yang lama jika mereka berdua tetap pada kekeras kepalaannya masing-masing.


"Baiklah. Tak masalah jika aku akan selalu menjadi yang kedua. Asal kau


memilihku untuk menjadi pendamping hidupmu selamanya, aku rela."


"Apa ini termasuk lamaran untukku?"


"Kalau kau mau aku bisa melamar secara resmi pada paman Arashya."


Mendengar ucapan Lingga membuat Farrand terkekeh pelan. Lingga yang


mendengar kekehan Farrand mengernyit heran dan melepaskan pelukan mereka.


"Selamanya kau akan menjadi yang kedua. Karena yang pertama adalah


ayahku." Ujar Farrand kemudian. Wajah Lingga memerah. Ia salah menduga


sebelumnya. Dan mungkin karena hal itulah yang membuat Farrand tetap


mempertahankan argumennya tadi.


"Ngomong-ngomong. Apa itu mobil barumu, Fa?"


"Ya, kau suka?"


"Bukankah mobil itu adalah mobil yang kau inginkan dipameran kemarin?


Bagaimana bisa kau mendapatkannya?"


"Ayahku membelikannya untukku. Mengejutkan ya? Awalnya aku menolak saat


ayahku menawariku sebuah mobil baru. Tapi ayah tak menyerah, dia bahkan


menyuruh orang untuk mencari tau mobil apa yang kusuka. Dan seperti yang kau


lihat, ayahku telah membelikannya. Dan aku telah bisa mengalahkanmu


dipertandingan tadi." Ucap Farrand. Lingga melongo, ia seperti tersadar


dari mimpinya saat mendengar penjelasan Farrand tadi.


"Aku tak menyangka jika aku dikalahkan dengan begitu mudahnya


olehmu."


"Salahkan kau yang jarang berlatih."


"Jadi..... kalau aku berlatih, kau mau ikut seperti biasa?"


"Apa aku dapat honor?"


Farrand tersenyum jahil, melihat wajah Lingga yang melongo mau tak mau


membuatnya ingin mengusili Lingga lebih jauh lagi.


Cup...


Farrand mengecup bibir merah Lingga dan melumatnya pelan. Mata Lingga membola,


karena jujur saja, ia tak menyangka jika Farrand akan menciumnya seperti ini.


Dengan perlahan , Lingga mengangkat tangannya dan melingkarkannya dileher Farrand.


Ia bermaksud menekan kepala Farrand lebih dalam lagi agar ia bisa menikmati


ciumannya.


Saat pasokan oksigen telah berkurang, mereka melepas ciumannya dengan nafas


yang terengah-engah. Namun sedetik kemudian Farrand tertawa. Lingga yang merasa


heran pun hanya bisa memandangnya dengan tatapan bingung.


"Aku tak tau jika rasanya akan sememabukkan ini." Ucap Farrand


disela tawanya.


"Memangnya kau tak pernah melakukannya dengan pemuda syaland itu?"


"Dia punya nama, Ling. Dan namanya Dion."


"Aku tak suka menyebut namanya, begitupun jika kau menyebut namanya. Jadi


kuputuskan untuk memberinya nama panggilan saja."


"Biar bagaimanapun juga dia mantan kekasihku. Jadi wajar jika aku


menyebut namanya. Dan, hei! Panggilan yang kau berikan padanya itu terdengar


sangat tidak sopan."


"Kau tenang saja,  aku akan


menghapusnya perlahan dari ingatanmu dengan membuat kenangan lebih banyak


tentang kita." Mata Lingga berkilat. Jika dilihat lebih dalam, ada setitik


kabut nafsu disana.


"Dan aku akan memulai dari sini. Lalu akan kuteruskan hingga sini"


ujar Lingga. Farrand bergidik pelan, tangan kiri Lingga mengusap pelan pangkal


pahanya. Membuatnya merasakan gelenyar aneh saat menerima sentuhan itu. Cup... Lingga


mulai merengut bibir Farrand kembali. Melumatnya kasar, lebih kasar dari yang


ia lakukan tadi.


Brukk...


Farrand mendorong dada bidang Lingga dengan sekuat tenaga hingga Lingga jatuh


tersungkur. Farrand mengusap bibirnya yang bengkak karena perlakuan Lingga. Dan


setelah itu ia berlari meninggalkan Lingga yang terduduk dirumput sambil


mengumpat kasar.


"Shit.! Harusnya aku tak berlaku seperti itu padanya disaat kami


baru saja berbaikan." Makinya pelan.


Poor buat Lingga

__ADS_1


Tbc


__ADS_2