
Lingga mencengkram erat kemudinya. Ia menghela nafas lagi. Dibalapannya kali
ini, ia sendirian lagi. Dan disaat seperti inilah ia merindukan kehadiran Farrand
disampingnya. Baiklah, katakan jika dirinya begitu bodoh. Yang dengan seenaknya
mengejar cinta Farrand. Namun begitu Farrand berbalik kearahnya, menceritakan
betapa buruk dirinya, dengan seenaknya pula Lingga mengacuhkan dan
menghindarinya meski Farrand berusaha mendekatinya dengan sebaik mungkin. Tapi
sungguh, setelah Dion memukulnya saat itu dia menyesal. Menyesal karena
sebenarnya Farrand tidaklah salah, yang salah adalah dirinya yang tidak
menerima Farrand apa adanya.
Penyesalannya kini tak berujung. Ketika hujan lebat saat itu dia
mengejarnya, tetapi ia sama sekali tak mendapati kehadiran Farrand dimanapun. Farrand
seolah menghilang, ia bahkan tak masuk sekolah sejak saat itu. Tak ada yang
mengetahui keberadaannya, bahkan Nadeen dan Madhiaz pun menjawab tak tau saat
ia menanyakan keberadaan Farrand. Dan juga, beberapa kali ia ke apartmen Farrand
untuk mencari keberadaannya. Namun lagi-lagi nihil, apartmen Farrand telah
kosong seolah pemiliknya telah meninggalkannya. Atau mungkin bukan seolah lagi,
tapi benar-benar ditinggalkan pemiliknya.
Ia bingung dengan keadaannya sekarang. Ia ingat, Farrand sempat mengajaknya
mengikuti balapan dan dia menolak kehadiran Farrand begitu saja. Ingin ia
memutar waktu, mengatakan pada Farrand jika ia ingin bersamanya dan
menginginkan Farrand untuk selalu berada disisinya dengan apapun kondisi yang
dimiliki Farrand.
Ia pandang jalanan menanjak dihadapannya. Jalanan yang lumayan kecil, hingga
ia yakin pasti kesulitan untuk dua mobil berjalan beriringan. itu mungkin saja.
Karena yang ia tau bukit ini mempunyai jalur berbeda untuk menaiki dan menuruni
bukit.
Semua sudah bersiap. Namun ia seakan tak pernah siap. Ia berada diposisi
kedua sekarang. Didepannya, ada pembalap yang mengendarai mobil Lan-Evo X.
Mobil yang mempunyai nama panjang Mitsubishi Lancer Evolution itu terlihat
cukup kuat untuk ia kalahkan. Dibelakangnya, ada mobil sil-14 milik Madhiaz dan
dibelakang Madhiaz ada mobil NSX merah yang tidak ia ketahui siapa
pengemudinya. Kacanya terlalu gelap, jadilah ia tak bisa melihat dengan jelas
siapa orang dibalik kemudinya.
Berbicara tentang NSX merah, ia jadi mengingat Farrand lagi. Wanita itu,
yang ia ketahui sangatlah ingin memiliki kendaraan seperti itu. Dan jika dia
disini, pastilah ia akan melihat mobil itu dengan penuh kekaguman. Seperti yang
terjadi saat pameran. Dan kini, ia kembali murung saat mengingat Farrand.
Kalau saja ia boleh berandai-andai, maka ia akan berandai-andai jika
pengemudi NSX itu ada Farrand-nya. Karena setau yang ia lihat, NSX itu terlihat
elegan dan cantik disaat yang bersamaan. Sangat cocok dengan kepribadian Farrand.
Balapan sudah dimulai, mengejutkan Lingga yang terlarut dalam lamunannya
tentang Farrand dan mobil NSX itu. Ia berusaha untuk konsentrasi. Ia ingin
menyalip, namun sepertinya lawan didepannya memang terlalu tangguh untuk
dihadapi. Padahal Madhiaz bukan orang yang mudah tertinggal, namun saat ia
melirik spion, ia tak mendapati Madhiaz lagi. Hanya ada mobil merah itu yang
berada tepat dibelakangnya. Tunggu, sejak kapan mobil itu menyalip Madhiaz dan
mengekorinya hingga sedekat ini?
Hingga balapan sudah hampir mencapai puncak, posisi mereka tetaplah sama.
Lan-Evo itu masih memimpin dengan jarak yang lumayan bisa dikatakan jauh dari
posisi Lingga dan mobil dibelakangnya. Lingga yang ditempel sebegitu dekat
hanya bisa menghela nafas karena jantungnya yang berdegup kencang.
Tepat saat tikungan pertama saat turunan kekanan, Lingga kaget. Ia disalip
dari sisi dalam dan melihat mobil itu menghilang dengan cepat saat keluar
tikungan. Dalam keadaan seperti itu, lamat-lamat ia mengingat perkataan Farrand
tentang NSX yang keluar cepat ditikungan karena posisi mesin tengahnya. Dalam
hati ia membenarkan hal itu, dan ia hanya bisa menggelengkan kepalanya karena
merasa jika kenangan Farrand teramat dekat dengannya.
Meski Lingga telah berusaha mengejar, ia tetap tak mampu mendekati dua mobil
yang berada agak jauh didepannya. Ia terkagum, terkagum atas pemandangan
menakjubkan yang tersuguh dihadapannya. Dimana ada dua mobil, hitam dan merah,
Lan-Evo dan NSX, dalam temaramnya lampu jalanan saling mengejar dalam kecepatan
sama yang membuat mereka terlihat seperti tarian kilat merah akibat ilusi
cahaya lampu belakang mobil. Keduanya sama cepat, dan jarak keduanya selalu
sama hingga jarak yang mereka ciptakan selalu sama. Namun, ketika ia perhatikan
ditikungan, drift keduanya sangatlah berbeda, mungkin sistem mobil
keduanyalah yang membuat berbeda. Lan-evo menggunakan sistem 4wd sama seperti
mobilnya, dan NSX tidak. Mungkin jika Farrand disisinya, ia pasti dengan senang
hati akan menjelaskan kondisi dua mobil itu. Ah, lagi-lagi ia memikirkan Farrand.
Dan kali ini dia sangat sadar bahwa kehadiran Farrand sudah menjadi candu
baginya.
Ia tersenyum. Ia seperti sedang menonton aksi balapan yang hanya dilakukan
oleh dua mobil itu. Ia merasa kalah. Merasa jika ia hanya bisa menonton pertandingan
dua mobil itu tanpa bisa membuatnya menjadi peserta yang sama-sama mengikuti
balapan ini.
Bisa dikatakan ia putus asa. Tapi beginilah keadaannya sekarang. Ia telah
memiliki jarak yang lumayan jauh dengan keduanya.
Jauh agak didepan Lingga bisa melihat ada jembatan yang lumayan panjang.
Namun jembatan itu tak terlalu lebar untuk diisi dua mobil yang saling melaju.
Pandangan Lingga kini fokus pada mobil merah. Bisa ia lihat dengan jelas jika
mobil merah itu menekuk spion dikiri dan kanannya. Dan dengan perlahan, mobil
itu masuk disisi kiri dan menambah kecepatan hingga sejajar dengan Lan-Evo.
Kedua mobil kini beriringan, dan sepertinya tikungan kekiri diujung jembatan
merupakan keberuntungan untuk NSX itu. Lan -Evo disampingnya tak akan bisa menikung
dengan jarak tipis dengan pembatas jalan disamping kanannya.
Tepat seperti perkiraan Lingga, NSX itu telah menyalip ditikungan kekiri.
Dalam hatinya ia bersorak. Ia seperti mendapat hiburan tersendiri hanya dengan
melihat pertandingan dua mobil itu.
Dua mobil itu telah mencapai finish dengan rentang waktu yang hanya berbeda
beberapa detik saja. NSX merah didepan, dan Lan-Evo dibelakangnya. Setelah
beberapa menit barulah Lingga datang disusul dengan Madhiaz.
__ADS_1
Madhiaz keluar dari mobil dan menghampiri Lingga yang bersedekap di samping
mobilnya. Menepuk pundaknya, dan tersenyum meremehkan padanya.
"Kau baru sadar jika kau tak berdaya tanpa Farrand disisimu?" Ucap
Madhiaz ketus.
Lingga melirik Madhiaz dengan ekor matanya. Sedikit banyak ia membenarkan
perkataan seniornya itu.
"Aku menyesal. Aku berharap aku bisa menemui Farrand dan meminta maaf
padanya."
Madhiaz mendecih pelan. "Saat mendengarmu menanyakan Farrand padaku
saat itu, aku tau kau pasti mempunyai masalah dengannya. Dan aku ingin sekali
menghabisimu saat itu juga. Ingat. Kau berjanji padaku untuk tak
menyakitinya."
"Tapi aku tak menyakitinya, Dhiaz."
"Secara tak sadar kau menyakitinya. Mengacuhkannya berhari-hari dan
menolak ajakannya untuk balapan bersamamu."
"Aku menyesal."
"Menyesal itu harus. Karena dengan menyesal kau baru mengetahui tentang
arti penting Farrand disisimu. Lantas, apa yang akan kau lakukan jika Farrand
muncul lagi kehadapanmu?"
"Aku akan meminta maaf padanya."
"Kau fikir hanya dengan meminta maaf maka semua masalah selesai?"
Lingga menggeleng pelan, "Tidak juga. Tapi aku berjanji akan
memperbaiki keadaan ini."
"Kalau begitu, perhatikan dengan seksama mobil NSX merah itu. Diam dan
lakukan apa yang kusuruh. Dan aku tak ingin mendengar apapun darimu."
Glup..
Lingga meneguk ludahnya yang terasa sangat kering itu. Ia mengangguk, dan
setelah itu mengamati mobil merah itu dari tempatnya kini. Ia heran, sedari
tadi pengemudinya tak keluar sama sekali. Ditengah rasa herannya, ia kembali
dikejutkan dengan sesuatu yang sulit untuk ia percayai. Lan-Evo itu,
pengemudinya ternyata adalah pemuda berambut merah yang ia temui saat
dipameran.
Pemuda merah itu terlihat menghampiri mobil NSX, mengetuk kacanya pelan dan
...
Cklekk..
Ia menajamkan matanya bermaksud melihat pengemudinya yang sebentar lagi keluar.
Deg......
Jantung Lingga berdegup semakin kencang saat ia melihat siluet wanita yang ia
cari beberapa hari ini. Madhiaz menggeleng, ia lantas berbalik dan kembali
kearah mobilnya berada, menyisakan Lingga yang masih kaget. Matanya membulat,
dan tanpa sadar ia melangkah kearah Farrand dengan air mata menggenang
dipelupuk matanya.
"Aku merindukanmu, kumohon. Jangan pergi dan menghilang lagi seperti
ini." Lingga memeluk erat tubuh kecil dihadapannya. Matanya memburam, dan
pandangannya tak jelas akibat airmata yang terus menerus keluar dari bola
matanya.
Lingga menghentikan tangisannya saat mendengar suara Farrand memanggilnya. Ia
menoleh, dan ia berjengit dan langsung melepaskan pelukannya begitu saja saat
didapatinya rambut berwarna merah dan cepak.
"Kau terlihat menggelikan." Ujar pemuda itu dingin.
"Aku disini, Ling." Ucap Farrand pelan. Lingga menoleh, wajahnya
memerah saat ia sadar jika yang dipeluknya tadi bukanlah Farrand. Melainkan
lelaki bersurai merah yang ia benci mati-matian.
"Bagaimana kau bisa disitu, Fa?" Tanya Lingga.
"Dari tadi aku memang disini. Kau saja yang salah memeluk." Jawab Farrand
datar. Ia menyidekapkan tangannya dan bersandar di kap mobil merahnya. Jika
ditelisik lebih detail, terdapat setetes warna merah dilubang hidung Farrand.
Dan ketika Farrand sadar jika ada sesuatu yang mengalir dihidungnya, ia
mengusapnya segera. Berharap Lingga tak menyadarinya.
"Farrand, kau mimisan?" Shit! Ternyata Abel lebih dulu
menyadarinya.
"A-ah... tidak, Bel."
Lingga termenung sesaat. Ia malu. Malu karena yang dipeluknya bukanlah Farrand.
Dan ketika kesadarannya terkumpul, ia menyeret tangan Farrand dan membawanya
menjauh dari keramaian.
Dan disinilah mereka kini, disuatu tempat yang agak jauh dari finish
tempatnya bertanding tadi. Tempatnya lumayan sepi, namun terdapat sebuah bangku
dan pohon yang menaunginya.
"Aku minta maaf, Fa." Ucap Lingga yang mencoba memecah kesunyian
diantara mereka.
"Mengapa kau minta maaf, Ling. Kau sama sekali tak mempunyai salah
padaku."
"Aku telah mengabaikanmu, maaf."
Lingga menunduk, dengan segera Farrand memegang tangannya dan mengusapnya
pelan.
"Tidak. Itu bukan salahmu, Ling. Itu salahku. Jadi wajar saja jika kau
menjauhiku."
"Tak seharusnya aku bersikap seperti itu padamu, Fa."
"Kau tau, aku bahkan telah bersiap akan pergi darimu jika kau tak
memberikan kepastian padaku lebih lama lagi."
"....."
"Hatiku terasa sakit saat kau mengabaikanku. Jauh lebih sakit saat
kulihat Dion menghianatiku saat itu."
"..."
"Tapi aku merasa seperti wanita brengsek. Yang dengan cepat bisa
berpindah mencintai hati yang lain secepat ini."
Lingga menunduk. Jujur saja, ucapan singkat Farrand begitu terdengar
menyakitkan. "Aku benar-benar minta maaf."
"Sudahlah Ling. Mendengarmu berulang kali mengucapkan kata maaf seperti
itu membuat telingaku sakit. Hentikan. Jika memang kau merasa bersalah, tak
__ADS_1
perlu risau. Aku sudah memaafkanmu."
Lingga mendongakkan kepalanya, menghadap Farrand dan meraih tengkuk Farrand
dengan tangan kirinya. Ia rengkuh badan mungil milik Farrand, didekapnya dan ia
usap pelan rambut panjang terurainya.
"Aku mencintaimu, Fa." Bisiknya.
"Aku juga, Ling. Mungkin terdengar terlalu cepat, tetapi aku merasa
jika hatiku hampa saat kau jauh dariku."
"Aku mencintaimu. Tak peduli berapa kalipun aku mengatakannya, lidahku
merasa tak bosan mengatakannya."
"Jika kau benar-benar mencintaiku, maukah kau menerimaku dengan segala
kekuranganku? Bagaimanapun juga aku hanya manusia biasa. Aku juga punya
kekurangan."
"Aku menerimanya, Ru. Bahkan jika aku bukan yang pertamapun, tak
masalah bagiku."
"Bukan hanya itu, kau mungkin akan menemui kekuranganku yang lainnya
dilain waktu."
Lingga mnggeleng pelan, dan seutas senyumnan terbit di bibirya yag tak
terlalu tebal itu.
"Aku akan menerimanya. Asal kau tidak membagi hatimu untuk pria lain,
aku akan menerimanya."
"Tapi selamanya kau tak bisa memiliki hatiku sepenuhnya, Ling. Karena
kuyakin kau hanya akan menjadi yang kedua."
"Lalu aku harus bagaimana? Haruskah aku menyingkirkan si pemuda panda
itu agar aku bisa menjadi satu-satunya untukmu?"
"Tidak bisa, Ling."
Fyuuuhhhh......
Lingga menghela nafas panjang. Berdebat seperti ini tentunya akan memakan waktu
yang lama jika mereka berdua tetap pada kekeras kepalaannya masing-masing.
"Baiklah. Tak masalah jika aku akan selalu menjadi yang kedua. Asal kau
memilihku untuk menjadi pendamping hidupmu selamanya, aku rela."
"Apa ini termasuk lamaran untukku?"
"Kalau kau mau aku bisa melamar secara resmi pada paman Arashya."
Mendengar ucapan Lingga membuat Farrand terkekeh pelan. Lingga yang
mendengar kekehan Farrand mengernyit heran dan melepaskan pelukan mereka.
"Selamanya kau akan menjadi yang kedua. Karena yang pertama adalah
ayahku." Ujar Farrand kemudian. Wajah Lingga memerah. Ia salah menduga
sebelumnya. Dan mungkin karena hal itulah yang membuat Farrand tetap
mempertahankan argumennya tadi.
"Ngomong-ngomong. Apa itu mobil barumu, Fa?"
"Ya, kau suka?"
"Bukankah mobil itu adalah mobil yang kau inginkan dipameran kemarin?
Bagaimana bisa kau mendapatkannya?"
"Ayahku membelikannya untukku. Mengejutkan ya? Awalnya aku menolak saat
ayahku menawariku sebuah mobil baru. Tapi ayah tak menyerah, dia bahkan
menyuruh orang untuk mencari tau mobil apa yang kusuka. Dan seperti yang kau
lihat, ayahku telah membelikannya. Dan aku telah bisa mengalahkanmu
dipertandingan tadi." Ucap Farrand. Lingga melongo, ia seperti tersadar
dari mimpinya saat mendengar penjelasan Farrand tadi.
"Aku tak menyangka jika aku dikalahkan dengan begitu mudahnya
olehmu."
"Salahkan kau yang jarang berlatih."
"Jadi..... kalau aku berlatih, kau mau ikut seperti biasa?"
"Apa aku dapat honor?"
Farrand tersenyum jahil, melihat wajah Lingga yang melongo mau tak mau
membuatnya ingin mengusili Lingga lebih jauh lagi.
Cup...
Farrand mengecup bibir merah Lingga dan melumatnya pelan. Mata Lingga membola,
karena jujur saja, ia tak menyangka jika Farrand akan menciumnya seperti ini.
Dengan perlahan , Lingga mengangkat tangannya dan melingkarkannya dileher Farrand.
Ia bermaksud menekan kepala Farrand lebih dalam lagi agar ia bisa menikmati
ciumannya.
Saat pasokan oksigen telah berkurang, mereka melepas ciumannya dengan nafas
yang terengah-engah. Namun sedetik kemudian Farrand tertawa. Lingga yang merasa
heran pun hanya bisa memandangnya dengan tatapan bingung.
"Aku tak tau jika rasanya akan sememabukkan ini." Ucap Farrand
disela tawanya.
"Memangnya kau tak pernah melakukannya dengan pemuda syaland itu?"
"Dia punya nama, Ling. Dan namanya Dion."
"Aku tak suka menyebut namanya, begitupun jika kau menyebut namanya. Jadi
kuputuskan untuk memberinya nama panggilan saja."
"Biar bagaimanapun juga dia mantan kekasihku. Jadi wajar jika aku
menyebut namanya. Dan, hei! Panggilan yang kau berikan padanya itu terdengar
sangat tidak sopan."
"Kau tenang saja, aku akan
menghapusnya perlahan dari ingatanmu dengan membuat kenangan lebih banyak
tentang kita." Mata Lingga berkilat. Jika dilihat lebih dalam, ada setitik
kabut nafsu disana.
"Dan aku akan memulai dari sini. Lalu akan kuteruskan hingga sini"
ujar Lingga. Farrand bergidik pelan, tangan kiri Lingga mengusap pelan pangkal
pahanya. Membuatnya merasakan gelenyar aneh saat menerima sentuhan itu. Cup... Lingga
mulai merengut bibir Farrand kembali. Melumatnya kasar, lebih kasar dari yang
ia lakukan tadi.
Brukk...
Farrand mendorong dada bidang Lingga dengan sekuat tenaga hingga Lingga jatuh
tersungkur. Farrand mengusap bibirnya yang bengkak karena perlakuan Lingga. Dan
setelah itu ia berlari meninggalkan Lingga yang terduduk dirumput sambil
mengumpat kasar.
"Shit.! Harusnya aku tak berlaku seperti itu padanya disaat kami
baru saja berbaikan." Makinya pelan.
Poor buat Lingga
__ADS_1
Tbc