
Tap... Tap... Tap....
Lingga melangkahkan kakinya menuju koridor kelas yang masih lenggang. Maklum
saja, masih ada banyak waktu sebelum jam masuk, dan anak-anak yang lain memang
terbiasa datang setidaknya 15 menit sebelum bel masuk kelas. Dirinya tidur
cukup nyenyak semalam. Membayangkan ia akan mendapat bekal makan siang dari Farrand
saja sudah membuatnya senang, apalagi ditambah Farrand mau menjadi navigatornya? Waw.... senangnya berkali-kali lipat. Seperti kata pepatah. Sekali merengkuh
dayung, dua tiga pulau terlampaui. Sambil pendekatan dengan Farrand, ia
bisa mendapat navigator sekaligus. Mengingat gadis incarannya itu
mempunyai kemampuan menganalisa jalanan dengan baik, tentulah menguntungkan
untuknya.
Suasana kelas yang masih sepi dan lenggang membuatnya seperti bisa bernafas
dengan leluasa dan tidak merasa sesak akibat banyaknya orang. Dan kini yang
terlihat dimatanya hanya ada Farrand. Farrand? Ya... hanya ada Farrand disana.
Keberuntungan yang bagus dipagi hari bukan? Untung saja ia tadi mengikuti kata
hatinya untuk berangkat lebih pagi dari biasanya.
"Hai... " Sapanya. Farrand yang sedari tadi membaca buku menoleh
kearahnya dengan tatapan terkejut.
"Pagi sekali kau datang?" sapa Lingga. Ia tersenyum dan
mendudukkan diri dikursi milik Nadeen.
"Aku memang biasa datang pagi jika sedang ada jadwal piket." Ucap Farrand.
"Oh. Iya. Aku lupa hal itu.hari ini kan kau memiliki jadwal piket
kelas. Pantas saja kau datang lebih awal."
"Ck....." Farrand berdecak. Sejak kapan Lingga peduli dan menaruh
perhatian padanya hingga dia mengatakan lupa? Lagipula, sejak kapan Lingga
hafal jadwalnya? Ck, merepotkan hatinya saja.
"Kau tak lupa janjimu bukan?"
"Janji"?
"Bekal makan siang ku.
Apalagi?"
"Ah, tentu saja aku ingat. Aku sudah membuatkannya untukmu."
Senyum merekah dibibir Lingga. Yah... nanti saat makan siang dirinya akan
makan masakan enak. Bukan makan masakan ibu kantin lagi. Atau sepotong roti
bungkus.
"Tapi aku cuman membuat nasi dengan lauk sederhana. Apa tak apa?"
Lanjut Farrand. Ia terlihat mengeluarkan sebuah kotak berbungkus sapu tangan
biru bargambar elang.
"Tak masalah. Tapi jangan diberikan langsung saat ini."
"Lalu?"
"Bawakan nanti saat istirahat. Kita makan bersama."
"Hee?” Farrand bingung. Sungguh. Jika dirinya harus menambahkan kata
untuk deskripsi pemuda disampingnya ini selain sedikit tampan -menurut
yang ia lihat semalam-, maka ia dengan senang hati akan menambahkan kata
menyebalkan. Sudah susah-susah dibuatkan nasi dan lauk untuk bekal, dengan
seenak udelnya ia juga minta ditemani makan dan juga dibawakan makanannya.
Memang dirinya ini pembantunya yang bisa disuruh-suruh seenak jidatnya?
"Kau fikir aku pembantumu?" Tanya Farrand yang menyuarakan
pemikirannya.
"Aku sama sekali tak berfikir kau pembantuku. Aku hanya memintamu
membawakannya." Jawab Lingga.
"Kau masih punya dua tangan dan dua kaki yang menganggur."
"Kau juga." Tak ada jawaban. Namun yang Lingga ketahui Farrand
sangat sebal. Terbukti dengan mulutnya yang mengucut. "Aku membawa minuman
dan beberapa cemilan untuk tambahan. Jadi aku minta bantuanmu untuk membantuku
membawanya." Lanjut Lingga. Ia merasa tak tega jika terus menerus melihat
wjah tertekuk karena sebal milik Farrand.
Senyum Farrand terkembang, Ah... dia
jadi malu karena sempat berburuk sangka pada Lingga.
Sreekk....
"Farrand...." Nadeen yang datang tiba-tiba membuat dua orang yang
saling berhadapan itu menoleh kearahnya. Mereka berdua heran dengan kondisi Nadeen
yang terlihat seperti baru saja ikut lomba lari maraton.
"Ada apa, Nadeen?"
Ucap Farrand.
"He.. Lingga ada disini
juga?"
Ctak...
Urat imajiner muncul dipelipis Farrand. Ia kesal. Bukannya Nadeen menjawab
pertanyaannya, ia malah menyapa Lingga yang berada disebelahnya. Dan yang
disapa hanya menyunggingkan senyum tipisnya. Sial sekali punya sahabat seperti
Nadeen yang bisanya cuman melihat paras rupawan milik pemuda dihadapannya tanpa
menghiraukan dirinya yang notabene nya adalah sahabatnya..
"Aku sudah datang dari tadi."
"He..... Lingga tidak berniat untuk menembak Farrand kan?"
Blush......
Wajah keduanya memerah. Tak menyangka jika Nadeen langsung melontarkan
kata-kata laknat itu. Apa katanya tadi? Menembak? Hey, Farrand rasa ada yang
tidak beres apa otak Nadeen hari ini. Sedang Nadeen? Pelaku pengaget jantung
mereka hanya nyengir dan dengan seenak jidatnya duduk di bangku depan sambil
menatap Farrand.
Lingga memalingkan wajah sambil mendengus. Mencoba menghilangkan rona merah
yang terlanjur menjalar di pipinya. Namun ia tidak bisa menghilangkan detak
jantung tak teratur yang rasakan sedari tadi. Ia akui. Ingin ia utarakan
rasanya pada gadis pirang itu. Namun ego dihati mencegahnya. Seraya membungkam
mulutnya rapat-rapat dengan mengesampingkan perasaannya. Hatinya selalu
mengingatkannya akan tujuan awalnya balapan. Ia, seorang Lingga, seorang Lingga
yang ingin menjadi raja balapan tak terkalahkan dan mengukir sejarah. Dan
selain itu, ia penasaran ingin mengalahkan pria bertudung dengan s15 nya. Untuk
sementara ini menjalin asmara bisa ia kesampingkan dan pikirkan lain waktu.
"Ne.. ne... Farrand. Kudengar nanti akan ada balapan lagi." Kata Nadeen.
Farrand yang mendengar itu mendesah lega. Setidaknya ia tak perlu terus menerus
dalam kondisi terpojokkan sahabat nyentrik nya itu. Ia masih belum siap atas
hatinya. Kesakitan yang ditorehkan Dion masihlah belum sembuh. Ia tak ingin di
cap gampangan dengan terburu-buru menjalin asmara dengan Lingga sesaat setelah
keterpisahannya dengan Dion. Ia masih akan menunggu. Menunggu waktu sambil
memastikan perasaannya. Dan menunggu waktu hingga ia siap dan telah mantap jika
hatinya akan berpindah. Tapi, sebelum itu ia pun harus memastikan. Apakah Lingga
juga memiliki perasaan padanya? Mengingat pemuda itu sangatlah terobsesi hanya
pada balapan dan mobilnya saja.
"Lalu?" Ketenangan mulai mengusai Farrand kembali.
"Kau tak mau ikut? Aku akan mencoba peruntungan dengan ikut nanti
malam. Bukankah Lingga juga ikut?"
"Hn." Lingga mengangguk kecil dan hanya mengeluarkan kata
teriritnya. Ia tak ingin menjawab dengan banyak kata, takutnya ia nanti
__ADS_1
terpancing omongan Nadeen dan malah mengungkapkan rasanya pada Farrand.
"He.... kau tak bilang padaku jika nanti malam ada balapan." Farrand
kaget. Ia masih cukup ingat jika Lingga tak memberitahunya semalam.
"Aku lupa."
Doenggg....
Dan dengan memasang wajah tanpa bebannya Lingga menjawabnya dengan singkat.
"Lalu, apa hubungannya denganmu, Farrand? Kurasa kau tak perlu
seterkejut itu mendengar kabar yang kubawa ini. Atau..... ada sesuatu yang tak
kuketahui tentang kalian berdua?" Nadeen menatap Farrand dan Lingga
bergantian dengan pandangan menyelidik.
"Dia jadi navigatorku. " tunjuk Lingga.
"Heeeee....." ucapan singkat Lingga mampu membuat Nadeen
terbengong. Sedangkan Farrand? Ia hanya merebahkan kepalanya keatas mejanya.
Kali ini ia akan diam. Biar Lingga saja yang menjelaskan kepada sahabat rese
nya. Ia tak kuat.
"Sejak kapan?"
"Sejak semalam."
"Tapi, Lingga. Mengapa kau mengajak Farrand? Tak mengajakku saja?"
"Dia punya pengetahuan lebih banyak darimu, Nadeen."
"Lebih banyak?" Alis Nadeen menukik. Farrand punya lebih banyak
pengalaman katanya? Bukankah setau dirinya, Farrand tak pernah sekalipun
mengendarai mobil? Dan ia juga gampang sekali mabuk? Dan seingatnya juga,
ayahnya tak punya mobil? Apa Dhiaz yang mengajarinya? Dan berbagai pertanyaan
pun berseliweran difikiran Nadeen.
"Ehm...." sebuah yang suara menginterupsi membuat Nadeen dan Lingga
menoleh. Seseorang dengan aura gelap mencekam yang ternyata sang pemilik tempat
duduk yang diduduki Nadeen, seakan memberi sinyal Nadeen untuk segera enyah
dari bangkunya.
"Kita bahas nanti saat istirahat." Lingga yang merasakan aura
gelap itupun faham akan kondisi dan segera ngacir ketempat duduknya. Nadeen
nyengir dan Farrand hanya bisa tersenyum tipis. Ternyata sedari tadi kelas
mereka telah berangsur penuh dan tak lama, bel tanda masuk pun berbunyi.
***
Mereka bertiga duduk melingkar di atas rumput taman belakang sekolah. Memang
saat jam istirahat tempat ini lumayan sepi dan asri. Jauh dari hiruk pikuk para
siswa yang merilexkan fikirannya akibat pelajaran yang bagi mereka
membosankan.
"Jadi... siapa yang mau menjelaskan." Nadeen memecah keheningan
diantara mereka bertiga. Ia jenuh. Semenjak tadi di hadapkan dengan keheningan
keduanya. Keduanya seperti orang pacaran saja. Farrand yang membawa dua kotal
bekal, dan Lingga yang membawa cemilannya. Nadeen? Oh. Dia bagai nyamuk
pengganggu yang perlu diberikan obat pengusir nyamuk. Atau pembasmi nyamuk
sekalian? Jadilah ia berinisiatif membuka mulutnya untuk bersuara.
"Lingga yang menyuruhku menjadi navigatornya. Bukan aku yang
manawarkan. Sungguh. Aku bahkan sempat menolaknya." Farrand merasa tak
enak jika harus berhadapan dengan Nadeen yang sedang dalam mode begini.
"Hn" kalimat ambigu Lingga meluncur begitu saja. Sebenarnya ia
malas jika harus menjelaskan apapun untuk saat ini. Hei... dia sedang menikmati
bekal, you know? Jadi sebisa mungkin dia menikmatinya tanpa acara basa
basi.
"Bisa diperjelas?"
"Na-Na-Nadeen.."
sekarang. Dua orang dihadapannya ini benar-benar punya sesuatu yang
disembunyikan.
"Akan kujelaskan. Tapi biarkan aku makan dengan tenang." Suara Lingga
menginterupsi keduanya. Menghentikan intimidasi Nadeen dan melegakan Farrand
yang terintimidasi. Kedua perempuan itu hanya mengangguk. Lingga dan
keseriusannya adalah hal menyeramkan untuk dilawan. Mungkin bisa dijadikan
pelajaran oleh mereka berdua agar tak menggangu Lingga saat sedang serius.
Setelah mereka selesai pun. Dari dua perempuan itu belum ada yang mau
memulai pembicaraan. Mereka lebih memilih menunggu saja. Menunggu Lingga yang
membuka mulutnya. Sepertinya gertakan Lingga masih melekat erat dibenak mereka.
"Aku akan jelaskan. Tapi jangan banyak bertanya. Kujelaskan sekali dan
jangan membuatku bercerita dua kali." Akhirnya..... setelah terdiam agak
lama Lingga membuka mulutnya. Memecah keheningan dan membuat dua orang
perempuan itu mengangguk.
"Aku meminta Farrand menjadi navigator karena kurasa dia pantas.
Dia sering mengomentari mobil dan cara mengemudiku saat mengajaknya. Aku
menjanjikan sepertiga hadiah balapan jika menang. Dia juga memintaku
mengajarinya. Sama sepertimu, Nadeen. Dan aku meminta bayaran juga, tentunya."
Nadeen menatap lekat-lekat Lingga. Dan setelah itu berganti menatap Farrand.
Ada banyak hal yang masih tak diketahuinya tentang sahabat karibnya itu.
"Aku tak tau kau juga ingin belajar mengemudi. Mengapa tak kau katakan
lebih awal? Kita bisa belajar bersama dan kau juga bisa meminjam mobilku"
ucapnya.
"Dan membiarkanku mati lemas akibat mabuk ? Tidak. Aku akan ikut
denganmu jika kau sudah memperbaiki cara mengemudimu." Farrand memalingkan
wajahnya. Sebenarnya ia ingin saja menerima ajakan Nadeen. Tapi mau bagaimana
lagi? Dia tak ingin menyusahkan sahabatnya itu. Mengingat sahabatnya selalu
saja tak akan segan mengulurkan apapun untuknya jika ia membutuhkan.
"Dan soal balapan nanti, kau juga akan ikut kan? Nadeen?" Ucapan Lingga
menginterupsi mereka berdua. Ia jengah akan kedua sahabat yang saling
menyudutkan itu. Bukannya Lingga tak merasa jika Nadeen memiliki ketertarikan
dengannya, tapi untuk sementara ini ia hanya ingin fokus untuk mobil-mobilnya
dulu.
"I-iya, Lingga. Aku ingin mengetahui dulu bagaimana kondisi balapan.
Meski aku tak berniat untuk menang, setidaknya aku akan mendapat beberapa ilmu
untuk kupelajari setelahnya." Nadeen mencoba tersenyum manis kepada Lingga.
Berharap lelaki didepannya itu sedikit meluluhkan hati untuknya. Jujur, ia
sedikit iri pada sahabatnya yang bisa duduk disamping Lingganya saat
balapan. Tapi itu tak akan jadi masalah besar. Ia akan belajar lebih giat
tentang balapan, dan akan merebut posisi Farrand dengan cara yang wajar.
"Ok. Aku akan kembali ke kelas. Aku masih harus mengerjakan beberapa
tugasku." Lingga beranjak dari sana tanpa menoleh pada Farrand sedikitpun.
Hati Farrand seakan tercubit melihat Lingga seperri mengacuhkan dirinya. Ada
apa sebenarnya?
"Ya/hm." Ucap Farrand dan Nadeen bersamaan. Farrand menghela
nafas. Sepertinya setelah ini ia akan di inteeogasi habis-habisan oleh Nadeen.
"Farrand... sepertinya aku punya beberapa pertanyaan untukmu." Dan jleb. Tebakannya benar. Sepertinya ia harus menyiapkan stok nafas untuk
saat ini. Bisa saja sahabatnya itu mencekiknya sampai mati kan?
"Y-ya.... Nadeen.. kau bisa menanyakan beberapa pertanyaan itu untukku.
Kalo bisa kujawab. Akan kujawab."
"Hei, Farrand. Sejak
__ADS_1
kapan kau tau tentang mobil? Seingatku ayahmu tak punya mobil?"
"Dulu ayahku punya saat aku masih belum pindah kesini. Aku juga sering
ikut ayahku mengemudi dan membengkel mobilnya. Jadi sedikit banyak aku tau
beberapa hal."
"Kau kan mudah sekali mabuk. Bagaimana bisa.?"
"Kau terlalu berlebihan. Ayahku pengemudi handal yang bisa membuatku tidak
mabuk saat berkendara bersamanya."
"Lalu mengapa kau tak meminta ayahmu yang mengajari?"
"Dan kau lupa aku tak punya mobil."
"Eh, iya. Hahahhahaa" Nadeen tergelak, dan sedetik kemudian di
ikuti Farrand yang menyusulnya tertawa. Sebenarnya ia heran, apa yang membuat
sahabatnya itu tertawa dengan sebegitu bebasnya. Apalagi cara tertawa Nadeen
yang lucu mau tak mau membuatnya ikut tertawa juga.
"Ayo kita bersaing secara sehat, Farrand." Kata Nadeen kemudian
setelah menghentikan tawanya. Farrand yang mendengarnya hanya memasang pose
bingung. Ia tak menyangka jika sahabatnya itu akan mengucapkan kalimat seperti
itu.
"Apa maksudmu?"
"Kau tau benar apa maksudku."
"Apa?”
"Kau punya ketertarikan pada Lingga kan? Aku juga. Jadi, mari kita
bersaing secara sehat. Dan ayo kita bersama-sama menoreh sejarah menjadi
pembalap wanita tercepat disini."
Mendengar penuturan Nadeen tadi membuat Farrand tersenyum. Ia bisa menghela
nafas lega mendengar kata-kata bijak yang dilontarkannya. Ia tak memungkiri
jika ia punya ketertarikan khusus pada Lingga. Hanya sedikit, dan sepertinya
hal itu disadari olehnya.
"Ayo kembali ke kelas. Mungkin bel akan terdengar sebentar lagi."
Ajakan Nadeen tak ia balas dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk dan segera
menyusul Nadeen yang telah beranjak dari sana setelah merapikan koyak bekalnya.
Ia hanya mengekori Nadeen. Ia sedikit melamun hingga tak menyadari jika dirinya
agak tertinggal oleh langkah Nadeen.
Grep.
Tangannya ditarik dan mulutnya dibekap oleh seseorang ketika ia akan berbelok
menuju tangga. Koridor ini lumayan sepi. Dan seseorang itu menariknya menuju
bawah tangga yang tak akan terlihat oleh siswa yang akan menaiki tangga.
Perasaan takut sedikit menjalarinya. Namun ketakutan itu berganti kelegaan
setelah orang itu melepas genggaman dan bekapan dimulutnya. Ia kenal orang ini.
Orang yang masih punya tempat dihatinya. Orang yang sangat ia kenali aroma
maskulin tubuhnya yang bercampur dengan farfum yang dikenalinya. Orang ini, Dion.
Dionnya yang telah menjadi milik orang lain.
Dion membalikkan badannya dan membuat dirinya berhadapan dengan Farrand. Ia
tatap wajah dengan mata sayu itu. Ia peluk tubuhnya. Sedikit terbersit rasa
menyesal dihatinya karena telah berlaku kasar dengan menyeret tangan dan
membekap wanita itu. Takut ia menyakitinya dengan perlakuannya barusan.
Pelukan Dion yang tiba-tiba membuat Farrand dilema. Ia ingin memeluk Dion
lebih erat. Tapi itu diurungkannya setelah ia ingat perlakuan Dion padanya
tempo hari. Dan chuup..... matanya membola seiring Dion yang mecumbunya
tiba-tiba. Ia kaget. Tidakan Dion terlalu tiba-tiba untuknya. Jantungnya
berdetak keras seiring cumbuan Dion. Ia tak bisa berontak. Sendi tubuhnya
terasa lemas begitu saja. Apalagi Dion juga memegang erat kedua tangannya.
Membuatnya semakin tak berdaya. Dan yang bisa dilakukannya sekarang hanya bisa
pasrah saja. Cumbuan Dion dan aroma maskulin khas tubuhnya adalah dua hal yang
sanggup membuat jantungnya bekerja lebih ekstra.
Dion menghentikan aktivitasnya setelah merasa Farrand telah terengah-engah.
Ia melirik bibir Farrand yang bengkak karena ulahnya barusan. Ia merasa
bersalah karenanya. Lagi-lagi ia membuat Farrand tersakiti, padahal dihati
kecilnya tak ingin menyakiti gadisnya itu.
"Aku minta maaf." Ujar Dion setelah mereka menyelesaikan
kegiatannya barusan.
"Kau sudah mengatakannya kemarin."
"Tapi aku merasa jika aku menyakitimu terlalu dalam, honey."
"Dion, sedikitpun aku tak merasa kau sakiti. Aku tau kau tak berniat
menyakitiku. Tapi mungkin inilah jalannya. Kita harus berpisah, dan kita harus
mengakhirinya sebelum timbul rasa sakit yang lebih dalam setelah ini."
"Aku ingin memilikimu, tapi aku masih tak sanggup. Aku terlalu lemah
untuk bisa mempertahanmu dihadapan ayahku."
"Aku mengerti. Aku pun tak bisa egois untuk bisa memilikimu untuk
diriku sendiri. Cintailah dirinya jika itu bisa membahagiakan ayahmu."
"Tapi bagaimana bisa? Bagaimana bisa aku mencintainya jika dihatiku
sudah ada dirimu?"
"Kau bisa melakukannya pelan-pelan."
"Aku tak bisa hidup tanpa dirimu, Farrand." Dion terduduk lemas.
Ia frustasi. Ia merasa jika inilah batasnya. Namun ia bisa apa?
Set....
Farrand mendekap Dion dan membawanya kedalam pelukannya. Mengelus pelan surai hitam
kecoklatan acak-acakan itu dan mengecup puncaknya.
"Kau bisa. Bukankah sebelum bertemu dan setelah terpisah denganku kau
hidup seperti biasa? Lakukan itu lagi dan jalanilah dengan lebih baik. Jika kau
lemah, berusahalah lebih keras lagi agar kau kuat. Aku hanya pergi dari sisimu,
bukan untuk menghilang selamanya. Yang kau perlukan hanya membuka hati
untuknya. Untuk pilihan ayahmu. Kau dengar? Jantung ini masih berdetak keras untukmu.
Itu berarti kau masih bertahta disini. Jika kau mengabaikan Zennie, dia hanya
akan tersakiti terus-menerus. Bukalah hatimu untuknya, Dion. Dengan begitu kau
bisa membuat ayahmu dan dia senang. "
"Lalu bagaimana denganmu? Tidakkah kau pun akan tersakiti?"
"Aku bisa menyembuhkan hatiku nanti. Kau lupa jika aku punya kemampuan manage hati dengan baik"
"Kau terlalu baik, Farrand. Kau hanya memikirkan orang lain, hingga tak
sadar jika kau tersakiti."
"Aku lebih suka seperti ini jika itu bisa membuat hubunganmu dengan
ayahmu membaik. Kau tau? Kau bisa menyesal jika kehilangan ayahmu."
"Tapi..."
"St....." Farrand menghentikan ucapan Dion dengan meFarrandh
telunjuknya dibibir tipis Dion. "Sudahlah... aku sudah menerima semua ini.
Mengapa kau tidak? " lanjutnya.
Dion tak menjawab lagi. Ia salut dengan ketengan Farrand. Ia bangga pada Farrand,
wanita itu dengan mudahnya menerimanya. Bahkan setelah dirinya menyakitinya
pun, dia masih mau melihatnya, memeluknya, dan memberikan motivasi untuknya. Ia
masih menyamankan posisinya dipelukan Farrand. Hingga suara bel menginterupsi
kegiatan mereka dan memisahkan kebersamaan mereka.
"Mungkin Nadeen akan mengintrogasiku lagi setelah ini. Apa yang akan ku
katakan padanya ya?" Monolog Farrand.
-------tbc------
__ADS_1