Cinta Di Atas Aspal

Cinta Di Atas Aspal
Episode 10


__ADS_3

Tap... Tap... Tap....


Lingga melangkahkan kakinya menuju koridor kelas yang masih lenggang. Maklum


saja, masih ada banyak waktu sebelum jam masuk, dan anak-anak yang lain memang


terbiasa datang setidaknya 15 menit sebelum bel masuk kelas. Dirinya tidur


cukup nyenyak semalam. Membayangkan ia akan mendapat bekal makan siang dari Farrand


saja sudah membuatnya senang, apalagi ditambah Farrand mau menjadi navigatornya? Waw.... senangnya berkali-kali lipat. Seperti kata pepatah. Sekali merengkuh


dayung, dua tiga pulau terlampaui. Sambil pendekatan dengan Farrand, ia


bisa mendapat navigator sekaligus. Mengingat gadis incarannya itu


mempunyai kemampuan menganalisa jalanan dengan baik, tentulah menguntungkan


untuknya.


Suasana kelas yang masih sepi dan lenggang membuatnya seperti bisa bernafas


dengan leluasa dan tidak merasa sesak akibat banyaknya orang. Dan kini yang


terlihat dimatanya hanya ada Farrand. Farrand? Ya... hanya ada Farrand disana.


Keberuntungan yang bagus dipagi hari bukan? Untung saja ia tadi mengikuti kata


hatinya untuk berangkat lebih pagi dari biasanya.


"Hai... " Sapanya. Farrand yang sedari tadi membaca buku menoleh


kearahnya dengan tatapan terkejut.


"Pagi sekali kau datang?" sapa Lingga. Ia tersenyum dan


mendudukkan diri dikursi milik Nadeen.


"Aku memang biasa datang pagi jika sedang ada jadwal piket." Ucap Farrand.


"Oh. Iya. Aku lupa hal itu.hari ini kan kau memiliki jadwal piket


kelas. Pantas saja kau datang lebih awal."


"Ck....." Farrand berdecak. Sejak kapan Lingga peduli  dan menaruh


perhatian padanya hingga dia mengatakan lupa? Lagipula, sejak kapan Lingga


hafal jadwalnya? Ck, merepotkan hatinya saja.


"Kau tak lupa janjimu bukan?"


"Janji"?


"Bekal makan siang ku.


Apalagi?"


"Ah, tentu saja aku ingat. Aku sudah membuatkannya untukmu."


Senyum merekah dibibir Lingga. Yah... nanti saat makan siang dirinya akan


makan masakan enak. Bukan makan masakan ibu kantin lagi. Atau sepotong roti


bungkus.


"Tapi aku cuman membuat nasi dengan lauk sederhana. Apa tak apa?"


Lanjut Farrand. Ia terlihat mengeluarkan sebuah kotak berbungkus sapu tangan


biru bargambar elang.


"Tak masalah. Tapi jangan diberikan langsung saat ini."


"Lalu?"


"Bawakan nanti saat istirahat. Kita makan bersama."


"Hee?” Farrand bingung. Sungguh. Jika dirinya harus menambahkan kata


untuk deskripsi pemuda disampingnya ini selain sedikit tampan -menurut


yang ia lihat semalam-, maka ia dengan senang hati akan menambahkan kata


menyebalkan. Sudah susah-susah dibuatkan nasi dan lauk untuk bekal, dengan


seenak udelnya ia juga minta ditemani makan dan juga dibawakan makanannya.


Memang dirinya ini pembantunya yang bisa disuruh-suruh seenak jidatnya?


"Kau fikir aku pembantumu?" Tanya Farrand yang menyuarakan


pemikirannya.


"Aku sama sekali tak berfikir kau pembantuku. Aku hanya memintamu


membawakannya." Jawab Lingga.


"Kau masih punya dua tangan dan dua kaki yang menganggur."


"Kau juga." Tak ada jawaban. Namun yang Lingga ketahui Farrand


sangat sebal. Terbukti dengan mulutnya yang mengucut. "Aku membawa minuman


dan beberapa cemilan untuk tambahan. Jadi aku minta bantuanmu untuk membantuku


membawanya." Lanjut Lingga. Ia merasa tak tega jika terus menerus melihat


wjah tertekuk karena sebal milik Farrand.


 Senyum Farrand terkembang, Ah... dia


jadi malu karena sempat berburuk sangka pada Lingga.


Sreekk....


"Farrand...." Nadeen yang datang tiba-tiba membuat dua orang yang


saling berhadapan itu menoleh kearahnya. Mereka berdua heran dengan kondisi Nadeen


yang terlihat seperti baru saja ikut lomba lari maraton.


"Ada apa, Nadeen?"


Ucap Farrand.


"He.. Lingga ada disini


juga?"


Ctak...


Urat imajiner muncul dipelipis Farrand. Ia kesal. Bukannya Nadeen menjawab


pertanyaannya, ia malah menyapa Lingga yang berada disebelahnya. Dan yang


disapa hanya menyunggingkan senyum tipisnya. Sial sekali punya sahabat seperti


Nadeen yang bisanya cuman melihat paras rupawan milik pemuda dihadapannya tanpa


menghiraukan dirinya yang notabene nya adalah sahabatnya..


"Aku sudah datang dari tadi."


"He..... Lingga tidak berniat untuk menembak Farrand kan?"


Blush......


Wajah keduanya memerah. Tak menyangka jika Nadeen langsung melontarkan


kata-kata laknat itu. Apa katanya tadi? Menembak? Hey, Farrand rasa ada yang


tidak beres apa otak Nadeen hari ini. Sedang Nadeen? Pelaku pengaget jantung


mereka hanya nyengir dan dengan seenak jidatnya duduk di bangku depan sambil


menatap Farrand.


Lingga memalingkan wajah sambil mendengus. Mencoba menghilangkan rona merah


yang terlanjur menjalar di pipinya. Namun ia tidak bisa menghilangkan detak


jantung tak teratur yang rasakan sedari tadi. Ia akui. Ingin ia utarakan


rasanya pada gadis pirang itu. Namun ego dihati mencegahnya. Seraya membungkam


mulutnya rapat-rapat dengan mengesampingkan perasaannya. Hatinya selalu


mengingatkannya akan tujuan awalnya balapan. Ia, seorang Lingga, seorang Lingga


yang ingin menjadi raja balapan tak terkalahkan dan mengukir sejarah. Dan


selain itu, ia penasaran ingin mengalahkan pria bertudung dengan s15 nya. Untuk


sementara ini menjalin asmara bisa ia kesampingkan dan pikirkan lain waktu.


"Ne.. ne... Farrand. Kudengar nanti akan ada balapan lagi." Kata Nadeen.


Farrand yang mendengar itu mendesah lega. Setidaknya ia tak perlu terus menerus


dalam kondisi terpojokkan sahabat nyentrik nya itu. Ia masih belum siap atas


hatinya. Kesakitan yang ditorehkan Dion masihlah belum sembuh. Ia tak ingin di


cap gampangan dengan terburu-buru menjalin asmara dengan Lingga sesaat setelah


keterpisahannya dengan Dion. Ia masih akan menunggu. Menunggu waktu sambil


memastikan perasaannya. Dan menunggu waktu hingga ia siap dan telah mantap jika


hatinya akan berpindah. Tapi, sebelum itu ia pun harus memastikan. Apakah Lingga


juga memiliki perasaan padanya? Mengingat pemuda itu sangatlah terobsesi hanya


pada balapan dan mobilnya saja.


"Lalu?" Ketenangan mulai mengusai Farrand kembali.


"Kau tak mau ikut? Aku akan mencoba peruntungan dengan ikut nanti


malam. Bukankah Lingga juga ikut?"


"Hn." Lingga mengangguk kecil dan hanya mengeluarkan kata


teriritnya. Ia tak ingin menjawab dengan banyak kata, takutnya ia nanti

__ADS_1


terpancing omongan Nadeen dan malah mengungkapkan rasanya pada Farrand.


"He.... kau tak bilang padaku jika nanti malam ada balapan." Farrand


kaget. Ia masih cukup ingat jika Lingga tak memberitahunya semalam.


"Aku lupa."


Doenggg....


Dan dengan memasang wajah tanpa bebannya Lingga menjawabnya dengan singkat.


"Lalu, apa hubungannya denganmu, Farrand? Kurasa kau tak perlu


seterkejut itu mendengar kabar yang kubawa ini. Atau..... ada sesuatu yang tak


kuketahui tentang kalian berdua?" Nadeen menatap Farrand dan Lingga


bergantian dengan pandangan menyelidik.


"Dia jadi navigatorku. " tunjuk Lingga.


"Heeeee....." ucapan singkat Lingga mampu membuat Nadeen


terbengong. Sedangkan Farrand? Ia hanya merebahkan kepalanya keatas mejanya.


Kali ini ia akan diam. Biar Lingga saja yang menjelaskan kepada sahabat rese


nya. Ia tak kuat.


"Sejak kapan?"


"Sejak semalam."


"Tapi, Lingga. Mengapa kau mengajak Farrand? Tak mengajakku saja?"


"Dia punya pengetahuan lebih banyak darimu, Nadeen."


"Lebih banyak?" Alis Nadeen menukik. Farrand punya lebih banyak


pengalaman katanya? Bukankah setau dirinya, Farrand tak pernah sekalipun


mengendarai mobil? Dan ia juga gampang sekali mabuk? Dan seingatnya juga,


ayahnya tak punya mobil? Apa Dhiaz yang mengajarinya? Dan berbagai pertanyaan


pun berseliweran difikiran Nadeen.


"Ehm...." sebuah yang suara menginterupsi membuat Nadeen dan Lingga


menoleh. Seseorang dengan aura gelap mencekam yang ternyata sang pemilik tempat


duduk yang diduduki Nadeen, seakan memberi sinyal Nadeen untuk segera enyah


dari bangkunya.


"Kita bahas nanti saat istirahat." Lingga yang merasakan aura


gelap itupun faham akan kondisi dan segera ngacir ketempat duduknya. Nadeen


nyengir dan Farrand hanya bisa tersenyum tipis. Ternyata sedari tadi kelas


mereka telah berangsur penuh dan tak lama, bel tanda masuk pun berbunyi.


***


Mereka bertiga duduk melingkar di atas rumput taman belakang sekolah. Memang


saat jam istirahat tempat ini lumayan sepi dan asri. Jauh dari hiruk pikuk para


siswa yang merilexkan fikirannya akibat pelajaran yang bagi mereka


membosankan.


"Jadi... siapa yang mau menjelaskan." Nadeen memecah keheningan


diantara mereka bertiga. Ia jenuh. Semenjak tadi di hadapkan dengan keheningan


keduanya. Keduanya seperti orang pacaran saja. Farrand yang membawa dua kotal


bekal, dan Lingga yang membawa cemilannya. Nadeen? Oh. Dia bagai nyamuk


pengganggu yang perlu diberikan obat pengusir nyamuk. Atau pembasmi nyamuk


sekalian? Jadilah ia berinisiatif membuka mulutnya untuk bersuara.


"Lingga yang menyuruhku menjadi navigatornya. Bukan aku yang


manawarkan. Sungguh. Aku bahkan sempat menolaknya." Farrand merasa tak


enak jika harus berhadapan dengan Nadeen yang sedang dalam mode begini.


"Hn" kalimat ambigu Lingga meluncur begitu saja. Sebenarnya ia


malas jika harus menjelaskan apapun untuk saat ini. Hei... dia sedang menikmati


bekal, you know? Jadi sebisa mungkin dia menikmatinya tanpa acara basa


basi.


"Bisa diperjelas?"


"Na-Na-Nadeen.."


sekarang. Dua orang dihadapannya ini benar-benar punya sesuatu yang


disembunyikan.


"Akan kujelaskan. Tapi biarkan aku makan dengan tenang." Suara Lingga


menginterupsi keduanya. Menghentikan intimidasi Nadeen dan melegakan Farrand


yang terintimidasi. Kedua perempuan itu hanya mengangguk. Lingga dan


keseriusannya adalah hal menyeramkan untuk dilawan. Mungkin bisa dijadikan


pelajaran oleh mereka berdua agar tak menggangu Lingga saat sedang serius.


Setelah mereka selesai pun. Dari dua perempuan itu belum ada yang mau


memulai pembicaraan. Mereka lebih memilih menunggu saja. Menunggu Lingga yang


membuka mulutnya. Sepertinya gertakan Lingga masih melekat erat dibenak mereka.


"Aku akan jelaskan. Tapi jangan banyak bertanya. Kujelaskan sekali dan


jangan membuatku bercerita dua kali." Akhirnya..... setelah terdiam agak


lama Lingga membuka mulutnya. Memecah keheningan dan membuat dua orang


perempuan itu mengangguk.


"Aku meminta Farrand menjadi navigator karena kurasa dia pantas.


Dia sering mengomentari mobil dan cara mengemudiku saat mengajaknya. Aku


menjanjikan sepertiga hadiah balapan jika menang. Dia juga memintaku


mengajarinya. Sama sepertimu, Nadeen. Dan aku meminta bayaran juga, tentunya."


Nadeen menatap lekat-lekat Lingga. Dan setelah itu berganti menatap Farrand.


Ada banyak hal yang masih tak diketahuinya tentang sahabat karibnya itu.


"Aku tak tau kau juga ingin belajar mengemudi. Mengapa tak kau katakan


lebih awal? Kita bisa belajar bersama dan kau juga bisa meminjam mobilku"


ucapnya.


"Dan membiarkanku mati lemas akibat mabuk ? Tidak. Aku akan ikut


denganmu jika kau sudah memperbaiki cara mengemudimu." Farrand memalingkan


wajahnya. Sebenarnya ia ingin saja menerima ajakan Nadeen. Tapi mau bagaimana


lagi? Dia tak ingin menyusahkan sahabatnya itu. Mengingat sahabatnya selalu


saja tak akan segan mengulurkan apapun untuknya jika ia membutuhkan.


"Dan soal balapan nanti, kau juga akan ikut kan? Nadeen?" Ucapan Lingga


menginterupsi mereka berdua. Ia jengah akan kedua sahabat yang saling


menyudutkan itu. Bukannya Lingga tak merasa jika Nadeen memiliki ketertarikan


dengannya, tapi untuk sementara ini ia hanya ingin fokus untuk mobil-mobilnya


dulu.


"I-iya, Lingga. Aku ingin mengetahui dulu bagaimana kondisi balapan.


Meski aku tak berniat untuk menang, setidaknya aku akan mendapat beberapa ilmu


untuk kupelajari setelahnya." Nadeen mencoba tersenyum manis kepada Lingga.


Berharap lelaki didepannya itu sedikit meluluhkan hati untuknya. Jujur, ia


sedikit iri pada sahabatnya yang bisa duduk disamping Lingganya saat


balapan. Tapi itu tak akan jadi masalah besar. Ia akan belajar lebih giat


tentang balapan, dan akan merebut posisi Farrand dengan cara yang wajar.


"Ok. Aku akan kembali ke kelas. Aku masih harus mengerjakan beberapa


tugasku." Lingga beranjak dari sana tanpa menoleh pada Farrand sedikitpun.


Hati Farrand seakan tercubit melihat Lingga seperri mengacuhkan dirinya. Ada


apa sebenarnya?


"Ya/hm." Ucap Farrand dan Nadeen bersamaan. Farrand menghela


nafas. Sepertinya setelah ini ia akan di inteeogasi habis-habisan oleh Nadeen.


"Farrand... sepertinya aku punya beberapa pertanyaan untukmu." Dan jleb. Tebakannya benar. Sepertinya ia harus menyiapkan stok nafas untuk


saat ini. Bisa saja sahabatnya itu mencekiknya sampai mati kan?


"Y-ya.... Nadeen.. kau bisa menanyakan beberapa pertanyaan itu untukku.


Kalo bisa kujawab. Akan kujawab."


"Hei, Farrand. Sejak

__ADS_1


kapan kau tau tentang mobil? Seingatku ayahmu tak punya mobil?"


"Dulu ayahku punya saat aku masih belum pindah kesini. Aku juga sering


ikut ayahku mengemudi dan membengkel mobilnya. Jadi sedikit banyak aku tau


beberapa hal."


"Kau kan mudah sekali mabuk. Bagaimana bisa.?"


"Kau terlalu berlebihan. Ayahku pengemudi handal yang bisa membuatku tidak


mabuk saat berkendara bersamanya."


"Lalu mengapa kau tak meminta ayahmu yang mengajari?"


"Dan kau lupa aku tak punya mobil."


"Eh, iya. Hahahhahaa" Nadeen tergelak, dan sedetik kemudian di


ikuti Farrand yang menyusulnya tertawa. Sebenarnya ia heran, apa yang membuat


sahabatnya itu tertawa dengan sebegitu bebasnya. Apalagi cara tertawa Nadeen


yang lucu mau tak mau membuatnya ikut tertawa juga.


"Ayo kita bersaing secara sehat, Farrand." Kata Nadeen kemudian


setelah menghentikan tawanya. Farrand yang mendengarnya hanya memasang pose


bingung. Ia tak menyangka jika sahabatnya itu akan mengucapkan kalimat seperti


itu.


"Apa maksudmu?"


"Kau tau benar apa maksudku."


"Apa?”


"Kau punya ketertarikan pada Lingga kan? Aku juga. Jadi, mari kita


bersaing secara sehat. Dan ayo kita bersama-sama menoreh sejarah menjadi


pembalap wanita tercepat disini."


Mendengar penuturan Nadeen tadi membuat Farrand tersenyum. Ia bisa menghela


nafas lega mendengar kata-kata bijak yang dilontarkannya. Ia tak memungkiri


jika ia punya ketertarikan khusus pada Lingga. Hanya sedikit, dan sepertinya


hal itu disadari olehnya.


"Ayo kembali ke kelas. Mungkin bel akan terdengar sebentar lagi."


Ajakan Nadeen tak ia balas dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk dan segera


menyusul Nadeen yang telah beranjak dari sana setelah merapikan koyak bekalnya.


Ia hanya mengekori Nadeen. Ia sedikit melamun hingga tak menyadari jika dirinya


agak tertinggal oleh langkah Nadeen.


Grep.


Tangannya ditarik dan mulutnya dibekap oleh seseorang ketika ia akan berbelok


menuju tangga. Koridor ini lumayan sepi. Dan seseorang itu menariknya menuju


bawah tangga yang tak akan terlihat oleh siswa yang akan menaiki tangga.


Perasaan takut sedikit menjalarinya. Namun ketakutan itu berganti kelegaan


setelah orang itu melepas genggaman dan bekapan dimulutnya. Ia kenal orang ini.


Orang yang masih punya tempat dihatinya. Orang yang sangat ia kenali aroma


maskulin tubuhnya yang bercampur dengan farfum yang dikenalinya. Orang ini, Dion.


Dionnya yang telah menjadi milik orang lain.


Dion membalikkan badannya dan membuat dirinya berhadapan dengan Farrand. Ia


tatap wajah dengan mata sayu itu. Ia peluk tubuhnya. Sedikit terbersit rasa


menyesal dihatinya karena telah berlaku kasar dengan menyeret tangan dan


membekap wanita itu. Takut ia menyakitinya dengan perlakuannya barusan.


Pelukan Dion yang tiba-tiba membuat Farrand dilema. Ia ingin memeluk Dion


lebih erat. Tapi itu diurungkannya setelah ia ingat perlakuan Dion padanya


tempo hari. Dan chuup..... matanya membola seiring Dion yang mecumbunya


tiba-tiba. Ia kaget. Tidakan Dion terlalu tiba-tiba untuknya. Jantungnya


berdetak keras seiring cumbuan Dion. Ia tak bisa berontak. Sendi tubuhnya


terasa lemas begitu saja. Apalagi Dion juga memegang erat kedua tangannya.


Membuatnya semakin tak berdaya. Dan yang bisa dilakukannya sekarang hanya bisa


pasrah saja. Cumbuan Dion dan aroma maskulin khas tubuhnya adalah dua hal yang


sanggup membuat jantungnya bekerja lebih ekstra.


Dion menghentikan aktivitasnya setelah merasa Farrand telah terengah-engah.


Ia melirik bibir Farrand yang bengkak karena ulahnya barusan. Ia merasa


bersalah karenanya. Lagi-lagi ia membuat Farrand tersakiti, padahal dihati


kecilnya tak ingin menyakiti gadisnya itu.


"Aku minta maaf." Ujar Dion setelah mereka menyelesaikan


kegiatannya barusan.


"Kau sudah mengatakannya kemarin."


"Tapi aku merasa jika aku menyakitimu terlalu dalam, honey."


"Dion, sedikitpun aku tak merasa kau sakiti. Aku tau kau tak berniat


menyakitiku. Tapi mungkin inilah jalannya. Kita harus berpisah, dan kita harus


mengakhirinya sebelum timbul rasa sakit yang lebih dalam setelah ini."


"Aku ingin memilikimu, tapi aku masih tak sanggup. Aku terlalu lemah


untuk bisa mempertahanmu dihadapan ayahku."


"Aku mengerti. Aku pun tak bisa egois untuk bisa memilikimu untuk


diriku sendiri. Cintailah dirinya jika itu bisa membahagiakan ayahmu."


"Tapi bagaimana bisa? Bagaimana bisa aku mencintainya jika dihatiku


sudah ada dirimu?"


"Kau bisa melakukannya pelan-pelan."


"Aku tak bisa hidup tanpa dirimu, Farrand." Dion terduduk lemas.


Ia frustasi. Ia merasa jika inilah batasnya. Namun ia bisa apa?


Set....


Farrand mendekap Dion dan membawanya kedalam pelukannya. Mengelus pelan surai hitam


kecoklatan acak-acakan itu dan mengecup puncaknya.


"Kau bisa. Bukankah sebelum bertemu dan setelah terpisah denganku kau


hidup seperti biasa? Lakukan itu lagi dan jalanilah dengan lebih baik. Jika kau


lemah, berusahalah lebih keras lagi agar kau kuat. Aku hanya pergi dari sisimu,


bukan untuk menghilang selamanya. Yang kau perlukan hanya membuka hati


untuknya. Untuk pilihan ayahmu. Kau dengar? Jantung ini masih berdetak keras untukmu.


Itu berarti kau masih bertahta disini. Jika kau mengabaikan Zennie, dia hanya


akan tersakiti terus-menerus. Bukalah hatimu untuknya, Dion. Dengan begitu kau


bisa membuat ayahmu dan dia senang. "


"Lalu bagaimana denganmu? Tidakkah kau pun akan tersakiti?"


"Aku bisa menyembuhkan hatiku nanti. Kau lupa jika aku punya kemampuan manage hati dengan baik"


"Kau terlalu baik, Farrand. Kau hanya memikirkan orang lain, hingga tak


sadar jika kau tersakiti."


"Aku lebih suka seperti ini jika itu bisa membuat hubunganmu dengan


ayahmu membaik. Kau tau? Kau bisa menyesal jika kehilangan ayahmu."


"Tapi..."


"St....." Farrand menghentikan ucapan Dion dengan meFarrandh


telunjuknya dibibir tipis Dion. "Sudahlah... aku sudah menerima semua ini.


Mengapa kau tidak? " lanjutnya.


Dion tak menjawab lagi. Ia salut dengan ketengan Farrand. Ia bangga pada Farrand,


wanita itu dengan mudahnya menerimanya. Bahkan setelah dirinya menyakitinya


pun, dia masih mau melihatnya, memeluknya, dan memberikan motivasi untuknya. Ia


masih menyamankan posisinya dipelukan Farrand. Hingga suara bel menginterupsi


kegiatan mereka dan memisahkan kebersamaan mereka.


"Mungkin Nadeen akan mengintrogasiku lagi setelah ini. Apa yang akan ku


katakan padanya ya?" Monolog Farrand.


-------tbc------

__ADS_1


__ADS_2