Cinta Di Atas Aspal

Cinta Di Atas Aspal
Episode 45


__ADS_3

Brukk.....


Sebuah tabrakan tak disengaja yang tak bisa dihindari kini terjadi. Muka Farrand berubah masam, ia yang sedang membawa beberapa buku tebal untuk bahan jurnalnya kini jatuh terduduk dengan buku yang berserakan. Di depannya, seorang pria berambut merah dengan iris merah yang terlihat angkuh sedang menatapnya.


"Ma-maaf. Aku sedang terburu-buru." Dengan terbata-bata pria berambut merah panjang itu berusaha bangkit sendiri tanpa menolong Farrand yang sedang kesusahan merapikan buku-buku yang tercecer. Ia mendengus kasar, ia juga terburu-buru, tapi dengan seenaknya pria itu pergi tanpa menawarkan bantuan padanya.


"Dasar." Umpatnya.


Dengan kesal ia merapikan buku-buku itu dan segera bergegas menuju ruang perkuliahannya. Ia sudah telat, dan ia tak mau lebih telat dari ini di minggu ketiganya masuk perkuliahan.


Srekkk...


Pintu geser itu terbuka dan menampilkan Farrand dengan keadaan berantakannya. Sang dosen menoleh, dengan senyuman miring dosen wanita berambut ungu itu menyambut kedatangan Farrand.


"Terlambat 15 menit pas. Sesuai kesepakatan kita, kau boleh masuk tapi tidak boleh mengisi absen, Farrand Ainsley."


Farrand membungkuk dan memberi penghormatan, ia sedikit tersenyum saat menoleh ke arah jam di dinding. Merasa memiliki kesempatan, ia langsung mengeluarkan ucapannya.


"Sorry, Senior Anko. Tapi jam di dinding menunjukkan jika saya terlambat 14 menit. Sedangkan kesepakan kita adalah 15 menit. Jadi saya memiliki waktu satu menit."


Beberapa pasang mata menatapnya tak percaya dan beberapa dari mereka juga menahan nafas. Senior Anko adalah dosen dengan predikat perkataan yang mutlak. Belum ada mahasiswa yang berani menentang perintahnya meski peluang itu ada.


Secepatnya Anko melirik jam yang tertera di dinding. Dia benar, ada waktu satu menit hingga waktu menunjukkan ke rentang waktu dispensasi keterlambatan mereka.


"Baiklah. Kau boleh duduk. Tapi kau harus merapikan penampilanmu terlebih dahulu, Ainsley."


Farrand mengangguk hormat. Ia memang sengaja memakai marga ayahnya karena tak ingin di sorot karena memakai marga suaminya. Ia mendesah lega, setelah di persilahkan duduk ia mencari sebuah kursi kosong yang ternyata ada di bagian pojok. Setelah beberapa langkah ia berjalan, matanya menemukan jika orang yang menabraknya tadi berada di sebelah kiri meja terakhir yang kosong. Itu berarti, ia akan duduk bersebelahan dengannya.


Bruk.


Tumpukan buku tebal ia letakkan dengan kasar di atas meja itu. Hatinya merasa dongkol, setelah tadi pagi Nadeen tak masak meski hari ini jatahnya, kini ia hampir terlambat karena ditabrak oleh makhluk angkuh berambut merah.


"Hei. Namaku Felix Dafandra. Kau boleh memanggilku Felix saja."


Farrand tak menggubrisnya sama sekali. Hatinya masih merasa dongkol dan dengan segera ia mengambil kacamata di tasnya dan sedikit merapikan rambutnya yang berantakan. Ia yang kini terduduk di pojok paling belakang merasa perlu memakai kacamata karena penglihatannya yang agak buram jika dalam jarak yang jauh seperti itu.


"Hei, maafkan aku tadi yang tak sengaja menabrakmu." Bisiknya lagi. Farrand masih tak menggubrisnya. Ia bahkan terlihat berkonsentrasi pada papan proyeksi di depan sana.


"Mengapa kau tak meresponku? Setidaknya jawab perkataanku tadi."


Diam.


Dan Felix yang merasa jengkel karena tak di gubris sama sekali kini sedikit menaikkan nada suaranya.


"Aku tak tau jika kau juga tuli." Ucapnya santai.


Farrand masih terdiam. Ia sudah mengukuhkan pendengarannya hanya untuk mendengar penjelasan senior Anko di depan. Urusan makhluk berambut merah di sampingnya, ia abaikan begitu saja.


"Dafandra! Sekali lagi kau berbicara, maka kau harus pindah ke depan dan ikuti perkuliahan dengan posisi berdiri."


Suara dari depan sana membuat nyali Felix menciut. Meski ia telah lama berada di kampus ini, entah mengapa ia masih belum bisa melawan pada dosen galak satu itu. Ia berdiri meminta maaf dan langsung kembali duduk dengan tenang.


Dalam kondisi tenang mereka, sebuah suara dering ponsel memecah keheningan. Senior Anko terdiam, dan setelah merasa jika dering itu berasal dari ponsel miliknya, ia meminta maaf dan keluar untuk menerima panggilan itu. Beberapa orang mendesah lega, tak sedikit dari mereka melemaskan tubuhnya karena merasa bebas dari aura intimidasi dari dosen galak itu.


"Hei. Kau belum menjawabku tadi." Sebuah suara kembali mengusik pendengaran Farrand. Ia menghela nafas lelah, sejujurnya ia merasa terusik atas sikap menyebalkan dari orang yang mengenalkan namanya sebagai Felix Dafandra tadi.


"...." Farrand masih terdiam. Ia mengambil buku tebal di sampingnya dan membukanya.


"Aku tau kau mendengarku. Kau akan menyesal jika kau mengabaikanku. Begini-begini aku adalah salah satu kandidat prince di sekolah ini loh."


'Narsis' batin Farrand. Jujur, ia menyangkal jika pemuda di sampingnya itu menjadi kandidat prince kampus. Bukan karena apa, prince kampus adalah mahasiswa populer yang dipilih dengan suara terbanyak yang di ambil. Dan pemuda di sampingnya itu, ia yakin jika ada pemilihan, ia tak akan pernah sudi untuk memilihnya.


"Kau tak percaya? Aku bahkan sudah menjadi prince selama dua tahun berturut-turut. Dan jika aku mendapatkannya lagi, aku menjadi senior dan mendapat predikat king."


'Dia gila.'


"Kau tau, lama-lama kau akan jatuh ke dalam pesonaku."


Farrand semakin mendengus, meski ia sudah berusaha untuk tak mendengar dengan membaca buku, ia tetap bisa mendengar suara menyebalkan itu dan menanggapinya di hati.


'Cih. Dia tak akan bisa menandingi pesona Lingga.'


"Kau tau, nona Ainsley, aku akan mendapatkanmu dan menjadikanmu target untuk ku jadikan kekasihku."


Cukup sudah.


Telinga Farrand memanas. Di jadikan kekasih katanya? Cih.... Farrand tak akan membiarkan hal itu terjadi. Karena bagaimana pun juga ia telah menjadi seorang istri dari Lingga.


"Aku tak ingin menjadi kekasihmu." Ucap Farrand.


Pemuda berambut merah disampingnya itu menaikkan salah satu alisnya dan merasa lucu atas jawaban Farrand. Demi apa? Ia telah ditolak sebelum ada kata pendekatan lebih jauh. Padahal biasanya, hanya dengan mengedipkan sebelah matanya ia sudah bisa mendengar jerit histeris dan permintaan untuk dijadikan kekasih olehnya.


"Nona, kau tak memiliki masalah dengan orientasi seksualmu kan?"


Cukup!


Farrand semakin merasa jengkel atas perkataan pemuda nyentrik di sampingnya itu. Apa-apaan pertanyaannya itu? Dia seolah mengatakan jika Farrand punya orientasi yang menyimpang. Oh my...  Tak tahukah pemuda itu jika Farrand bisa merasa 'panas' hanya karena Lingga sedikit mencumbunya?


"Kurasa menanyakan orientasi seksual seseorang saat baru bertemu bukanlah sesuatu hal yang pantas, Tuan Dafan. Apalagi itu kepada lawan jenis."


"Ow... Kau tau, Ainsley. Biasanya wanita normal akan langsung berseri dan antusias saat aku mengajaknya berbicara. Tapi kau, tidak."

__ADS_1


"Dan kau ingin mengatakan jika aku tak normal, begitu kah?"


Felix terkikik pelan. Ia merasa tertarik pada orang duduk di sampingnya itu. Selama ini, hanya dengan senyumannya saja ia bisa membuat seorang wanita mau di peluk. Tapi ini, bahkan dengan deklarasinya yang ingin menjadikannya kekasih wanita itu masih tak bergeming dan malah menjawabnya dengan nada ketus yang kentara.


"Nah... maaf membuat kalian menunggu." Suara menggelegar milik Anko membuat suasana kelas menjadi hening seketika. Tak ada yang berani mengambil suara. Di tempatnya Farrand sedikit bersyukur karena kedatangan Anko bisa membuat Felix bungkam.


"Saya ada urusan mendadak. Jadi kalian saya beri tugas untuk dikumpulkan minggu depan. Cari enam buah gambar jembatan besar dan beri penjabaran tentang strukturnya. Sertakan rincian tempatnya di ambil. Lakukan dengan kelompok berisi dua orang. Yang duduk di lajur pertama akan berkelompok dengan orang di sebelahnya. Begitu juga dengan lajur ketiga. Saya harap kalian mengerti dan kerjakan tugas dengan sebaik mungkin. Permisi."


Suara derap langkah kaki dosen yang terdengar terburu-buru membuat suasana kelas menjadi ricuh mendadak. Wajah Farrand berubah cerah karena ia bisa pulang lebih awal. Hari ini hari jum'at, tak ada mata kuliah setelah ini hingga senin lusa dan itu berarti, ia bisa segera pulang.


Namun sepertinya kesenangannya musnah begitu saja saat ia mendapat tepukan dari pemuda merah yang sedari tadi menggangunya.


"Kau dengar kata dosen tadi? Kita akan berkelompok." Ucap Felix.


Farrand terhenyak, dia benar. Dan ia benci hal itu.


"Aku akan mencari data di Kota Falen dan Kota Halu. Masing-masing dari kita akan mencari tiga jembatan, jabarkan, dan aku akan menyusunnya menjadi laporan besok senin." Putus Farrand.


"Hei. Ini kerja kelompok. Bagaimana bisa seperti itu? Setidaknya kita bisa mencari jembatannya dengan berkeliling bersama."


"Itu lebih efisien. Lagi pula pasti banyak kelompok yang mengambil foto jembatan yang dekat dari sini. Hal ini lebih menguntungkan, karena tiga jembatan akan di ambil di tempat yang jauh."


"Kota Halu dan Kota Falen itu terlalu jauh. Aku bisa mengantarmu jika kau mau."


"Aku tak mau."


"Tapi bagaimana bisa kau mengambil tempat yang jauh begitu?"


"Aku tinggal disana."


Lagi-lagi Felix terhenyak. Belum ada seorang wanita pun yang menjawab pertanyaan dan pernyataan yang di layangkannya sebegitu ketus. Ia penasaran, sikap wanita berambut panjang itu sangat menggangunya dan membuatnya ingin mendekatinya lebih jauh lagi.


"Aku sudah bisa pulang. Bisa kau jemput?"


"...."


"Baiklah. Sampai nanti."


Felix mengernyit, apa Farrand sedang menelpon kekasihnya? Mengapa ada nada lesu saat panggilan terakhirnya? Jika yang di telpon Farrand adalah benar kekasihnya, ia tak akan tinggal diam. Ia akan berusaha sebaik mungkin untuk merebutnya dan menjadikan Farrand nyonya Dafandra yang mutlak. Terdengar gila! Tapi begitulah Felix. Mau bagaimana lagi, ia adalah penerus keluarga Dafandra, satu-satunya keluarga yang memiliki tampuk pemerintahan tertinggi kota Dafan. Keluarga Dafandra dan kota Dafan adalah satu-kesatuan yang sulit untuk di pisah.


"Siapa itu? Kekasihmu?"


Farrand tak menjawabnya, ia memilih membereskan bukunya dan membawa tumpukan itu ke dalam dekapannya. Sambil mengabaikan keberadaan Felix, Farrand beranjak keluar ruangan dan berniat mencari tempat yang nyaman untuk menyelesaikan beberapa tugasnya. Ia tak mungkin mencari Nadeen, sahabat nyentriknya itu pasti sedang ada perkuliahan di jam segini.


"Biasakan menjawab seseorang yang mengajukan pertanyaan padamu."


Langkah Farrand terhenti sebab ada cekalan pada tangannya, ia tak berniat berbalik karena ia sudah tau siapa yang melakukan itu.


Farrand berbalik, ia menatap jengah pada Felix yang ada di belakangnya. Ia bukan tuli, dan ia masih sempat mendengar bisik-bisik yang di tujukan padanya karena perlakuan Felix.


"Lepaskan aku."


"Kita belum berkenalan secara resmi. Lagi pula aku juga belum meminta maaf atas sikapku tadi padamu. Ayo, ku traktir apapun yang kau mau. Aku tau sebuah restoran yang memiliki menu spesial."


Tanpa sebuah aba-aba Felix terus saja menyeret pergelangan tangan Farrand. Ia pasrah saja saat diseret seperti itu. Bukan karena apa, ia malas berdebat saat banyak pasang mata melihat ke arah mereka. Dan Farrand selalu benci menjadi pusat perhatian.


Brukkk...


Farrand menghempaskan tumpukan buku tebalnya di atas meja restoran yang dimasukinya bersama Felix. Hatinya menahan gondok, restoran ini berada di arena kampus dan di kelola oleh pihak kampus karena di jadikan sebagai tempat pratikum langsung dari mahasiswa jurusan tata boga. Ia tak menyangka jika Felix membawanya kesini. Dan pasrah saat Felix mulai memesan. Ia akan mengalah, tapi untuk hari ini saja. Anggap saja ia lapar karena tak sempat membuat sarapan dan menyiapkan bekal karena keterlambatannya.


"Aku ingin mie goreng ukuran jumbo." Ujar Farrand.


Felix menganga dengan tak elit. Sepertinya ia heran dengan pesanan Farrand, ia berfikir jika Farrand mungkin akan memesan makanan dengan porsi kecil atau makanan elegan khas kalangan elit yang memakai menu khas eropa. Karena jika dilihat dari penampilannya, Farrand termasuk wanita anggun yang menjaga keanggunannya.


"Jangan lupa kau sudah berjanji untuk membayarnya."


Pulih dari keterkejutannya, Felix mengangguk kasar. Ia semakin mengangakan mulutnya saat melihat Farrand menyantap mienya dengan lahap dan kemudian memesan porsi kedua. Ia geleng-geleng, makanannya masih belum tersentuh sama sekali dan terkejut saat seseorang menepuk bahunya.


"Karin!"


Wanita yang Felix panggil Karin tersenyum, ia lalu memalingkan mukanya ke arah wanita berambut pirang yang sedang asyik menyantap ramennya.


"Siapa dia, Fe?" Tanya Karin. Dengan pandangan menelisik, ia mengamati gerak gerik Farrand.


"Di calon nyonya Dafandra."


"Huh?"


"Kau tak dengar? Dia calon nyonya Dafandra."


"Kepalamu tak terbentur tembok kan Fe?"


Felix menggeleng, ia menatap Farrand dan menyunggingkan sebuah senyuman. Setelah Farrand selesai dengan ramennya, ia menyingkirkan mangkuk di hadapannya dan menenggak jus jeruk di hadapannya hingga tandas.


"Siapa dia?" Tanya Farrand. Semenjak asyik dengan ramennya, ia sama sekali tak menyadari kedatangan Karin.


"Dia Karin, sepupuku dan akan menjadi sepupumu juga."


"Huh?"


"Jadi, kau wanita pilihan Felix?"

__ADS_1


"Huh?" Alis Farrand menukik sebelah, sepupu Felix yang akan menjadi sepupunya? Wanita pilihan Felix? Apa maksudnya itu?


"Kurasa kau salah sasaran, Nona. Aku baru tadi bertemu dengan Felix."


"Ya. Tapi sebentar lagi kau akan menjadi nyonya Dafandra untukku."


"Aku harap kau bukan salah satu wanita murahan yang berusaha menggaet Felix. Kau tau, aku sedikit kepayahan mengusir wanita-wanita seperti itu agar tak mendekati sepupu bodoh yang sok kegantengan ini."


"Tenang saja, non. Aku tak tertarik dengan sepupumu itu."


"Memakai trik tak biasa, eh?" Karin mendecih pelan, ia tak menyangka jika wanita itu akan mengambil langkah seperti itu.


"Apa maksudmu?" Nada suara Farrand naik satu oktaf. Ia seperti di pojok kan oleh Karin. Hei, apa dirinya terlihat sedang menggoda sepupunya itu?


"Kau tau benar maksudku. Dafandra bukan marga sembarangan. Disini mereka punya kekuasaan dan kekayaan. Tentu saja sebagai pewaris utama, Felix akan menjadi incaran wanita kekurangan uang sepertimu. Jadi sudah menjadi tugasku sebagai sepupu untuk menjaganya."


Brak,


Farrand berdiri dan menggebrak meja di depannya dengan aura mencekam. Ia tak terima, ia seolah di tuduh sedang menggoda Felix dan mengincar kekayaan serta kedudukan Lingga. Ia menatap Felix dengan tatapan tajam. Menyesal sudah ia mau di ajak pria itu makan disini.


"Dengar, Nona. Aku sama sekali tak memiliki niat untuk menggoda sepupumu itu. Aku makan disini karena dia yang memaksaku. Aku memang tak memiliki kekayaan yang melimpah dan kedudukan. Tapi setidaknya aku tak memakai pesonaku untuk menjerat pemuda sepertinya. Aku kesini karena aku mengejar mimpiku, tak ada maksud lain. Jika bukan karena permintaan ayahku, aku tak akan sudi berada disini."


Srak...


Kursi yang tadinya di duduki Farrand kini telah bergeser dan Farrand pergi dengan muka yang tertekuk. Ia kesal, jantungnya serasa di pompa lebih ekstra karena ia menahan emosinya. Dengan menarik nafas dalam-dalam, ia berusaha menormalkan kembali detak jantungnya dan mengambil ponsel dan menelpon Lingga.


"Kirimi aku uang sekarang juga. Uangku habis dan aku ingin pulang dengan segera."


'Ada apa Fa?'


"Jangan banyak tanya. Cepat kirim agar aku bisa pulang dengan naik taksi atau kereta."


'Ya. Akan ku kirim. Naik taksi saja. Aku tak ingin banyak tangan nakal dan pandangan mesum yang ditujukan padamu.'


"Cepatlah. Atau kau tak akan dapat jatah hingga minggu depan." Desis Farrand. Ia jengah. Ia ingin secepatnya pergi dari kota yang menurutnya menyebalkan ini.


'Baik.'


Klik.


Suara telpon terputus membuat Lingga menghela nafas dan bergidik ngeri di saat yang bersamaan. Dengan cepat ia segera mencari aplikasi mobile banking dan segera mengirim beberapa nominal ke nomor ATM milik Farrand. Farrand memang tak pernah meminta uang lebih, ia selalu meminta secukupnya dan menolak jika Lingga melebihinya. Mungkin Farrand sedang banyak pengeluaran hingga ia sampai kehabisan uang seperti itu. Tapi sudahlah, ia pasrah saja dan menuruti keinginan Farrand. Andai saja pekerjaannya tak menumpuk, ia pasti akan menjemput istrinya itu.


Sementara itu, Felix menatap Karin dengan tatapan kesal. Sepupunya itu bermulut pedas, dan ia merasa jahat karena membiarkan Farrand di intimidasi oleh Karin.


"Sudahlah Fe. Jika tak begitu nantinya akan bertambah banyak wanita yang menginginkanmu." Ujar Karin.


"Tapi bukan begitu caranya. Aku susah payah mengajaknya makan dan kau mengusirnya begitu saja."


"Aku tak mengusirnya."


"Tapi kau mengatakan kata-kata pedas untuknya. Itu sama saja dengan mengusirnya, Karin."


"Sudahlah. Anggap itu tantangan untuknya. Setelah ini aku akan mengambil magang dan tak akan ada yang menjagamu dari tatapan liar wanita-wanita itu."


"Aku bukan bayi yang harus dijaga."


"Ya. Bukan bayi. Tapi bayi besar kurang kasih sayang."


Felix mendelik, namun Karin tetap pada pendiriannya.


"Jadi dimana kau akan mengambil tempat magang?"


Merasa tak berhasil, Felix mengalihkan topik pembicaraan mereka.


"Di Kota Halu. Perusahaan Runa."


"Mengapa disana?"


"Aku mendengar jika perusahaan itu mengalami sedikit masalah yang kompleks akhir-akhir ini. Aku ingin tau dan belajar dari sana. Meski mereka punya masalah yang kompleks, mereka tetap tak goyah dan tak mengalami kemunduran sama sekali."


"Kau dapat info dari mana?"


"Che. Jangan ragukan diriku, lagi pula aku juga mendengar jika CEO nya sangat tampan dengan aura yang kuat."


"Tak kusangka kau tertarik pada paman-paman."


"Bukan paman-paman. CEO nya bahkan baru menapaki semester satu dan baru lulus dari SMA."


"Kalau begitu kau pedo."


"Tak masalah. Hanya beda dua tahun tak akan membuatku terlihat pedo."


"Memang kau yakin bisa memenangkan hatinya?"


"Kau menantangku? Kau lupa jika pesona keturunan Dafandra terlalu kuat dan sayang untuk dilewatkan?"


"Cih. Narsis." Dengus Felix.


Hei. Siapa tadi yang narsis-narsis ria ke Farrand? Lupakah kau jika kau juga narsis, Felix?


Tbc

__ADS_1


__ADS_2