
Samuel tak bisa menahan rasa terkejutnya karena pemandangan yang di hadapannya kini. Di depannya, mobil yang telah melawannya terhenti beberapa meter sebelum finish dengan kap mesin yang mengeluarkan asap. Ia terkesiap, mobil itu, mesinnya meledak. Namun ia bersyukur setidaknya mobil itu masih berdiri tegap. Dan itu berarti jika pengemudinya masih baik-baik saja.
Samuel yang khawatir atas kondisi pengemudinya kini berlari kearah mobil itu. Mengetuk kacanya dan berusaha mencari tau keadaan pengemudi dengan sedikit mengintip kacanya. Ia terkejut, ia melihat siluet berambut panjang sedang menangkupkan wajahnya di kemudi dengan bahu bergetar. Menangiskah ia?
"Hei.... kau baik-baik saja? Keluarlah." Kata Samuel. Tak ada jawaban yang berarti. Orang itu bahkan masih tetap pada posisinya.
"Hei... keluarlah." Ucapnya lagi dan kali ini ia menaikkan oktaf suaranya. Ia masih mengetuk kaca pintu dan menyuruh si pengemudi keluar. Namun nihil, sang pengemudi tak juga menunjukkan tanda-tanda dia akan keluar.
Tak lama kemudian, Lingga dan Ava datang. Lingga yang melihat asap keliar dari kap mobil Farrand, langsung keluar dan berlari menuju Farrand. Ia bahkan tak peduli pada Samuel yang telah ada disamping pintu mobil Farrand.
"Fa.. Keluarlah. Aku mohon." Bak orang gila, Lingga terus saja mengetuk kaca pintu mobil Farrand dan berusaha membuat Farrand melihatnya.
Dan,
Berhasil.
Farrand keluar dengan mata sembap dan kepala yang menunduk. Di tempatnya, Samuel dan Ava tak bisa menyembunyikan wajah terkejutnya saat mendapati Farrand yang keluar dari sana. Ia tadi menyangka jika orang yang selama ini di carinya lah yang ada dibalik kemudi itu. Mengingat Samuel masih hafal betul bagaimana irama laju mobil itu.
"Aku bod*h Ling. Aku sendiri yang telah menghancurkan mobil kesayanganku karena membiarkan amarah menguasaiku." Lirih Farrand. Ia menubrukkan dirinya kedalam dekapan Lingga.
"Sudahlah." Sambil mengusap lembut puncak kepala Farrand, Lingga terus menerus membisikkan kata-kata penghibur untuknya.
Setelah Farrand puas menangis, ia berbalik. Menatap Samuel dengan mata yang sembab dan menarik nafas pelan.
"Aku kalah karena mesin mobilku meledak. Dan kau bisa mengambilnya setelah aku memperbaikinya." Ujar Farrand kepada Samuel. Ia mengatakannya dengan nada lirih. Dan hal itu tak luput dari perhatian Samuel.
"Aku juga akan mengatakan jika yang kau maksud dengan kakak ku itu adalah ayahku. Maaf sebelumnya tak memberitahumu tentang hal ini. Dan sekarang aku sedang mengalami masalah dengan ayahku. Jadi sangat tidak mungkin aku memintanya untuk meladenimu balapan. Lagi pula mobil ini mobilku. Yang kau lihat saat itu adalah ayahku yang terburu-buru membelikanku obat." Sambung Farrand.
Samuel mengangguk maklum. Kini ia mengerti mengapa dari awal balapan ia sama sekali tak menunjukkan dirinya. Dan inilah sebabnya, Samuel mengira jika Farrand memberitahukan idenditasnya, ia tak terima dan membatalkan pertandingan malam ini.
"Sudahlah. Aku jelas-jelas sudah kalah darimu. Kau melaju lebih dulu. Andai pun mesin mobil mu tak meledak, aku yakin kau pasti bisa sampai di finish lebih awal dariku. Dan sesuai janji ku, aku akan mengembalikan mobil milik kekasih mu itu." Jelas Samuel. "Ava, berikan kuncinya pada Lingga." Tambahnya.
"Tapi Samuel..."
"Sudahlah. Aku mengakui kekalahan ku dan aku tak akan menarik kembali kata-kataku. Cepatlah."
Ava mengucutkan bibirnya dan dengan langkah enggan berjalan menuju dimana Lingga berdiri. Ia kesal, kesal karena Farrand telah bisa mendapat pengakuan dari Samuel.
"Aku mohon. Kejadian ini jangan sampai ada yang mengetahui selain kita. Akan sangat merepotkan jika banyak yang tau kemampuan Farrand." Pinta Lingga. Samuel mengangguk mengerti, dan segera menyeret Ava pulang. Hatinya sedikit merasa kesal, namun ia merasa puas disaat yang bersamaan karena akhirnya ia menemukan orang yang bisa mengalahkan dengan telak seperti tadi.
Ava yang tak terima diseret paksa oleh Samuel berusaha memberontak. Namun Samuel tetap pada keteguhannya, dan ia tak melepaskan pegangan tangannya pada Ava dan menghempaskannya paksa pada jok penumpang di mobilnya.
"Samuel! Lepaskan aku. Setidaknya biarkan aku menantang wanita itu terlebih dahulu."
"Diamlah. Pakai sabukmu dan dan kita pergi. Aku butuh pelampiasan sekarang."
Ava mengatupkan mulutnya. Ia ingin berontak namun sekali lagi, sikap Samuel membuatnya mengurungkan hal itu.
"Memangnya ada apa denganmu, Samuel?" Lirih Ava.
"Ava. Tidakkah kau berfikir, jika putrinya saja sudah bisa mengalahkanku dengan telak, lalu bagaimana dengan ayahnya? Sudah pasti aku akan lebih malu dari ini. Kau mengerti maksudku, bukan?"
"Ya."
"Dan. Ayo kita ke apartment ku. Kau membawa obatnya bukan?"
"Selalu."
"Bagus."
Samuel menyeringai senang. Sedang di sampingnya, Ava hanya mensidekapkan tangannya didepan dada dan mendengus perlahan. Selalu saja seperti ini. Jika Samuel butuh pelampiasan, mereka akan 'bermain' hingga pagi di apartment Samuel. Meski Ava terlihat tak suka, namun ia tak memungkiri jika ia juga menikmatinya. Ia juga butuh pelampiasan. Dan menjadikan Samuel sebagai partnernya bukanlah sebuah ide buruk.
.
__ADS_1
.
.
Farrand masih sesekali terisak, ia masih menyesali tindakannya tadi yang keluar batas dan berakibat pada rusaknya mobil kesayangannya. Di sampingnya, tepatnya di kursi kemudi, Lingga tak bisa berbuat banyak lagi. Ia akui, ia penghibur yang buruk dan ia tak ingin memperburuk keadaan dengan memberikan solusi yang tidak masuk akal.
"Kau mau langsung pulang atau ingin pergi ke suatu tempat terlebih dahulu?" Tanya Lingga.
"Aku belum mau pulang."
"Lalu kau mau kemana?"
"Kemana saja."
"Cuaca malam sangat dingin, Fa. Aku takut kau sakit."
"Ayah tak kan peduli."
"Jangan begitu Fa. Bagaimanapun juga ayahmu menyayangimu."
Farrand tak menjawab. Dia hanya mengatupkan mulutnya sambil menggigit bibir bawahnya. Ia bimbang, antara hatinya yang mengatakan dia menyayangi ayahnya, dan sebelah hatinya masih belum menerima keputusan sepihak ayahnya yang menjodohkannya tanpa mengatakan sesuatu terlebih dahulu.
"Kau benar." Lirihnya.
"Ayo. Ku antar kau pulang."
"Menepilah sebentar. Aku masih belum ingin pulang."
"Baiklah."
Lingga menurut begitu saja. Ia langsung menepikan mobilnya dan mematikan mesinnya. Untung saja jalanan telah sepenuhnya sepi dan tak ada orang yang lewat.
"Aku bingung, Ling. Disisi lain aku menyayangimu, namun aku juga menyayangi ayahku. Aku tak ingin mengecewakannya, tapi aku juga tak ingin meninggalkanmu."
"Di malam tahun baru, mereka akan datang kerumahku."
"...."
Lingga terkejut mendengarnya. Malam tahun baru? Bukankah itu lusa?
"Dan aku merasa jika aku masih belum siap sama sekali, Ling."
'Aku juga, Fa.' Batin Lingga.
"Apa yang harus kulakukan?" Farrand merasa frustasi. Fikirannya terasa buntu dan dia tak sadar sudah menitikkan kembali air matanya.
"Fa, ku tanya. Apa kau mencintaiku?"
Farrand mengangguk.
"Aku juga mencintaimu. Tapi aku tak ingin kau mengecewakan ayahmu."
"Lalu bagaimana setelah ini, Ling? Apa kau akan meninggalkanku begitu saja dan memasrahkan hidupku pada ayahku?"
"Tidak."
"Lalu bagaimana?"
"Aku tak tau ini berhasil atau tidak. Tapi aku akan kesana saat malam tahun baru sebelum mereka datang. Aku akan meminta pada ayahmu. Dan jika ayahmu tak mengizinkan, aku akan menemui keluarga mereka dan memintamu secara langsung pada mereka."
"Bagaimana jika ini tak berhasil?"
"Kita tak tau sebelum mencobanya. Dan jika tak berhasil, aku akan membuat mereka tak bisa menolak hubungan kita."
__ADS_1
"Bagaimana caranya?"
"Dengan menandaimu sebagai milikku tentu saja."
Cup.
Lingga langsung mengecup bibir Farrand dan dengan perlahan, ia turunkan sandaran kursi yang Farrand duduki hingga sampai dalam posisi merebah. Farrand tak bisa berkutik sama sekali dengan keadaan yang seperti ini, dimana tangan Lingga masing-masing mendorong dan menurunkan posisi sandaran. Kungkungan tubuh Lingga atasnya sangat kuat dan ia tak bisa melepasnya begitu saja. Dan dengan perlahan juga, Lingga mulai **********.
"Akan kubuat kau menjadi milikku. Bahkan jika itu berarti aku harus melakukan segala cara." Bisiknya setelah melepaskan tautan bibirnya.
Nafas Farrand terengah. Ciuman Lingga yang begitu memabukkan membuatnya seakan kehabisan pasokan oksigen untuk dihirup. Tubuhnya terasa lemas, dan ia tak bisa melihat bagaimana raut wajah Lingga karena temaramnya lampu disekitar mereka.
Set.
Lingga melepas syal yang dipakai Farrand dalam sekali tarikan. Dan tanpa Farrand sadari, Lingga telah menyusupkan kepalanya di perpotongan leher Farrand dan mulai membuat beberapa tanda disana. Lidah Farrand terasa kelu, ia bahkan tak sanggup untuk sekedar menyebut nama Lingga.
Farrand ingin berontak saat Lingga mulai merambah sedikit keatas dan ******* lembut cuping Farrand dan sesekali menggigitnya. Farrand ingin memberontak, namun kungkungan tangan Lingga bukanlah hal yang bisa ia lepaskan begitu saja.
Badan Farrand memanas, ia merasakan gelenyar aneh memenuhi perutnya dan batinnya seperti menginginkan lebih dari ini. Tangan kirinya yang kini terlepas bukannya mendorong dada bidang Lingga malah memeluk erat leher Lingga.
.
.
.
Cklek.
Farrand melangkahkan kakinya kedalam dan mencari saklar untuk menghidupkan lampu ruang tamu. Keadaan ruang tamu rumahnya sangat gelap dan sunyi, setelah ia menghidupkan lampu, ia terkejut mendapati ayahnya masih terjaga dengan keadaan terduduk di sofa.
"A-ayah" bisik Farrand.
"Darimana saja?"
"Balapan."
Arasya menghembus nafas kasar. Ia masih memaklumi jika Farrand masih marah kepadanya. Terbukti, dengan nada bicara Farrand yang masih terkesan dingin dan datar.
"Mengapa tak bilang kepada ayah? Kau bisa sakit jika memaksakan keadaan."
"Jika aku bilang pun, apa ayah akan menggantikanku?"
Arasya terdiam.
"Sudahlah yah, aku lelah dan ingin istirahat saja."
Pandangan Arasya menyendu, ia tak menyangka jika keadaan bisa berbalik dengan cepat. Padahal ia sama sekali tak menyukai keadaan ini, namun hatinya menyangkal dan tetap berkeyakinan jika inilah yang terbaik.
"Mesin mobilnya meledak. Dan sekarang ada di bengkel paman Mirza."
Arasya tak mampu menyembunyikan rasa keterkejutannya. Mobil NSX itu meledak? Bagaimana bisa? Apakah Farrand telah memaksakan kekuatannya hingga melebihi maksimal putaran? Setahunya, mobil itu di setting dengan maksimal putaran 10.000 rpm. Dan itu berarti, Farrand telah memaksanya lebih dari itu. Arasya bergidik ngeri, bagaimana bisa putrinya menyetir di jalan licin bersalju dengan kecepatan putaran di atas 10.000 rpm? Ia tak bisa membayangkannya. Dan untuk saat ia hanya bisa bersyukur jika putrinya itu bisa pulang dengan selamat. Dan bukan kah ia juga harus menyadari jika perubahan sikap putrinya itu juga karena dirinya?
Eh, tapi tunggu. Jika mobil putrinya tidak pulang menggunakan mobilnya, lalu dia pulang dengan siapa? Apakah kekasihnya itu? Dan jika benar putrinya pulang di antar pemuda itu, hatinya merasa was-was. Nalurinya sebagai ayah mengatakan jika hal itu bukanlah hal yang baik. Tapi mau bagaimana lagi? Ia hanya bisa berharap jika keadaan akan kembali membaik setelah ini dan ia bisa merasakan hangatnya sikap putrinya lagi.
Saat Arasya berkutat pada pemikirannya, Farrand telah melangkahkan kakinya menuju kamarnya dan menguncinya dari dalam. Begitu ia di dalam, ia terduduk begitu saja disisi ranjangnya dan menangkupkan kepalanya di antara lututnya yang dilipat. Air matanya kembali mengalir. Dan badannya sedikit gemetar menahan isak tangis. Sepertinya, esok ia tak ingin pergi ke sekolah hingga ia merasa lebih baik.
"Maafkan aku, ayah." Lirihnya disela-sela tangisnya yang menderu.
Tbc
__ADS_1