
Lingga merasa jika ia tak pernah lebih bahagia lebih dari ini. Ia senang, satu permasalahannya telah usai dengan penyelesaian yang baik. Mereka telah bertunangan. Ya, di malam perayaan tahun baru itulah mereka telah ditunangkan oleh kedua belah pihak. Siapa yang menyangka, jika kedua orang tuanya telah menyiapkan sepasang cincin untuk mereka tukar di acara itu. Cincin yang tergolong sederhana, namun ia merasa jika itu cincin yang istimewa.
Lingga tersenyum, ia kembali memandangi cincin putih yang melingkar di jari manisnya dan juga Farrand. Kini mereka bergandengan tangan menuju sekolah, cuaca mulai menghangat karena musim semi sudah mulai menunjukkan eksistensinya. Binar bahagia muncul di wajah Farrand, ia bahkan sampai melupakan kejadian meledaknya mobil merahnya itu.
Tak hanya Farrand, Lingga pun juga begitu. Ia memang meminta menetap disini sampai sekolahnya lulus karena ia ingin menemani Farrand dan belajar mandiri. Ariana tak mempermasalahkannya, ia bahkan mendukung keinginan Lingga agar berada disini dan menemani Farrand. Sekarang Arasya lebih sibuk, Madhiaz juga sudah mulai fokus untuk menata hidupnya di Alison. Sedangkan Mirza sibuk menemani istrinya yang masih belum menunjukkan tanda-tanda sembuh. Memang, sesekali Farrand akan menjenguknya bersama Lingga, namun itu juga terkadang saat sedang di rumah dan tidak sedang berobat keluar kota.
Sedang Nadeen, Farrand merasa jika gadis itu tengah menyembunyikan sesuatu yang entah itu apa padanya. Nadeen seakan menghindarinya, dan hal itu membuat Farrand seakan merasa jauh dengan Nadeen.
"Kau memikirkan apa?" Tanya Lingga, ia melingkarkan tangan kirinya di pinggang Farrand dan membuat beberapa orang meliriknya.
"Nadeen."
"Kenapa dengannya?"
"Kau tak sadar ia sudah tak masuk selama dua hari ini?"
"Tidak."
Farrand menghela nafas, ia terkadang sedikit sebal pada sikap Lingga yang terlalu cuek pada sekitarnya. Bukannya apa, ia bahkan sering menahan dongkol di hatinya karena pemuda itu tak peka sama sekali. Entah bagaimana ceritanya, hingga ia bisa terjerat pesona pria itu dan perlahan melupakan Dion. Padahal jika dilihat lebih seksama, Dion lebih peka dari Lingga.
Berbicara masalah Dion, ia jadi ingat akan sesuatu. Seminggu lagi hari kelulusan. Dan itu artinya, pemuda berambut merah itu akan segera meninggalkan kota ini. Ia sedikit bersedih, namun bagaimana lagi? Hubungan mereka telah berakhir dan ia tak mau menyakiti Lingga lebih jauh lagi.
"Lingga."
Grep.
Sesosok wanita berambut panjang berwarna kuning pucat tiba-tiba memeluknya dari belakang. Membuat pelukannya pada pinggang Farrand menjadi terlepas begitu saja. Aura Farrand menggelap. Namun hal itu tak cukup membuat Ava melepaskan pelukannya pada Lingga.
"Ava lepaskan." Hardik Lingga. Ava menggeleng, ia tak mau melepaskan pelukannya dan bermaksud membuat Farrand jengkel.
"Akan kulepaskan jika Lingga mau mencium ku."
Wajah Lingga memucat. Ia melirik Farrand yang masih mengeluarkan aura berbahayanya. Ia menengguk ludah, dan tanpa disadarinya, Ava telah mencuri start dengan menciumnya terlebih dahulu.
"Berani sekali kau mencium tunanganku, Ava." Kata Farrand. Ia semakin menambah aura gelapnya, namun sepertinya Ava sama sekali tak terpengaruh oleh itu. Hanya Lingga yang merasakannya, dan kakinya terasa gemetar merasakan aura gelap Farrand.
Ava mengerjapkan matanya, tunangan kata Farrand tadi? Apa ia tak salah dengar?
"Tunangan? Kapan kalian bertunangan?" Tanya Ava.
Farrand terdiam, ia melirik Lingga seakan meminta Lingga yang menjelaskannya.
"Malam tahun baru kami bertunangan, Ava. Jadi kuharap kau tak mengganggu hubungan kami sekarang."
"Bohong."
"Kami tidak berbohong. Ava." Lingga kembali menghardik Ava. Namun yang dihardik sepertinya hanya bisa memasang wajah datar seperti tak terganggu apa-apa.
"Bukankah Lingga kabur dari rumah? Apa wanita ini yang memaksamu agar kau mau menjadi tunangannya?"
"Tidak. Tak ada paksaan diantara kami. Orang tua Lingga datang kerumahku dan melamarkanku untuknya." Tak ingin kalah, Farrand membalas ucapan Ava dengan nada datar yang menyembunyikan luapan emosi yang melandanya. Hei, siapa yang tidak emosi jika tunanganmu dicium orang lain didepan matamu.
"Farrand benar, Ava. Keluargaku datang secara pribadi untuk melamar Farrand. Memang tak mewah, tapi kami benar-benar ditunangkan saat itu."
"Lalu bagaimana denganku, Lingga? Kau mengatakan padaku jika kau mencintaiku, bukan? Mengapa kau mau bertunangan dengannya?" Orang lewat yang sedari tadi ada yang menonton mereka bertiga kini mulai melayangkan bisik-bisiknya. Farrand tak suka itu, ia sangat tak suka menjadi perhatian orang-orang.
"Lingga. Aku akan ke kelas duluan. Selesai kan masalah kalian berdua dan aku tak mau lagi mendengar hal seperti ini nanti."
Glup.
Lingga menelan ludahnya gugup. Mungkin bagi orang lain yang mendengar nada bicara Farrand yang kelewat santai itu pasti mengira Farrand tak marah. Namun berbeda dengan Lingga, ia seperti mendengar melodi kematiannya sedang di nyanyikan oleh Farrand. Tentunya dengan tambahan effect imajinasi Farrand sedang mengasah sebuah katana untuknya.
Tanpa menunggu jawaban Lingga, Farrand berjalan melenggang ke kelasnya dan meninggalkan dua orang yang menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
Nyuttt...
__ADS_1
Ava kembali bergelayut ke lengan kiri Lingga. Setelah Lingga tersadar, ia menghentakkan tangan Ava secara kasar dan buru-buru mengejar Farrand.
"Hey... Lingga." Ava menghentakkan kakinya dan membuat nada merajuk seimut mungkin. Beberapa siswa yang mengidolakan Ava telah meneteskan darah dari hidungnya. Bagaimana tidak? Ava merajuk dengan menghentak-hentakkan kakinya tanpa sadar jika rok pendeknya tersingkap dan memperlihatkan celana dalamnya.
"Ava.... Kalau Lingga tak mau denganmu, kami mau kok menemanimu." Sahut seorang siswa yang hidungnya telah ditutupi oleh tangan kirinya. Beberapa kepala mengangguk membenarkannya, namun Ava hanya tersenyum pada mereka dan melambaikan tangannya dengan gerakan sensual.
"Kapan-kapan saja, ya?" Ujar Ava. Senyuman maut ia layangkan pada mereka, dan setelahnya, darah mengucur semakin deras dari hidung mereka.
"Linggaaaaaa." Ava memanggil-manggil nama Lingga namun sama sekali tak dihiraukan si empunya nama. Ia kesal, namun ia sama sekali tak bisa berbuat apa-apa lagi.
Lingga mempercepat langkahnya hingga ia mendapati siluet Farrand didepannya. Ia semakin bergegas, ia tak ingin Farrand pergi tanpa mendengar penjelasan darinya. Tapi sialnya, bel telah berbunyi saat Farrand telah sampai dipintu kelas. Ia menggeleng pelan, mungkin ia baru bisa menjelaskannya saat istirahat nanti.
.
Maksud hati Lingga ingin menjelaskan kesalah pahaman yang terjadi antara dirinya dengan Farrand, namun ternyata Ava mendahuluinya. Ava kini sedang duduk di atas meja Farrand dan memperhatikan tingkahnya yang sedang membereskan peralatan tulisnya.
"Bisa kau menyingkir? Tingkahmu terlihat tak sopan untuk ukuran wanita terhormat."
Ucapan sarkas Farrand seolah tak menjangkau Ava. Ia masih asyik duduk di atas meja sambil menggoyang-goyangkan kakinya dan menyesap lolipop ditangannya dengan gerakan sensual.
"Aku ingin menagih janjimu tempo hari." Ucap Ava
"Janji?"
"Ya.. Janji kau akan balapan denganku di sabtu setelah hujan musim semi. Nanti adalah waktunya. Dan aku sudah menantikan hal ini sejak lama."
Farrand menengok sekelilingnya, untung lah suasana kelas telah menyepi dan hanya ada dua orang yang jauh dengan mereka. Ia yakin, pasti mereka tak bisa mendengar perkataan Ava. Eh, tapi jangan lupakan kehadiran Lingga yang berjalan mendekat ke arahnya.
"Aku tak bisa." Ujar Farrand.
"Kau mau mengingkari janji?"
"Ya."
"Hina aku sepuas hatimu. Tapi aku tak akan meladenimu."
"Kalau begitu, berikan aku sebuah alasan."
Farrand menghela nafas, ia kali ini akan mengalah pada Ava dan menceritakan alasannya. Lingga telah berada di sampingnya, dan ia biarkan hal itu terjadi. Ia merasa jika Lingga juga harus mendengarnya.
"Aku sudah tak memiliki mobil lagi. Mesin mobilku sudah meledak, bukankah kau tau hal itu dengan baik? Kau bahkan disana saat itu."
"Itu bukan alasan. Bukankah kau masih punya evo itu?"
"Itu mobil ayahku."
"Kau bisa meminjamnya."
"Itu bukan jalan keluar. Lagi pula mobil itu masih dipakai ayahku untuk pergi ke Kota sebelah."
"Aku akan menunggu. Tak akan masalah jika menunggu satu atau dua hari."
"Sebulan. Ayahku mengatakan padaku jika dia akan pergi sebulan."
Mulut Ava terkatup rapat. Ia tak menyangka jika akan selama itu.
"Kau bisa meminjam mobil Lingga nantinya."
Bukannya menyetujui, Farrand malah menatap Ava dengan tatapan tajam.
"Mobil Lingga sedang dipinjam Dhiaz untuk ke Alison. Dia tak punya mobil lain. Satu-satunya yang ia miliki telah kalian rebut. Kau ingat itu bukan?"
"Berapa lama?"
"Kurang lebih selama dua minggu."
__ADS_1
"Itu terlalu lama."
"Sudah ku bilang aku tak bisa. Lagi pula aku berniat untuk berhenti balapan."
Lingga terhenyak, ia tak menyangka jika Farrand akan mengambil keputusan secepat itu.
"Ru...." Bisik Lingga.
"Kau menyerah dengan semudah itu, eh? Kau terlalu pengecut jadi orang, nona." Nada mencemooh terlalu terdengar begitu menusuk di indra pendengaran Farrand. Tapi ia mencoba menahan gejolak hatinya. Ia tak ingin kehilangan kontrol hanya karena ucapan Ava.
"......."
"Aku tak tau kau semiskin itu hingga tak bisa memperbaiki mobilmu. Atau, setidaknya membeli mobil yang baru san tentunya lebih bagus dari mobil butut itu."
"Cukup Ava." Bentak Lingga. Lingga meradang. Sudah cukup Ava menghina kekasihnya sedari tadi, dan penghinaan ini menurutnya sudah keterlaluan.
"Ne? Lingga. Tinggalkan saja dia. Aku bisa membuat kita sepadan dan tidak sepertinya yang hanya bisa menyusahkanmu saja."
Tangan Farrand terkepal erat, ia tak suka dihina. Apalagi dihina seperti ini. Hal itu membuatnya kembali mengingat masa-masa sulitnya bersama sang ayah.
"Ava, aku tau jika aku tak sebanding denganmu atau Lingga. Tapi setidaknya aku masih punya harga diri." Ucap Farrand. Ia mencoba bersikap tenang meski sebenarnya hatinya tengah meradang.
"Harga diri? Yang mana? Kau bahkan mengingkari janjimu dan kau berbicara soal harga diri? Kheh.... lucu sekali. Harga diri seorang pembalap adalah menerima tantangan dan menepati janji. Tapi kau sama sekali tak punya kedua hal itu bukan? Lalu mana yang kau sebut harga diri?"
Farrand merasa tertohok. Ava benar, ia telah kehilangannya sejak ia memutuskan untuk berhenti balapan.
"Baiklah, lakukan sesukamu. Aku tak akan meladenimu. Anggap aku sudah tak punya harga diri atau apapun itu terserah padamu." Desah Farrand. Ia sudah menyerah. Ia terlalu lelah menghadapi kekeras kepalaan Ava.
"Aku pasti bisa membuatmu mengikuti balapan kali ini. Lihat saja." Sebuah seringai hinggap dibibir Ava. Farrand hanya menanggapinya dengan malas, namun Lingga yang melihat itu, hanya bisa memicingkan matanya. Ia kenal gelagat itu, ia yakin, Ava pasti telah menyusun berbagai rencana untuk Farrand. Dan ia tau jika hal itu tak bisa diremehkan.
"Silahkan saja." Tantang Farrand.
Ava tersenyum, ia turun dari meja yang didudukinya dan mulai melangkah keluar kelas.
"Ayo, kita makan di taman biasanya. Aku sudah membuatkan bekal dengan extra tomat untuk mu." Farrand mengikis jarak antara dirinya dan Lingga. Sebelah tangannya ia gunakan untuk membawa dua bekal untuknya dan Lingga, dan sebelah lagi digunakannya untuk menarik tangan Lingga. Lingga menggelengkan kepalanya, namun senyum tipis tak bisa ia hilangkan dari bibirnya saat melihat tingkah Farrand.
Tapi sebenarnya, ada hal yang mengganjal di benaknya tentang Ava. Ia masih tak bisa menerima jika Ava telah mendapatkan mobil biru itu. Seharusnya ia yang menantang pemiliknya dan merebut mobil itu, tapi mengapa justru Ava yang melakukannya? Tak tau kah Ava jika ia selama ini susah payah mencarinya dan tak di ketemukannya sampai sekarang? Ia sudah hampir putus asa, namun ia merasa jika hatinya belum puas tentang apa yang ia rasakan saat ini.
Ia tak tau obsesinya pada mobil itu berasal dari mana, mobil itu sekilas tak ada yang istimewa. Namun sejak kejadian saat itu ia merasa jika dirinya terikat kuat dengan mobil dan pemiliknya. Sebenarnya ia bisa saja mengabaikannya dan berhenti mencarinya, namun jauh di lubuk hatinya, ia merasa jika ikatan itu terlalu kuat untuk di abaikan. Dan sepertinya ia akan mencarinya perlahan saja dan lebih memfokuskan pada apa yang dihadapannya. Kini ia telah bersama Farrand, dan sekarang Farrand lah prioritasnya.
Seakan larut dalam lamunannya, Lingga tak sadar jika ia telah sampai di taman belakang tempat mereka menghabiskan waktu bersama. Ia menatap sekelilingnya, tak banyak orang. Hanya ada beberapa dan itupun dengan jarak yang tak bisa dikatakan dekat. Ia mengambil tempat duduk disebelah Farrand dan mulai memakan bekalnya dengan lahap. Mereka tak duduk di kursi, melainkan dibawah pohon yang cukup rindang dan terdapat rerumputan tebal di bawahnya. Setelah mereka menjadi sepasang kekasih, mereka lebih sering menghabiskan waktu disini dari pada di kursi tempat Farrand biasa duduk.
"Pelan-pelan saja. Aku tak akan mengambil bagianmu." Ucap Farrand. Lingga tersenyum, ia tak bisa menahan rasa bahagianya atas perlakuan Farrand padanya.
"Terimakasih." Lirihnya.
"Eh?"
"Terimakasih sudah ada untukku dan menemaniku selama ini."
"Sama-sama. Terimakasih juga karena telah mau memperjuangkanku." Farrand tersenyum, ia juga tak memungkiri jika ia bahagia dengan keadaannya saat ini.
Selesai dengan makanannya, Lingga mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru taman. Ia terpekur, dan seakan mematung saat melihat siluet dua sedang bercumbu mesra dengan sesekali tangan si pria bergerilya nakal. Wajahnya terasa memanas, dan sepertinya, Farrand yang menyadarinya juga melakukan hal yang sama dengan Lingga. Wajahnya tak kalah merah, bagaimanapun juga bayangan tentang malam percumbuan mereka masih terekam jelas di benak Farrand.
"Farrand..... Jangan terus-terusan melihat kesana. Kita bisa melakukannya disini." Bisik Lingga.
Lingga menyingkirkan kotak bekal yang ada di pangkuan Farrand dan mulai meraup bibir lembut milik tunangannya itu. Farrand membalas, ia melingkarkan tangannya di leher Lingga dan seakan menahannya agar Lingga tak melepaskan cumbuan yang diberikan padanya. Perpaduan rasa bekal yang mereka makan membuat Lingga semakin memperdalam ciumannya atas Farrand.
Puas dengan lumatannya, Lingga menyudari ciuman mereka dan bibirnya turun menuju leher jenjang milik Farrand. Farrand menggigit bibir bawahnya, ia berusaha agar ia tak meloloskan sedikitpun desahannya pada Lingga. Melihat kilatan nafsu pada mata Lingga, entah mengapa hal itu membuatnya merasakan sesuatu yang lebih. Sesuatu yang melebihi ini dan ia yakin jika hal itu tak bisa di dapatkannya dengan mudah.
Tbc
__ADS_1