Cinta Di Atas Aspal

Cinta Di Atas Aspal
Episode 7


__ADS_3

"Hoahhh........" Farrand menguap dengan tidak elit


nya saat istirahat tiba. Semalam ia telah mengerahkan seluruh kemampuan dan kekuatan


yang ia punya demi sebuah kemenangan dan demi ayahnya juga. Demi biaya untuk pengobatan


ayahnya ia rela mempertaruhkan hal yang belum ia kuasai mendominasi dan


menguasai dirinya. Namun hal yang tak ia duga justru datang setelah balapan itu


sendiri. Ia masih ingat dengan


jelas tentang bagaimana bisa Lingga mengejarnya bahkan


sampai seperti itu?Yang dilihatnya


semalam, Lingga seolah mencari hal yang begitu penting untuknya. Entah hal


penting apa, yang jelas ia merasa jika hal itu teramat berarti untuk Lingga.


Sedang Lingga sendiri sekarang pun kondisinya tak jauh beda


dengan Farrand. Matanya terlihat sayu memerah menahan kantuk. Setelah balapan dan ditinggal begitu saja oleh


s15 itu, hatinya dongkol dan pulang dalam keadaan menahan marah. Tak hanya itu, ia juga frustasi, frustasi


hingga titik terendah dalam hidupnya. Menyebabkan ia sulit tidur dan tertidur setelah pukul 3 dini hari.Untung saja ia tak sampai merasa gila


karenanya.


Nadeen yang melihat dua orang berbeda kelamin tapi dengan


kondisi yang sama itu membuat hatinya bertanya-tanya. Apa yang membuat mereka


berdua kompak mengantuk begitu? Apakah


ada sesuatu hal yang tidak ia ketahui dan terjadi pada mereka berdua? Ah, mungkin menghampiri salah satunya bukan ide yang buruk.


"Hei... kenapa kau seperti itu? Tak biasanya kau


mengantuk saat sekolah." Ucapnya pada Farrand. Farrand dengan mata sayunya menatap Nadeen


yang tak ia acuhkan atensinya sedari ia datang tadi.


"Aku lelah, Deen. Semalaman aku begadang dan hanya sedikit tidur dirumah sakit untuk


menunggui ayah." Setelah menoleh


sedikit pada Nadeen, Farrand menyilangkan tangannya di


atas meja dan menumpukan kepala diatas tangannya itu. Kepalanya masih terasa sangat berat. Ia sangat


mengakui jika dirinya sangat tak betah begadang dengan porsi berat. Hey.. ia benar kan tentang begadang dan hanya sedikit tidur? Setidaknya


untuk alasan menunggu ayahnya, ia benar sedikitkarena kenyataannya memanglah seperti yang ia katakan. Hanya saja untuk


mengatakan detailnya pada Nadeen, ia merasa jika dirinya masih belum siap.


"Paman Arash dirumah sakit? Kenapa? Sejak


kapan?"


Farrand menggeleng pelan disela


tumpuan kepalanya. Seperti inilah Nadeen, ia akan menjadi sangat amat cerewet


jika itu menyangkut dirinya dan ayahnya. Entahlah, ia sebenarnya senang atas


perhatian Nadeen padanya. Namun, jika berlebihan ia juga merasa risih. Tapi


biarlah, toh hal itu juga sama sekali tak merugikan dirinya.


"Sejak semalam. Ada hal yang membuatnya harus menginap


disana." Mata Farrand terlihat tambah sayu. Ia ingin tidur tapi kehadiran Nadeen sama sekali tak


bisa ia abaikan begitu saja.


"Hemft. Padahal aku berencana mengajakmu latihan drifting bersama Lingga nanti malam." Nadeen mendengus. Tapi sepertinya hal itu bisa membuat Farrand bisa


mengurangi tingkat kengantukannya.Buktinya, matanya yang tadi terasa berat kini tak terlalu terasa berat


lagi.


"Aku ikut."Ujar Farrand spontan. Ia tak bisa menunggu kesepatan lain waktu untuk


hal semacam ini. Jadi ia harus mencari peluang sekecil apapun itu.


"Semangat sekali kau. Lalu paman Arash bagaimana? Kau tak berencana meninggalkannya sendirian di


Rumah Sakit kan?"


"Nanti aku akan minta Dhiaz untuk menjagakannya. Dia


pasti mau kumintai tolong."


"Benar tak apa? Dan benar kau bisa ikut?"


"Bisa. Akan ku usahakan." Mata Farrand berbinar saat mengatakannya. Ah, kali ini ia berusaha untuk ikut. Hitung-hitung sebagai


pembelajaran untuk menambah


wawasan dan tekniknya juga. Lumayan. Bisa nebeng belajar


gratis tanpa bayar. Di fasilitasi


pula. Lagipula setelah balapan semalam, ia merasa jika


teknik mengemudinya sangatlah buruk.Nyatanya setelah sampai di basement ia mendapat ceramah panjang kali lebar kali


tinggi dari paman Birawa karena membuat mobil kesayangan ayahnya lecet


disana-sini. Tapi untunglah, setidaknya pamannya itu baik hati hingga mau


memoles ulang body mobilnya yang penuh goresan itu hingga kembali mulus


kinclong bak kulit artis korea, eh???


Sementara itu Lingga yang mencuri dengar disela tidur


ayamnya, tersenyum tipis. Ia senang jika Farrand ikut serta nanti malam. Siapa


tau dengan menunjukkan sedikit kebolehannya melakukan drift bisa membuat


wanita itu terpesona dan melupakan pemuda surai merah itu lalu menatap kagum kearahnya, memuji


keahliannya lalu mengatakan jika ia ingin menjadi pacarnya.


Ah.... 'senangnya' batinnya. Sungguh! Hanya dengan membayangkannya saja jantung Lingga sudah berdebar tak


karuan. Bolehkah ia berharap jika kemampuan drift nya yang bagus bisa membuat wanita itu jatuh hati padanya? Ok, mari kita


tinggalkan Lingga dan khayalan tingkat tingginya namun tak tau bisa berhasil atau tidak..


 


 


Brakkk.......


Madhiaz yang menggebrak pintu begitu saja segera mengedarkan pandangannya kepenjuru


kelas dan mendapati Farrand tertidur dimejanya. Tanpa mempedulikan tatapan


menusuk para penghuni kelas yang masih disana, ia langsung melesat


menuju tempat Farrand tertidur.


"Ada apa?" Dengan wajah sayu Farrand mengangkat


wajahnya. Kepalanya terasa pening akibat tidurnya diganggu oleh kelakuan Madhiaz.Ia bersumpah, jika saja yang membuat keributan


itu bukan Madhiaz, dengan senang hati ia akan memberi bogeman mentah secara


cuma-cuma.


"Kau harus ikut. Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan


padamu." Madhiaz menyeret Farrand begitu saja. Farrand yang tak siap dan


langkahnya kecil tak secepat Madhiaz terseret begitu saja. Ia menurut dan tak


banyak protes meski didalam hatinya menyimpan rasa dongkol setengah mati.Setelah sampai nanti, ia bersumpah. Jika ia


menemukan hal yang tidak penting hingga Dhiaz menyeretnya dari tidur


panjangnya, ia akan membotaki kunciran Dhiaz yang menyerupai rambut nanas


tersebut. Membakar rambutnya, dan membuat batok kepala Dhiaz menjadi kinclong


sekinclong cat mobilnya yang baru di poles ulang.


Nadeen masih cengo atas perlakuan Madhiaz yang terlihat tak seperti biasanya itu. Baginya,  tingkah


Madhiaz saat ini sama sekali tidak seperti biasanya. Ada sesuatu yang


mendesakkah? Sedangkan disisi lain, Lingga yang terbangun juga akibat tingkah berisik Madhiaz melihat pemandangan itu dengan wajah mengernyit.


Hatinya menyuruh untuk mengikuti langkah Farrand yang mengikuti Madhiaz. Ia tak tau kenapa.


Tapi kedatangan Madhiaz dan ketergesaannya membuat tanda tanya besar


dikepalanya. Dan Nadeen, ia juga mengikuti mereka tak lama setelah Lingga beranjak mengejar mereka.Ia merasa jika ia juga harus mengikuti para


orang-orang yang terlihat aneh ini.


Madhiaz masih mengeratkan pegangan tangannya dan menyeret Farrand


tanpa mengurangi kecepatan jalannya menuju taman belakang sekolah. Taman yang selalu sepi dari peradaban dan biasanyamenjadi tempat


pelarian Farrand saat ia butuh suasana sepi untuk menenngkan diri. Tapi begitu hampir sampai, ia berhenti dan menyuruh Farrand


menyembunyikan diri dari dua orang berbeda kelamin yang terlihat tak jauh dari sana.


Ia tau mungkin terlalu terburu-buru untuk menyimpulkan sesuatu


hal yang ia lihat saat ini. Tapi melihat kondisi mereka berdua, ulu hati Farrand


terasa tercubit. Ia berdiri mematung. Air mata mulai menetes dari matanya dan sama sekali tak bisa ia cegah. Lingga dan Nadeen yang baru datang pun ikut terkejut dan diam terpaku. Mereka sama-sama mematung


dan membulatkan matanya. Nadeen yang lebih dulu pulih dari keterkejutannya


menoleh Farrand yang terlihat tak bergeming sedikitpun ditempatnya berdiri.


Suara kedatangan Lingga dan Nadeen yang berisik membuat Dion


terusik. Ia menyudahi ciumannya dan menoleh kearah datangnya suara. Dan betapa


terkejutnya dia melihat Farrand yang telah meneteskan airmata dan melihatnya dengan tatapan terluka. Langkah kaki nya membawa dirinya ke arah Farrand. Tangannya terulur


dan mendekap Farrand kedalam pelukannya. Farrand tak menolak, ia bahkan terisak semakin keras hingga bahunya


berguncang di pelukan Dion. Lingga dan Nadeen yang berniat


memisahkan keduanya terhenti saat Madhiaz menghalangi mereka dan menggelengkan


kepalanya. Mereka tak berhak ikut campur dalam masalah ini.Ini masalah mereka berdua, Lingga dan Nadeen


merasa tak memiliki hak untuk ikut campur.


Hati Lingga serasa ikut tercubit melihat Farrand yang menangis dipelukan Dion. Saat ini, ingin sekali rasanya ia menghabisi


wajah sok milik Dion. Melihat bagaimana dengan santainya ia mencumbu wanita


lain tanpa sepengetahuan kekasihnya, lalu begitu terpergok, dengan santainya ia


memeluk kekasihnya seolah tak ada hal yang harus dikhawatirkan sama sekali.

__ADS_1


Brengsek sekali bukan? Ah, sudahlah. Ia tak tau lagi. Cinta kah ia


pada Farrand? Tapi, apa alasan untuk hal yang ia rasakan ini saat melihatnya


selain cinta? Lantas, bolehkan ia sedikit saja egois dengan mengharap jika Farrand


pisah dengan pemuda itu setelah


melihat hal yang terjadi saat ini?Bukannya mendoakan hal buruk untuk mereka,


hanya saja ia benar- benartak terima jika Farrand di perakukan sedemikian rupa


hingga seperti ini.


"Maafkan aku. Akan kujelaskan jika kau meminta, Farrand."


Dion mengusap puncak kepala Farrand dengan lembut. Melihat Farrand beginipun,


ia tak kuasa. Padahal semua ini adalah kelakuannya.Ia cukup tau diri dan menerima jika nantinya


Farrand meminta ia menjauh. Ia juga menerima jika Farrand berkata kasar,


menyumpah serapahinya, atau bahkan memukulinya hingga babak belur. Ia akan


menerima semua itu dengan lapang dada, tapi jika melihat Farrand menangis tersedu-sedu


dipelukannya seperti ini, itu membuat ia merasa menjadi lelaki yang sangat


buruk. Tapi bukankah ia memang lelaki yang amat buruk? Mungkin sematan bajingan


juga cocok cocok saja diucapkan padanya karena tega menyakiti hati dua orang


wanita disini.


"Jelaskanlah. Tapi kuharap kau punya alasan yang bagus


untuk itu." Ucap Farrand sambil terisak. Dirinya memang memiliki pengendalian diri


yang bagus. Dan ia akui itu. Bahkan


saat kejadian itu terlihat jelas dihadapan mata kepalanya sendiri, ia masih


memikirkan jika Dion punya hal mendesak yang membuat dan memaksanya melakukan


hal itu. Mungkin jika Nadeen yang mengalaminya, sudah bisa


dipastikan orang didepannya akan masuk rumah sakit. Mengingat betapa banyak


prestasi temannya itu dibidang bela


diri.


"Akan kujelaskan nanti. Aku akan menjemputmu nanti jam 6


sore."


"Kutungu dirumah." Singkat. Hanya itulah yang bisa Farrand


ucapkan sebelum melepaskan diri dari pelukan Dion dan beranjak ke kelasnya sambil mengusap kasar wajah penuh airmatanya. Rasa kantuk yang menyerangnya hilang sudah. Hatinya masih merasa


nyeri. Rasa lapar yang biasa menyerangnya di jam istirahat telah menghilang


entah kemana. Padahal tadi pagi pun dia tak sempat sarapan karena bangun kesiangan.Tapi sudahlah, mungkin ia bisa menarik


kesimpulan saat ini jika patah hati bisa menghemat uang untuk makan karena bisa


mengusir lapar. Ok! Lupakan kesimpulan absurd Farrand yang satu ini.


Lingga, Nadeen dan Madhiaz hanya bisa menatap kepergian Farrand


dalam keheningan. Tak ada satupun dari mereka yang berani membuka suara.


Begitupun Dion. Seulas raut kecewa tersirat ditatapannya yang menyendu. Ini


salahnya, dan ia tau benar akan hal itu. Tapi ia tak mampu untuk berbuat


banyak. Salahkan saja dirinya yang terlalu lemah untuk melawan semuanya.Perlahan, ia menatap wanita yang dibawanya


tadi. Wanita yang sedari tadi terdiam melihat interaksi Dion dan Farrand.


 


 


.


.


.


Farrand menunggu kedatangan Dion dipintu gerbang masuk


apartemen nya sambil melamun. Kejadian signifikan beberapa hari ini membuat


fikirannya terbang melayang dan terhempas begitu saja. Dimulai dari


pertemuannya dengan Dion yang begitu membuat hatinya berbunga-bunga. Serasa


terbang namun setelah itu dalam waktu singkat ia terjatuhkan. Dimulai dari


keadaan ayahnya yang kembali


seperti dulu setelah lama tak terjadi lagi, dan


penghianatan yang dilakukan Dion padanya. Sebenarnya hatinya berontak. Menolak mendengar penjelasan


Dion dan memilih untuk tak lagi menemui pemuda itu. Namun ajaran dari Arashya


telah melekat kuat dihatinya. Arashya telah mengajarkan kepadanya bahwa jika


dia tak boleh menghakimi seseorang begitu saja tanpa mendengar penjelasannya. Maka dari itu ia ingin


mendengar penjelasan Dion meski sebelah hatinya menolak dan menentang keras keinginannya


untuk masih menemui Dion.Hatinya


Mungkin saj penjelasan dari Dion nanti bisa membuat hatinya sedikit membaik.


Tak lama, Dion telah sampai dan melihat Farrand bersandar


ditembok gerbang apartmennya sambil melamun. Hatinya terasa sakit melihatnya


dengan tatapan kosong seperti itu. Ia


menyayangkan keadaan Farrand, namun ia sangat tau jika


dirinyalah penyebab pujaan hatinya terlihat begitu terluka.


Menyadari kedatangan Dion, Farrand menolehkan pandangannya. Sedari tadi dirinya memang sedikit melamun, namun hal itu tidak


menyurutkan tingkat kewaspadaannya terhadap sekitar. Ia tak mendapati lagi mobil


Agera yang biasa Dion pakai. Ia bisa


meihat jika Dion hanya membawa mobil sedan hitam biasa


yang tak terlalu mencolok. Turun pangkat, eh?


Farrand beranjak.


Sebelum Dion yang


menghampirinya, ia terlebih dulu mengahampiri Dion. Ia tak ingin Dion


membukakan pintu untuknya seperti


waktu yang telah lalu. Ia tak ingin Dion memanjakannya


seperti dulu. Dan ia juga tak ingin terlalu larut dalam kenangan manis yang diberikan Dion


untuknya.


Di perjalanan mereka hanya saling


terdiam. Tak ada sepatah kata yang terucap dari keduanya.


Keduanya sama-sama memendam luka dihati. Untuk Dion, ia masih menyesali ketidak berdayaan dan ketidak mampuannya. Dan Farrand, dia yangterluka atas


perlakuan Dion.


Dion mengajak Farrand ke cafe yang sedikit sepi


pengunjung. Mereka mengambil tempat disebelah jendela dan hanya memesan


minuman. Entahlah, Farrand hanya merasa jika ia tak


ingin makan apapun untuk kali ini maka dari itu dia hanya memesan minuman


kesukaannya.. Dion memilih untuk memesan greentea, dan Farrand


memesan black tea. Mereka masih terdiam. Tak ada yang membuka percakapan meski hanya bertegur sapa.


Semua larut dalam keheningan dan


pikiran masing-masing.


Setelah satu jam berlalu mereka masih menutup mulut. Farrand


mulai merasa jengah. Biar bagaimanapun juga Dion yang mengajaknya dan ingin


berbicara. Tapi sedari tadi hanya kebungkamannya yang ia temui. Untunglah ia


temasuk orang yang betah akan kesunyian. Jika tidak, mungkin ia akan mati bosan


dan pergi sedari taditanpa


memperdulikan Dion lagi.


"Farrand....... " Dion mulai membuka suaranya.


Keberanian yang coba ia kumpulkan mulai tadi serasa menguap begitu saja begitu melihat ekspresi Farrand yang


menurutnya bisa membuat nyalinya ciut. Dan untuk


mengisinya kembali, ia butuh menarik nafas panjang.


"Aku tak tau mulai darimana. Tapi yang jelas, aku minta


maaf." Dion menunduk. Tak berani menatap wajah datar Farrand.


 "Mungkin terdengar


sebagai sebuah alasan. Tapi aku memang berniat tak ingin menyakitimu. Zennie,


dia wanita yang ayah pilihkan untukku. Aku tak bisa menolak. Sebab aku dan ayah


telah membuat kesepakatan sebelum ini." Ujar


Dion.


Farrand menatapnya, seolah meminta penjelasan lebih rinci tentang ucapan yang Dion layangkan untuknya.


"Aku berjanji akan setuju ditunangkan dengannya jika aku


kalah balapan dipertandingan yang


ku ikuti semalam."


Mata Farrand membulat. Ia tak tau jika Dion mempertaruhkan


kemenangannya malam itu. Pantas saja ia sampai meminta Zennie menghalangi Lingga. Ternyata bagi Dion, Lingga adalah orang pertama yang menghalangi


jalannya untuk menang.


"Semalam aku kalah. Dan janji tetaplah janji. Tak hanya


menerima Zennie, tapi aku juga akan berhenti balapan. Agera ku telah kuserahkan

__ADS_1


kepada ayah. Dan aku akan mencoba hidup seperti apa yang ayahku inginkan. Aku tak punya kekuatan, Fa. Bahkan untuk hidup sendiri saja aku tak


bisa. Jika seperti itu, pada siapa lagi kusandarkan hidupku jika bukan pada


ayahku? Dan sudah semestinya aku harus mengikuti apa yang menjadi keinginannya." Dion menunduk. Mencoba meminta maaf dengan menceritakan keadaannya. Ia tak berhra Farrand akan memaafkan kesalahannya sepenuhnya, tapi


setidaknya ia ingin Farrand tau alasannya meninggalkan gadis yang ia cintai


itu.


"Sekali lagi maafkan aku, Farrand. Aku tak berdaya


melawan ayahku. Aku tak punya kuasa sedikitpun. Dan aku telah terjatuh dititik


terendah hidupku. Aku tau aku salah. Aku tau aku tak berdaya. Tapi kumohon.


Jangan benci aku. Aku tak akan sanggup jika harus hidup dan menanggung


kebencian darimu." Lanjutnya. Setitik air mata jatuh dari pelupuk matanya.


Ia benar-benar resah. Resah akan sikap Farrand yang hanya diam mematung tanpa


ekspresi. Entah, sepertinya lebih melegakan jika melihat Farrand berteriak


memaki nya, atau melempar gelas minuman kearahnya, mungkin? Seperti yang


sering ia tonton di drama-drama atau kehidupan nyata tentang seorang wanita


yang diputuskan kekasihnya secara sepihak.


Farrand mengambil smartphonenya di tas jinjing yang ia


bawa. Ia membukanya. Mengutak-atik sebentar dan terlihat sedang mengetik sebuah


pesan dengan ekspresi yang masih sama.


Sungguh. Dion benar-benar membenci situasi ini. Ia fikir ia


telah mengerti dan mengenal Farrand lebih banyak dari siapapun. Tapi ketika


terjebak seperti ini, ia belum pernah. Belum pernah sekalipun Farrand


menunjukkan ekspresi seperti ini kepadanya. Ia sudah elihat banyak ekspresi Farrand. Mulai dari tangisannya, hingga


raut ketegarannya dalam menghadapi apapun yang terjadi. Ia lebih banyak tak


menampilkan ekspresi berlebihan. Bahkan saat ia tau ibunya


telah tiada, Farrand hanya


menitikkan airmatanya dan tak sampai menangis tersedu-sedu seperti yang


kebanyakan dia lihat dari orang lain saat kehilangan. Ia


lebih menerima jika Farrand berteriak, atau memukulnya. Atau lebih senangnya ia


mengharap jika Farrand menangis terisak, memeluknya dan berkata untuk


mempertahankan hubungan mereka.


"Aku memaafkanmu. Tapi jika kau ingin kita seperti dulu,


kurasa itu tak mungkin." Akhirnya Farrand mengeluarkan suaranya, terdengar


singkat dan terselingi nada serak. Mungkin ia menahan tangisnya dihadapan Dion


agar tak ingin terlihat lemah.


Dion mendongak. Menatap wajah sayu Farrand yang telah beranjak


dari tempat duduknya. Ia berlalu begitu saja. Keluar dari café setelah


membayar pesanannya tadi. Dion tak sanggup mengejarnya. Saat ia melihat Farrand


yang berdiri mematung di tepi jalan, rasa sesak kembali menghampirinya. Ingin


ia kesana, membawa Farrand kedalam pelukannya, mengusap rambut indahnya, dan


mengatakan semua baik-baik saja. Namun sekali lagi, itu hanya terjadi dalam


angan-angannya.


Farrand masih berdiritermenung dipinggir jalan depan café yang


ia kunjungi tadi. Tak lama, sebuah mobil GT-R yang ia tebak milik Lingga


menghampirinya. Ia memang meminta dijemput oleh Lingga. Entah mengapa saat


ingin dijemput hanya bayangan Lingga yang terlintas. Bukan meminta Nadeen atau Madhiaz?


Ah, lupakan Madhiaz. Bukannya dia memintanya untuk menunggui ayahnya?


 


 


"Masuklah." Ucap Lingga setelah membuka kunci mobil.


Farrand hanya mengangguk. Ia menurut saja saat Lingga menyuruhnya masuk.


Meskipun Lingga tak membukakan pintu untuknya seperti layaknya pangeran. Ia


maklumi itu. Siapa dia bagi Lingga?


.


.


.


Lingga tak tau ia harus bagaimana. Menghibur hati seorang wanita yang sedang


putus cinta bukanlah keahliannya. Ia tak pengalaman tentang hal itu.


Mereka sekarang sedang duduk di salah satu bangku taman. Farrand


masih menangis sesenggukan. Matanya sembab dan bengkak akibat terlalu banyak


menangis. Untunglah tadi Lingga menelpon Madhiaz dan memberitahukan jika Farrand


bersamanya. Ayahnya telah sadar tadi siang dan kini telah terlelap lagi.


"Kau tak mengajari Nadeen?" Ucap Farrand. Isak


tangis masih tersemat di nada bicaranya.


"Masih satu jam lagi. Kau mau ikut atau kuantar


pulang?"


"Ikut saja. Ayah mungkin sudah istirahat."


"Sudah selesai nangisnya?"


"Belum. Tapi setidaknya sudah sedikit lega."


"Kau nangis berjam-jam dan kau bilang hanya sedikit lega?


Berapa kantong sebenarnya stok airmatamu itu?"


Farrand mengucutkan  bibirnya. Ia merasa sedikit jengkel


mendengar kata-kata Lingga." Kau hanya belum tau rasanya."


"Rasa apa?"


"Rasanya patah hati. Melihat orang yang kau cintai


bertahun-tahun berciuman dengan yang lain."


Lingga kicep. Ia pernah merasa mencintai. Namun untuk


sakit yang seperti ditingkatan Farrand, ia belum pernah tau rasanya. Hahhhhh...


ia benar-benar penghibur yang buruk. Tapi ia benar-benar senang saat tau Farrand


menghubunginya dan memintanya untuk dijemput. Lupakan tentang darimana Farrand


mendapat nomor ponselnya, ia akan mencari tau itu nanti. Atau bahkan tak usah


saja sekalian.


"Mau berkeliling? Atau mau kuajari mengemudi?" Tawar


Lingga.


Mata Farrand mengerjap. Dan sesaat setelah itu ia mengangguk.


Sepertinya menerima tawaran Lingga bukanlah ide yang buruk. Lagipula, kapan


lagi ia bisa mencoba mengendarai mobil super macam GT-R? Jujur saja ia sedikit


bosan mengendarai S15 nya


________________________________________


 


 


Sementara itu.....


Rumah sakit, at 7 pm. Dikamar inap Arashya...


Tok... Tok... Tok....


"Masuk." Arashya hanya bisa menjawab lemah.


Tenaganya belum pulih sepenuhnya. Madhiaz baru saja keluar untuk mencari makan.


Dan tinggallah ia sendiri diruangannya.


Seorang pria paruh baya seusianya masuk setelah pintu terbuka.


Arashya menghela nafas. Terlihat tenang seperti sudah menduga kedatangan sang


penjenguk kali ini.


“Lama tak bertemu, Yoga." Sapa Arashya.


"Yo.. Arashya." Balasnya. Tanpa disuruh sang


penjenguk sudah mendudukkan diri di sofa .


"Aku tak menyangka kau datang setelah semua yang telah


terjadi."


 


 


"Aku hanya ingin mengembalikan apa yang kuambil beberapa


tahun silam."


Arashya terkekeh. Tak menyangka jika ia akan mendengar kata itu. "Well,


untuk apa kau kembalikan? Tanpa hal itu pun aku masih bisa berdiri


sendiri."


"Tak masalah jika kau tak mau menerimanya. Yah... aku


hanya ingin menepati janjiku."


"Aku tau hari ini pasti datang."

__ADS_1


________________tbc________________


__ADS_2