
"Hoahhh........" Farrand menguap dengan tidak elit
nya saat istirahat tiba. Semalam ia telah mengerahkan seluruh kemampuan dan kekuatan
yang ia punya demi sebuah kemenangan dan demi ayahnya juga. Demi biaya untuk pengobatan
ayahnya ia rela mempertaruhkan hal yang belum ia kuasai mendominasi dan
menguasai dirinya. Namun hal yang tak ia duga justru datang setelah balapan itu
sendiri. Ia masih ingat dengan
jelas tentang bagaimana bisa Lingga mengejarnya bahkan
sampai seperti itu?Yang dilihatnya
semalam, Lingga seolah mencari hal yang begitu penting untuknya. Entah hal
penting apa, yang jelas ia merasa jika hal itu teramat berarti untuk Lingga.
Sedang Lingga sendiri sekarang pun kondisinya tak jauh beda
dengan Farrand. Matanya terlihat sayu memerah menahan kantuk. Setelah balapan dan ditinggal begitu saja oleh
s15 itu, hatinya dongkol dan pulang dalam keadaan menahan marah. Tak hanya itu, ia juga frustasi, frustasi
hingga titik terendah dalam hidupnya. Menyebabkan ia sulit tidur dan tertidur setelah pukul 3 dini hari.Untung saja ia tak sampai merasa gila
karenanya.
Nadeen yang melihat dua orang berbeda kelamin tapi dengan
kondisi yang sama itu membuat hatinya bertanya-tanya. Apa yang membuat mereka
berdua kompak mengantuk begitu? Apakah
ada sesuatu hal yang tidak ia ketahui dan terjadi pada mereka berdua? Ah, mungkin menghampiri salah satunya bukan ide yang buruk.
"Hei... kenapa kau seperti itu? Tak biasanya kau
mengantuk saat sekolah." Ucapnya pada Farrand. Farrand dengan mata sayunya menatap Nadeen
yang tak ia acuhkan atensinya sedari ia datang tadi.
"Aku lelah, Deen. Semalaman aku begadang dan hanya sedikit tidur dirumah sakit untuk
menunggui ayah." Setelah menoleh
sedikit pada Nadeen, Farrand menyilangkan tangannya di
atas meja dan menumpukan kepala diatas tangannya itu. Kepalanya masih terasa sangat berat. Ia sangat
mengakui jika dirinya sangat tak betah begadang dengan porsi berat. Hey.. ia benar kan tentang begadang dan hanya sedikit tidur? Setidaknya
untuk alasan menunggu ayahnya, ia benar sedikitkarena kenyataannya memanglah seperti yang ia katakan. Hanya saja untuk
mengatakan detailnya pada Nadeen, ia merasa jika dirinya masih belum siap.
"Paman Arash dirumah sakit? Kenapa? Sejak
kapan?"
Farrand menggeleng pelan disela
tumpuan kepalanya. Seperti inilah Nadeen, ia akan menjadi sangat amat cerewet
jika itu menyangkut dirinya dan ayahnya. Entahlah, ia sebenarnya senang atas
perhatian Nadeen padanya. Namun, jika berlebihan ia juga merasa risih. Tapi
biarlah, toh hal itu juga sama sekali tak merugikan dirinya.
"Sejak semalam. Ada hal yang membuatnya harus menginap
disana." Mata Farrand terlihat tambah sayu. Ia ingin tidur tapi kehadiran Nadeen sama sekali tak
bisa ia abaikan begitu saja.
"Hemft. Padahal aku berencana mengajakmu latihan drifting bersama Lingga nanti malam." Nadeen mendengus. Tapi sepertinya hal itu bisa membuat Farrand bisa
mengurangi tingkat kengantukannya.Buktinya, matanya yang tadi terasa berat kini tak terlalu terasa berat
lagi.
"Aku ikut."Ujar Farrand spontan. Ia tak bisa menunggu kesepatan lain waktu untuk
hal semacam ini. Jadi ia harus mencari peluang sekecil apapun itu.
"Semangat sekali kau. Lalu paman Arash bagaimana? Kau tak berencana meninggalkannya sendirian di
Rumah Sakit kan?"
"Nanti aku akan minta Dhiaz untuk menjagakannya. Dia
pasti mau kumintai tolong."
"Benar tak apa? Dan benar kau bisa ikut?"
"Bisa. Akan ku usahakan." Mata Farrand berbinar saat mengatakannya. Ah, kali ini ia berusaha untuk ikut. Hitung-hitung sebagai
pembelajaran untuk menambah
wawasan dan tekniknya juga. Lumayan. Bisa nebeng belajar
gratis tanpa bayar. Di fasilitasi
pula. Lagipula setelah balapan semalam, ia merasa jika
teknik mengemudinya sangatlah buruk.Nyatanya setelah sampai di basement ia mendapat ceramah panjang kali lebar kali
tinggi dari paman Birawa karena membuat mobil kesayangan ayahnya lecet
disana-sini. Tapi untunglah, setidaknya pamannya itu baik hati hingga mau
memoles ulang body mobilnya yang penuh goresan itu hingga kembali mulus
kinclong bak kulit artis korea, eh???
Sementara itu Lingga yang mencuri dengar disela tidur
ayamnya, tersenyum tipis. Ia senang jika Farrand ikut serta nanti malam. Siapa
tau dengan menunjukkan sedikit kebolehannya melakukan drift bisa membuat
wanita itu terpesona dan melupakan pemuda surai merah itu lalu menatap kagum kearahnya, memuji
keahliannya lalu mengatakan jika ia ingin menjadi pacarnya.
Ah.... 'senangnya' batinnya. Sungguh! Hanya dengan membayangkannya saja jantung Lingga sudah berdebar tak
karuan. Bolehkah ia berharap jika kemampuan drift nya yang bagus bisa membuat wanita itu jatuh hati padanya? Ok, mari kita
tinggalkan Lingga dan khayalan tingkat tingginya namun tak tau bisa berhasil atau tidak..
Brakkk.......
Madhiaz yang menggebrak pintu begitu saja segera mengedarkan pandangannya kepenjuru
kelas dan mendapati Farrand tertidur dimejanya. Tanpa mempedulikan tatapan
menusuk para penghuni kelas yang masih disana, ia langsung melesat
menuju tempat Farrand tertidur.
"Ada apa?" Dengan wajah sayu Farrand mengangkat
wajahnya. Kepalanya terasa pening akibat tidurnya diganggu oleh kelakuan Madhiaz.Ia bersumpah, jika saja yang membuat keributan
itu bukan Madhiaz, dengan senang hati ia akan memberi bogeman mentah secara
cuma-cuma.
"Kau harus ikut. Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan
padamu." Madhiaz menyeret Farrand begitu saja. Farrand yang tak siap dan
langkahnya kecil tak secepat Madhiaz terseret begitu saja. Ia menurut dan tak
banyak protes meski didalam hatinya menyimpan rasa dongkol setengah mati.Setelah sampai nanti, ia bersumpah. Jika ia
menemukan hal yang tidak penting hingga Dhiaz menyeretnya dari tidur
panjangnya, ia akan membotaki kunciran Dhiaz yang menyerupai rambut nanas
tersebut. Membakar rambutnya, dan membuat batok kepala Dhiaz menjadi kinclong
sekinclong cat mobilnya yang baru di poles ulang.
Nadeen masih cengo atas perlakuan Madhiaz yang terlihat tak seperti biasanya itu. Baginya, tingkah
Madhiaz saat ini sama sekali tidak seperti biasanya. Ada sesuatu yang
mendesakkah? Sedangkan disisi lain, Lingga yang terbangun juga akibat tingkah berisik Madhiaz melihat pemandangan itu dengan wajah mengernyit.
Hatinya menyuruh untuk mengikuti langkah Farrand yang mengikuti Madhiaz. Ia tak tau kenapa.
Tapi kedatangan Madhiaz dan ketergesaannya membuat tanda tanya besar
dikepalanya. Dan Nadeen, ia juga mengikuti mereka tak lama setelah Lingga beranjak mengejar mereka.Ia merasa jika ia juga harus mengikuti para
orang-orang yang terlihat aneh ini.
Madhiaz masih mengeratkan pegangan tangannya dan menyeret Farrand
tanpa mengurangi kecepatan jalannya menuju taman belakang sekolah. Taman yang selalu sepi dari peradaban dan biasanyamenjadi tempat
pelarian Farrand saat ia butuh suasana sepi untuk menenngkan diri. Tapi begitu hampir sampai, ia berhenti dan menyuruh Farrand
menyembunyikan diri dari dua orang berbeda kelamin yang terlihat tak jauh dari sana.
Ia tau mungkin terlalu terburu-buru untuk menyimpulkan sesuatu
hal yang ia lihat saat ini. Tapi melihat kondisi mereka berdua, ulu hati Farrand
terasa tercubit. Ia berdiri mematung. Air mata mulai menetes dari matanya dan sama sekali tak bisa ia cegah. Lingga dan Nadeen yang baru datang pun ikut terkejut dan diam terpaku. Mereka sama-sama mematung
dan membulatkan matanya. Nadeen yang lebih dulu pulih dari keterkejutannya
menoleh Farrand yang terlihat tak bergeming sedikitpun ditempatnya berdiri.
Suara kedatangan Lingga dan Nadeen yang berisik membuat Dion
terusik. Ia menyudahi ciumannya dan menoleh kearah datangnya suara. Dan betapa
terkejutnya dia melihat Farrand yang telah meneteskan airmata dan melihatnya dengan tatapan terluka. Langkah kaki nya membawa dirinya ke arah Farrand. Tangannya terulur
dan mendekap Farrand kedalam pelukannya. Farrand tak menolak, ia bahkan terisak semakin keras hingga bahunya
berguncang di pelukan Dion. Lingga dan Nadeen yang berniat
memisahkan keduanya terhenti saat Madhiaz menghalangi mereka dan menggelengkan
kepalanya. Mereka tak berhak ikut campur dalam masalah ini.Ini masalah mereka berdua, Lingga dan Nadeen
merasa tak memiliki hak untuk ikut campur.
Hati Lingga serasa ikut tercubit melihat Farrand yang menangis dipelukan Dion. Saat ini, ingin sekali rasanya ia menghabisi
wajah sok milik Dion. Melihat bagaimana dengan santainya ia mencumbu wanita
lain tanpa sepengetahuan kekasihnya, lalu begitu terpergok, dengan santainya ia
memeluk kekasihnya seolah tak ada hal yang harus dikhawatirkan sama sekali.
__ADS_1
Brengsek sekali bukan? Ah, sudahlah. Ia tak tau lagi. Cinta kah ia
pada Farrand? Tapi, apa alasan untuk hal yang ia rasakan ini saat melihatnya
selain cinta? Lantas, bolehkan ia sedikit saja egois dengan mengharap jika Farrand
pisah dengan pemuda itu setelah
melihat hal yang terjadi saat ini?Bukannya mendoakan hal buruk untuk mereka,
hanya saja ia benar- benartak terima jika Farrand di perakukan sedemikian rupa
hingga seperti ini.
"Maafkan aku. Akan kujelaskan jika kau meminta, Farrand."
Dion mengusap puncak kepala Farrand dengan lembut. Melihat Farrand beginipun,
ia tak kuasa. Padahal semua ini adalah kelakuannya.Ia cukup tau diri dan menerima jika nantinya
Farrand meminta ia menjauh. Ia juga menerima jika Farrand berkata kasar,
menyumpah serapahinya, atau bahkan memukulinya hingga babak belur. Ia akan
menerima semua itu dengan lapang dada, tapi jika melihat Farrand menangis tersedu-sedu
dipelukannya seperti ini, itu membuat ia merasa menjadi lelaki yang sangat
buruk. Tapi bukankah ia memang lelaki yang amat buruk? Mungkin sematan bajingan
juga cocok cocok saja diucapkan padanya karena tega menyakiti hati dua orang
wanita disini.
"Jelaskanlah. Tapi kuharap kau punya alasan yang bagus
untuk itu." Ucap Farrand sambil terisak. Dirinya memang memiliki pengendalian diri
yang bagus. Dan ia akui itu. Bahkan
saat kejadian itu terlihat jelas dihadapan mata kepalanya sendiri, ia masih
memikirkan jika Dion punya hal mendesak yang membuat dan memaksanya melakukan
hal itu. Mungkin jika Nadeen yang mengalaminya, sudah bisa
dipastikan orang didepannya akan masuk rumah sakit. Mengingat betapa banyak
prestasi temannya itu dibidang bela
diri.
"Akan kujelaskan nanti. Aku akan menjemputmu nanti jam 6
sore."
"Kutungu dirumah." Singkat. Hanya itulah yang bisa Farrand
ucapkan sebelum melepaskan diri dari pelukan Dion dan beranjak ke kelasnya sambil mengusap kasar wajah penuh airmatanya. Rasa kantuk yang menyerangnya hilang sudah. Hatinya masih merasa
nyeri. Rasa lapar yang biasa menyerangnya di jam istirahat telah menghilang
entah kemana. Padahal tadi pagi pun dia tak sempat sarapan karena bangun kesiangan.Tapi sudahlah, mungkin ia bisa menarik
kesimpulan saat ini jika patah hati bisa menghemat uang untuk makan karena bisa
mengusir lapar. Ok! Lupakan kesimpulan absurd Farrand yang satu ini.
Lingga, Nadeen dan Madhiaz hanya bisa menatap kepergian Farrand
dalam keheningan. Tak ada satupun dari mereka yang berani membuka suara.
Begitupun Dion. Seulas raut kecewa tersirat ditatapannya yang menyendu. Ini
salahnya, dan ia tau benar akan hal itu. Tapi ia tak mampu untuk berbuat
banyak. Salahkan saja dirinya yang terlalu lemah untuk melawan semuanya.Perlahan, ia menatap wanita yang dibawanya
tadi. Wanita yang sedari tadi terdiam melihat interaksi Dion dan Farrand.
.
.
.
Farrand menunggu kedatangan Dion dipintu gerbang masuk
apartemen nya sambil melamun. Kejadian signifikan beberapa hari ini membuat
fikirannya terbang melayang dan terhempas begitu saja. Dimulai dari
pertemuannya dengan Dion yang begitu membuat hatinya berbunga-bunga. Serasa
terbang namun setelah itu dalam waktu singkat ia terjatuhkan. Dimulai dari
keadaan ayahnya yang kembali
seperti dulu setelah lama tak terjadi lagi, dan
penghianatan yang dilakukan Dion padanya. Sebenarnya hatinya berontak. Menolak mendengar penjelasan
Dion dan memilih untuk tak lagi menemui pemuda itu. Namun ajaran dari Arashya
telah melekat kuat dihatinya. Arashya telah mengajarkan kepadanya bahwa jika
dia tak boleh menghakimi seseorang begitu saja tanpa mendengar penjelasannya. Maka dari itu ia ingin
mendengar penjelasan Dion meski sebelah hatinya menolak dan menentang keras keinginannya
untuk masih menemui Dion.Hatinya
Mungkin saj penjelasan dari Dion nanti bisa membuat hatinya sedikit membaik.
Tak lama, Dion telah sampai dan melihat Farrand bersandar
ditembok gerbang apartmennya sambil melamun. Hatinya terasa sakit melihatnya
dengan tatapan kosong seperti itu. Ia
menyayangkan keadaan Farrand, namun ia sangat tau jika
dirinyalah penyebab pujaan hatinya terlihat begitu terluka.
Menyadari kedatangan Dion, Farrand menolehkan pandangannya. Sedari tadi dirinya memang sedikit melamun, namun hal itu tidak
menyurutkan tingkat kewaspadaannya terhadap sekitar. Ia tak mendapati lagi mobil
Agera yang biasa Dion pakai. Ia bisa
meihat jika Dion hanya membawa mobil sedan hitam biasa
yang tak terlalu mencolok. Turun pangkat, eh?
Farrand beranjak.
Sebelum Dion yang
menghampirinya, ia terlebih dulu mengahampiri Dion. Ia tak ingin Dion
membukakan pintu untuknya seperti
waktu yang telah lalu. Ia tak ingin Dion memanjakannya
seperti dulu. Dan ia juga tak ingin terlalu larut dalam kenangan manis yang diberikan Dion
untuknya.
Di perjalanan mereka hanya saling
terdiam. Tak ada sepatah kata yang terucap dari keduanya.
Keduanya sama-sama memendam luka dihati. Untuk Dion, ia masih menyesali ketidak berdayaan dan ketidak mampuannya. Dan Farrand, dia yangterluka atas
perlakuan Dion.
Dion mengajak Farrand ke cafe yang sedikit sepi
pengunjung. Mereka mengambil tempat disebelah jendela dan hanya memesan
minuman. Entahlah, Farrand hanya merasa jika ia tak
ingin makan apapun untuk kali ini maka dari itu dia hanya memesan minuman
kesukaannya.. Dion memilih untuk memesan greentea, dan Farrand
memesan black tea. Mereka masih terdiam. Tak ada yang membuka percakapan meski hanya bertegur sapa.
Semua larut dalam keheningan dan
pikiran masing-masing.
Setelah satu jam berlalu mereka masih menutup mulut. Farrand
mulai merasa jengah. Biar bagaimanapun juga Dion yang mengajaknya dan ingin
berbicara. Tapi sedari tadi hanya kebungkamannya yang ia temui. Untunglah ia
temasuk orang yang betah akan kesunyian. Jika tidak, mungkin ia akan mati bosan
dan pergi sedari taditanpa
memperdulikan Dion lagi.
"Farrand....... " Dion mulai membuka suaranya.
Keberanian yang coba ia kumpulkan mulai tadi serasa menguap begitu saja begitu melihat ekspresi Farrand yang
menurutnya bisa membuat nyalinya ciut. Dan untuk
mengisinya kembali, ia butuh menarik nafas panjang.
"Aku tak tau mulai darimana. Tapi yang jelas, aku minta
maaf." Dion menunduk. Tak berani menatap wajah datar Farrand.
"Mungkin terdengar
sebagai sebuah alasan. Tapi aku memang berniat tak ingin menyakitimu. Zennie,
dia wanita yang ayah pilihkan untukku. Aku tak bisa menolak. Sebab aku dan ayah
telah membuat kesepakatan sebelum ini." Ujar
Dion.
Farrand menatapnya, seolah meminta penjelasan lebih rinci tentang ucapan yang Dion layangkan untuknya.
"Aku berjanji akan setuju ditunangkan dengannya jika aku
kalah balapan dipertandingan yang
ku ikuti semalam."
Mata Farrand membulat. Ia tak tau jika Dion mempertaruhkan
kemenangannya malam itu. Pantas saja ia sampai meminta Zennie menghalangi Lingga. Ternyata bagi Dion, Lingga adalah orang pertama yang menghalangi
jalannya untuk menang.
"Semalam aku kalah. Dan janji tetaplah janji. Tak hanya
menerima Zennie, tapi aku juga akan berhenti balapan. Agera ku telah kuserahkan
__ADS_1
kepada ayah. Dan aku akan mencoba hidup seperti apa yang ayahku inginkan. Aku tak punya kekuatan, Fa. Bahkan untuk hidup sendiri saja aku tak
bisa. Jika seperti itu, pada siapa lagi kusandarkan hidupku jika bukan pada
ayahku? Dan sudah semestinya aku harus mengikuti apa yang menjadi keinginannya." Dion menunduk. Mencoba meminta maaf dengan menceritakan keadaannya. Ia tak berhra Farrand akan memaafkan kesalahannya sepenuhnya, tapi
setidaknya ia ingin Farrand tau alasannya meninggalkan gadis yang ia cintai
itu.
"Sekali lagi maafkan aku, Farrand. Aku tak berdaya
melawan ayahku. Aku tak punya kuasa sedikitpun. Dan aku telah terjatuh dititik
terendah hidupku. Aku tau aku salah. Aku tau aku tak berdaya. Tapi kumohon.
Jangan benci aku. Aku tak akan sanggup jika harus hidup dan menanggung
kebencian darimu." Lanjutnya. Setitik air mata jatuh dari pelupuk matanya.
Ia benar-benar resah. Resah akan sikap Farrand yang hanya diam mematung tanpa
ekspresi. Entah, sepertinya lebih melegakan jika melihat Farrand berteriak
memaki nya, atau melempar gelas minuman kearahnya, mungkin? Seperti yang
sering ia tonton di drama-drama atau kehidupan nyata tentang seorang wanita
yang diputuskan kekasihnya secara sepihak.
Farrand mengambil smartphonenya di tas jinjing yang ia
bawa. Ia membukanya. Mengutak-atik sebentar dan terlihat sedang mengetik sebuah
pesan dengan ekspresi yang masih sama.
Sungguh. Dion benar-benar membenci situasi ini. Ia fikir ia
telah mengerti dan mengenal Farrand lebih banyak dari siapapun. Tapi ketika
terjebak seperti ini, ia belum pernah. Belum pernah sekalipun Farrand
menunjukkan ekspresi seperti ini kepadanya. Ia sudah elihat banyak ekspresi Farrand. Mulai dari tangisannya, hingga
raut ketegarannya dalam menghadapi apapun yang terjadi. Ia lebih banyak tak
menampilkan ekspresi berlebihan. Bahkan saat ia tau ibunya
telah tiada, Farrand hanya
menitikkan airmatanya dan tak sampai menangis tersedu-sedu seperti yang
kebanyakan dia lihat dari orang lain saat kehilangan. Ia
lebih menerima jika Farrand berteriak, atau memukulnya. Atau lebih senangnya ia
mengharap jika Farrand menangis terisak, memeluknya dan berkata untuk
mempertahankan hubungan mereka.
"Aku memaafkanmu. Tapi jika kau ingin kita seperti dulu,
kurasa itu tak mungkin." Akhirnya Farrand mengeluarkan suaranya, terdengar
singkat dan terselingi nada serak. Mungkin ia menahan tangisnya dihadapan Dion
agar tak ingin terlihat lemah.
Dion mendongak. Menatap wajah sayu Farrand yang telah beranjak
dari tempat duduknya. Ia berlalu begitu saja. Keluar dari café setelah
membayar pesanannya tadi. Dion tak sanggup mengejarnya. Saat ia melihat Farrand
yang berdiri mematung di tepi jalan, rasa sesak kembali menghampirinya. Ingin
ia kesana, membawa Farrand kedalam pelukannya, mengusap rambut indahnya, dan
mengatakan semua baik-baik saja. Namun sekali lagi, itu hanya terjadi dalam
angan-angannya.
Farrand masih berdiritermenung dipinggir jalan depan café yang
ia kunjungi tadi. Tak lama, sebuah mobil GT-R yang ia tebak milik Lingga
menghampirinya. Ia memang meminta dijemput oleh Lingga. Entah mengapa saat
ingin dijemput hanya bayangan Lingga yang terlintas. Bukan meminta Nadeen atau Madhiaz?
Ah, lupakan Madhiaz. Bukannya dia memintanya untuk menunggui ayahnya?
"Masuklah." Ucap Lingga setelah membuka kunci mobil.
Farrand hanya mengangguk. Ia menurut saja saat Lingga menyuruhnya masuk.
Meskipun Lingga tak membukakan pintu untuknya seperti layaknya pangeran. Ia
maklumi itu. Siapa dia bagi Lingga?
.
.
.
Lingga tak tau ia harus bagaimana. Menghibur hati seorang wanita yang sedang
putus cinta bukanlah keahliannya. Ia tak pengalaman tentang hal itu.
Mereka sekarang sedang duduk di salah satu bangku taman. Farrand
masih menangis sesenggukan. Matanya sembab dan bengkak akibat terlalu banyak
menangis. Untunglah tadi Lingga menelpon Madhiaz dan memberitahukan jika Farrand
bersamanya. Ayahnya telah sadar tadi siang dan kini telah terlelap lagi.
"Kau tak mengajari Nadeen?" Ucap Farrand. Isak
tangis masih tersemat di nada bicaranya.
"Masih satu jam lagi. Kau mau ikut atau kuantar
pulang?"
"Ikut saja. Ayah mungkin sudah istirahat."
"Sudah selesai nangisnya?"
"Belum. Tapi setidaknya sudah sedikit lega."
"Kau nangis berjam-jam dan kau bilang hanya sedikit lega?
Berapa kantong sebenarnya stok airmatamu itu?"
Farrand mengucutkan bibirnya. Ia merasa sedikit jengkel
mendengar kata-kata Lingga." Kau hanya belum tau rasanya."
"Rasa apa?"
"Rasanya patah hati. Melihat orang yang kau cintai
bertahun-tahun berciuman dengan yang lain."
Lingga kicep. Ia pernah merasa mencintai. Namun untuk
sakit yang seperti ditingkatan Farrand, ia belum pernah tau rasanya. Hahhhhh...
ia benar-benar penghibur yang buruk. Tapi ia benar-benar senang saat tau Farrand
menghubunginya dan memintanya untuk dijemput. Lupakan tentang darimana Farrand
mendapat nomor ponselnya, ia akan mencari tau itu nanti. Atau bahkan tak usah
saja sekalian.
"Mau berkeliling? Atau mau kuajari mengemudi?" Tawar
Lingga.
Mata Farrand mengerjap. Dan sesaat setelah itu ia mengangguk.
Sepertinya menerima tawaran Lingga bukanlah ide yang buruk. Lagipula, kapan
lagi ia bisa mencoba mengendarai mobil super macam GT-R? Jujur saja ia sedikit
bosan mengendarai S15 nya
________________________________________
Sementara itu.....
Rumah sakit, at 7 pm. Dikamar inap Arashya...
Tok... Tok... Tok....
"Masuk." Arashya hanya bisa menjawab lemah.
Tenaganya belum pulih sepenuhnya. Madhiaz baru saja keluar untuk mencari makan.
Dan tinggallah ia sendiri diruangannya.
Seorang pria paruh baya seusianya masuk setelah pintu terbuka.
Arashya menghela nafas. Terlihat tenang seperti sudah menduga kedatangan sang
penjenguk kali ini.
“Lama tak bertemu, Yoga." Sapa Arashya.
"Yo.. Arashya." Balasnya. Tanpa disuruh sang
penjenguk sudah mendudukkan diri di sofa .
"Aku tak menyangka kau datang setelah semua yang telah
terjadi."
"Aku hanya ingin mengembalikan apa yang kuambil beberapa
tahun silam."
Arashya terkekeh. Tak menyangka jika ia akan mendengar kata itu. "Well,
untuk apa kau kembalikan? Tanpa hal itu pun aku masih bisa berdiri
sendiri."
"Tak masalah jika kau tak mau menerimanya. Yah... aku
hanya ingin menepati janjiku."
"Aku tau hari ini pasti datang."
__ADS_1
________________tbc________________